Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Sahutan Hans yang Bikin Candice Bengong


__ADS_3

Candice baru saja turun dari motor milik Rusdy setelah sebelumnya ia memutuskan untuk nebeng pada temannya tersebut. Dan dari dalam mobilnya, Hans melihat Candice dan Rusdy sedang berbincang dengan perasaan yang cukup meremehkan. Bukan meremehkan karena Rusdy adalah anak nakal yang bodoh sekaligus murid di kelasnya yang susah diatur, tetapi lebih ke cara Rusdy yang sok romantis pada Candice.


"Di rumah hati-hati ya, Cand. Jangan lupa makan, terus bobok, kalau ada waktu telepon aku. Kita nongkrong bareng nanti di pinggir jalan haha," ucap Rusdy.


"Cih, pinggir jalan? Enggak modal banget tuh anak," gumam Hans yang mendengar ucapan anak itu. "Yah, namanya anak sekolah, uang saja masih minta mamanya. Enggak heran sih. Tapi lucu saja mendengarnya. Padahal aku dulu enggak se-tidak modal itu."


Hans menangkap Candice yang tengah tersenyum. Lalu pandangannya menurun, menatap kaki dan tangan Candice yang masih terbalut perban. Sepertinya ada noda merah, dan kemungkinan besar darah dari luka Candice masih merembes keluar.


Hans menghela napas. "Anak yang malang," ucapnya pelan cenderung berbisik. Detik berikutnya, ia menatap ke samping ke bagian penumpang yang kosong. "Untung aku membeli perban baru. Seenggaknya dia harus mengganti perban itu."


"Kamu enggak minta aku buat mampir, Cand?" Suara Rusdy kembali terdengar dan sukses menyita perhatian Hans.


Detik itu juga, Hans langsung melayangkan tatapan pada Candice. Ia ingin tahu bagaimana gadis badung itu memberikan reaksi terhadap Rusdy. Namun alih-alih pada Rusdy, karena saat ini Candice justru berangsur menoleh. Dan tatapan Candice langsung mendarat pada Hans yang masih diam di dalam mobil. Gadis itu tampak menyeringai dan membuat Hans langsung tersenyum tidak menyangka. Sudah pasti Candice mengetahui keberadaannya. Yah, tidak heran jika Candice sudah hafal dengan bentuk mobilnya.


"Sorry, aku ingin istirahat hari ini, Rud. Tanganku nyeri. Jadi enggak bisa buat minta kamu mampir. Nongkrong pun kayaknya juga enggak bisa. Maaf, Rus. Lebih baik panggil Anhar saja, aku rasa dia sudah kelar tuh nganter si Mona," ucap Candice yang langsung membuat Hans bisa bernapas lega.


"Mm? Lega? Kok aku lega?" gumam Hans bertanya-tanya. Detik berikutnya, ia menelan saliva dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayolah. Sekarang Bu Lusi juga enggak mau kasih pengawasan. Bisa berape kalau aku enggak bisa nahan diri. Haaa ... begini amat ya jadi guru? Keren sih mereka yang lebih pandai menahan diri."


Rusdy tampak menghela napas. "Kamu enggak apa-apa di rumah sendiri? Kayaknya lukamu berdarah lagi. Enggak mau gitu kalau aku bantu ganti perban?"


"Enggak, Rus. Dah sono! Pulang saja ah! Pegel nih kaki berdiri terus. Dan jangan maksa!" omel Candice yang kesabaran setipis selembar tisu dibagi dua.


"Hahaha! Okelah. Kamu beneran susah dibujuk, Cand. Bikin bingung saja. Kalau kamu gadis lemah sih oke, masalahnya dalam keadaan sakit pun tendanganmu luar biasa!"


"Berisik ah. Sana pergi! Terima kasih buat tebangannya, ya! Besok aku traktir di warung Pak Hananto!"


"Okeee, Candy Manis!"

__ADS_1


Rusdy tidak punya pilihan lain, selain segera melajukan sepeda motornya karena Candice sudah bersikeras untuk menolak keinginannya. Sebagai seseorang yang mengenal Candice sejak lama, tentu saja Rusdy tahu betul bagaimana anak itu akan mengamuk atau minimal memasang tampang super masam jika tidak dituruti. Dan hal itu membuat Rusdy memutuskan untuk menurut saja.


"Perjuangan Rusdy beneran konyol. Mudah banget menyerah," gumam Hans yang kemudian tersenyum meremehkan anak didiknya sendiri.


Detik berikutnya, Hans segera menurunkan dirinya dari mobil tersebut. Dan kehadirannya langsung disambut tatapan tajam serta helaan napas yang dalam dari Candice. Sudah pasti gadis itu sedang malas bertemu dirinya. Namun mau bagaimana lagi, kalau tidak dengan begini, Hans tidak bisa membimbing Candice agar Candice bisa lulus SMA dengan lancar.


