Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Membela Mona


__ADS_3

"Kan sudah aku bilang! Nurut sama aku! Kalau tahu diri seharusnya kamu tuh mikir! Cepat datang saat aku meminta dong! Candice bukan majikan kamu, Sialan!" ucap Moanna kesal. Ia masih tidak terima ketika Mona mengabaikan perintahnya. "Tahu diri dong! Kamu sudah menjiplak nama aku! Seenggaknya ya kamu harus manut sama aku dong! Uggghh! Bikin gemas saja!"


Mona hanya bisa menangis saat dirinya disudutkan seperti ini. Moanna dan keempat temannya memang tidak akan sampai memukul Mona, tetapi baginya mereka tetap menakutkan. Karena alih-alih pukulan, mereka lebih akan membuat Mona merasa malu di hadapan banyak orang. Kekuatan keluarga Moanna yang merupakan orang kaya menjadi salah satu faktor yang membuat Mona takut. Lagi pula, ia sudah disugesti sejak kelas satu, bahwa dirinya memang lemah dan tidak berhak untuk membela diri.


"Ma-maafkan saya, saya enggak berniat untuk mengabaikan kamu. Saya serius!" ucap Mona.


Berta kemudian berkata, "Apa yang dia bilang padamu? Meminta kamu buat enggak membantu kami lagi ya? Kamu masih percaya sama dia yang sudah terkenal sebagai gengster itu? Kamu bakal lebih menderita kalau mendengar ucapannya! Jadi, kamu lebih baik manut sama kami saja, Mon. Kami enggak akan menyakiti kamu kok! Serius!"


Cepat, Moanna menarik dagu Mona. "Apa kami pernah melukai kamu, Mon? Coba jawab? Apa pernah ada bagian tubuhmu yang terluka karena kami?"


"En-enggak ada kok. Enggak ada," jawab Mona.


"Tapi kenapa kamu berniat untuk mengkhianati kami, Mon? Bahkan aku sudah berusaha untuk menerima kamu yang punya nama mirip dengan nama aku lho! Kurang baik apa coba aku sama kamu? Tapi hari ini kamu sudah benar-benar bikin aku kesal lho, Mon! Tapi, aku juga sedang berusaha biar sampai enggak mukul kamu!"


Ya, selalu begitu. Tak ada pukulan. Namun tak jarang Moanna, Berta, dan ketiga teman mereka membuat Mona menjadi bahan tontonan. Dari rok yang dibuat basah, dikerjai sampai rok tersingkap, Moanna yang ulang tahun tetapi Mona yang harus dilempari tepung hanya karena memiliki nama yang mirip. Namun sampai saat ini, Moanna terus mendoktrin Mona mengenai semua yang Mona lakukan adalah karena Mona sudah dianggap teman. Mona tidak boleh menolak karena sebagai teman harus terus memberikan bantuan.


"Shhhiiittt, bikin kesal saja!" Candice pun muncul di belakang kelas tiga A tersebut. Ia yang kepikiran pada Mona yang sempat ia tahan agar tidak mengikuti permintaan Moanna, belum lama ini terus berkeliling untuk mencari di mana Mona berada yang mana Moanna juga tidak bisa ia temukan. Pada akhirnya di belakang ke tiga alias dua belas A ini, ia menemukan mereka.


"Stop deh kalian mencuci otak dia! Teman itu saling membantu bukan satu orang saja yang terus membantu, sama saja kalian menjadikannya seorang babu, Sialan!" ucap Candice. Detik berikutnya, Candice menghentikan kakinya hingga membuat Moanna and the gangs langsung mundur. Setelah itu, ia menarik tangan Mona. "Awas saja kalian! Berani mengganggu dia lagi, habis kalian semua di tanganku!"


Namun rupanya Moanna tidak terima. Ketika Candice sudah membalik badan untuk pergi bersama Mona, Moanna justru menarik rambut Candice yang terkuncir asal-asalan tersebut. Ia tidak peduli tentang siapa Candice lagi.


"Jangan sok berkuasa, Sialan! Kamu pikir aku takut padamu?! Enggak, Cewek Preman!" teriak Moanna kesal. "Aku tahu kamu tuh enggak ada apa-apanya, cuma sok jago saja karena macam cewek murahan yang bergaul sama laki-laki!"


"Moa, Mo-moa, ja-jangan begitu. Candice enggak salah. Yang salah aku," ucap Mona panik.

__ADS_1


Candice yang kepalanya sudah tertarik ke belakang oleh tangan Moanna tengah sibuk menggertakkan giginya. Matanya yang indah itu melotot tajam. Detik berikutnya, ia menarik keras tangan Moanna hingga Moanna berteriak kesakitan. Tak hanya sekadar itu saja, karena Candice langsung meletakkan secara paksa tangan Moanna di punggung Moanna sendiri. Keras, ia membenturkan tubuh Moanna ke tembok kelas yang sudah kosong. Bersamaan dengan itu, Candice menatap keempat teman Moanna dengan sorot matanya yang mengancam.


