
Tony meraih jemari Lusiana yang lembut dan tetap kencang, ketika ia dan Lusiana duduk berduaan di sebuah griya yang menjadi tempat rahasia mereka. Sebuah rumah berlantai dua dengan bangunan minimalis, tetapi aestetik tersebut, memang kerap Tony dan Lusiana jadikan sebagai tempat pertemuan. Tak ada yang mengetahui tempat itu selain mereka dan salah satu tangan kanan Tony.
"Candice sudah mau kelas tiga, 'kan? Sedang libur pasca ujian, 'kan? Kamu enggak mau ajak dia jalan-jalan?" tanya Tony yang kemudian tidak hanya membelai telapak tangan lembut milik Lusiana, tetapi juga sudah mengusap halus rambut wanita cantik itu. "Ajak saja dia jalan-jalan, biar dia juga mau mengurangi hobi tawuran."
Lusiana menelan saliva. "Kamu tahu soal itu, Mas?" balasnya bertanya. Detik berikutnya, ia menatap mata berhias keriput milik Tony. "Putriku adalah seorang trouble maker."
Tony menyeringai. "Yah, tapi dia sangat unik. Kamu jangan terlalu keras padanya, karena jika kamu melakukannya, dia akan semakin berontak, Sayang. Anak itu hanya sedang bertumbuh saja."
"Aku tahu. Tapi aku juga pusing. Dia sangat keras kepala. Dan ... mungkin salah satu penyebabnya karena hubungan terlarang kita." Lusiana menghela napas. "Apa kita boleh melanjutkan hubungan ini, Mas? Rasanya—"
”Sssstttt ... Lusi, Candice hanya belum memahami rasa cinta saja, Sayang. Jika dia sudah memahami akan hal itu, dia pasti akan mengerti kenapa kita enggak pernah bisa berpisah. Dan aku juga enggak mau melepaskanmu sekarang." Tony mengangkat telapak tangan Lusiana kemudian mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan wanita cantik itu. "Aku mencintaimu, Lusiana. Sungguh! Aku bisa memberikanmu apa pun yang kamu mau. Bahkan, aku bisa membantumu untuk menyekolahkan Candice setinggi-tingginya. Asalkan kita tetap bersama."
Lusiana tersenyum masygul. "Aku rasa enggak semuanya. Karena kamu tetap enggak bisa meninggalkan istrimu demi aku, 'kan?"
__ADS_1
Mendengar serangan mendadak dari Lusiana, ekspresi di wajah Tony langsung berubah. Senyumnya menghilang. Jerat tangannya di telapak tangan sang wanita simpanan juga mulai merenggang. Hingga akhirnya ia benar-benar melepaskan Lusiana dan memilih duduk bersandar.
Tony mendongakkan kepala. Pria yang sudah berusia lima puluh delapan tahun itu sibuk menatap langit-langit ruangan yang dihiasi lampu kristal yang menggantung. Ia menghela napas berat sampai beberapa kali. Sebagai seorang pengusaha sekaligus orang yang hendak mencalonkan diri sebagai pejabat, tentu ia tidak bisa mencoreng namanya dengan cara meninggalkan istri serta ketiga anaknya hanya demi Lusiana—seorang janda miskin beranak satu. Sebab Lusiana hanya memberikan rasa senang saja, tetapi tidak dengan citra dan keuntungan.
Lusiana menghela napas. "Sudahlah, jangan memikirkan ucapanku barusan. Aku enggak benar-benar serius dalam mengatakannya. Lagi pula, aku masih membutuhkanmu, Mas. Aku merasa nyaman dan aman ketika bersamamu, dan hanya kamu yang mampu memedulikan putriku," celetuknya.
Ucapan Lusiana sukses mengembalikan senyuman yang sempat memudar di bibir Tony. Ya, pada akhirnya wanita cantik itu masih sangat bergantung padanya. Tidak hanya karena kekurangan uang saja, melainkan juga demi masa depan Candice. Sebab selain itu semua, sebenarnya, sejak merasa tertarik pada Lusiana yang satu tahun lalu tampak frustrasi di sebuah bar sampai harus menenggak alkohol, Tony berpikir untuk terus menjadikan Lusiana sebagai miliknya.
