Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Kesal Karena Rusdy?


__ADS_3

Hari ini ada pelajaran bahasa Inggris pertama setelah Candice duduk di bangku kelas tiga. Mona juga sudah dipindahkan ke dalam kelas tersebut dan duduk di bangku paling depan dekat dengan guru, sementara Candice tetap di bagian belakang bersama Rusdy Pangeran. Sialnya, meskipun ia adalah anak blasteran Inggris, ia sama sekali tidak sanggup pada mata pelajaran tersebut. Namun keberadaan Hans yang merupakan guru di mata pelajaran itu, memaksa Candice agar tidak sampai mengantuk. Ia memaksakan diri untuk terus memperhatikan setiap rumus tenses yang membuat mata hingga kepalanya berkunang-kunang, yah, kecuali jika Rusdy terus mengajaknya berbicara.


"Heran deh sama kamu, Cand. Bisa-bisanya ya, anak berwajah bule enggak ngerti bahasa Inggris sama sekali," gumam Rusdy memberikan sindiran.


Candice menghela napas sembari memutar bola matanya. "Sudah tahu bapakku minggat, masih saja heran. Kalau mau menyindir yang lebih masuk akal dong, Rus!" omelnya.


"Aduh, sorry, sorry. Cuma bercanda. Enggak ada maksud buat ngingetin kamu ke bapakmu yang minggat itu," sahut Rusdy. "Tapi, Cand, beneran kamu luka-luka begini karena jatuh dari motor?"


"Kamu pikir aku habis berantem?"


"Ya, barangkali. Kamu kan jago naik motor, rasanya enggak mungkin kalau jatuh sendiri. Kecuali kalau ada yang bikin kamu jatuh."


Candice menghela napas. "Kamu memang temanku, Rus. Tahu banget ya soal aku. Dan memang benar, aku jatuh kok dari motor, tapi bukan karena kecelakaan enggak disengaja. Melainkan kecelakaan yang aku buat sendiri. Aku habis menabrak mobil si Tua Banggka itu. Dia main ke rumah, habis berzinah sama ibuku kali."


"Hmm, yang sabar deh, Can. Kalau tahu begitu kan, kemarin aku ikutan. Kita bakar sekalian mobilnya."


"Katanya sudah tobat?"


"Tobat tawuran doang. Lagi pula, Tua Bangka itu kan memang wajib kita habisi. Dia sudah mencuci otak ibumu. Siapa tahu sampai main pellet segala, sampai ibumu beneran klepek-klepek begitu. Nanti kalau hubungan mereka ketahuan, terus jadi viral, kan jadi berabe. Nama kamu juga bakal ikut jelek."


"Aku malah berencana membunuh pria tua itu, Rusdy. Tapi nanti kalau sudah cukup umur, biar sekalian aku dihukum mmati."

__ADS_1


"Candice!"


"Haha. Konyol ya? Padahal bukan aku yang membuat kesalahan, tapi aku yang pengen menghilang."


"Kita cari masa depan kita sendiri saja, Cand."


"Masa depanku sudah terlalu suram, Rusdy."


Hans yang berada depan kelas terus memperhatikan Candice dan Rusdy yang tengah berbincang, padahal ia masih sibuk menerangkan. Entah mengapa rasanya kesal. Entah kesal karena melihat Candice seakrab itu dengan Rusdy, atau hanya kesal karena penjelasannya diabaikan oleh mereka berdua. Padahal sebelumnya, ia sudah menekankan agar Candice fokus pada pelajaran, terlebih ketika ternyata Candice yang bule malah tidak bisa berbahasa Inggris.


Hans memutar badannya dan menatap papan tulis. Ia memejamkan matanya sembari menggigit bibirnya. Ayolah, ia tidak boleh terbawa perasaan hanya karena seorang siswi saja. Itu namanya ia pilih kasih. Dan sebagai guru, ia tidak boleh seperti itu. Namun ....


