Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Jantung Hans yang Terus Berdebar-debar


__ADS_3

Di dalam kelas dua belas C, Hans dan Candice tengah berada. Ketika Rusdy dan Anhar sudah mulai bisa dibujuk untuk memperbaiki sikap, hanya anak cewek ini yang masih sulit diatasi. Dan Hans pun bingung sekali. Menggunakan kekuatan latar belakangnya sebagai anak orang kaya seperti yang diinginkan oleh Kepala Sekolah, sepertinya benar-benar tidak akan mempengaruhi Candice yang super keras kepala. Candice sudah terlalu jauh dalam kehilangan arah. Hans pun tak yakin apakah pergaulan Candice hanya sekadar di lingkup kelompok tawuran, ia khawatir jika Candice sampai sudah bersentuhan dengan dunia malam.


"Candice, apa saya boleh bertanya?" tanya Hans.


"Tanya saja, memangnya sejak kapan Pak Guru meminta izin untuk berbicara pada saya?" sahut Candice ketus sembari menatap Hans yang berdiri di hadapannya, sementara dirinya tetap duduk di salah satu tempat murid.


"Mm, kamu punya masalah serius?" Hans menghela napas. "Semacam sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?"


Candice terdiam. Guru ini sedang berusaha menggali sumber penyakit dari kenakalannya. Namun Candice tidak berkenan berbicara tuh! Memangnya anak mana yang sanggup mengumbar aib ibu kandungnya? Bahkan mungkin juga ayahnya yang minggat sejak sebelum dirinya lahir ke dunia? Tentu tidak ada. Pun dengan Candice.


Mau seburuk apa pun hubungan Candice dengan Lusiana, Lusiana tetaplah ibunya. Oleh sebab itu juga, ketika sudah jengah masuk sekolah dan berkali-kali ingin dikeluarkan, Candice malah terus berangkat kendati tak jarang membolos, sebab ia sudah mengarungi banyak tahun pembelajaran hingga membuat ibunya sampai bekerja keras.


"Enggak ada masalah, Pak," ucap Candice.


Hans menekankan kedua tangannya di atas meja di mana Candice berada dan secara otomatis punggungnya melengkung ke depan. Netra hitam legamnya sibuk menatap Candice dengan tajam, sementara gadis itu berangsur memundurkan badan. Candice menghela napas sembari menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Hans. Detik berikutnya, ia menggerai rambut pirangnya karena kepalanya terasa pening.


Namun ... penampakan Candice dengan rambut lurus pirang yang tak lagi terikat tersebut sukses membuat Hans menelan saliva. Apalagi ketika Candice lagi-lagi menatapnya. Mata biru agak hijau, bulu mata yang lentik, hidung panjang yang lancip, kulit bersih tanpa make-up, dan bentuk bibir yang lucu membuat Candice seperti Barbie hidup. Dan juga membuat Hans sampai sesak napas.


"Ugh ...." Hans cepat-cepat menegakkan tubuhnya. Namun entah mengapa, ia justru langsung diserang kepanikan. Jantungnya berdebar-debar. Dan yang paling kelihatan, ia salah tingkah.


Bisa gila aku. Memangnya hanya gadis ini saja yang unik? Masih banyak yang lain juga, 'kan? Ini bocil lho, Hans! Ucap Hans dalam hati untuk menyadarkan dirinya sendiri.


Candice mengernyitkan dahi. Bingung dengan sikap Hans yang aneh. "Pak Guru kenapa?" Ia menyeringai. "Kaget lihat bule cantik dari dekat? Kenapa salah tingkah begitu? Bapak suka sama saya?"


"E-enak saja! Mana ada saya suka sama bocil kayak kamu?" tukas Hans berkilah.

__ADS_1


"Ya siapa tahu Pak Guru punya penyakit pedo! Haha."


"Waaah, kamu semakin kurang ajar ya, Nak?" Hans melipat kedua tangannya ke depan dan terus berusaha untuk mengendalikan dirinya. "Candice, kamu sudah kelas tiga sebentar lagi lulus—"


"Terus?"


"Perbaiki sikap kamu. Ubah kebiasaan kamu. Mulai belajar dengan benar. Barangkali bisa melanjutkan ke kampus elite."


"Kalau saya enggak mau?"


"Hmm ... saya akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat kamu bersedia, Nak. Meluluskan kamu dari sekolah ini tampaknya akan sangat membantu jenjang karier saya sebagai seorang guru. Jadi, ada untungnya juga jika saya berhasil."


Candice tertawa meremehkan. "Pak Guru enggak akan bisa tuh!"


"Kita lihat saja nanti."


"Koneksi saya bukan hanya dengan polisi saja, Candice, tapi banyak sekali. Saya bahkan bisa melacak keberadaan seseorang yang sudah lama menghilang. Saya bisa menemukan mereka, baik yang masih hidup atau sudah mati."


