
"Jadi, bagaimana dengan perkembangan Candice di sekolah, Pak Kusuma?" tanya seorang pria tua pada Kusuma yang malam ini berkenan untuk bertemu dengan dirinya di salah satu restoran dengan fasilitas ruang pertemuan pribadi. "Apa anak itu masih saja kerap membangkang?"
Kusuma melirik Tony, salah satu pengusaha terkemuka di negara ini. Dan sosok itulah yang membuatnya bersikeras untuk mempertahankan Candice di sekolah meskipun sudah banyak guru yang merasa jengah. Namun Kusuma sama sekali tidak mengetahui alasan sebenarnya di balik permintaan Tony. Mungkin ia bisa sedikit menebak, mungkin saja Tony memang memiliki hubungan gelap dengan Lusiana selaku ibu kandung Candice sekaligus janda yang sangat cantik, tetapi Kusuma juga tidak memiliki bukti yang kuat untuk tebakannya tersebut. Lagi pula, hal itu bukanlah urusannya.
"Setelah libur kenaikan kelas, belum ada kabar mengenai ulah Candice dan teman-temannya, Tuan. Masih anteng-anteng saja mereka. Tapi, mereka juga sempat diamankan polisi tepat setelah ujian terakhir berakhir, sebelum sempat menggelar tawuran lagi. Salah satu guru kami bisa menebus mereka di kantor polisi pada saat itu," jawab Kusuma.
Tony menghela napas. Agak kecewa. Anak dari selingkuhannya sulit sekali diatasi. Padahal ia hanya ingin membuat Lusiana merasa tenang, supaya wanita cantik itu pun masih percaya padanya dan tetap mempertahankan hubungan dengannya. Kalau Candice terus berbuat ulah dan membuat Lusiana berpikir bahwa semuanya gara-gara hubungan terlarang dengan Tony, sudah pasti Tony akan kehilangan Lusiana dalam waktu dekat.
"Mengenai guru yang Anda maksud tersebut, bukankah dia adalah guru yang Anda tugaskan khusus untuk menangani Candice, Pak Kepala Sekolah?" ucap Tony lagi. Ia ingin menyelidiki lebih jauh soal guru yang Kusuma sebutkan itu.
Kusuma menganggukkan kepala. "Benar, Pak, saya memberikan tugas itu untuk guru baru kami tersebut," jawabnya.
"Apa dia mampu membuat Candice menjadi anak yang jauh lebih baik?"
"Mm ... saya sangat berharap demikian, Pak. Sampai saat ini hampir semua guru di sekolah kami meminta agar saya segera menyetujui permintaan agar Candice dan teman-temannya dikeluarkan, tapi saya berharap guru baru tersebut mampu mengubah Candice menjadi murid yang lebih baik, sebelum permintaan itu semakin diinginkan."
Tony mengembuskan napasnya secara kasar. Padahal ia sudah membuat koneksi dengan Kusuma. Sampai harus merelakan sejumlah uangnya untuk memberikan dana ke sekolah tersebut. Namun Candice masih saja tidak berubah seperti yang ia inginkan. Kalau saja Lusiana tidak memohon padanya untuk tetap membuat Candice tetap bersekolah, tentu saja Tony akan memilih untuk mengeluarkan anak itu. Berandal berdarah Inggris tersebut memang lebih pantas hidup di jalanan, atau mungkin biar saja dijual oleh mami-mami girang. Toh, itulah jalan yang Candice pilih sejak awal.
Benar-benar anak yang menyulitkan jalanku untuk memiliki ibunya. Sungguh semakin membuatku kesal saja! Batin Tony marah ketika kedua telapak tangannya berangsur mengepal dengan kuat.
Detik berikutnya, Tony yang sempat menatap ke segala arah saking kesalnya, kini kembali menatap sang kepala sekolah. "Apa saya bisa bertemu guru baru tersebut, Pak?" tanyanya.
