
Dahi Hans mengernyit sesaat setelah ia menghentikan mobilnya di halaman depan sebuah ruko pakaian. Ada seorang pria yang keluar dari ruko itu dan ia cukup mengenal orang tersebut. Kalau hanya keluar biasa, mungkin Hans tidak akan sampai merasa heran. Pasalnya, di teras ruko, orang itu memiliki gerakan dan sikap yang begitu perhatian pada Lusiana. Bahkan tak berselang lama, pria itu membelai halus pipi ibunda dari Candice tersebut.
"Cih, sial," gumam Hans lalu tersenyum masygul. "Waaah, ini gila sih."
Hans benar-benar tidak habis pikir. Mengapa Lusiana dan pria itu begitu berani menunjukkan kemesraan di depan ruko? Bahkan meski suasana sedang sepi, tetap saja keberadaan ruko yang berada di dekat jalan raya tentu harus dijadikan pertimbangan, bukan? Apalagi jika dugaan Hans benar mengenai mereka yang merupakan pasangan selingkuhan, seharusnya mereka tetap menjaga sikap.
"Ah, pantas saja. Candice menjadi anak yang enggak punya semangat hidup begitu. Ternyata ini maksudnya. Lusiana, kupikir dia ibu yang baik. Baiklah, mungkin dia begitu baik karena bisa membesarkan Candice sendirian. Tapi, fakta yang barusan aku dapatkan, ... inilah jawaban dari pertanyaan besar yang selama ini terus menggangguku. Inilah alasan mengapa Candice tumbuh menjadi gadis bar-bar yang enggak takut pada siapa pun. Inilah alasan mengapa gadis itu selalu berniat untuk menghilang saja dari dunia ini," ucap Hans lalu menghela napas.
Senyum masygul yang awalnya terlukis di wajah Hans kini telah memudar. Upayanya untuk menyelidiki tentang Candice pada akhirnya mendapatkan jawaban yang cukup mengejutkan. Lusiana merupakan pasangan selingkuhan seorang Tony Damendra sekaligus pria tua yang sangat Hans kenal.
Ketika Tony sudah membawa mobilnya yang sama persis dengan mobil Hans pergi dari area parkir di depan toko pakaian milik Lusiana, barulah Hans bergegas untuk turun dari kendaraannya sendiri. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk terus berada di sini lantaran jam istirahat sekolah memang hanya satu jam saja, sementara waktu yang ia tempuh untuk ke toko Lusiana memakan waktu setidaknya dua puluh menit. Yah, mungkin dirinya akan sedikit terlambat mengingat di jam makan siang biasanya kondisi jalan juga macet. Namun setidaknya keterlambatan Hans tidak boleh terlalu parah, sehingga ia harus segera menemui orang tua tunggal Candice tersebut.
Setibanya di hadapan pintu kaca yang dibuka dengan cara digeser, Hans lantas mengetukkan punggung telapak tangannya ke benda tersebut. Dan tak berselang lama, Lusiana menyahut dari dalam toko itu. Lusiana tampak berjalan tergopoh-gopoh, seolah tidak mau membuat Hans merasa kecewa. Dan setelahnya, Lusiana segera membuka pintu yang memang sengaja ia tutup karena ingin istirahat sejenak. Karena untuk saat ini, tokonya juga lebih banyak beroperasi dengan sistem online saja.
"Ah, Pak Hans, selamat siang. Silakan masuk, Pak," ucap Lusiana.
Hans tersenyum dan mengangguk sopan. "Terima kasih, Ibu Lusi. Mohon maaf karena saya sudah mengganggu jam makan siang Anda," jawabnya.
"Ah, enggak kok, Pak. Kebetulan saya sudah selesai makan siangnya dan sekarang sedang beristirahat." Lusiana menyahut sembari bergegas untuk menarik kursi yang kemudian ia dekatkan dengan sebuah meja bulat.
Hans manggut-manggut sembari mengamati toko tersebut. Pakaian yang dijual merupakan pakaian-pakaian wanita. Ada beberapa benda seperti lakban, karton, kertas, gunting, dan lain-lain. Sepertinya Lusiana memang lebih banyak menjual dagangannya secara daring.
"Silakan duduk, Pak, mohon maaf tempat saya sangat berantakan," ucap Lusiana.
__ADS_1
Hans menatap Lusiana dan kembali tersenyum. "Tidak masalah, Bu Lusi." Ia bergegas duduk di kursi besi tersebut. "Ngomong-ngomong Anda bekerja sendiri?"
"Ada yang bantu kok, Pak. Tapi dia sedang makan siang. Saya baru merintis. Jadi ya, baru online, tapi enggak menolak juga jika ada pengunjung yang datang ke toko saya."
"Oh begitu. Zaman sekarang memang lebih menguntungkan jika memanfaatkan internet, Bu."
"Benar, Pak. Itu juga, sebelumnya saya enggak terlalu paham. Tapi ada seseorang yang mengajari saya, saya juga sempat ikut berbagai seminar."
Seseorang? Maksudnya Tony? Batin Hans.
"Ngomong-ngomong apa yang ingin Pak Hans sampaikan hingga berkenan untuk mendatangi toko saya?" celetuk Lusiana yang saat ini sudah meletakkan secangkir teh untuk Hans yang ia buat dengan cepat sembari tetap menjawab setiap ucapan Hans. "Apa ... ada kaitannya dengan Candice? Saya dengar ada guru baru yang saat ini menjadi wali kelas Candice, apakah itu Anda?"
