Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Candice Harus Sadar Diri


__ADS_3

Rusdy sejak tadi melirik ke arah Candice yang sedang menyantap hidangan istirahat di warung Hananto bersamanya, Anhar, Mona, dan anak-anak cowok lainnya. Ya pada akhirnya Mona memang mengikuti mereka, karena selain masih memegang amanat dari Hans, ia juga takut ke kantin sendirian, lantaran Moanna tampaknya masih menyimpan dendam, meski sebenarnya di warung ini Mona juga ketar-ketir ketika berada di tengah-tengah anak cowok anggota geng tawuran. Mau bagaimana lagi, yang penting Mona harus tetap bersama Candice.


Baiklah, kembali pada Rusdy Pangeran yang masih diselimuti rasa gamang. Ia ingin bertanya lebih jauh mengenai hubungan Candice dengan Hans yang lambat-laun membuatnya curiga. Dari perbincangan mereka di koridor sekolah menuju arah toilet, Rusdy menyadari bahwa keduanya tidak hanya terlibat kebersamaan satu atau dua kali. Apalagi senyum Hans yang terasa berbeda ketika Candice berlalu menuju toilet, rasanya wajib Rusdy waspadai.


"Kenapa sih, Rus? Dari tadi melihat begitu? Ada yang salah denganku?" tanya Candice sesaat setelah menghela napas saking jengkelnya dengan lirikan Rusdy yang terus tertuju ke arahnya sejak tadi. "Kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan? Atau mau mengajak tawuran lagi? Kayaknya bimbang banget deh?!"


"E-enggak boleh, Candice!" celetuk Mona ketika Candice mengatakan tentang tawuran. Detik berikutnya ia langsung mengerjap-ngerjapkan matanya lantaran semua siswa yang ada di sana langsung menatap dirinya, termasuk juga Candice, Rusdy, serta Anhar. "Ma-maaf, tapi bukankah kalian sudah kelas tiga dan wajib belajar daripada tawuran?"


"Pft ... hahaha!"


Semua siswa yang ada di sana langsung tertawa, kendati masih ada yang tenang lantaran hanya siswa biasa. Ucapan seorang siswi lugu memang cukup menggelitik bagi para anggota geng tawuran itu. Termasuk juga Anhar yang tidak bisa menyimpan tawanya, kendati dirinya dalam posisi sedang mendekati Mona.


Sampai pada akhirnya Candice ambil suara dengan bentakan meminta mereka semua untuk diam, disertai gebrakan tangannya di meja makan. Suasana pun kembali tenang, tak ada satu pun yang berani membantah keinginan Candice. Selain terkenal sebagai salah satu kapten geng yang pandai berkelahi, kedekatan Candice dengan Rusdy Pangeran memang membuat Candice cukup disegani. Dan pada akhirnya para cowok berandal sekolah itu selalu menjaga sikap ketika berada di hadapan seorang cewek bar-bar yang bisa main hajar jika hatinya dibuat tak senang.


"Awas ya kalian kalau sampai membully cewek ini! Bakal habis kalian!" ucap Candice dengan tegas dan garang.


Mona melirik Candice lalu tersenyum tipis. Senang ketika ada seseorang yang membelanya. Dan Candice adalah orang pertama yang membuat dirinya masih bisa disebut sebagai manusia, setelah sekian lama dianggap sebagai sampah sekolah oleh geng Moanna.


"Duh manis banget senyumnya," celetuk Anhar sembari melirik Mona.

__ADS_1


Mona langsung menghapus senyumannya dan menunduk. Ia lebih fokus pada makanan khas warteg miliknya yang memang belum habis.


Detik berikutnya, Candice menatap Rusdy. "Mau bilang apa kamu? Ngomong saja! Enggak usah lirak-lirik menyebalkan begitu!" tegasnya.


Rusdy menghela napas. Setelah sekian detik mempertimbangkan, akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia menarik lengan Candice dan membawa gadis itu untuk keluar dari warung Hananto. Dan karena merasa penasaran, pada akhirnya Candice tetap ikut. Ia berjalan dengan kakinya yang masih pincang karena belum sepenuhnya sembuh dari luka kecelakaan yang ia sengaja.


Rusdy berdiri tegak di depan Candice. Ia menatap cewek bule bermuka jutek itu dengan perasaan yang masih bimbang.


"Ada apa sih, Rus? Butuh duit? Mau pinjam? Sorry, Rus! Aku enggak punya duit! Ibuku belum kasih uang haram dari si Tua Bangka itu, dan uangku habis buat benerin motor," ucap Candice langsung to the point.


