
Lusiana menjadi terdiam setelah sebelumnya hampir marah besar, karena Candice nyaris tidak pulang hingga sore menjelang. Namun keberadaan seorang pria muda membuat Lusiana langsung berusaha meluruhkan emosinya itu. Awalnya ia pikir pria tersebut adalah salah satu teman Candice, atau mungkin malah kekasih Candice, tetapi aura pria itu menunjukkan hal yang berbeda. Tampaknya juga lebih dewasa daripada bocah yang baru akan berusia tujuh belas tahun.
"Apaan sih, Bu? Memangnya aku anak kecil sampai pulang pun mau dihajar begitu?" celetuk Candice sarkastik karena mengira ibunya yang telah membawa sapu hendak menghajarnya habis-habisan setelah ia tidak kunjung pulang.
"Ck, kalau Pak Hans enggak cerewet, aku pasti juga enggak akan pulang!" lanjut Candice kemudian mengambil langkah untuk memasuki rumahnya, dengan meninggalkan ibu dan gurunya di halaman rumah tanpa gerbang tersebut.
Hans melirik Candice lalu menghela napas. Rupanya memang benar. Candice tetap tempramental dan tidak sopan, meskipun yang diajaknya bicara adalah sang orang tua.
"Maaf, Ibu Wali Murid. Mm, saya Hans. Salah satu guru di sekolah Candice. Dan sepanjang hari ini Candice hanya bersama saya kok. Kami hanya banyak mengobrol saja. Saya bertemu Candice yang merenung di halte pagi tadi, itu sebabnya saya mengambil kesempatan untuk setidaknya bisa mencari tahu hal yang membuat Candice sulit sekali diatasi," jelas Hans tanpa diminta sama sekali.
"Ooh! Pak Guru. Saya Lusiana, ibu Candice. Ah, mari-mari, mari masuk, Pak. Ngeteh atau ngopi dulu. Silakan," ajak Lusiana.
Hans cukup ragu. Namun ia tidak memiliki kesempatan untuk menolak ajakan janda cantik itu. Lagi pula, ia malah berpikir untuk kembali menggali informasi tentang Candice yang sekiranya bisa ia dapatkan dari Lusiana. Sehingga pada akhirnya, Hans tetap memasuki pekarangan Lusiana, bahkan ruang tamu janda cantik tersebut.
__ADS_1
Mata Hans sibuk mengamati rumah Lusiana yang terbilang cukup nyaman. Sebuah rumah berlantai dua minimalis yang ditata dengan aestetik. Di halaman depan pun masih ada beberapa tanaman yang telah diatur sedemikian rupa, sehingga terlihat lebih asri kendati halaman tersebut tak terlalu luas. Dengan rumah yang senyaman ini, bukankah seharusnya Candice tumbuh sebagai gadis baik, kendati tak memiliki figur seorang ayah?
Nyatanya tidak begitu. Sama seperti Hans. Anak konglomerat sekaligus orang yang akan meneruskan laju perusahaan. Orang lain akan merasa iri padanya yang berasal dari keluarga yang memiliki banyak uang. Namun kenyataannya? Hans tidak bahagia. Kehidupannya terlalu diatur, hingga membuatnya terus tertekan dan kerap sesak napas. Bahkan ketika sudah membebaskan diri untuk pergi dari rumah keluarganya pun, ia masih saja dikejar-kejar, dituntut untuk melakukan ini dan itu, terakhir semua kartu kredit yang ia miliki saat masih hidup di rumah keluarganya sekarang sudah diblokir.
"Pak Guru ini apa guru baru ya?" celetuk Lusiana yang baru muncul dari arah dapur. Ia masih berjalan dengan membawa nampan berisi cangkir teh yang masih panas. "Saya enggak pernah melihat Pak Guru di sekolah Candice. Oh, ini silakan diminum tehnya." Lusiana menaruh minuman tersebut di hadapan Hans.
Hans tersenyum dan mengangguk sopan. "Terima kasih, Ibu Wali Murid. Ya, memang benar bahwa saya adalah seorang guru baru. Namun sejak datang ke sekolah tersebut saya sudah diberikan tanggung jawab untuk menjaga Candice serta beberapa anak yang ... mm, maaf, cukup bermasalah. Pak Kusuma mengatakan kalau saya masih cukup muda dan pasti lebih mengerti mereka dibanding guru lainnya. Oleh sebab itu, beliau memberikan tugas ini pada saya."