"Mm? Bagaimana Ibu Lusi tahu? Apa Pak Kusuma yang mengatakannya?"
"Ah, i-itu, ya-yaa hanya tahu saja, Pak."
Menurut ucapan Tony, Tony sudah meminta tolong secara langsung pada Kepala Sekolah agar pihak sekolah tetap menjaga Candice mau bagaimanapun ulah anak itu. Bahkan sekarang, sudah ada guru yang dikhususkan untuk menjaga Candice serta memberikan pembelajaran yang bisa membuat gadis itu berubah menjadi siswi yang baik. Tony juga berharap agar Lusiana tidak terlalu cemas, karena Tony juga sudah banyak berusaha.
"Oh, baik, Bu. Dan memang benar saya adalah wali kelas di mana Candice berada. Kedatangan saya pun juga berkaitan dengan Candice. Singkatnya saya ingin menjadi guru pembimbing pribadi bagi Candice. Oleh sebab itu, saya sengaja datang kemari untuk meminta izin pada Bu Lusiana. Mengingat saya bisa saja sering datang ke rumah Anda. Jika menggunakan kelas, saya khawatir malah menimbulkan kabar buruk di antara para murid. Untuk mengundang Candice ke rumah saya itu jelas tidak mungkin. Jadi, agar saya bisa lebih fokus mengajari dia, saya mohon izin pada Bu Lusi, sekalian Bu Lusi juga mengawasi pembelajaran yang akan saya lakukan bersama Candice nanti," jelas Hans panjang lebar.
Lusiana tersenyum. "Saya percaya pada Anda, Pak. Dan saya malah berterima kasih jika Anda berkenan untuk melakukan hal tersebut," jawabnya.
"Jadi, kira-kira Bu Lusi ada di rumah jam berapa? Agar saya juga datang ketika Bu Lusi sedang berada di rumah."
__ADS_1
Lusiana terdiam. Menyadari bahwa selama ini hidupnya lebih banyak berada di tempat kerja, baik ketika belum di-PHK maupun sedang merintis usahanya. Tentu sulit haginya untuk menjawab ucapan Hans, sementara guru muda itu tampak sangat berhati-hati ketika ingin mendatangi rumahnya sebagai pembimbing pribadi. Hans bisa dipercaya, bukan?
"Jika jam pulang sekolah, apa Anda bisa pulang sebentar untuk mengawasi pembelajaran yang akan saya lakukan terhadap Candice, Bu Lusi?" tanya Hans sekali lagi.
Lusiana menatap Hans kemudian berangsur menganggukkan kepala. "Ya, Pak, akan saya usahakan. Tapi, saya juga percaya pada Pak Guru. Seandainya saya tidak bisa turut mengawasi, tidak apa-apa, 'kan?"
"Mm?" Dahi Hans mengernyit. "Sebaiknya Anda mengawasi saja, Bu."
"Saya orang tua tunggal dan saya harus bekerja, Pak. Kadangkala saya malah bisa pulang tengah malam. Saya percaya pada Anda kok. Jadi, saya mohon, Pak, bantu Candice agar setidaknya dia bisa lulus SMA. Saya yakin Pak Guru juga orang baik yang bisa membimbing putri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Oleh sebab itu, ada atau tidak ada saya, saya rasa tidak akan menjadi masalah jika Pak Guru tetap datang ke rumah."
Hans terdiam bimbang. Lusiana tetap tidak mau menyisihkan waktu paling lama satu jam saja, padahal bekerja untuk usaha sendiri. Apalagi Lusiana juga memiliki seorang pembantu. Cukup heran juga, jika ada seorang ibu yang begitu memasrahkan anaknya pada seorang pria.
Baik, Hans memang seorang guru, tetapi ia juga masih sangat muda. Bahkan belakangan ini ia sempat terpesona pada sosok Candice yang begitu jelita. Apakah Lusiana tidak khawatir jika Hans bisa melakukan sesuatu pada Candice? Walaupun Hans tidak akan pernah melakukannya, tetapi sebagai seorang ibu masa' iya Lusiana tidak khawatir sama sekali? Apalagi belakangan ini marak sekali kasus pelecahan yang dilakukan oleh oknum guru, kyai, kepala sekolah, bahkan petugas desa pada anak di bawah umur. Namun Lusiana malah sebegitu mudahnya menyerahkan Candice pada Hans?
Alasan kedua mengapa Candice menjadi gadis badung, dia kekurangan kasih sayang dan perhatian, batin Hans.
Hans tersenyum. "Baik, Bu. Terima kasih atas izinnya. Saya pasti akan berusaha untuk membantu Candice dengan baik," jawabnya. Kemudian ia bangkit dari duduknya. "Ah, sepertinya saya harus kembali, Bu. Sebentar lagi jam istirahat habis."
"Ah, Pak, tidak makan siang dulu?" sahut Lusiana.
"Tidak perlu, Bu. Sampai jumpa lagi. Saya harap Ibu Lusi tetap berkenan untuk mengawasi proses pembelajaran pribadi nantinya."
"I-iya, Pak, mm mari saya antar."
__ADS_1
Hans berjalan lebih awal daripada Lusiana yang mengekor di belakang. Setibanya di teras toko, Lusiana langsung membungkukkan badan dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Hans hanya sekadar membalas dengan sebuah senyuman sampai ia mengambil langkah untuk meninggalkan tempat itu.
***