
Hans menyeringai setibanya ia di sebuah restoran, setelah sebelumnya mendapatkan tawaran pertemuan dari seseorang. Seringai yang terlukis di bibirnya tentu saja bukan seringai tanpa makna. Ia justru sedang merasa antara tidak habis pikir sekaligus konyol. Adalah Tony Damendra, pamannya sendiri, yang sedang mengundangnya untuk makan bersama di malam ini. Tony mengatakan undangan tersebut melalui Rano, selaku asisten pribadi pria tua itu sendiri. Dan sepertinya, Tony tidak tahu jika Hans yang sedang diundangnya adalah Hans, sang keponakan.
Kemudian seringai di wajah Hans tampak memudar ketika ia sudah mulai melangkahkan kaki untuk memasuki area dalam restoran tersebut. Matanya mencari jalan yang harus ia tempuh untuk bisa sampai di salah satu ruangan model private dengan ukuran yang luas yang juga dikhususkan untuk tamu-tamu VVIP saja, di mana Tony tengah berada. Ah, mungkin saja Tony sudah menduga-duga perihal siapa Hans, tetapi karena sudah lama melepaskan diri dari keluarga Hans, menurut Hans, Tony tak terlalu memahami situasi di keluarga Narendra saat ini. Termasuk juga diri Hans yang telah bekerja sebagai seorang guru di sekolah yang ada Candicenya.
"Ck, mungkinkah kali ini juga akan menyenangkan?" gumam Hans sesampainya di depan pintu ruang makan pribavi itu.
Hans dipandu oleh salah seorang pelayan yang kemudian dirinya dipersilakan memasuki ruangan sesaat setelah sang pelayan memberikan pemberitahuan pada Tony.
Di dalam sana, Tony langsung menatap sang tamu. Awalnya ia bersikap angkuh dan enggan untuk memberikan sambutan ramah, tetapi kemudian matanya langsung melebar. Keberadaan Hans yang sangat ia kenal membuatnya terkejut bukan kepalang. Ia yang awalnya enggan untuk bersikap ramah, kini malah sampai berdiri. Sekaget itulah Tony saat ini. Ia mendengar kabar bahwa Hans telah menjadi seorang guru, tetapi menurut kabar terakhir yang ia dengar, bukan di sekolah Candice, Hans mengajar.
Ah, aku melewatkan informasi ini, karena kupikir Hans sudah membulatkan tekad untuk tidak akan pernah kembali ke perusahaan ayahnya dan enggak akan mengancam bisnisku lagi. Tapi enggak aku sangka, dia malah menjadi guru anak nakal itu. Hans. Aku pikir hanya namanya saja yang sama, ternyata orangnya adalah dia. Sial, batin Tony yang sudah melewatkan informasi seputar keponakannya sendiri.
"Halo, Paman!" ucap Hans semringah. Detik berikutnya, ia lekas mendudukkan diri di kursi yang akan membuatnya berhadapan dengan Tony. "Enggak aku sangka sama sekali, orang yang akan memberiku perintah adalah Pamanku sendiri. Waaah, apakah ini adalah suatu kebetulan?"
"Aku juga enggak menyangka, keponakan nakalku sekarang sudah menjadi guru, padahal bisa menjadi binnatang suruhan ayahnya," sahut Tony lalu menyeringai.
"Ck, haaaa. Mengejutkan sekali, Paman Tony masih saja sengit pada keluar kami. Padahal Paman lho yang telah merusak ikatan silahturahmi. Tapi, yaaa ...." Hans tersenyum kemudian meletakkan kedua lengannya di atas meja sembari mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menatap Tony dengan sorot mata mengejek. "Bukan soal keluarga, 'kan, yang akan kita bicarakan? Tapi, mengenai Candice, anak dari simpanan Paman. Waaah, enggak aku sangka sih, selera Paman tinggi juga. Lusiana sangat cantik. Gilaaaak! Benar-benar cantik! Kalau Tante Dianra sampai tahu, bagaimana ya?"
Tony tersenyum kecut. "Kamu sedang mengancam aku?"
"Mm, enggak tuh. Hanya menggoda saja." Hans menarik tubuhnya sembari mengembuskan napas secara kasar. "Apa yang Paman inginkan dari saya? Menjaga Candice? Ah, Paman tenang saja, tanpa perintah atau bayaran dari Paman, saya akan tetap menjaganya kok. Enggak harus pakai upah."
Tony memicingkan matanya. "Kamu ... menyukai anak berandal itu?"
