
Candice menatap Hans yang masih sibuk membantunya untuk mengganti perban yang melekat pada kaki dan tangannya. Hans terlihat sangat berhati-hati dan meminimalisir adanya sentuhan di kulitnya, kendati untuk beberapa momen, Hans tetap menyentuh Candice. Namun pria itu tetap berusaha untuk menjaga batas dan sikap. Padahal Candice tidak terlalu takut pada keberadaan Hans sekarang. Lagi pula, ia bukan gadis yang sangat kuat. Jika ada yang berani menghinanya dengan sikap tak senonoh, meski dalam keadaan sesakit itu, sepertinya Candice masih mampu melempar kursi tamu untuk memberikan serangan telak.
Haha, tapi Pak Guru sangat membosankan. Cih, kenapa dia baik banget sih? Sok perhatian lagi. Sebenarnya dia disuruh oleh siapa sih selain Pak Kepala Sekolah, sampai sebaik ini padaku? Bikin kesal saja! Padahal ibuku sendiri enggak sebaik ini, ck, batin Candice.
Namun pada kenyataannya bukanlah rasa kesal yang Candice rasakan. Ia hanya cukup gengsi untuk mengakui bahwa hatinya sampai tersentuh dan haru karena sikap baik Hans padanya. Tak hanya sekadar memaafkam Candice yang telah menguras habis uang dan melubangi semua ban mobil, Hans malah mengabulkan permintaannya untuk memindahkan Mona, memberikan tumpangan untuknya, membawa Candice ke klinik, dan kini juga membantu Candice untuk mengganti perban. Pak Guru satu ini, apakah melakukan semuanya untuk Candice hanya karena disuruh oleh seseorang?
"Pak?" ucap Candice. "Saya boleh tanya enggak?"
Hans menatap Candice yang tengah duduk bersamanya di sofa di ruang tamu rumah itu. "Iya, katakan saja. Mau tanya soal apa? Kalau tanya soal pacar, saya belum punya," sahutnya.
"Dih, siapa juga yang kepo soal itu," jawab Candice dengan ekspresi yang sengit.
Hans tersenyum. "Barangkali kamu juga sekepo itu seperti siswi-siswi yang lain. Saya sampai pusing buat menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari mereka. Ya bagaimana ya, namanya cowok tampan dan populer, kadang tetap sulit menghadapi para fans."
__ADS_1
"Hoek!" Candice berlagak mual. "Bodoh amat sih soal mereka atau kepopuleran Pak Guru yang enggak seberapa. Saya cuma mau tanya saja, selain Pak Kepala Sekolah, siapa yang minta Pak Hans buat ngawasin saya? Apa ini ada kaitannya dengan Tony?"
Hans seketika terdiam sembari menatap Candice begitu dalam. Rupanya, Candice memang tidak sebodoh yang ia kira. Gadis itu cukup peka.
"Tony ... siapa maksud kamu, Candice?" tanya Hans pura-pura tidak tahu.
"Tony Damendra, pengusaha kaya
"Kamu mau berbagi cerita dengan saya? Kalau mau, saya ini sangat bisa dipercaya lho, Candice. Dan kamu benar, daripada saya sok melakukan penyelidikan lagi, seharusnya saya langsung tanya saja ya ke kamu, mengenai masalah kamu karena beberapa kali saja perhatian kamu ini enggak ada motivasi hidup sama sekali. Ada apa, Candice? Barangkali saya bisa membantu kamu. Saya kan wali kelas kamu, sudah termasuk penanggung jawab kamu selain ibumu."
Candice menghela napas. "Alah, ibu saya tuh hanya bertanggung jawab dalam bentuk memberi uang, tapi uangnya haram. Toko yang Ibu buka pun memakai uang dari Tony Tua Bangka itu. Segala macam barang yang Ibu miliki juga dari dia. Hampir sembilan puluh persen barang-barang yang di rumah ini juga dari si Tony. Enggak ada yang halal sama sekali. Bahkan mungkin saya juga anak yang haram."
"Candice!" Hans menempelkan plester terakhir di tangan Candice dan berakhirlah sudah aktivitas mengganti perban anak itu. Untuk kali Candice pun juga sudah. "Jangan bicara seperti itu. Saya dengar kamu tetap punya ayah, meskipun ayah kamu sudah pergi. Itu artinya kamu bukan anak haram. Lagi pula, enggak ada anak haram di dunia ini. Anak-anak yang lahir di luar pernikahan pun bukan anak haram. Mereka lahir dalam kondisi yang suci tanpa dosa. Yang haram itu perbuatan orang tua mereka. Jadi, kamu jangan sembarangan mendoktrin diri kamu sendiri kalau kamu anak yang haram. Enggak begitu, Candice, kamu adalah anak yang baik, tapi sedang kehilangan arah saja. Oleh sebab itu, percayalah pada saya, saya akan membantumu untuk keluar dari situasi tersulitmu. Saya enggak akan meninggalkanmu, seperti mungkin ibumu."
__ADS_1
Candice membuang muka. Wajahnya tampak masam, tetapi matanya terasa panas. Bahkan suhu tubuhnya langsung naik. Telinganya memerah. Reaksi alami tubuhnya telah membuktikan bahwa hatinya sudah tersentuh akan ucapan Hans. Hans membelanya, dan tidak menyalahkannya, Hans hanya sekadar meralat ucapannya. Bahkan daripada Lusiana yang tadi malam malah memilih pergi bersama Tony, Hans justru berjanji untuk tidak meninggalkan Candice. Mengapa Hans sebaik ini?
"Kalau kamu mau menangis, menangis saja. Enggak masalah. Lalu berceritalah. Khusus hari ini, saya akan menjadikan waktu kursus ini sebagai waktu buat kamu mencurahkan isi hati kamu," ucap Hans.
"Enggak! Siapa juga yang mau nangis?! Menangis tuh enggak ada di kamus hidup saya buat sekarang. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali saya nangis, Pak! Haha," jawab Candice berkilah. Meski begitu ia sampai mendongakkan kepalanya agar tak ada satu tetes pun air mata yang menodai pipinya.
Hans tersenyum, sementara matanya sibuk menatap wajah Candice yang tak terlalu tertangkap kedua netranya, lantaran gadis itu memalingkan wajah darinya. Dari suara Candice yang terdengar bergetar pun sebenarnya, Hans tahu, Candice sudah pasti ingin menangis. Selain hubungan gelap antara Lusiana dan Tony, sepertinya ada hal yang baru-baru ini menimpa Candice. Hans ingin tahu, sungguh ingin tahu.
"Saya pun pernah menangis. Saat enggak sanggup lagi menerima tuntutan orang tua saya yang super otoriter. Dulu, papa saya memang kehilangan perusahaan karena adik satu-satunya telah merebut aset tersebut secara sepenuhnya. Bahkan saat papa saya sukses dengan dirinya sendiri, setelah dibuat bangkrut parah, adik ayah saya itu masih saja mengusik bisnis papa saya. Gangguan dari adik papa yang sekaligus juga paman saya tersebut, menjadi salah satu penyebab mengapa papa saya menjadi pribadi yang begitu keras dan otoriter," kisah Hans yang berinisiatif untuk menceritakan dirinya sendiri. Ia yakin jika ia bersedia membuka diri, Candice akan lebih nyaman untuk turut mencurahkan isi hati.
Candice pun benar-benar tertarik untuk mendengar kisah hidup Hans.
***
__ADS_1