Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Saling Mencurahkan Isi Hati (Cerita Hans 2)


__ADS_3

Hans menghela napas kemudian kembali berkata, "Sebenarnya sewaktu SMA, saya juga anak yang nakal. Saking pusingnya dengan tekanan papa saya, saya malah menjadi siswa yang begitu bandel, dengan melampiaskan rasa kesal saya ke beberapa hal. Minum, main ke klub padahal saya masih di bawah umur pada saat itu. Saya hanya ingin mencari pelarian, kendati sampai di rumah saya menjadi babak belur karena dihajar habis-habisan. Tapi meski begitu, saya tetap anak yang berprestasi. Yang enggak jarang bisa membantu mencari solusi atas kesulitan papa saya."


"Tapi juga tak jarang ketika peringkat saya turun, saya kembali dihajar habis-habisan. Sampai suatu waktu, papa saya bilang saya sudah dijodohkan dengan anak seseorang demi bisnis. Bukankah saya terkesan diperalat habis-habisan hanya karena saya anak pertama sekaligus anak yang paling pintar di antara tiga bersaudara? Mama saya bilang, jika bukan saya, enggak akan ada lagi yang bisa menjaga perusahaan dari serangan bertubi-tubi dari paman saya itu, Candice. Oleh sebab itu, saya harus manut. Kebetulan juga, anak pengusaha yang hendak dijodohkan dengan saya itu lebih menyukai saya daripada adik laki-laki saya."


"Tapi saya enggak mau. Saya capek.


Hidup terlalu diatur, dan ketika sekali saja enggak memenuhi ekspektasi, saya langsung dibuat babak belur. Untuk pembelajaran katanya. Tepat setelah setengah tahun kuliah bisnis, dan mendengar kabar bahwa saya akan dinikahkan setidaknya satu tahun lagi, pada saat itu saya langsung banting setir. Saya masuk ke jurusan sastra Inggris dan berniat untuk menjadi guru. Kalau bisa ya guru yang sudah diangkat sebagai pegawai negeri, agar saya enggak sembarangan dalam memutuskan pensiun, mekipun sekarang untuk pegawai negeri saya masih belum mendapatkannya. Dan pada momen belum menjadi pegawai negeri ini, mama saya masih sering datang untuk memaksa saya agar saya kembali dan segera menikahi seorang wanita setelah sempat tertunda lama. Tapi wanita kali ini bukan wanita yang sama seperti waktu itu. Kali ini anak pejabat, haha," tutup Hans mengenai kisahnya kemudian ia menatap Candice yang begitu terpana dalam menyimak ceritanya.


Tatapan mata Candice yang sampai tak berkedip tentu saja membuat Hans langsung salah tingkah. Entah mengapa Candice masih saja diam, alih-alih langsung menimpali ucapan Hans. Sekadar ejekan pun sebenarnya tak masalah. Namun, Candice malah membisu!

__ADS_1


"Mm." Hans menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya, saya pun membenci kedua orang tua saya, Candice. Karena mereka memperlakukan saya bak robot yang harus serba manut. Hubungan buruk antara anak dan orang tua, bukan kamu saja yang merasakannya."


Candice menghela napas, berusaha menyingkirkan rasa sesak yang menyiksa batinnya. Hans bercerita dengan begitu lancar, tetapi wajah pria itu juga tampak sayu. Anak orang kaya yang malang. Menjadi seorang guru hanya demi menghindari tuntutan sang ayah yang begitu egois. Namun di sisi lain, Candice harus mengakui bahwa Hans juga menjadi guru dengan sangat baik. Hans pintar dan sabar. Bahkan menghadapi gadis senakal dirinya saja, Hans bisa bertahan.


"Nah, Candice, saya sudah bercerita tentang diri saya. Saya pikir kamu juga sudah berkenan untuk mencurahkan isi hati kamu pada saya. Enggak semua juga enggak apa-apa. Percayalah, Candice, saya hanya bercerita kisah hidup saya pada kamu saja. Dan ini melegakan sekali," ucap Hans.