"Mm?" Dahi Hans mengernyit. "Suka? Tentu saja. Guru menyukai murid, semua murid. Enggak ada salahnya, 'kan?"
__ADS_1
"Tapi, aku lihat kamu menyukai anak itu dengan cara yang berbeda. Seorang Hans yang dulu kerap membuat ulah, enggak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan pribadi, semacam jatuh cinta."
Hans terkekeh. "Jangan mengadi-ngadi, Paman. Hans yang sekarang bukanlah Hans yang dulu. Saya sudah menjadi guru, jadi kepribadian saya juga harus berubah, 'kan? Menyukai Candice, membimbing Candice, dan mengubahnya, bukan sesuatu yang spesial bagi seorang guru pada dia yang adalah murid saya."
Kali ini Tony yang menarik tubuh dan bersandar pada kursi yang didudukinya. Masih tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, ketika matanya terus mengamati setiap ekspresi yang tertera di wajah Hans. Ucapan Hans memang masuk akal untuk dijadikan sebagai alat berkilah atas dugaan Tony. Dan Tony bisa lekas percaya jika saja dirinya bersedia. Namun saat ini ia juga harus mencari celah atas diri Hans yang telah mengetahui rahasianya, rahasia mengenai hubungan gelapnya dengan Lusiana.
Jika Dianra sampai tahu dan itu dari Hans, Lusiana bisa berada dalam bahaya. Bahkan Tony yang sebentar lagi juga ingin mencalon diri sebagai salah satu pejabat negara akan mendapatkan kerugian besar. Ia sudah mempertaruhkan banyak uang untuk persiapan kampanye mendatang dan ia tidak mau gagal hanya karena rumor perselingkuhannya. Hans harus dibungkam!
Detik berikutnya, Tony memajukan badannya lagi. Ia menatap Hans dengan tajam, kemudian berkata, "Kamu enggak berniat untuk melaporkan hubunganku dengan Lusiana pada Dianra, bukan?"
"Mm." Hans berlagak mempertimbangkan. "Entah. Jika hal itu bisa menjadi momen menyenangkan, bukankah saya harus melakukannya, Paman? Anggap saja sebagai balas dendam saya terhadap Paman yang sudah berkali-kali menciptakan rumor tak berdasar mengenai perusahaan papa saya."
Tony menggertakkan gigi. Mungkin ia memang sedikit kesal atas reaksi yang Hans berikan. Namun, pertanyaannya barusan merupakan salah satu cara untuk memancing Hans agar membicarakan tentang seberapa penting Candice bagi Hans. Jika sampai sepenting itu, mungkin Candice bisa ia jadikan sebagai alat untuk membungkam mulut Hans yang baginya memang tidak dapat dipercaya.
"Rupanya setelah bersusah-payah kabur dari ayahmu, kamu masih berpikir untuk kembali ke rumah dan meneruskan perusahaan ya, Hans?" celetuk Tony. "Tapi bagaimana ya? Aku juga enggak akan membiarkan jalanmu semudah itu, Nak. Apalagi kamu sedang memegang rahasiaku. Tak hanya akan menghalangi jalanmu, termasuk membuatmu menjadi guru terkotor. Tapi, jika kamu berani tutup mulut, aku akan melakukannya."
"Oh baik, kalau begitu aku enggak perlu bersusah-payah lagi untuk menghalangi jalanmu untuk menjadi penerus perusahaan ayahmu yang akan menjadi kompetitor terburuk bagi perusahaanku. Tapi, bagaimana ya, Hans? Demi membungkam mulutmu, sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada Lusiana, yang tentunya akan berpengaruh pada hidup Candice."
Wajah Hans langsung kebas. Oh, sial, ia sudah terjebak. Tony sangat manipulatif, licik, dan pandai membalikkan keadaan. Sebab jika tidak memiliki sifat-sifat seburuk itu, tak mungkin Tony sampai mampu merampas usaha yang dibangun oleh ayah Hans di masa lalu. Selain hidung belang, Tony adalah pria yang sangat buruk. Hans juga yakin Tony telah melakukan sesuatu terhadap Lusiana, sampai Luisana sulit sekali melepaskan Tony. Ini bukan soal mistis, tetapi kemampuan Tony dalam memanipulasi, tampaknya cukup sukses untuk menjebak Lusiana.
"Apa yang akan lakukan pada wanita yang Paman sendiri cintai? Paman bersama Lusiana bukan sekadar karena nafsu saja, 'kan? Karena jika karena nafsu, enggak mungkin Paman mempertahankan Lusiana dalam waktu yang lama," ucap Hans.
