
"Cukup! Aku berubah pikiran. Tidak harus membuat kakinya patah, Rano. Mau bagaimanapun dia masih keponakanku," ucap Tony pada saat itu. Lalu ia berjalan ke arah Hans yang tersungkur setelah bersusah-payah untuk menghindari hantaman kaki milik Rano. Sesampainya di hadapan Hans, Tony langsung menarik kasar dagu keponakannya tersebut. "Seorang guru harus terus menjaga sikapnya di hadapan orang yang lebih tua, 'kan, Hans? Tapi kamu tidak melakukan hal itu, sampai menarik kerah pakaian pamanmu ini, Nak. Ini hanya sekadar pelajaran agar kamu selalu menjaga sopan-santun, Hans. Mengenai Candice, ya, tentu saja jika kamu bisa mengubah sifat buruk gadis itu, dan juga menjaga rahasia hubunganku dengan Lusiana, tentu saja aku tak akan sampai menghamili Lusiana. Sekarang, semua keputusan ada di tanganmu, Hans."
Demikianlah ucapan Tony yang akhirnya tetap menyelamatkan Hans dari kemungkinan akan memiliki kaki pincang. Ya, Hans sudah masuk ke dalam perangkap pria tua tersebut. Keselamatan mental atau bahkan fisik Candice berada di tangannya. Terlepas dari apakah Candice memang berharga baginya atau tidak, Hans tetap harus bertanggung jawab karena Tony masih merupakan kerabatnya. Kendati Tony sudah lama memutuskan ikatan persaudaraan, tetap saja, Hans tidak boleh mengacuhkan dampak dari ulah Tony yang akan membuat Candice hancur berantakan.
Dan saat ini, Hans yang masih merasa kesakitan di beberapa bagian tubuhnya, serta memar di wajahnya, pada akhirnya tidak bisa fokus mengajar. Ia hanya memberikan tugas pada para muridnya, dengan hanya mengawasi anak-anak itu. Saking kalutnya, Hans bahkan sampai tidak tahu jika dirinya telah menjadi trending topik di antara para siswa di SMA tersebut. Ya, memangnya siapa yang tidak heran jika ada guru tampan yang babak belur seperti kondisi Hans sekarang?
Seperti halnya Candice, yang sejak tadi tidak bisa berhenti menatap Hans. Bahkan ia sampai mengabaikan tugas yang seharusnya ia kerjakan. Mau bagaimana lagi, luka-luka di wajah Hans, di mana guru itu juga tepat berada di hadapannya lantaran ia harus duduk di depan seperti perintah Hans sebelumnya, memang sangat membuat Candice merasa gusar. Sebagai gadis yang kerap ikut tawuran atau perkelahian, Candice tahu betul penyebab wajah Hans memar-memar. Meski begitu, Candice ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada guru super baiknya tersebut.
"Ck." Candice mendecapkan lidahnya. Detik berikutnya, ia lebih memilih menaruh kepalanya di atas meja.
Mona langsung menatap Candice. "Kamu kenapa, Candice?" tanyanya pelan.
"Enggak apa-apa. Kalau sudah selesai, nanti kasih contekan ke aku ya? Aku malas mikir. Tenang saja, sepuluh dari lima puluh soal bakal aku silang sembarangan, jadi kamu enggak perlu khawatir nilai kita sama," sahut Candice sembari menaikkan arah pandang untuk bisa menatap Mona.
Mona mengangguk mengerti. "Ta-tapi, Pak Hans ...? Ah, Candice, dilihat Pak Hans!"
"Mm?"
Dengan kepala yang masih menempel meja, Candice berusaha untuk menatap Hans. Di mana pada saat itu juga, Hans juga tengah menatapnya. Sepertinya Hans mendengar keinginannya pada Mona perihal contekan. Memang wajar, posisi meja mereka memang saling berhadapan. Dan Candice tidak bisa menurunkan volume ucapannya. Tadi pun, Mona sudah dilanda cemas ketika Candice membuat permintaan.
Candice segera menegakkan tubuhnya lagi. Ia juga melipat kedua tangannya ke depan. Tatapan matanya bertaut dengan mata Hans. Namun, ... hampir satu menit berjalan, Hans yang biasanya langsung mengomel kini malah diam. Mungkin hanya menghela napas kemudian mengabaikan mimik wajah Candice yang terkesan menantang. Bahkan di detik berikutnya, Hans bangkit. Bukannya menghampiri Candice untuk memberikan omelan, kini Hans justru berjalan ke luar.
__ADS_1
"Lima belas menit lagi, tolong kumpulkan lembar jawaban kalian. Kerjakan baik-baik jika tidak mau remidi." Hanya kalimat itu yang Hans ucapkan pada para murid lalu benar-benar keluar dari ruang kelas.
Hans tahu, tak seharusnya ia mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Namun untuk saat ini ia memang benar-benar kalut. Selain itu, bibirnya masih terasa perih, pun dengan bagian rahangnya yang sempat dipukul keras oleh Rano, sehingga membuatnya tidak bisa banyak bicara untuk sekarang.
