Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Tawaran Hans yang Di Luar Nalar


__ADS_3

Hans sibuk menyetir sembari bersenandung, atau terkadang sampai bernyanyi mengikuti lirik dan irama yang sedang terdengar. Pagi ini ia berusaha untuk berpikir lebih positif, kendati hatinya juga sedang gusar. Selain harus memikirkan bagaimana membujuk Candice agar sadar sesuai keinginan Kepala Sekolah, Hans masih harus memikirkan ayahnya.


Ayah Hans memang berusaha keras untuk membuat Hans berkenan kembali ke rumah. Sebagai seorang putra mahkota yang lebih kompeten dan anak pertama yang lebih mampu menjadi pimpinan utama daripada kedua adiknya, Hans sungguh dipaksa untuk mampu sesuai harapan ayahnya. Bahkan tak hanya sebagai seseorang yang dianggap pantas menjadi penerus, saat ini Hans malah sudah dijodohkan dengan salah satu putri pejabat. Sebuah pernikahan bisnis yang tentu saja akan memberikan banyak keuntungan, dan yang wajib Hans jalani sesegera mungkin.


"Ah, sial. Aku malas membayangkan segalanya di rumah Ayah, tapi kenapa semua yang terjadi di sana malah muncul di kepalaku?" ucap Hans disusul helaan nafasnya yang cukup dalam.


Untungnya jalan raya di pagi ini tidak terlalu macet. Setidaknya keadaan itu tidak menambahi rasa kesal yang sudah mengisi relung hati Hans sejak tadi. Dan yang paling penting adalah, ia bisa menghindari ibunya yang juga maha pemaksa seperti ayahnya. Yah, terbilang tak ada yang waras di dalam keluarganya, bahkan termasuk dirinya. Namun Hans masih berharap, setidaknya adik perempuannya yang paling bungsu masih bisa menemukan jalan sesuai keinginan sendiri, kendati anak itu manja sekali.


Hans menghela napas. Matanya mulai bergerak menikmati pemandangan kota yang begitu-begitu saja. Sampai ketika ia menemukan seseorang yang tak asing tengah duduk di sebuah halte. Gadis berambut pirang, berhidung mancung, dengan kulit yang seharusnya putih tetapi tampak lebih kusam. Adalah Candice.


"Sedang apa dia pagi-pagi begini duduk meringkuk di halte? Melamun lagi," gumam Hans bersamaan dengan munculnya keputusan untuk segera memperlambat mobilnya. "Ck, haruskah aku turun?"


Hans mengembuskan napasnya dengan kasar. Detik berikutnya, ia memacu mobilnya lebih cepat. Namun bukan untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah, melainkan untuk mencari tempat parkir yang tidak mengganggu pengguna jalan lain. Di halaman minimarket, akhirnya Hans memutuskan untuk menitipkan mobilnya. Toh hanya sebentar saja.


Dengan berjalan kaki, Hans berencana menghampiri Candice yang tampak merenung di halte bus. Penampilan Candice yang terbalut pakaian tidur memang membuat Hans agak cemas. Sebagai seorang guru sekaligus calon wali kelas murid kelas tiga, di mana Candice juga salah satunya, tentu saja Hans setidaknya harus menunjukkan sedikit kepeduliannya. Yah, meski ia tahu kehadirannya pasti akan membuat gadis itu kesal lagi, Hans tidak berniat untuk membatalkan niatnya ini.


Hans duduk di bagian kosong dari kursi permanen panjang yang terbuat dari bahan bangunan tersebut. Sementara matanya mulai mencermati kondisi Candice yang masih saja tidak sadar atas kedatangannya sekarang.


Dia ada masalah? Dengan siapa? Tak mungkin karena batal tawuran, bukan?Apa dengan ibunya? Kalau memang benar, sepertinya hubungannya dengan ibunya juga enggak bagus. Apa dia juga selalu meletup-letup bagai lahar gunung meletus saat berbicara dengan ibunya? Ah atau karena dia tertangkap polisi pada dua minggu yang lalu? Tapi, aku kan enggak bilang pada siapa pun soal kejadian itu, batin Hans dipenuhi banyak sekali pertanyaan.


Hans berdeham, kemudian berkata, "Sejuk ya? Enak buat ngadem di tengah panasnya suasana kota dan segala permasalahan yang ada."

__ADS_1


Candice menghela napas. Memilih untuk mengabaikan tanpa mau menatap sang pembicara. Dengan cepat, ia menyembunyikan wajahnya di dalam lengan yang sedang menyangga kepalanya. Sampai kemudian, suara yang barusan ia dengar membuatnya tersadar sekaligus sampai melebarkan mata.