Kalaupun bukan Candice orangnya, Hans pasti juga akan melakukan hal yang sama. Anak-anak tawuran saja sudah ia beri kursus istimewa di hari libur pasca semester kenaikan kelas. Jadi, Hans rasa dirinya sedang tidak pilih kasih, bukan? Meskipun ia juga belum tahu akan berapa lama dirinya merangkap sebagai pembimbing pribadi bagi gadis itu. Ia berharap tidak sampai satu bulan, mengingat pekerjaannya sebagai guru, yang meski masih honorer tetap harus mempertimbangkan norma dan moral.


"Pak Guru beneran mau kasih les saya nih?" celetuk Candice sesaat setelah Hans sampai di hadapannya.


Hans tersenyum. "Iya. Kenapa? Kamu berubah pikiran?" balasnya bertanya.


"Enggak sih. Tapi mau di mana? Di rumah saya?"


"Iya, aku sudah meminta izin pada ibumu."


Hans turut mengambil langkah. "Jangan begitu, mau bagaimanapun beliau adalah ibu kamu. Jangan sekadar memanggil nama saja, Candice."


"Ya, ya, ya, Pak. Baik dan terima kasih." Candice segera menghentikan langkah lagi kemudian menatap Hans. "Kalau saya panggil Rusdy lagi bagaimana, Pak?"


"Jangan!"


"Kenapaaa?"


"Nanti kamu malah sibuk bercanda sama dia dan enggak mau mendengar penjelasan dari saya."


"Umm." Bibir Candice mengerucut. "Kalau Mona?"

__ADS_1


"Dia sudah terlalu pintar."


"Anhar?"


"Dia sama seperti Rusdy yang bisa kamu ajak bercanda."


Mata Candice menyipit, sementara lidahnya sibuk mendecap. Detik berikutnya, ia berjalan ke arah Hans yang berada satu meter di hadapannya. Mata Candice yang beriris biru bersemu hijau itu kini terarah, mengamati wajah Hans yang tampan. Kulit kuning langsat pria itu tampak kenyal dan mengkilap. Sudah pasti, Hans melakukan banyak perawatan yang membuat Hans terlihat begitu cerah. Berbeda dengan Candice yang meski lebih putih, kulitnya malah cenderung kering dan kusam. Untung saja ia tidak memiliki masalah kulit semacam jerawat atau gatal-gatal.


"Pak Hans mau berduaan saja dengan saya, yaaaa!" celetuk Candice dengan suara yang cukup keras. Ia tidak berniat menggoda, tetapi lebih ke arah mengerjai Hans saja. Lagi pula, ia sadar diri, mana mungkin Hans yang menjadi guru idola baru di sekolahnya bisa termakan godaan yang seandainya ia berikan.


Dan upaya Candice terbukti berhasil saat Hans menunjukkan kepanikan sampai celingak-celinguk karena khawatir ada yang mendengar ucapan Candice.


Hans mendengkus kesal, kemudian berkata, "Kamu mau mempermalukan saya, ya? Atau ingin membuat saya dianggap guru tak bermoral karena apel di rumah murid? Saya di sini mau memberikan les dan kita lakukan di teras saja!"


"Cih! Memangnya kenapa kalau guru apel ke rumah murid. Lagi pula gurunya masih semuda Pak Hans. Bapak kan juga pernah bilang kalau umur kita terpaut enggak sampai sepuluh tahun, rasanya masih masuk akal kalau Bapak menyukai saya hahaha!"


"Candice!"


"Pft ... hahaha. Wajah Pak Hans kenapa merah sekali? Saya kan hanya bercanda, Pak! Lagi pula mana mungkin Bapak suka sama saya, kalau suka sama Bu Lusiana yang sampai memikat hati suami orang sih, kayaknya malah masuk akal."


"Candice, kayaknya saya lebih memilih menyukai kamu daripada ibu kamu. Bagaimana dong?" sahut Hans yang akhirnya memutuskan untuk meladeni ucapan gadis itu. "Saya enggak disuruh masuk? Dibuatkan teh kek, atau kopi kek. Yang istimewa buat guru yang lagi apel ke rumah kamu."


Candice terdiam dengan keadaan rahang yang agak menganga. Hingga beberapa detik kemudian, ia bergerak dengan kaku untuk membalikkan tubuhnya. Jantungnya hampir copot setelah mendapatkan sahutan sedemikian rupa dari guru muda nan tampan itu.


"Apaan sih? Kok kayak kemakan senjata sendiri?" gumam Candice yang sudah mengambil langkah.


Hans tersenyum sembari mengikuti langkah gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2