
Di kantin sekolah, hari pertama setelah libur panjang pasca semester kenaikan kelas. Candice sedang berjalan sendirian. Tanpa Rusdy dan Anhar yang sibuk di lapangan basket. Untuk ke warung milik pria paruh baya bernama Hananto pun, Candice merasa sangat malas. Yah, anggap saja ia sedang merindukan kantin sekolah setelah lama tidak berkunjung ke tempat itu. Sayangnya, ia sama sekali tidak memiliki teman perempuan. Wajar saja, memangnya gadis mana yang berani mendekati Candice yang memiliki perangai sangat buruk tersebut?
Setelah membeli beberapa jajanan ringan serta sebotol cola, Candice memilih salah satu tempat untuknya duduk di sana. Beberapa anak yang ada di kantin tersebut saling berbisik sembari sesekali melirik ke arah Candice. Mungkin mereka merasa aneh dengan keberadaan Candice di kantin, padahal Candice selalu memilih untuk nongkrong bersama para siswa di warung Hananto.
"Cih, ini kenapa aku enggak pernah nyaman berada di tempat ini? Anak-anak itu suka sekali bergosip," gumam Candice lalu tersenyum sinis sembari menatap beberapa siswi yang melirik ke arahnya. Namun setelah dirinya menatap balik, siswi-siswi tersebut langsung terlihat ketar-ketir. "Aku jadi menyesal kenapa datang ke tempat ini."
"Eh, eh! Tahu enggak kalian?!" Suara si Cantik Anita mendadak terdengar di telinga Candice. "Pak Hans yang akan jadi wali kelas di kelas kita! Iiih seneng banget!"
Candice mendecapkan lidahnya. "Kenapa harus seheboh itu? Padahal tadi kan memang sudah dibilang dia akan menjadi wali kelas, di mana aku juga ada di sana. Ck. Bikin kesal saja!" gumamnya sendiri.
"Iya, aku tahu, Nita. Enggak perlu diulang-ulang lagi!" Siswi lain menyahuti ucapan Anita, yakni Jane, sahabat karib gadis cantik tersebut.
Anita menarik kursi dan lekas duduk. Keberadaannya menjadi pusat perhatian mata indah milik Candice. Terlihat sekali jika Anita sangat antusias dengan keberadaan Hans yang sudah resmi menjadi wali kelas di kelasnya. Guru muda yang tampan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi incaran Anita sebagai gadis cantik yang selalu tebar pesona. Ia sungguh tidak sadar jika masih ada Candice yang akan lebih menarik, seandainya Candice berdandan dengan rapi sekaligus menjadi siswi teladan.
"Masalahnya, Pak Hans itu bukan sekadar guru biasa, tahu! Ternyata, Pak Hans itu adalah anak seorang konglomerat! Tadi pagi papa aku mengantar aku dan kebetulan melihat Pak Hans sedang masuk ke halaman sekolah dengan mobil mahal yang kacanya sedang dibuka. Nah, papa aku kenal sama Pak Hans, termasuk orang tua Pak Hans. Aku lupa siapa nama orang tua beliau, tapi yang pasti Pak Hans itu anak orang kaya! Kaya bangeeeet! Aku kan jadi semakin tertarik sama beliau. Hihi. Cowok ganteng, pintar, dan kaya. Uuuh! Idaman banget. Pak Hans jadi wali kelas di mana aku berada, pasti adalah sebuah takdir untuk kami bertemu," ungkap Anita panjang lebar dan sangat antusias.
Jane dan Riya—salah satu teman Anita yang lain—langsung menyahut sama antusiasnya. Kabar mengenai latar belakang Hans cukup membuat ketiga gadis itu sampai takjub sekaligus terpana. Tentu tak hanya sekadar bisa dijadikan sebagai idola karena ketampanan, jika kabar mengenai latar belakang Hans beredar, Hans pasti akan lebih disanjung-sanjung lagi.
Namun kabar yang tak sengaja Candice dengar dari Anita tersebut, cukup membuat Candice terkejut. Ia baru ingat, mobil yang ia kendarai bersama Hans ketika sedang bermain bersama merupakan mobil yang sama seperti milik Tony Damendra—kekasih ibunya. Mobil yang mahal dan mungkin hanya bisa dimiliki orang-orang kaya saja.
__ADS_1
"Jadi, dia bukan orang sembarangan ya? Tapi kenapa mau ditugaskan untuk mengawasi aku? Bukankah seharusnya dia menolak mengingat posisinya yang seharusnya lebih disegani? Ngomong-ngomong, kenapa mobil Pak Hans sama Tua Bangka itu sama ya?" gumam Candice berpikir.
Kemudian gadis blasteran Inggris itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mobil semacam itu kan enggak mungkin hanya satu. Apalagi mereka orang kaya, ya pantas saja kalau punya. Ibuku yang wanita simpanan saja, mobilnya sama seperti mobil istri pejabat," lanjutnya untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
Meski begitu, Candice tetap bingung dengan keputusan Kepala Sekolah yang sampai harus memperkerjakan seorang anak konglomerat untuk mengawasi dirinya. Dan benar kata Hans dulu, bukankah untuk ukuran Candice yang merupakan gadis badung yang hanya memiliki kecantikan orang barat untuk memikat para calon siswa baru, terlalu berlebihan jika sampai dilindungi? Entah Kusuma yang terlalu baik, atau memang ada alasan tertentu, tetapi Candice tidak merasa nyaman dengan posisinya saat ini. Terlebih ia akan menjadi incaran Hans setiap hari.