Lusiana menelan saliva seiring dengan menurunnya arah pandang sekaligus kepalanya. "Saya benar-benar menyesal karena Candice sangat merepotkan banyak guru dan teman-temannya. Dan sekarang Pak Guru malah harus mengatasi anak itu. Saya sungguh meminta maaf, Pak Guru."
Yah, penyelidikan aneh karena terkait dengan muridnya sendiri. Kalau begini caranya, seharusnya Hans sekalian menjadi guru konseling saja, daripada guru Bahasa Inggris. Namun apa boleh buat, ia sudah dipercaya sebagai orang yang dianggap mampu menaklukkan di Gadis Bar-bar. Hanya karena punya backingan kuat, Kusuma seenaknya saja memberikan tugas di luar nalar begini.
"Se-sebenarnya, kami jarang bertemu, Pak Guru. Sebagai orang tua tunggal, tentunya saya harus bekerja untuk menghidupi kami berdua. Hal itu membuat Candice menjadi kurang perhatian sekaligus kasih sayang. Saya sendiri juga sudah enggak punya keluarga. Kakek nenek Candice sudah tiada sejak anak itu masih duduk di sekolah dasar. Ayahnya ...." Lusiana menelan saliva, merasa tak sanggup. Ia tidak ingin lagi membahas soal Ferguz. "Candice enggak punya ayah, Pak Guru. Dan ... ya belakangan ini pun kami juga sering bertengkar karena perbedaan pendapat. Ada masalah pribadi dan itu salah saya sendiri. Saya benar-benar enggak mampu menjadi ibu yang baik untuk anak itu."
__ADS_1
Hans melihat wajah Lusiana yang cantik tampak ternoda oleh air mata. Posisi wanita cantik itu pasti sedang serba salah. Memilih pekerjaan atau anak adalah sesuatu yang jauh lebih sulit daripada apa pun di dunia ini, untuk seorang ibu tunggal. Sudah pasti Lusiana juga tidak berkenan membuat sang putri merasa sendirian, tetapi masalah keuangan, jika Lusiana tidak bekerja maka tidak ada yang bisa mereka makan.
Namun Hans yakin tak hanya sekadar alasan itu saja. Soal masalah pribadi yang tidak Lusiana katakan secara gamblang kemungkinan besar menjadi penyebab paling kuat mengapa Candice sampai menjadi pribadi keras kepala dan hampir tak punya motivasi untuk hidup dengan baik. Bahkan tadi pagi, gadis itu malah tak ingin hidup.
"Cih, sekarang Ibu malah berlagak pilu di depan guruku? Aneh! Mentang-mentang guru itu ganteng, terus Ibu mau sekalian menggodanya, begitu? Ck, sekalinya murahan ya murahan!" gerutu Candice yang sejak tadi mencuri dengar perbincangan Hans dan Lusiana. Ia memang berada di lantai dua. Namun di balik dinding pembatas, ia bisa mendengar semuanya. "Kenapa pula Hans pakai mampir segala. Dan ternyata benar, ya? Kalau dia memang ditugaskan untuk mengatasiku? Sebenarnya kenapa sih aku harus diatasi segala?! Ck. Bikin repot saja! Lihat saja, alih-alih aku, justru Hans yang harus aku atasi!"
Candice berdiri lalu bergegas ke dalam kamarnya. Ia merasa lebih baik tidur daripada memikirkan ibu dan guru yang sok ikut campur, padahal mereka adalah biang keladi yang membuatnya terus-terusan emosi. Lihat saja, Candice juga tak akan tinggal diam setelah ini.
Ah, Pak Guru, barang-barang yang dibawa Candice tadi ...?" Lusiana baru teringat akan hal itu. Ia segera mengusap air matanya ketika ingin mencari tahu mengapa Candice membawa sejumlah paperbag.
Hans tersenyum. "Hanya jajan kecil-kecilan, Ibu Lusi," jawabnya lalu tersenyum kecut. Kecil apanya, sekarang gaji ferakhirnya dari sekolah sebelumnya sudah ludes!
"Aduh, Pak Guru. Habis berapa? Biar saya ganti saja, Pak!"
__ADS_1
Cepat, Hans menggeleng-gelengkan kepalanya. Meskipun sangat ingin, tetapi ia tetap menolak. Yah, demi harga dirinya di depan Candice.
***