"Saya enggak mau tahu tuh! Lagi pula enggak ada orang yang mau saya cari. Jadi enggak akan ngaruh!"


Hans mendekati Candice lagi. "Benarkah enggak ada yang ingin kamu cari?"


Embusan napas Candice terdengar cukup kasar. "Ck, maksud Pak Guru saya harus mencari ayah saya? Meski dia sudah mati sekalipun? Pak Guru sudah mengetahui hal itu, bukan? Dari ibu saya, 'kan? Atau dari Pak Kepala Sekolah? Tapi, saya enggak berniat mencari ayah sialan itu sama sekali. Mau dia masih hidup kek, atau sudah mati kek, bodoh amat!"


"Hmm." Hans berjalan di sekitar tempat mengajar tersebut. "Kalau saya jadi kamu, saya bakal mencarinya. Siapa tahu dia masih hidup dan saya akan membalas dendam haha."

__ADS_1


"Cih, memangnya sebagai seorang guru, Bapak boleh mengajarkan muridnya mengenai hal seperti itu?"


"Memang enggak boleh. Guru itu digugu dan ditiru. Tapi sebagai manusia biasa yang masih punya empati dan pemahaman, saya juga tahu seberapa marah dan kecewanya kamu sekarang, Candice. Perasaanmu cukup manusiawi. Lagi pula, Candice, balas dendam enggak perlu pakai kekerasan. Tapi cukup dengan menunjukkan kebahagiaan."


"Masalahnya saya enggak bahagia, Pak! Mana mungkin saya bisa membalas dendam dengan cara seperti itu!"


Hans menghentikan langkahnya lagi dan kembali membungkukkan tubuhnya di hadapan Candice seperti sebelumnya. "Makanya kamu harus lulus, Candice. Terus melanjutkan ke universitas terbaik. Setelah itu mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar atau mungkin malah menjadi pengusaha sekalian. Robek harga diri ayahmu dengan menjadi orang yang sangat sukses. Soal nilai kamu, mm, masih ada kesempatan. Demi menunjang karier saya dengan memanfaatkan kamu, saya bersedia menjadi guru les kamu, Candice. Asalkan kamu enggak bilang sama siswa lainnya. Toh, pada akhirnya kita sama-sama saling memanfaatkan, bukan?"


"Mmmmm ... Pak Guru sudah selesai belum ya bicaranya? Saya sudah bosan nih, capek, ngantuk, pengen tidur. Siapa tahu nanti enggak bakalan bangun lagi."


"Candice!"


Candice segera bangkit dari duduknya, sampai wajahnya menyentuh pucuk hidung Hans yang juga sangat mancung. Sentuhan itu tidak membuatnya bereaksi berlebihan, tetapi berbeda dengan Hans yang langsung berdebar-debar. Karena keadaan jantungnya, Hans langsung mundur.


"Kalau mau kasih saya hukuman, silakan ngomong saja, Pak. Saya akan melakukannya. Enggak usah ngomong panjang lebar, sampai suara jantung Bapak pun kedengarannya. Saya ngeri lho berduaan bersama Pak Guru di kelas sesepi ini. Siapa tahu Pak Guru memang pedo!" ucap Candice sarkastik.


Hans tertawa salah tingkah. "Enak saja kamu ya, Nak. Lagi pula saya masih muda, perbedaan usia kita enggak sampai sepuluh tahun. Jika memang benaaaar saya tertarik padamu, saya rasa itu masih masuk akal. Enggak masuk akalnya adalah ketika saya adalah seorang guru dan kamu adalah murid, benar-benar enggak etis jika hal itu sampai terjadi."


"Makanya lebih baik Bapak segera memberikan hukuman pada saya dan membiarkan saya pulang setelahnya, daripada terlalu lama bersama saya, takutnya nanti Pak Guru malah merasakan perasaan tak etis tersebut!"


Hans menghela napas. Sembari membuang muka, ia berkata, "Pulanglah. Lagi pula sudah sore. Tapi jangan melakukan kekerasan lagi, dan satu hal lagi, tolong kamu ingat-ingat ucapan panjang lebar saya tadi, Candice."


"Kalau ada waktu, saya akan memikirkannya, Pak!"


Candice segera menyambar tasnya yang masih tergeletak di atas meja. Detik berikutnya, ia mengambil langkah dan bergegas untuk keluar dari ruang kelas tersebut sekaligus meninggalkan Hans. Sepeninggalan Candice, tubuh Hans terasa lemas. Jantungnya masih berdebar-debar. Ini gila!

__ADS_1


"Masa iya aku tertarik pada anak berandal itu? Enggak, sekalipun dia anak teladan pun, ini enggak etis sama sekali. Bagiku sama sekali enggak bermoral!" ucap Hans.


***


__ADS_2