"Mm, ma-maaf, a-apa aku boleh ikut du-duduk? Ku-kursinya su-sudah habis?" Seorang gadis mendatangi Candice dan bertanya demikian.
Detik itu juga, Candice langsung menatap gadis tersebut. Seorang gadis berkulit sawo matang dengan rambut yang dikepang ke belakang. Siswi tak populer yang sepertinya juga tak memiliki teman. Bahkan seingat Candice, anak yang bernama Mona Kamila sesuai nama yang tertera diseragam tersebut merupakan seorang pesuruh dari geng siswi.
"Kenapa ngomongnya terbata-bata begitu sih? Memangnya aku monster sampai bikin kamu takut gemetaran? Duduk ya tinggal duduk saja kok! Aku kan bukan pemilik kantin ini!" sahut Candice agak ketus, tetapi ia juga tak berniat untuk mengusir.
Mona masih ketakutan meskipun sudah mendapatkan izin dari sang Gadis Bar-bar. Andai saja Candice tidak datang ke kantin, tentu Mona bisa duduk sendiri di kursi yang menjadi kursi langganannya selama ini. Ya sendirian, karena ia juga tak memiliki teman. Tipikalnya yang lemah dan tidak cantik membuatnya kerap dijauhi. Ia dianggap memalukan dan bau badan.
Candice tidak menatap Mona sama sekali. Ia masih kepikiran soal Hans. Namun keberadaan Candice di hadapan Mona, telah membuat sekelompok siswa pembully menjadi tak punya nyali. Mereka yang berkumpul di salah satu meja, memang kerap meminta Mona sebagai pelayan mereka. Namun untuk hari ini, mereka tak berani.
"Ck, kenapa sih cewek preman itu pakai ke sini segala?!" keluh seorang siswi jangkung dari geng pembully. Ia mengamati Mona terus-terusan. Dan ketika Mona menatapnya, ia memberikan perintah agar Mona datang.
Mona menelan saliva. Dirinya semakin ketakutan. Bahkan tangannya yang masih sibuk menyantap semakin gemetaran. Rasa takutnya pada Moanna, si siswi jangkung tersebut tampaknya jauh lebih besar daripada dirinya pada Candice. Yah, alasan karena namanya hampir sama dengan Moanna termasuk salah satu faktor dirinya terus dirundung.
__ADS_1
Mata Candice menurun, menyadari getaran pada tangan Mona yang kian parah. Kemudian ia menatap wajah Mona yang sibuk mengangguk-anggukkan kepala sembari melihat ke arah lain. Detik berikutnya, Candice langsung menatap ke sumber yang Mona perhatikan.
Moanna and the gangs langsung buang muka ketika Candice balas menatap mereka.
"Waaah! Bisa-bisanya anak-anak itu menindas orang lemah. Pengecut sekali. Sudah berapa lama kamu diperlakukan seperti pembantu? Dan sekarang masih mau jadi pembantu? Dia meminta kamu melakukan apa? Kamu sudah kelas tiga lho, masa' masih takut terus sih?!" omel Candice pada Mona.
Mona menelan saliva. "E-enggak kok, me-mereka teman-teman saya. Ja-jadi wajar kalau mereka meminta tolong pada saya," sahutnya.
"Bodoh! Otakmu sudah dicuci ya? Aneh! Enggak usah menurut. Diam saja di sini. Mereka takut padaku. Makan saja sotonya dengan tenang, enggak perlu cemas. Aku jago berantem. Kamu juga tahu, 'kan, kalau aku kerap tawuran? Selain itu aku juga anak karate!"
"Ta-tapi ... mereka teman-teman sa—"
"Jangan bodoh, Mona! Mau-maunya jadi babu anak seumuranmu. Kamu lebih memilih takut sama dia dibanding padaku? Makan saja! Aku paling enggak suka lihat orang makan sampai tak habis!"
Mona menelan saliva, lalu menundukkan kepalanya. Ia merasa senang ketika Candice membelanya. Namun bagaimana nanti ketika Candice sedang tidak ada? Apalagi ia masih satu kelas dengan Moanna dan kawan-kawan. Di dalam kelas itu, ia akan menjadi sasaran. Akan tetapi untuk saat ini pun, Mona juga cemas, sebab Candice jauh lebih menakutkan.
Hans yang sejak tadi memperhatikan Candice dari pintu masuk kantin mulai membaca apa yang terjadi. Ia tahu Candice sedang membela si siswi lemah. Candice yang keras kepala pada akhirnya tetap memiliki sisi baik. Anak itu hanya hobi bertarung dengan anak yang sama-sama kuat, tetapi mudah iba pada seseorang yang lebih lemah.
Hans tersenyum, ketika matanya terus menatap Candice yang tampak cantik. Meski tak terlalu mirip dengan Lusiana, nyatanya Candice tetap tidak kalah memikat dari ibunya tersebut.
__ADS_1
"Ah!" Hans melebarkan mata sambil menelan saliva. "A-apa yang barusan aku pikirkan?" Ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya.
***