Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Permintaan Hans Pada Rusdy Kala Itu


__ADS_3

Rusdy tersenyum setelah melihat Candice duduk di bangku di warung Hananto. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah meskipun harus sudah menjelang malam. Sudah pasti Candice sedang malas pulang. Dan tentu saja Rusdy mengetahui alasan di balik keputusan Candice tersebut. Candice memang tidak pernah betah berada di rumah, meskipun rumah itu kerap kosong.


Langkah Rusdy seketika terhenti ketika telinganya terngiang akan suara seseorang. Pun dengan benaknya yang teringat pada sosok orang tersebut. Yakni Hans beserta segudang nasihat yang pernah Hans berikan di waktu pembelajaran tambahan untuk menahan dirinya serta pada siswa yang terlibat tawuran agar tidak melakukan tawuran lagi baru akan dimulai.


"Seberapa dekat kamu dengan Candice, Rusdy?" tanya Hans pada saat itu.


Rusdy mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa, Pak? Kok kepo banget?" balasnya bertanya.


"Enggak apa-apa. Saya hanya sempat heran, Candice sampai lari tergopoh-gopoh demi menyelamatkan kamu dari penangkapan polisi, meskipun kalian tetap terjaring bersama. Saat saya mengancam untuk enggak akan membuat kamu naik kelas pun, dia langsung manut pada saya. Mm, apa kalian pacaran?"


"En-enggak kok, Pak! Kami hanya dekat. Itu saja. Teman yang sangat dekat!" sahut Rusdy yang kala itu tampak gugup. "Ja-jadi wajar saja kalau Candice begitu. Kalau saja di posisi Candice dan demi Candice, saya pasti juga akan melakukannya, Pak!"


Hans menghela napas dan segera menghentikan langkahnya tepat di hadapan Rusdy yang sedang berdiri tegap di depan papan tulis. Ia memperhatikan wajah Rusdy yang dipenuhi kegugupan. Anak yang katanya pernah memiliki masa lalu yang menyakitkan itu, kelihatan sekali bahwa sedang menyukai Candice. Dan hal itulah yang kemudian Hans manfaatkan.


"Kalau kamu sayang pada Candice. Baik sebagai teman atau lebih dari sekadar teman, seharusnya kamu mendorong dia untuk tetap fokus belajar. Berhenti membuatnya ikut tawuran atau nongkrong enggak jelas bersama komplotan kamu, Rusdy," ucap Hans.


Rusdy langsung menimpali, "Saya enggak pernah mengajak dia, Pak! Sungguh! Sejak kelas satu dia memang enggak punya banyak teman. Dan mendadak ikut ngumpul di tempat tongkrongan, sekaligus ikut ekstrakurikuler karate. Sampai akhirnya dia menggabungkan dirinya sendiri pada kami. Sa-saya juga enggak mau dia berakhir menjadi anak nakal seperti kami kali, Pak. Saya juga enggak sekali dua kali meminta dia untuk enggak ikut tawuran. Tapi dia terlalu sulit dibujuk."


"Nah, kuncinya ada di kamu, Rusdy Pangeran. Kalau kamu berhenti melakukan hal-hal buruk itu, termasuk juga menghentikan semua aktivitas enggak baik dengan anggota komplotan kamu, saya pikir Candice pun akan berhenti. Coba deh kamu pikir, Candice sudah enggak punya ayah. Ibunya mungkin bekerja sangat keras sendirian. Terus Candice lulus dengan nilai yang sangat jelek, atau bahkan sampai dikeluarkan sebelum berhasil menyelesaikan pembelajaran kelas tiga. Anak secantik itu bukankah terlalu disayangkan sekali, Rusdy? Termasuk kamu dan teman-temanmu kamu tentunya, Mas Rusdy. Oleh sebab itu, bukan hanya Candice yang ingin saya hentikan, melainkan juga kamu dan teman-teman kamu. Kalian sudah jelas tiga, kelas dua belas! Saya rasa dua tahun sudah cukup untuk memuaskan dahaga kamu untuk menjadi jagoan."

__ADS_1


Rusdy hanya bisa menelan saliva pada saat itu. Ingin merasa kesal pada Hans, ia pun tak mampu. Alasan Hans sangat masuk akal. Terutama mengenai Candice yang memang harus lebih diperhatikan.


"Selama classmeet, hingga sepanjang liburan, ajak semua teman kamu untuk mengikuti pembelajaran dari saya. Setidaknya kalian bisa mengalihkan hobi kalian dengan belajar bersama saya. Karena saya juga harus menjamin kalian, setelah berjanji pada teman saya yang bekerja di kepolisian. Kamu juga bisa mengajak Candice, tapi jika dia tetap enggak mau, setidaknya dia enggak bisa melakukan hal enggak baik dan bisa beristirahat di rumah."


Yah, ucapan Hans tersebut membuat Rusdy dan kawan-kawannya hampir kehilangan seluruh hari liburan mereka. Namun di sisi lain, ia yang terancam tidak naik kelas atau bahkan terancam dikeluarkan karena sempat diamankan, pada akhirnya bisa naik kelas sesuai janji Hans. Pun dengan Candice, meski anak itu tidak ikut pembelajaran sama sekali. Dan permintaan Hans, agar Rusdy juga turut memikirkan masa depan Candice termasuk masa depan diri sendiri, tetap menjadi doktrin yang kuat sampai membuat Rusdy tak lagi menerima tantangan apa pun dari siswa sekolah lain.


"Pak, es teh satu ya, Pak!" ucap Rusdy pada Hananto yang sudah pasti tidak bisa menutup warung gara-gara Candice.


"Oke, Den!" sahut Hananto di balik etalase yang hampir kosong karena menu makanan wartegnya sudah banyak yang terjual.