"Candice, tukar bangku dengan Septia. Kamu duduk di depan dengan Mona," ucap Hans dengan keras sesaat setelah menghadapkan diri pada murid-muridnya lagi. "Saya perhatikan sejak tadi, Candice dan Rusdy terus saja mengobrol. Kalian sama sekali enggak mau menyimak pelajaran! Pindah sekarang, Candice!"


"Ih, dia mah selalu bikin ulah. Sudah kelas tiga juga," ucap Anita yang juga ada di kelas tersebut. Ia kesal pada Candice karena Candice telah membuat guru pujaannya sampai marah. Detik berikutnya, Anita menangkup kedua pipinya dan memasang ekspresi sok imut. "Duh, Pak Hans-ku kasihan banget, kenapa sih Candice harus ada di kelas ini segala? Kan kasihan wali kelas kesayangan aku."


Jane tersenyum geli. "Ya ampun, Nit, beneran tergila-gila sama Pak Hans ya?" ucapnya.


"Iya dong. Lihat deh, dalam keadaan marah pun beliau tetap tampan. Uuuh idaman!"


Saat Hans menatap, Anita serasa mencair. Ia langsung lemas ke pundak Jane. Namun Hans mengabaikannya, sebab Hans juga tahu jika Anita memang kerap mencari perhatian darinya.

__ADS_1


Sementara itu, Candice sudah duduk di sebelah Mona. Paling depan dan paling dekat dengan meja guru! Oh astaga! Padahal Candice paling benci duduk di posisi seperti itu. Ia harap hanya saat ini saja, atau jika Hans memaksa, cukup di jam pelajaran Hans saja.


"Hai, Candice," ucap Mona.


Candice melirik teman barunya itu. "Diamlah, nanti aku diomeli lagi," jawabnya jutek. Meski begitu ia senang karena mendapatkan sapaan. "Mm, hai juga." Akhirnya ia memilih untuk menyahuti.


Mona tersenyum sembari melihat rona merah muda di wajah Candice yang putih kusam. Walaupun begitu, Candice tetap cantik. Sebenarnya, Mona merasa penasaran dengan perban yang membalut kaki dan tangan Candice. Namun belum saat ini waktunya bertanya lebih dalam.


Tak berselang lama, Hans menghampiri meja Candice. Ia berdiri tegak di hadapan gadis itu. Dengan tegas ia berkata, "Mulai saat ini, khususnya di jam saya, kamu harus duduk di sini dan dilarang bergabung dengan Rusdy!"


Candice memutar bola matanya lalu menatap Hans. Pria itu tidak main-main. Sepertinya niat Hans untuk membuat Candice menjadi lebih pintar juga bukan sesuatu yang bisa Candice anggap omong kosong belaka. Hans punya nyali, tanpa memedulikan berapa kali Candice membuat Hans merasa rugi. Padahal Candice juga sampai menguras habis dompet Hans dan membuat Hans rugi bandar karena keempat ban mobil Hans bocor, tetapi Hans tetap tidak menyerah dalam menyadarkan Candice.


"Baik, Paaak!" ucap Candice lantang sampai membuat berapa siswa terpana.


"Aaah, harusnya aku saja!" celetuk Nita. "Tapi aku juga enggak mau tukar bangku sama Mona dan duduk dengan Candice."


Hans menatap Candice lalu menyeringai. Detik berikutnya, ia kembali berjalan ke tengah. "Kita lanjutkan pelajarannya, buka halaman selanjutnya. Simak baik-baik, terutama Candice dan Rusdy."


"Oke, Pak!" sahut Rusdy tak kalah lantang seperti suara Candice barusan.


Pelajaran kembali dimulai. Dan sepanjang detik selama dua jam mata pelajaran Bahasa Inggris tersebut, Hans terus berusaha untuk tidak melibatkan perasaannya. Perasaan apa pun itu. Sebagai guru ia harus adil untuk semua muridnya. Dan meski terkesan seperti alasan, memindahkan Candice ke depan termasuk sesuatu yang benar, bukan? Toh, Candice akan terus mengobrol jika tetap dibiarkan duduk dengan Rusdy Pangeran.

__ADS_1


***


__ADS_2