"Mm, sepertinya bisa, Tuan. Saya juga menyimpan nomor kontaknya, jika Anda menginginkannya," sahut Kusuma.
Tony mengangguk. "Ya, tolong kirimkan ke saya. Kita bisa membahas soal pengadaan komputer baru nantinya. SMA itu kan bukan sekolah di bawah naungan pemerintah, jadi saya pikir Pak Kepala Sekolah juga membutuhkan dana yang banyak untuk pengembangannya, bukan?"
Kusuma tersenyum. "Terima kasih banyak, Tuan."
__ADS_1
Kesepakatan baru kembali terjadi. Tentu Kusuma senang sekali. Jika ada bantuan lagi, sekolah yang ia urus saat ini akan lebih berkembang pesat. Nyatanya Candice tidak hanya bisa ia jadikan sebagai icon sekolah yang bisa menarik calon pelajar baru, tetapi juga mampu memberikan keuntungan semacam ini. Baik, mungkin Kusuma memang terkesan memanfaatkan anak itu, tetapi bukankah dirinya juga akan memberikan manfaat nantinya? Bahkan selain Candice, ia juga mencoba untuk menyelamatkan teman-teman Candice.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Pak." Tony berangsur bangkit dari duduknya tanpa memedulikan makanan yang belum ia sentuh sama sekali. "Tolong jangan lupa kirimkan nomor ponsel guru tersebut."
"Baik, Tuan." Kusuma ikut bangkit. "Hati-hati di jalan."
Setelah memberikan senyuman tipis, Tony segera mengambil langkah. Ia meninggalkan tempat pertemuan tersebut dan berencana untuk mampir ke rumah Lusiana. Hari sudah cukup malam dan ia rasa tidak masalah untuk mampir sejenak. Toh kompleks perumahan kekasihnya itu jam segini sudah sangat sepi, malah biasanya juga sepi mengingat hampir semua penduduknya adalah pekerja.
Dengan menggunakan mobil mewahnya, Tony bergegas menuju kediaman wanita kesayangannya, lebih tepatnya wanita yang membuatnya sangat terobsesi.
***
Candice menghela napas sembari menatap pos depan kompleks rumahnya. Ah, malas sekali. Andai saja ia bisa pergi dari rumah tanpa harus memikirkan Lusiana, mungkin akan jauh lebih menyenangkan, bukan?
Detik berikutnya, Candice melirik waktu di jam tangannya yang sudah menunjukkan jam delapan malam. Rupanya ia memang sudah keluar terlalu lama setelah memutuskan untuk menepi dulu di warung Hananto. Sebenarnya ia bisa lebih lama untuk berada di warung tersebut, tetapi ia kasihan jika Hananto tak lekas menutup warung gara-gara dirinya.
Hanya berkisar beberapa menit saja, Candice sampai di hadapan rumahnya. Namun keberadaan sesuatu membuatnya langsung marah besar. Sebuah mobil yang sama dengan milik Hans, tetapi ia yakin mobil itu bukan punya Hans. Nomor polisinya berbeda dan terdapat sticker bergambar keluarga.
"Cih, Tua Bangka itu sudah berani datang ke sini yaaa?! Sialan!" ucap Candice kesal.
Candice membuat keputusan yang sangat besar. Ia menyalakan lagi mesin sepeda motornya dan langsung tancap gas. Dengan kecepatan penuh, ia menghantam mobil itu hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Bahkan Candice sampai terjatuh saking kerasnya benturan yang ia ciptakan. Bagian belakang mobil milik Tony penyok. Sepeda motor Candice juga tersungkur dengan beberapa bagian yang pecah. Lengan tangan Candice terluka parah hingga berdarah. Pun dengan kaki gadis itu yang turut lecet karena tergesek aspal.
"Auh ... shiiit!" ucap Candice ketika tangan dan kakinya terasa perih.
"Candice!" teriak Lusiana.
