Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Tamparan Keras di Pipi Hans


__ADS_3

Candice sangat terkejut dengan keadaan yang ia lihat sekarang. Setelah menurunkan Hans di depan lobi sebuah gedung apartemen, Hans didatangi sebuah mobil. Dan tak lama setelah itu, muncul seorang wanita yang mungkin sudah berusia lima puluhan tahun, tetapi memiliki gaya sosialita. Mengenai hal yang membuat Candice terkejut adalah ketika wanita tersebut tiba-tiba saja menampar pipi Hans dengan keras.


Hans menelan saliva dalam keadaan wajah yang masih menyamping. Sungguh malu ketika ia harus membiarkan salah satu muridnya melihat pertunjukan sedemikian rupa. Adalah Yulia Yasri, ibu kandungnya. Kemungkinan besar ibunya memang datang ke apartemennya dan telah menunggunya sejak tadi, sehingga saat ini ibunya tersebut tidak mampu menahan emosi.


"Bagaimana bisa kamu terus-terusan menghindari Mama, Hans! Kamu keterlaluan! Kamu enggak mikir apa selama apa Mama ada di sini menunggu kamu, hah?!" ucap Yulia marah.


Hans menghela napas. Detik berikutnya ia menegakkan tubuhnya dan menatap ibunya. "Aku ada kendala, Ma. Ban mobilku bocor, cukup lama aku menunggu montir dari bengkel sampai satu jam. Kalau enggak ada muridku yang berkenan mengantar aku, aku pasti terjebak lebih lama, Ma," jelasnya.


Dahi Candice mengernyit. "Dih, kenapa dia bilang begitu? Kan aku yang salah, kenapa enggak ngadu sekalian?" gumamnya sangat pelan.


"Memangnya Mama peduli, hah?! Kamu sudah membuat kesalahan besar, Hans! Kenapa tadi malam kamu enggak menemui calon istri kamu, hah?! Mama dan Papa malu gara-gara kamu, Hans! Maluuu!" omel Yulia.


Ya tadi malam seharusnya Hans mendatangi restoran di mana ia harus menemui wanita yang dijodohkan dengannya. Namun ia tidak datang, tetapi juga telah mengirim pesan agar wanita itu pun tidak sampai menunggunya. Ternyata, wanita itu malah tetap datang ke tempat yang telah ditentukan pihak keluarga. Dan sekarang Hans yang disalahkan. Baik, memang salah Hans, tetapi dipaksa untuk menemui wanita yang tidak ia inginkan sama sekali, membuat Hans tetap tidak bisa manut. Ia sudah terlanjur muak menjadi pesuruh di keluarganya sendiri.

__ADS_1


Hans menatap Candice kemudian berkata, "Terima kasih ya kamu sudah mengantar saya. Nanti untuk bensinnya besok saya ganti saja. Sekarang kamu pulang dulu dan hati-hati di jalan."


"Baik, Pak. Selamat berjuang hehe," jawab Candice yang malah meledek.


Berkat sikap Candice, Hans bisa menunjukkan sedikit senyuman di bibirnya. Namun ketika Candice sudah kembali membawa sepeda motor untuk segera meninggalkan tempat itu, senyuman Hans seketika memudar. Setelah Candice pergi, kini waktunya Hans juga turut melarikan diri. Setidaknya ia harus segera melesakkan dirinya ke dalam kediaman sewaannya daripada harus beradu mulut di depan umum dan di waktu yang kian menggelap.


"Hans, lihat saja! Kalau kamu masih enggan untuk bertemu Belinda, Ibu akan membuat kamu enggak bisa bekerja lagi di sekolah itu!" ancam Yulia sebelum Hans melangkah lebih jauh darinya.


"Ma, jika Mama sampai melakukan hal itu, aku akan beralih profesi menjadi kuli bangunan saja. Toh, bukan pekerjaan yang haram, 'kan? Hans lebih memilih bekerja lebih keras daripada harus menjadi pesuruh Mama dan Papa. Stop berusaha untuk mengendalikan Hans, Ma. Masih ada Jack yang bisa menuruti permintaan kalian! Belinda juga pasti mau menikah dengan Jack!" ucap Hans sampai menarik Jack, adik laki-lakinya.