Kepergian Hans langsung membuat seisi kelas menjadi ramai. Mereka saling tukar jawaban, tetapi juga tak jarang malah memulai gosip untuk merundingkan penyebab Hans sampai babak belur. Terutama Anita yang sudah geger ingin mendatangi Hans lalu menyembuhkan luka-luka di wajah guru tampannya itu. Dan ia berbicara dengan nada yang kemayu, centil, tetapi juga ceria. Sampai sikapnya menjadi objek lirikan sinis dari Candice.
"Ck, menyebalkan sekali, sih?!" pekik Candice kesal. Entah karena Anita atau karena Hans yang tak memberikan penjelasan apa pun mengenai luka-luka tersebut. Detik berikutnya, Candice menatap Mona, kemudian kembali berkata, "Mon, aku kau ke toilet sebentar. Tolong isikan lembar jawabanku, seluruh di antaranya silang indah saja. Essainya enggak perlu diisi. Biarkan saja!"
"Ta-tapi?" Sayangnya ucapan Mona berakhir sia-sia setelah Candice sudah mengambil langkah cepat dengan membawa lembar soal.
"Candice! Mau ke mana?" Rusdy pun berteriak, tetapi sama seperti Mona, ucapannya tidak dijawab. "Mau ke mana sih? Mau bolos ya?" Dan ia berencana untuk ikut.
Candice sudah berjalan di koridor kelas tiga, tetapi ia tidak menemukan Hans di mana-mana. Dan ia pikir mungkin Hans ada di kantor guru, sehingga membuatnya tak jadi menemui gurunya itu. Namun sebelum kembali ke kelas, Candice masih berencana ke toilet. Dan di belokan menuju toilet, Candice menemukan Hans yang terduduk lesu di kursi kayu berukuran panjang yang menghadap sebuah taman mini.
Hans menelan saliva. Tentu ia tahu makna yang terkandung di dalam setiap kalimat yang meluncur keluar dari bibir gadis bule itu. Candice bukan ingin menanyakan perihal tugas darinya, melainkan ingin mencari tahu mengenai penyebab wajahnya sampai babak belur. Lagi pula, memangnya masuk akal siswi yang ingin mencontek jawaba sang teman mendadak kepo soal jawaban.
"Tolong jelaskan pada saya, karena saya enggak bisa mengabaikan kesulitan ini begitu saja, Pak," ucap Candice lagi.
Hans berangsur bangkit dari duduknya. Ia menatap Candice sembari menghela napas. Anak itu cukup pintar dan peka jika diasah dengan baik. Namun gara-gara Tony, Candice menjadi anak yang seperti ini.
"Saya baik-baik saja, Candice," ucap Hans lirih. "Enggak ada yang perlu dicemaskan. Sebaiknya kamu kembali ke kelas, nanti saya—"
__ADS_1
"Bapak, habis dihajar oleh papa Bapak lagi?" sahut Candice cepat. "Tapi, jika orang lain, tolong katakan pada saya. Saya akan membalas dendam untuk Pak Guru."
Hans tertawa kecil. "Saya terharu mendengarnya lho! Soal nomor lima, mm, mungkin nanti bisa jelaskan ke kamu. Melihat kamu yang sampai pusing begini, saya jadi iba."
"Ya, Pak Guru memang harus menjelaskannya."
"Kalau boleh tahu, apa alasannya? Kenapa saya harus menjelaskan padamu?"
"Karena saya enggak bisa berhenti memikirkannya. Saya sangat kepo! Pak Guru sudah memberikan banyak bantuan pada saya, jadi saya harus membalasnya. Menghajar orang itu, saya juga bisa! Saya ini kan gengster sekolahan!"
"Pft ... terima kasih. Tapi enggak sekarang ya? Kamu harus kembali ke kelas. Sejujurnya saya was-was berbicara di sini sama kamu."
"Cih, dasar penakut!"
Candice langsung merebut lembar soalnya, kemudian berkata, "Saya tunggu penjelasannya, Pak! Tapi saya ke toilet dulu, ya! Ujian ulangan saya sudah diisi oleh Mona. Nanti remisi saja deh hehe."
"Ck, Dasar Gadis Cerdas!"
Hans menggeleng-gelengkan kepala lantaran Candice mengatakan hal yang tak semestinya. Namun setelah Candice menghilang di belokan satu meter menuju kamar mandi, wajah Hans langsung menunjukkan sebuah senyuman. Padahal sepanjang hari ini, ia benar-benar kalut. Namun kedatangan gadis yang biasanya begitu dingin dan jutek itu, malah sukses mengambilkan mood baik pada diri Hans.
Berbeda dengan cowok yang sempat mencuri dengar sekaligus mengintip. Adalah Rusdy yang menemukan keanehan antara Candice dan Hans. Ia yakin mereka berdua memiliki sesuatu yang spesial dan tidak diketahui oleh orang lain selain mereka sendiri.
__ADS_1
Rusdy menggertakkan gigi, bersamaan dengan itu, ia mengepalkan telapak tangannya. "Sejak kapan mereka terlihat begitu akrab? Bukankah Candice sangat membenci guru baru itu?" gumamnya setelah itu.
***