Saat mata Candice melirik ke keberadaan ibunya, Tony juga ada di sana. Pria itu menggandeng tangan ibunya.
__ADS_1
Lusiana segera melepaskan tangan Tony dan bergegas untuk menghampiri putrinya. Namun bodohnya, Lusiana justru lebih memperhatikan bagian belakang mobil Tony yang penyok parah.
"Candice, apa-apaan kamu?! Kamu sengaja ya?! Mau drama sampai bikin rusak mobil orang bahkan diri sendiri, begitu?! Keterlaluan kamu, Candice!" omel Lusiana.
Candice berusaha untuk bangun sendiri. Ya, sendirian. Lusiana malah lebih muak padanya daripada merasa kasihan. Dan hal ini menyakiti hati Candice meskipun Candice tahu ulahnya juga tak bisa dibenarkan.
Dengan kaki yang pincang, Candice menghampiri ibunya. Setelah itu, ia menaikkan salah satu alisnya sambil menyeringai sinis. "Bagus, 'kan? Sekarang sudah ada motifnya tuh? Haha. Lagi pula, kekasih haram Ibu kan punya banyak uang. Enggak sulit kali kalau cuma benerin mobil!" ucapnya sarkastik.
"Diam kamu, Anak Berandal!" sahut Lusiana sembari melayangkan tamparannya di pipi Candice. "Kalau salah ya minta maaf, bukannya berbicara sekurang ajar itu! Kalau pulang, selalu saja bikin Ibu kesal! Keterlaluan kamu!"
"Memangnya aku enggak kesal, melihat Ibu berzina dengan Tua Bangka itu, hah?!"
"Candice!"
Lusiana hendak melayangkan tangan untuk kedua kalinya, tetapi Tony langsung menghentikannya.
"Jangan, Lusi, lebih baik kita pergi dulu. Biar Candice menenangkan dirinya," ucap Tony yang saat ini juga sudah meraih kedua pundak Lusiana dari arah belakang.
"Yang bikin aku enggak nyaman itu kamu, kenapa kamu malah mengajak pergi ibuku, Pak Tua? Mau berapa lama lagi kamu menggunakan tubuh ibuku, hah? Apa masih enggak puas setelah dilayani tanpa status pernikahan sama sekali? Seberapa peyot sih istri kamu, sampai kamu begitu terobsesi sama ibuku?!" omel Candice panjang lebar.
Namun Tony malah memilih mengabaikan dan membawa Lusiana untuk segera meninggalkan tempat itu. Kondisi kaki Candice yang lecet cukup parah dan sepertinya ia agak keseleo membuatnya tak bisa merebut ibunya dari Tony. Gilanya, mengapa Lusiana lebih memilih pergi dengan pria itu daripada mengurus Candice yang luka-luka?
Sesaat setelah meminta Lusiana untuk masuk ke dalam mobil penyok itu, Tony menoleh dan menatap Candice. Ia menatap gadis bar-bar itu dengan tajam. Dan tatapan matanya langsung dibalas dengan jari tengah oleh Candice. Tony menggertakkan gigi sembari membatin, andai saja anak itu enggak ada di dunia ini lagi, pasti Lusiana bisa aku miliki tanpa merasa kerepotan seperti ini.
Pada akhirnya Tony tetap membawa Lusiana pergi, dan rencananya ia hendak ke rumah rahasia mereka. Sementara Candice yang sudah luka-luka dengan susah-payah membawa sepeda motornya yang remuk bagian depannya untuk memasuki pekarangan rumahnya.
Setelah itu Candice baru memasuki rumah tersebut. Ia menuju kamarnya. Ia langsung merebahkan diri tanpa memedulikan darah dari luka-lukanya yang telah menodai seprai tempat tidurnya. Ia tidak menangis. Namun hatinya terasa perih bagaikan diiris-iris. Benaknya mulai memikirkan tentang bagaimana cara untuk menghilang tanpa harus merasa kesakitan.
__ADS_1
***