
Mona melihat Candice yang sedang berjalan dengan Rusdy dan Anhar. Di jam istirahat ini, kemungkinan besar ketiga anak itu hendak nongkrong di warung Hananto yang berada tak jauh dari gedung sekolah. Ada hal yang sedang Mona pikirkan. Ia harus bisa menarik Candice dari pergaulan anak-anak yang tergabung dalam kelompok tawuran tersebut. Sebab jika dibiarkan, Candice dan Rusdy pasti bisa membolos untuk tidak mengikuti pelajaran. Bukan berniat jahat, tetapi Mona memiliki suatu alasan.
"Candice kemarin langsung menemui saya, dia bilang dia ingin kamu dipindahkan ke kelasnya. Meski dia judes dan galak, sepertinya dia juga anak yang baik dan enggak tegaan. Bahkan mungkin saja, dia menyukai kamu, mm ... bisa jadi karena kamu adalah teman perempuan pertamanya," ucap Hans tadi pagi yang memanggil Mona secara khusus.
"Saya sudah berbicara dengan wali kelasmu sekaligus juga Pak Kelapa Sekolah, dengan beberapa pertimbangan, akhirnya mereka memberikan izin pada saya untuk memindahkan kamu ke kelas C. Dan alasan yang saya gunakan untuk kepindahan kamu adalah alasan yang Candice sarankan. Kemungkinan besar Candice enggak mau jika kamu kembali mendapatkan perundungan. Tapi saya juga punya satu syarat untuk kamu, Mona, anggap saja sebagai salah satu rasa terima kasih kamu ke Candice. Saya minta tolong, halangi hal-hal yang membuat Candice kemungkinan akan membolos. Yah, setidaknya mengurangi kebiasaan buruknya, itu saja. Karena saya adalah wali kelas C, saya enggak mau jika ada murid saya yang terkena masalah. Lagi pula, kamu juga ingin lebih dekat dengan dia, 'kan?" lanjut Hans pada saat itu.
Mona menghela napas setelah mengingat semua ucapan Hans, dan ia jawab dengan sebuah persetujuan. Sepertinya kedatangan Hans ke sekolah ini sebagai guru baru pun memang sedang dimanfaatkan. Ya, Mona menangkapnya seperti itu. Karena sebenarnya ia adalah anak pintar sekaligus peka. Ia hanya penakut saja.
Di saat semua guru sudah menyerah pada Candice termasuk juga Rusdy serta anak lainnya, Hans datang untuk dimanfaatkan dalam menangani anak-anak badung tersebut. Itu sebabnya Rusdy yang memiliki peringkat benar-benar rendah juga dimasukkan ke dalam kelas yang ditangani oleh Hans sebagai wali kelas. Candice dan Rusdy yang terkenal nakal sengaja disatukan di dalam kelas tersebut agar Hans bisa mengurusnya secara sekaligus.
Sebelumnya, Mona sendiri selalu bertanya-tanya, mengapa anak-anak senakal mereka belum juga dikeluarkan. Namun untuk saat ini, ia bersyukur karena Candice yang badung malah begitu baik padanya.
"Ayo, aku juga harus membantu Pak Hans dan berterima kasih pada Candice. Dia harus lulus bersamaku," gumam Mona sembari mengepalkan kedua telapak tangannya yang sedang gemetaran. Mau bagaimanapun ia masih belum seberani itu untuk mendadak muncul di antara Candice, Rusdy, dan Anhar. Namun ia yang berpikir bahwa Hans sedang dimanfaatkan, sekaligus Candice yang harus ia selamatkan dari kemungkinan semakin nakal, tentu harus memberanikan diri, bukan?
Toh, Mona sudah terbiasa menjadi korban bully. Seandainya Rusdy marah, atau Anhar langsung menendangnya, mungkin ia masih bisa bertahan.
"Ca-candice!" ucap Mona berusaha untuk berteriak, dan ia juga sudah mempercepat langkahnya yang bak langkah robot untuk menyusul ketiga anak itu. "Ca-candice!"
"Mm? Kayak ada yang memanggil aku?" gumam Candice yang hampir keluar melewati gerbang utama gedung sekolah itu. Langkahnya sudah terhenti, dan ia menatap ke arah belakang. Tampak Mona yang tengah bersusah-payah untuk menggapai keberadaannya.
Dahi Rusdy mengernyit. "Siapa, Cand?" tanyanya.
__ADS_1
"Kamu habis maki-maki dia, Cand?" sahut Anhar cukup penasaran. Ia yang berbeda kelas dengan kedua temannya itu tentu tidak tahu hal apa saja yang menimpa Candice di kelas. "Manis, Cand, kenalkan padaku."
"Cih!" Candice melirik sinis ke arah Anhar. "Sudahlah, pacarmu sudah tujuh orang. Jangan mengganggu anak lugu itu."
"Aku belum punya yang hitam manis, Cand. Haha, ayolah. Jebak dia buat aku."
"Sudah kubilang jangan ganggu dia!" sergah Candice sembari menyikut keras perut Anhar. Detik berikutnya, ia menatap Anhar dan mengacungkan jari telunjuknya di wajah temannya tersebut. "Awas kamu, kalau sampai berani sentuh dia! Kupatahkan kakimu."