"Dia enggak kompeten seperti kamu dan Belinda enggak suka sama dia. Belinda sukanya sama kamu, Hans!"


"Sudahlah, Ma. Hans capek. Pengen mandi terus merebahkan diri. Please jangan ganggu Hans lagi, toh saat ini Hans sudah enggak terlalu merepotkan kalian lagi. Oleh sebab itu, Mama pulang saja sekarang! Ugh!"

__ADS_1


Hans segera mengambil langkah cepat untuk meninggalkan ibunya yang memang kerap tidak memedulikan tempat kalau sudah mengomel. Yulia memang cenderung memuja uang. Baginya, uang bisa tetap menjaga nama baiknya. Seandainya ada orang yang melihat kemarahannya, ia akan membungkam orang itu dengan uang. Atau mungkin membayar pihak penerbit berita ketika ada artikel yang mencatut namanya dengan berita yang negatif. Namun sebagai seorang ibu yang memiliki banyak uang, ia sama sekali tidak bisa mengendalikan putra pertamanya sendiri dan ini menyebalkan baginya. Pada akhirnya ia hanya mampu meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan lagi. Daripada harus melihat anaknya sebagai kuli bangunan, ia lebih memilih menjadi seorang guru. Padahal tak ada yang salah dengan pekerjaan jenis apa pun, selama bukan kategori tindak kriminal.


Setelah sampai dan telah memasuki kediamannya, Hans tidak langsung bergegas mandi seperti yang ia katakan pada ibunya. Ia malah mendekati sofa di ruang tamunya. Hans berpikir sejenak merebahkan diri tampaknya bukan sesuatu yang salah.


Dan dalam posisi rebahan, Hans menatap langit-langit ruangan. Benaknya menerawang, membayangkan kembali kejadian hari ini. Mulai dari pertengkaran dengan Candice, sampai saat ia dibonceng oleh gadis itu. Ia tak jarang menyanyi sambil bergoyang, hingga membuat Candice begitu kesal. Candice bilang Hans bikin malu, tepat Hans hanya tertawa. Kekesalan yang mendera Candice sampai membuat Candice tak jarang mengebut. Namun upaya Candice induk membuat Hans jera kembali gagal.


"Pft ... hahaha, dia juga enggak tahu kalau aku pun anak motor dulunya. Dua kali gagal mengerjaiku. Pertama ketika berpikir aku enggak bakal mampu makan pedas, kedua saat dia ingin menakutiku dengan kecepatan tinggi. Anak itu lucu sekali kalau sudah digoda seperti itu. Sialnya, ban mobilku kempes semua. Waaah, tapi pada akhirnya, berkat Candice, aku enggak perlu bertemu Mama lebih lama. Meski harus dipermalukan di depan lobi, seenggaknya durasi pertemuan kami sangat singkat. Jadi, sekarang, apa aku harus berterima kasih pada Candice atau tetap mempertahankan kekesalanku padanya?" ucap Hans berceracau sendiri, bahkan tak jarang sampai tertawa sendiri.


Bertemu dengan Candice yang sama sekali tidak tertarik dengan ketampanan, tetapi malah terus memberikan perlawanan, sejujurnya malah membuat hidup Hans lebih berwarna. Apalagi setelah ini durasi pertemuannya dengan Candice akan bertambah, setelah gadis itu berkenan untuk mengikuti les yang ia buka.


Hans berangsur membangunkan dirinya lagi, kemudian bergumam, "Tapi di mana lokasi yang pas untuk mengajar dia ya? Sekolah? Ah enggak. Khawatir ada murid lain yang lihat. Atau di sini? Oh, enggak, enggak, khawatir kena fitnah. Lalu di mana?"


***

__ADS_1


__ADS_2