Candice menelan saliva sembari menurunkan arah pandangnya. Detik berikutnya, ia menyandarkan kepalanya di badan sofa sambil menatap langit-langit ruangan. "Sebenarnya saya jatuh bukan karena kecelakaan, Pak. Tapi karena kesengajaan. Tadi malam Tony datang ke sini. Saya sangat kesal pada saat itu, dan memacu cepat sepeda motor saya untuk menabrak mobil Tua Bangka itu. Mobil bagian belakangnya sampai penyok parah, tapi saya juga tersungkur karena benturannya memang keras. Lalu ibu saya datang, dia mengomeli saya habis-habisan, setelah itu dia malah ikut si Tony pergi tanpa mengurus saya yang luka-luka ini," ucapnya.


Candice tersenyum masygul. "Soalnya saya ... sangat penggecut, karena meski ingin mati ... saya, saya ... enggak berani, Pak. Saya enggak berani menggores nadi tangan saya sendiri, saya enggak berani terjun dari atap sekolah. Saya ...."

__ADS_1


Air mata yang selama ini selalu Candice tahan akhirnya tumpah juga. Batinnya yang sesak telah memintanya untuk menangis daripada bertahan terlalu lama. Memang benar, Candice bingung, mengapa hatinya terasa sakit saat ibunya mengabaikannya dan lebih memilih pergi bersama Tony, padahal ia sudah terbiasa? Dan mengapa kini, di hadapan Hans, selaku guru sekaligus wali kelasnya, ia justru berderaian air mata seperti anak kecil yang baru kehilangan mainan paling berharga? Mengapa harus Hans yang membuat Candice mendadak lemah seperti ini? Apakah karena Hans sudah begitu sabar sekaligus baik hati pada Candice? Bukankah seharusnya Candice bersikap sekekanakan itu di hadapan Rusdy saja, karena Rusdy pun jauh lebih perhatian padanya?


Hans turut merasakan kehancuran hati Candice yang sudah berada di level paling parah. Mungkin sikap Candice dalam menabrak mobil Tony memang tak bisa dibenarkan, tetapi mengapa Lusiana juga tak menunjukkan sedikit pun kepedulian? Bahkan ketika Hans meminta agar Lusiana memberikan pengawasan saja, Lusiana malah tak datang.


Baiklah, ini salah Lusiana. Ya, untuk kali ini saja, Hans ingin melimpahkan segalanya pada Lusiana yang enggan datang. Dan ia tidak peduli. Ia akan tetap merengkuh Candice yang begitu terluka. Ya, pada akhirnya, Hans memeluk gadis itu dengan penuh kepedulian yang sarat akan perhatian begitu besar. Ia mengabaikan segala pemikirannya untuk tetap menjaga jarak yang sejak tadi ia ingat. Mau bagaimana lagi, Candice sedang butuh sandaran. Dan mungkin hanya pada dirinya, gadis itu mampu menyandarkan kepala untuk setidaknya mengurangi sedikit beban.


"Candice, sekarang kamu enggak sendiri lagi, ada saya di samping kamu. Selain bisa bertindak sebagai guru kamu, saya yang masih muda ini bisa menjadi teman terbaik untuk kamu. Saya berjanji, Candice, saya enggak akan meninggalkan kamu sampai kamu mendapatkan jalan untuk masa depan kamu sendiri. Saya akan selalu berada di samping kamu, sampai kamu bisa sukses nanti," ucap Hans sembari membelai lembut kepala Candice, sementara Candice maka sesenggukan meski tidak menangis sehisteris tadi.


Tony Dharmendra, tampaknya Hans juga harus membuat perhitungan pada pria itu. Tak hanya karena Tony yang adalah adik ayahnya sekaligus juga pamannya yang memang harus ia tangani suatu saat nanti, tetapi juga karena Hans harus melindungi Candice yang sampai menderita begitu parah.

__ADS_1


Ya, Tony, pria yang tadi siang Hans lihat di toko milik Lusiana adalah paman yang sangat ia kenal. Paman yang telah merebut usaha pertama ayahnya sekaligus pengganggu paling menyebalkan.


***


__ADS_2