"Aaa ... aw! Lepaskan! Lepaskan aku!" ronta Moanna yang sudah sampai menitikkan air mata. Pipinya tertempel di tembok dan pergerakan tubuhnya sudah dikunci, lengannya yang tertarik pun terasa sakit sekali. Kendati Candice lebih pendek darinya, ternyata kekuatan Candice begitu besar. Kini Moanna sadar bahwa inilah yang membuat Candice ditakuti banyak orang, sampai mendapatkan julukan Gadis Bar-bar hingga gengster sekolah.


"Katanya berani? Kenapa sekarang meronta minta dilepaskan? Berapa tahun kamu merundung anak itu, hah?" tanya Candice kesal.


Mona yang masih tersugesti ucapan Moanna, kini memberanikan diri untuk menyentuh Candice. "Le-lepaskan dia. I-ini salah saya kok," ucapnya.


"Diam, Sialan! Berhenti jadi anak bodoh!" tegas Candice.


Berta ambil suara dengan berkata, "Ca-candice lepaskan Moa. Ka-kalau enggak, aku beneran panggil guru nih!"


"Kamu pikir aku takut pada guru? Enggak, Bodoh! Aku enggak akan melepaskan anak ini, sebelum dia meminta maaf. Atau mungkin sekalian aku pukul saja?" sahut Candice.


Namun suara ronta Moanna justru membuat Candice tertawa keras. Ia mengatakan banyak makian sampai berkali-kali. Setelah sebelumnya terus dirundung rasa bosan, kini akhirnya ia mendapatkan suatu kesenangan. Memberikan hukuman pada gadis perundung, bukan sesuatu yang buruk, bukan?


Saking asyiknya menyiksa Moanna dengan kata-kata, ataupun cubitan ketika tubuh Moanna juga masih terkunci, Candice sama sekali tidak menyadari jika salah satu antek Moanna sudah pergi. Tentu bukan kabur, melainkan ingin melapor pada guru. Sementara Berta dan kedua temannya masih was-was, tidak berani menyentuh. Mona pun begitu, tetapi ia masih berusaha untuk meminta Candice menghentikan aksi saat ini.


"Candice!" Hans muncul bersama salah satu anak yang melapor. Ia yang kebetulan masih ada di area kelas dua belas C ditemui oleh teman Moanna, dan mendapatkan laporan tentang ulah Candice. "Lepaskan dia, Candice."


"Ck, dia lagi, dia lagi," gumam Candice kesal.


"Saya bilang lepaskan!" tegas Hans sambil berusaha memisahkan tangan Candice dari Moanna dan ia berhasil. "Kalian semua langsung pulang!"


"Te-terima kasih, Pak," ucap Berta yang kemudian memandu Moanna untuk pergi dari area itu.

__ADS_1


Berbeda dengan Mona yang memilih tetap tinggal, karena ia pun sadar diri bahwa semuanya memang gara-gara dirinya.


Kini Candice dan Hans saling berhadapan sekaligus bertatapan. Candice yang kesal dan Hans yang marah. Sebab Candice tidak hanya kerap tawuran melainkan juga sampai mengganggu anak lain? Baik, Hans tahu Candice memang ingin membela Mona, tetapi kekerasan semacam itu tetap terhitung sebuah kejahatan dalam lingkup sekolah.


"Kenapa sih menganggu teruuus?! Lagian bukan saya yang salah, Pak! Anak-anak itu mengganggu anak ini nih! Tadi pun yang duluan menyerang dia bukan saya!" tegas Candice.


Mona menyahut, "Be-benar, Pak. Tadi mereka duluan, Candice hanya ingin membela saya kok. Moanna menarik rambut Candice saat Candice ingin mengajak saya pergi."


Hans melirik Mona, lalu menghela napas. "Terus? Saya harus memaklumi sikap Candice, begitu? Semuanya akan disangsi. Baik Candice maupun Moanna. Tapi anak itu dalam keadaan kesakitan untuk sekarang."


"Kalau mau disangsi ya sangsi saja! Tapi seenggaknya tuh nanti kalau saya sudah beres menghajar dia!" tegas Candice.


"Candice! Kamu ini tanggung jawab saya. Kalau enggak mau mendengarkan ucapan saya, setidaknya jangan bikin malu kelas kamu! Kamu kan sudah kelas tiga, masa iya kamu enggak—"


"Kalau begitu Bapak tinggal minta Kepala Sekolah untuk mengeluarkan saya, biar saya enggak bikin malu Bapak atau guru lain!"


Hans terdiam. Jika ia menyahut, kenapa enggak kamu saja yang keluar? Bisa-bisa kalimat itu benar-benar membuat Candice tak mau berangkat sekolah lagi. Anak macam Candice memang sangat menyulitkan. Bahkan Hans sendiri masih belum tahu cara untuk membuat anak itu mau berubah, setidaknya dalam bertutur kata pada orang yang lebih tua.


"Mona kamu pulang duluan saja. Pesan saya, setidaknya kamu harus lebih percaya diri dan tidak mudah dikalahkan oleh siapa pun," ucap Hans pada Mona. "Biar Candice bersama saya duluan."


"Baik, Pak," jawab Mona.


Candice menghela napas serta mendengkus kesal. Namun ia tidak lagi menyahut. Ia cukup sadar. Hans pasti akan memberinya hukuman. Baiklah, memutari lapangan sekolah seratus kali pun tak masalah, paling-paling cuma jatuh pingsan kalau sudah lelah.


***

__ADS_1


__ADS_2