Rusdy tertawa kecil. "Dia anak bodoh yang menjadi teman barumu?" tanyanya, tetapi hanya dibalas tatapan sinis dari teman blasteran Inggris-nya tersebut.
"Ha-halo? Ma-maaf, sa-saya mengganggu kalian ya?" Mona yang sudah sampai di hadapan mereka dengan napas yang terengah-engah sudah mulai ambil bicara. "Sa-saya ingin me-mengajak Candice ma-makan bersama."
"Dia gagu, Cand?" ucap Rusdy.
"Ih!" Keras, Candice mendorong tubuh Anhar menggunakan tangan kirinya yang sehat, sampai Anhar terpekik hingga nyaris jatuh. "Memangnya kamu enggak bisa makan sendiri apa?"
Mona menelan saliva. "Ma-mau, 'kan? Aku belum berani ke kantin sendirian."
"Kan aku sudah bilang, mereka enggak kuat-kuat banget!" omel Candice. "Jangan takut, jangan jadi pengecut!"
Anhar memicingkan mata, mengamati seluruh tubuh Mona. Ah, ia ingat. Anak yang saat ini jauh lebih rapi daripada sebelumnya tersebut merupakan pesuruh geng si Jangkung Moanna. Anak yang dibully secara tidak langsung hanya karena memiliki nama yang hampir sama dengan Moanna. Anhar pernah mendekati Moanna, sehingga ia tahu sedikit hal tentang cewek itu. Sepertinya Candice sudah melakukan sesuatu yang membuat si Mona terlepas dari Moanna. Menariknya, saat sudah terlepas dari geng milik si Jangkung Moanna, Mona jadi kelihatan lebih segar dan manis.
__ADS_1
"Hei, kita makan saja bareng dia," celetuk Anhar. "Ke kantin, 'kan? Aku tahu siapa dia. Korbannya si Moanna, 'kan? Candice sudah menyelamatkan kamu darinya, ya? Terus sekarang kamu minta perlindungan dari Candice?"
Mona langsung panik. "Bu-bukan begitu! Sa-saya hanya ingin makan bareng saja kok."
"Ouh, imutnya," celetuk Anhar. "Ayo, kami temani kamu."
"Hei, memangnya Candice pengawalnya?!" Rusdy merasa enggan.
Candice menggeleng. "Ya, aku bukan pengawalnya tuh. Dan kamu, Mona, kamu enggak boleh bergantung sama aku. Kamu harus lebih berani dengan diri kamu sendiri! Kamu bisa jadi titik lemahku jika terus mengikuti aku!"
Ucapan Candice bukan isapan jempol semata. Sebagai anak yang kerap tawuran, tentu ia memiliki banyak musuh. Rusdy dan Anhar tentu sangat kuat, karena mereka juga memiliki bekal ilmu bela diri. Namun, jika dari pihak musuh mengetahui bahwa Candice yang selalu berada di garda terdepan memiliki seorang teman yang sangat lemah, mereka pasti akan menargetkan si teman yang lemah tersebut. Candice tidak mau melibatkan Mona untuk terlalu mengisi kehidupan sekolahnya. Lagi pula, ia sudah terlanjur nakal. Mona akan terkena dampak buruk jika terus-terusan terlibat dengannya.
"Ma-maaf, aku hanya bertanya kok, barangkali kamu mau. Kalau enggak mau ya enggak apa-apa. Maaf ya, Candice dan semuanya," ucap Mona yang sudah tidak berdaya. Detik berikutnya, ia memutar tubuhnya. Bergerak menjauhi ketiga anak badung tersebut.
"Ck, bikin repot saja," keluh Candice. "Hei, tunggu! Aku akan menemanimu. Tapi kamu yang bayar, aku enggak punya duit!" teriaknya pada Mona.
Mona melebarkan mata. Ia menoleh dan melihat Candice sudah berjalan ke arahnya. Di mana Anhar pun turut ikut, pun dengan Rusdy yang meski tampak malas juga tetap bergabung. Mona senang karena Candice menerima tawaran darinya. Namun bagaimana ini? Ada dua cowok yang membuatnya tak bisa berhenti gemetar.
Di saat Candice, Rusdy, Anhar, dan terutama Mona tengah berjalan bersama untuk ke kantin, ada Hans yang sejak tadi mengawasi mereka. Rencananya berjalan cukup lancar. Awalnya ia hanya ingin menghentikan Candice yang bisa saja membolos setelah nongkrong di warung depan, tetapi bonusnya Rusdy dan Anhar pun turut hanyut di dalam rencananya tersebut.
"Candice, ... bersikaplah layaknya siswi pada umumnya. Ah, sampai berjumpa lagi di les sepulang sekolah nanti," gumam Hans. Selanjutnya ia mengambil langkah. Ia berencana untuk mendatangi toko pakaian milik Lusiana yang sudah ia ketahui dari Kusuma. Siang ini ia hendak meminta izin pada janda cantik itu untuk menjadi pembimbing khusus bagi Candice.
__ADS_1
***