"Hei!" Rusdy mengusap wajah Candice. "Enggak ada aku mau pinjam duit ke kamu, Cand. Justru kalau kamu butuh, aku bakal kasih! Kamu enggak harus pinjam, langsung aku kasih!"


Rusdy langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya seketika memerah dan ia tertawa kecil untuk menutupi rasa salah tingkah. "Enggak!" tegasnya yang masih saja tidak sanggup untuk berkata jujur. "Bukan itu, Candice!"


"Terus apa?" Candice mendengkus kesal. "Kalau enggak ada, aku bakal masuk lagi. Makananku masih banyak! Meski ditraktir Anhar dan enggak pakai duit sendiri, tetap saja sayang buang-buang makanan cuma demi ngomong enggak jelas sama kamu, Rus!"


"Mm ... ini mengenai Pak Hans." Rusdy menghela napas. "Sorry, tapi aku tadi enggak sengaja mendengar obrolan kalian di koridor. Kayaknya kalian dekat banget ya?"


Candice mengernyitkan keningnya. Rupanya meski membawa kertas soal ujian ulangan sebagai kamuflase atas rencananya untuk berbincang dengan Hans, tetap saja ada yang menaruh curiga. Beruntung sih ini hanya Rusdy, bukan orang lain. Pantas saja jika Hans ketar-ketir karena terlibat perbincangan dengan dirinya di tempat sepi itu, padahal masih jam pelajaran. Hans mungkin tidak mau jika sampai difitnah macam-macam.

__ADS_1


"Enggak dekat juga kali, Rus! Aku hanya kebanyakan ngerjain dia saja. Terus arah rumah kami juga sama dan beberapa kali ketemu di jalan. Gara-gara pincang aku juga sempat nebeng sama dia. Dan ...." Candice melihat perban yang masih melekat di kulitnya. "Dia bawa aku ke klinik. Sebagai seorang guru sekaligus wali kelas dia bersikap sebaik itu. Lagian, mana ada guru yang tutup mata kalau lihat siswinya luka-luka tanpa pengobatan?"


"Banyak!" sahut Rusdy. "Memangnya kamu sudah lupa tentang siapa kita? Memangnya masih ada guru yang peduli dengan berandalan seperti kita? Mungkin Pak Hans saja, karena dia guru baru. Tapi lambat-laun Pak Hans juga akan bersikap seperti guru lainnya. Oke, dia memang sempat membantu kita yang ditahan polisi, bahkan sampai menahan anggota kita dengan les di hari libur untuk mencegah penangkapan terulang lagi. Tapi, aku rasa Pak Hans tetap akan bersikap seperti guru lainnya saat mengetahui seberapa parah sikap kita dan geng kita selama ini, Cand."


"Dia enggak bakal kayak begitu, Rus."


"Apa?"


"Dia sedang dimanfaatkan oleh para guru yang muak dengan kita. Dan dia enggak punya kesempatan untuk melarikan diri dari tugas mengurus kita."


"Dia anak orang kaya, dia bisa pensiun dini untuk melarikan diri."


"Lalu? Kalau itu terjadi, memangnya kenapa? Toh, dia juga enggak merugikan kita. Dia justru membantuku yang babak belur karena ulahku sendiri. Kalaupun dia mau melarikan diri dari tugas itu, ya enggak masalah. Dia punya hak. Mau bersikap muak pada kita pun, dia juga berhak. Toh, kalau dia mengabaikan kita, kita juga diuntungkan, bukan? Tapi, kenapa kamu malah sebal begitu?"


Rusdy menelan saliva ketika matanya juga tengah mengerjap-ngerjap. "Aku enggak mau kalau kamu sampai jatuh cinta sama Pak Hans, kayak murid-murid cewek yang lain, Cand. Hanya karena kebaikan kecil Pak Hans, kamu enggak bisa langsung menaruh hati. Selain beda status, kamu termasuk juga aku harus tetap sadar diri, bukan? Dekat dengan Pak Hans sebagai teman saja kayaknya enggak pantas. Kita anak berandalan yang bakal mempersulit Pak Hans."


Candice terdiam. Ia menatap Rusdy begitu dalam. Sangat mengerti makna dari perkataan Rusdy barusan. Dan perlahan Candice juga memikirkan, mengenai keputusannya untuk menceritakan kisah hidupnya pada Hans di hari sebelumnya. Pada saat itu, ia berencana untuk membuka hatinya. Ia berharap Hans bisa menjadi pendengar yang bijak untuk setiap keluhan yang keluar dari mulutnya. Namun sekarang, Candice kembali disadarkan oleh ucapan Rusdy, bahwa dirinya hanya anak berandalan yang akan mempersulit hidup Hans saja.


***

__ADS_1


__ADS_2