One night stand yang Tony lalui bersama Lusiana di malam pertama berjumpa membuat Tony merasakan lagi kepuasan batin yang tidak pernah ia rasakan dari istrinya selama bertahun-tahun. Hubungannya dengan Dianra—istrinya—memang sudah memburuk karena banyak perbedaan.
"Apa kamu ingat ketika kita berjumpa lagi setelah malam itu, Lusi? Aku yang terus mencari-cari dirimu, sampai akhirnya kita malah kembali bertemu di sebuah restoran, aku benar-benar senang," ucap Tony mengulas masa lalu.
"Ah, pada saat itu aku adalah pelayan baru, tapi langsung dipecat karena aku menjatuhkan sajian. Aku benar-benar malu padamu, Mas. Aku sungguh enggak mengira kamu juga akan ada di sana. Dan kenapa harus membahasnya lagi? Aku sangat malu!" sahutnya.
__ADS_1
Tony tersenyum, lalu kembali memeluk tubuh Lusiana. Andaikan Lusiana tahu bahwa di balik insiden itu adalah Tony, apakah Lusiana akan kecewa? Entahlah. Tony tak pernah memikirkannya, karena ia yakin Lusiana tidak akan pernah mengetahuinya. Bahwa dirinyalah yang membuat Lusiana dipecat setelah mendapatkan pekerjaan pertama sebagai pelayan restoran, setelah di-PHK.
Tony yang pada saat itu akhirnya menemukan Lusiana sengaja meminta seseorang untuk menabrak Lusiana, dan dirinyalah yang meminta sang manager restoran untuk memberhentikan Lusiana. Dan karena rencana liciknya itu, pada akhirnya Tony bisa memiliki Lusiana hingga saat ini. Malam-malam indah yang sebelumnya hanya menjadi bayangan, kini bisa ia jalani dan Lusiana tidak pernah menolaknya sama sekali.
Tony menyeringai. "Kamu mau Candice melanjutkan kuliah di mana, Sayang? Di dalam negeri atau di luar negeri?" tanyanya.
"Enggak tahu, Mas. Nilai Candice sudah pasti sangat jelek. Dia bisa naik kelas saja sudah untung, atau nanti bisa sampai lulus aku sudah bersyukur," jawab Lusiana.
"Pasti bisa. Seenggaknya, dia harus lulus SMA dengan nilai yang bagus. Kamu tinggal berusaha membuatnya untuk lebih konsentrasi dalam belajar, dan serahkan semua biaya pendidikannya padaku. Anakmu adalah anakku juga, Lusi."
Tony menarik tubuh Lusiana, sampai wanita itu menghadapkan wajah padanya. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Ketika Lusiana memutuskan untuk tidak menjawab, pada akhirnya hanya suara embusan napas keduanya yang terdengar. Lalu, Tony yang selalu mengagumi kecantikan sekaligus fisik Lusiana yang tetap awet muda di usia tiga puluh delapan tahun itu akhirnya mulai menjatuhkan kecupan. Dan hal yang selanjutnya terjadi, tentu tidak perlu dijelaskan lagi.
Pada akhirnya, Lusiana kembali tak berdaya. Ia tidak memiliki kemampuan apa pun, selain menggantungkan nasib pada pria tua bertubuh tegap tinggi ini. Pria yang sejujurnya juga telah membuatnya kembali merasakan sebuah perhatian setelah sekian lama memutuskan untuk hidup tanpa pendamping karena sibuk mencari uang demi Candice. Meski Lusiana sadar bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar, ia malah tidak bisa menghentikan sesuatu yang sudah ia mulai sejak satu tahun lalu.
__ADS_1
Selain terpaksa, pada akhirnya keterpaksaan itu menjadi sebuah kenyamanan yang membuat Lusiana sulit untuk mengakhiri hubungan terlarangnya dengan Tony Damendra.
***