Tony menyeringai. "Tampaknya kamu sudah memahami segala situasi ya, Hans? Memang benar kalau aku mencintai Lusiana, sampai rasanya gila jika enggak bertemu dengannya dalam satu hari. Dia memang wanita yang begitu membuatku terobsesi," sahutnya.
"Orang gila." Hans sampai menggertakkan gigi saking kesalnya.
__ADS_1
"Ya, terserah kamu mau menilaiku bagaimana. Tapi, Hans, karena Lusiana juga sudah terlalu mencintaiku, tampaknya enggak sulit bagi kami untuk memiliki anak. Kehamilan Lusiana pasti akan menghancurkan Candice, bukan? Aku enggak peduli apakah Candice berharga bagiku, baik sebagai wanita atau murid. Tapi sebagai seorang guru, apa kamu tega membiarkan anak didikmu sampai menggila setelah melihat ibunya hamil di luar pernikahan?"
Mata Hans melebar. Emosinya sampai naik drastis di detik itu juga. Tony memang orang gila! Benar-benar iblis yang gila! Namun reaksi berlebihan dari Hans yang notabene adalah guru inilah yang membuat Tony yakin bahwa Hans melihat Candice tak hanya sekadar sebagai murid, melainkan juga seorang wanita. Itu wajar saja. Hans masih muda. Jarak umur Hans dengan Candice tak sampai sepuluh tahun. Kendati mereka adalah guru dan murid, kemungkinan untuk saling jatuh cinta bukan sesuatu yang aneh.
"Bagaimana, Hans? Tampaknya Candice sangat berarti untuk kamu, ya? Aku jadi membayangkan seberapa gilanya anak itu jika ibunya sampai mengandung anak lain, hahaha!" Suar tawa Tony terdengar menggelegar sekaligus menggema, memenuhi ruang makan private tersebut.
Hans yang sudah tidak bisa menahan diri, segera bangkit dan melayangkan tinjunya terhadap Tony. Pipi kiri Tony langsung memar, bibir Tony terluka. Namun Hans masih murka. Tak berselang lama, Hans sampai menarik kerah kemeja Tony, tanpa memedulikan semua hidangan yang menjadi berantakan.
"Lihat saja yang kamu sampai melakukan hal itu, aku enggak akan tinggal diam, Tony! Aku akan membunuhmu! Langsung membunuhmu!" ucap Hans tegas.
Namun Tony justru tertawa terbahak-bahak. "Melihat reaksimu, sepertinya kamu memang sudah jatuh cinta pada Candice ya? Katanya anak pintar, tapi kenapa kamu mudah sekali untuk ditebak, Nak? Keputusanku tergantung pada dirimu. Jika kamu mau tutup mulut, aku akan menjaga diriku juga, Nak. Tapi perlu kamu ingat, Nak, meski Lusiana sudah berusia tiga puluh delapan tahun, dia masih bugar dan subur. Pola hidupnya sangat sehat. Dia tak hanya awet muda dan wangi, tapi juga masih hamil. Itu sebabnya kami selalu memakai pengaman hahahaha! Oleh sebab itu, tutup mulutmu dan tidak usah menyebarkan rumor tentang perselingkuhanku, Anak Sial!"
Tony mendorong keras tubuh Hans, sampai Hans terbentur kursi hingga tersungkur. Dengan angkuh Tony berdiri dan menatap Hans yang sedang berusaha untuk berdiri dengan angkuh. Detik berikutnya, ia memutuskan keluar dari ruangan tersebut.
"Ingat kata-kataku, Hans!" tegas Tony sebelum sepenuhnya keluar. "Beri pelajaran dia, setidaknya sampai kakinya menjadi pincang," titahnya pada sang asisten yang memiliki postur tubuh sangat kekar.
"Baik, Tuan Besar," jawab Rano, asisten pribadi Tony tersebut.
Rano dengan cepat memasuki ruang makan private tersebut. Tanpa banyak bicara ia langsung memukuli tubih Hans yang memang atletis, tetapi tidak lebih besar darinya. Hans beberapa kali melawan dan berhasil memberikan serangan.
"Aaaaakkhhh!"
Namun Rano bukanlah orang sembarangan yang tak punya pengalaman, dan Hans kalah telak sampai kembali tersungkur. Terakhir, Rano sudah bersiap untuk menginjak kali Hans dan ....
"Aaaaakkkkhhh!"
__ADS_1
***