Candice menghela napas. Detik berikutnya, ia menatap Rusdy yang akhir-akhir ini sulit ia temui. "Buset deh, Rus! Sudah menjadi anak pintar ya kamu? Sampai sulit banget ditemui. Gila! Aku sampai rindu lho!"


"Sorry, Candice. Bukan maksud menghindar, tapi aku memang sedang tobat saja. Setelah mengikuti pembelajaran dari Hans, aku sadar kalau otakku sudah terlalu tumpul. Padahal aku ingin tetap lulus," sahut Rusdy.


"Kayaknya sih iya. Meski orang tuaku sudah bercerai, mereka tetap ingin aku melanjutkan pendidikan. Dan sekarang aku sudah kelas tiga. Sepertinya aku harus mulai serius. Enggak lagi menerima tantangan gelut. Basket pun hanya sekadar hobi sekarang. Setelah semester dua datang, aku pasti langsung berhenti bermain, biar anak kelas dua yang lanjut. Lagi pula, dua tahun rasanya sudah cukup bagi kita untuk menjadi anak bandel, Candice."


"Lalu bagaimana dengan aku? Aku bakal bosan banget, Rus. Aku enggak ada hobi belajar. Di rumah juga suntuk parah."


Rusdy menatap Candice ketika Hananto sudah datang membawa pesanannya, bahkan termasuk sepiring gorengan hangat untuk dirinya dan sang gadis blasteran.

__ADS_1


"Kita masih bisa main bareng kok, mungkin juga belajar bareng," ucap Rusdy. "Kita sudah banyak menciptakan kenangan di SMA itu, Cand."


Candice terdiam sembari mengamati Rusdy yang memang sudah jauh lebih berbeda. Sepertinya upaya Hans untuk mengubah Rusdy sudah berhasil. Sebab, ini Rusdy lho! Anak badung yang juga sangat brutal! Namun barusan Rusdy mengatakan hal positif yang membuatnya terkesan lebih dewasa. Hingga membuat Candice tak lagi mampu membujuk. Gadis itu sadar semua orang berhak mengejar masa depan sekalipun pernah menjadi anak super nakal.


Ah, Candice menjadi teringat akan kata-kata Hans. Bahwa balas dendam terbaik adalah menunjukkan sebuah kesuksesan. Jika nanti Candice yang telah sukses bisa menemukan Ferguz Louis, apakah Ferguz akan terpana dengan pencapaian Candice? Namun, apakah Candice juga masih memiliki kesempatan untuk menjadi anak baik? Posisinya saat ini benar-benar sudah sulit. Ia tidak memiliki motivasi apa pun.


Dan di sisi lain, ia harus mempersiapkan dirinya tentang kemungkinan ibunya akan dipermalukan oleh istri sah dan ketiga anak dari Tony Dharmendra. Jika pada saat itu tiba, bagaimana Candice akan membela ibunya yang jelas-jelas salah dan bagaimana ia akan menutup wajahnya yang mungkin akan kepalang malu oleh kelakuan ibunya sebagai wanita simpanan? Memikirkan hal itu saja Candice sudah pusing, apalagi memikirkan masa depannya yang sudah pasti suram.


"Ah, Rusdy, aku punya teman baru. Cewek lemah yang kerap dirundung. Kamu tahu, 'kan, aku paling benci sama pembully? Sebenarnya, aku enggak sengaja bela dia, saat dia hampir disuruh-suruh oleh gengnya si Jangkung. Aku lupa namanya, tapi kayaknya mirip sama nama anak yang berteman denganku. Haha. Lucu ya? Cuma sedikit membela saja, aku sudah dianggap pahlawan," celetuk Candice yang membahas masalah lain.


Rusdy sampai mengernyitkan dahinya. "Waaaah! Akhirnya Candice laku juga haha. Aku rasa, itu hadiah buat kamu yang akhirnya bisa naik kelas, Candy-ku!" jawabnya.


"Haha, hadiah apaan? Hadiah anak lemah? Aku juga sempat bertengkar sama si Jangkung sampai bikin dia nangis, terus aku ditahan sama Hans. Mungkin biar aku enggak ngejar si Jangkung itu. Takut kali kalau aku beneran bikin mereka babak belur, padahal enggak. Aku enggak ada niat seperti itu, cuma sekadar biar jera saja, aku dorong anak itu ke tembok. Dan saat berjalan ke area parkir motor, aku melihat mobil Hans yang nongkrong sendirian. Aku gelap mata, haha, aku lubangi semua ban mobilnya. Dan pada akhirnya aku ketahuan lagi."


"Candice! Gila! Dia guru lho! Guru baru! Dan katanya anak orang kaya!"


Candice melirik Rusdy. "Kamu juga sudah dengar soal rumor itu? Memangnya beneran?"


"Dari mobilnya saja juga sudah kelihatan. Makanya kita harus berhati-hati padanya. Barangkali koneksinya banyak. Bisa-bisa dia membuat kita enggak bisa cari kerja atau melanjutkan kuliah dengan berbagai koneksinya itu, Candice! Jangan membuat masalah dengan dia deh!"

__ADS_1


Candice terdiam, membenarkan ucapan Rusdy yang juga pernah diakui oleh Hans sendiri, bahwa Hans punya banyak koneksi. Pernyataan itu akhirnya membuat Candice tersadar akan sesuatu. Latar belakang Hans yang memang bukan orang sembarangan sepertinya telah menjadi alasan mengapa seseorang yang bisa jadi adalah Kepala Sekolah sampai mengirimkan Hans untuk menangani Candice dan Rusdy, mungkin juga Anhar. Sebab dengan privilege itu, Hans bisa menyebar ancaman yang akan berpengaruh pada masa depan mereka nantinya.


***


__ADS_2