Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Tangisan Histeris Lusiana


__ADS_3

Nyatanya Candice memanglah lebih sulit. Ia sama sekali tidak datang untuk mengikuti pembelajaran dari Hans. Padahal Anhar, Rusdy, dan bahkan beberapa siswa yang sempat tertangkap begitu rajin untuk hadir ke tempat yang telah Hans tentukan, untuk mengikuti pelajaran yang guru itu buka di waktu liburan khusus untuk para anggota tawuran.


Meski nakal, rupanya Rusdy dan kawan-kawan masih takut jika tidak naik kelas. Mereka bahkan merelakan harga diri di hadapan Hans yang mereka benci, hanya demi tetap dijamin aman. Sangat berbeda dengan Candice yang tetap keras kepala. Karena selain ingin mempertahankan harga dirinya, ia pun sudah malas pada semuanya. Sebab sudah tiga hari ini, ibunya kerap pulang ketika pagi tiba.


Aroma parfum pria begitu tercium pada pakaian Lusiana, sehingga membuat Candice terus menaruh curiga. Namun kecurigaan Candice tentu saja didasari alasan yang kuat dan sudah pasti terbukti. Ibunya baru saja menghabiskan malam yang panjang dengan Tony, si tua Bangka menyebalkan.


"Candice kenapa kamu sudah bangun?" tanya Lusiana yang baru saja memasuki rumahnya di jam empat dini hari ini.


Candice tersenyum sinis. "Apa Ibu sudah buta? Mata sesegar ini Ibu bilang sudah bangun? Bukannya orang kalau habis tidur, matanya masih sembab?" balasnya.


"Candice, jangan mengatai Ibu buta. Ucapanmu keterlaluan sekali. Dan ini masih sangat dini, enggak pantas kalau kita bertengkar. Lebih baik kamu tidur du—"


"Kenapa? Ibu malu? Takut sama tetangga? Takut ketahuan kalau Ibu habis jual diri?" sahut Candice sembari berjalan ke arah ibunya. Kedua tangannya terlipat ke depan. Dagunya agak naik, sehingga membuatnya terlihat lebih angkuh. "Malam ini harga diri Ibu laku berapa juta? Bisa buat Candice kuliah ke Eropa? Atau malah sekalian ke surga?"


Plaaak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Candice dan Lusiana yang melakukannya. "Jaga ucapan kamu, Candice! Kamu pikir Ibu ini pellacur?!"

__ADS_1


"Memangnya apa lagi kalau bukan pellacur, ketika Ibu yang belum menikah malah tidur dengan suami orang di setiap malam? Jangan jadikan aku sebagai alasan, Ibu! Kalau Ibu memang berniat mencari uang, Ibu bisa kerja yang lain! Jualan nasi kuning kek, nasi uduk kek, atau jualan seblak kek! Bukannya jual diri!"


Suara Candice sudah meninggi. Memang sudah semuak itu dirinya saat ini. Muak pada ibunya, pada keadaannya, dan juga pada dirinya. Ia membenci dirinya ketika keberadaannya justru membuat Lusiana harus berakhir menjadi seorang wanita penghibur bagi suami orang. Apalagi setelah ujian kenaikan kelas, pertemuan Lusiana dengan Tony malah semakin sering terjadi. Candice yakin, alasan kuliah untuk dirinya membuat Lusiana semakin berani.


"Aku enggak bakal naik kelas, Bu. Jadi Ibu enggak usah pusing-pusing cari uang sampai jual diri hanya demi membuat aku bisa kuliah. Karena boro-boro kuliah, setelah ini aku enggak bakalan sekolah. Asal Ibu tahu, aku habis tertangkap polisi dan aku yakin guru-guru sudah sepakat untuk membuatku enggak naik kelas, bahkan mungkin akan dikeluarkan dari sekolah itu. Jadi sudah jelas, 'kan, kalau alasan untuk membuat Candice tetap sekolah enggak bisa digunakan lagi?" jelas Candice.


Plaaak!


Tamparan kedua mendarat di pipi yang sama, tetapi saat ini sampai mengenai bibir Candice sampai mengeluarkan cairan berwarna merah. Namun rasa sakit yang menjalar di wajah itu levelnya belum separah sakit hati yang saat ini Candice alami. Bahkan sebagai gadis yang tak pernah menangis, untuk saat ini ia sampai menitikkan air mata. Lelah. Pertahanan Candice akhirnya jebol juga.


"Baiklah, Nak. Baiklah jika kamu menganggap Ibu sedang jual diri. Enggak masalah! Kamu boleh kecewa karena cara Ibu mencari uang adalah dengan cara yang salah. Tapi, Candice, sebagai seorang ibu sekaligus orang tua tunggal, Ibu juga berhak menampar kamu yang selalu saja membuat masalah. Meski kamu sekarang membenci Ibu, seenggaknya kamu enggak membenci semua usaha yang Ibu lakukan untuk menyekolahkan kamu dari TK sampai SMA, sebelum Ibu bertemu Tony! Seenggaknya pada saat itu Ibu belum menjadi pellacur, yang ingin membuat kamu terus sekolah sampai tuntas, Candice!" ucap Lusiana.