"Pak Hans?!" teriak Candice cukup brutal saking kerasnya. Sepasang kakinya sampai turut jatuh saking kagetnya dirinya saat ini. Ia pun segera bangkit lalu berencana untuk menghardik. "Bapak mengikuti saya yaaa?!"


Hans tersenyum kecut. "Enak saja! Memangnya aku seorang penguntit? Yang benar saja, Dik. Saya hanya menemukan kucing liar meringkuk di atas kursi ini dan membuat saya cukup penasaran. Lagi pula ini kan tempat umum, siapa pun boleh mampir dong. Kalau kamu masih menuduh saya sebagai seorang penguntit, ayo kita bisa cek CCTV, untuk membuktikan kalau saya baru datang saat ini. Saya enggak mau dituduh sebagai guru mesum lho."


"Enggak perlu. Lagi pula saya percaya kok. Enggak ada untungnya mengikuti gadis macan yang miskin seperti saya. Jadi tenang saja, saya enggak bakal menuntut Pak Guru sampai ke pengadilan atas dugaan tindakan tidak menyenangkan, penguntitan, pelecehan, atau mungkin rencana penyerangan!"


"Waaah. Rupanya kamu cukup paham soal pasal-pasal yang bisa dijadikan acuan untuk menuntut seseorang ya? Kamu tertarik pada hukum?"


Candice menurunkan arah pandangnya. "Enggak," jawabnya. "Saya tertarik untuk menghilang dari dunia ini. Paham?"


Jawaban Candice membuat Hans terdiam. Ia mencermati mata beriris biru agak hijau milik Candice yang tampak memerah dan tajam. Gadis itu berdiri tanpa motivasi apa pun. Seolah memang tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup lebih lama. Namun mungkin Candice juga tak tahu cara untuk menghilang selain harus mati yang tentu saja harus melalui proses lebih menyakitkan.


"Duduklah, Candice," pinta Hans.


"Enggak mau. Saya mau pergi saja," sahut Candice dan sudah membalikkan tubuhnya.


"Kamu lapar, 'kan? Mau sarapan bareng?" tawar Hans sembari menahan pundak gadis itu. Ya, biar tidak disalahpahami jika ia sampai salah pegang. "Saya akan mentraktir kamu. Nasi uduk, mau?"


Candice menghela napas. Detik berikutnya, ia menatap Hans setelah menepis kasar tangan halus pria itu. "Enggak mau! Saya bukan pengemis!"

__ADS_1


"Kamu naik kelas, Candice. Saya ingin membicarakan soal nilaimu. Kamu enggak akan dikeluarkan dari sekolah atau dibiarkan enggak naik kelas. Saya yang pegang rapor kamu sekarang."


Mata Candice melebar. "Ba-bagaimana bisa? Saya bahkan dilarang untuk ikut classmeeting setelah ujian, dan diskors oleh Pak Kepala Sekolah langsung!."


"Classmeeting khusus kalian adalah belajar dengan saya. Karena setelah keluar dari kantor polisi, kalian adalah tanggung jawab saya. Rapor kalian yang sudah dibagikan sudah ada di tangan saya. Saya dan Pak Kepala Sekolah juga sudah membicarakan masalah ini dengan keluarga kalian."


"Oh begitu to!"


Suara cacing lapar di perut Candice malah terdengar begitu keras dan membuat Candice jauh lebih terkejut daripada sebelumnya. Bahkan ia sampai merasa malu karena sempat menolak tawaran sarapan dari Hans.


Hans tersenyum tipis. "Ikut saya. Kita sarapan bersama dan berangkat bareng ke tempat belajar," bujuknya.


"Enggak mau!" Candice masih saja enggan.


"Kalau begitu, ... seharian ini saya temani kamu saja, bagaimana?"


"A-apa?"


"Untuk menebus rasa bersalah saya padamu karena sudah melaporkan gengmu ke polisi, saya mau menemani kamu dan membelikan apa pun yang kamu mau. Bagaimana, Candice? Apa tawaran ini masih sulit untuk kamu terima?"


Candice terdiam selain hanya menelan saliva. Sangat bingung dengan penawaran Hans yang di luar nalar. Sementara Hans yang memberikan penawaran tersebut adalah karena ingin mencari tahu lebih dalam lagi atas sosok Candice. Kalau boleh, ia pun ingin datang ke rumah gadis itu dan langsung bertemu dengan ibu gadis itu sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2