Lusiana tidak sanggup lagi mempertahankan kakinya untuk terus berdiri tegak. Ia terduduk lemas. Di detik itu juga, ia mulai menangis histeris karena Candice. Tentu saja Lusiana merasa kecewa jika Candice benar-benar tidak naik kelas. Padahal ia sampai meminta bantuan Tony agar Candice tidak sampai dikeluarkan dari sekolah dengan berbagai macam tingkah laku yang sudah membuat banyak kerugian. Namun mengapa, sampai akhir pun Candice tak pernah sadar? Sekalipun sangat membenci Lusiana, seharusnya Candice harus bertahan hingga lulus agar bisa bekerja sendiri sekaligus supaya tidak lagi memakan uang haram dari Lusiana, bukan? Dan hati ibu mana yang tak akan sakit jika ada sejumlah perkataan sang putri yang sangat menyakitkan? Jantung Lusiana sampai berdenyut sakit sekali.


Melihat sang ibu yang menangis meraung-raung, membuat air mata Candice ikut berderai semakin deras. Namun ia sama sekali tidak berkenan untuk turut meluruhkan diri dan memeluk ibunya itu. Ia juga tidak berniat untuk meminta maaf. Karena saat ini ia malah mengambil langkah untuk pergi.


Hanya dengan membawa ponselnya saja, Candice keluar dari rumah itu tanpa memedulikan waktu yang masih sangat gelap. Tak peduli juga tentang kondisi matanya yang belum terpejam sama sekali. Ia hanya ingin mencari sedikit kebebasan di luar sana tanpa harus melihat ibunya yang malah berlagak paling menderita.

__ADS_1


Di sebuah halte di pinggir jalan, Candice mendudukkan dirinya. Terdiam dalam kesunyian. Tanpa teman, tanpa satu pun orang yang bisa memahami dirinya. Matanya sibuk menatap jalan raya beraspal yang sesekali dilewati mobil maupun pengguna sepeda motor.


Gadis itu masih memikirkan bagaimana ibunya menangis sampai histeris. Dan Candice yakin, sampai saat ini ibunya belum menghentikan isak tangis itu. Yah, ibu mana yang tidak terluka dengan penuturan seorang anak yang sampai mendakwa sang ibu sebagai wanita penghibur. Namun anehnya, Candice sama sekali tidak menyesal setelah mengatakan hal itu. Mungkinkah karena ia sudah mati rasa atau justru tak lagi memiliki sedikit pun empati kecuali pada dirinya sendiri?


***


"Mm ...." Hans berusaha membuka matanya ketika alarm di ponselnya menyala.


Demi memperjelas pandangannya, Hans mengusap-usap matanya. Kamarnya masih temaram karena hanya diterangi lampu tidur saja. Namun ia tetap harus bangun, sebab hari ini adalah hari piket untuk memeriksa sekolah. Sementara agendanya siang nanti adalah kembali memberikan mata pelajaran pada anak-anak anggota tawuran itu. Mau bagaimana lagi, Hans sudah berjanji pada Indra untuk menjadi penanggung jawab mereka.


Memang sungguh tak terduga saja. Pertama kalinya bekerja di SMA itu, Hans sudah langsung disuguhi dengan banyak pekerjaan. Namun untuk pekerjaan utamanya ia malah masih gagal. Sudah satu minggu pembelajaran ia buka, Candice sama sekali tidak pernah datang. Harga diri anak itu rupanya memang cukup tinggi.


Dan uniknya, karakter keras Candice justru sama seperti karakter Hans ketika sedang berhadapan dengan ayahnya yang otoriter. Gadis itu membuat Hans sadar betapa sulit menghadapi dirinya sendiri.


Sesaat setelah mendudukkan dirinya, Hans bergumam, "Apa gadis itu enggak akan hadir sampai hari masuk sekolah? Hari pertama masuk adalah hari pembagian kelas. Dia enggak berpikir kalau dirinya benar-benar enggak naik kelas, 'kan? Karena data mereka masih aku sembunyikan untuk menjamin mereka enggak membuat masalah lagi. Aku sudah meminta izin pada Pak Kusuma, tapi soal Candice, anak itu jauh lebih sulit untuk aku atasi."


"Ah, sudahlah. Pikirkan nanti saja. Aku harus bersiap sebelum Ibu datang," lanjut Hans.

__ADS_1


Detik berikutnya, Hans berangsur turun dari ranjangnya kamar di apartemennya itu. Mengenai ibunya. Ya, ia juga sedang menghindari siapa pun dari keluarganya. Karena ayah dan ibunya masih saja memaksanya untuk melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak ia senangi. Selain itu, ia memiliki seorang adik yang sangat membencinya, dan satu adik perempuan yang sangat manja. Entahlah. Semua anggota keluarganya juga sangat keras kepala. Sampai membuat Hans terpaksa pindah kediaman demi menghindar.


***


__ADS_2