
"Baik, Tuan, akan saya pastikan Candice naik kelas. Saya juga sudah menugaskan seorang guru yang sangat mampu untuk membuat Candice segera memperbaiki diri. Iya ... baik, Tuan ... akan saya lakukan ... mm, terima kasih, Tuan," ucap Kusuma, selaku kepala sekolah di mana Candice menempuh pendidikan menengah atas pada seseorang melalui sambungan suara.
Ketika bunyi telepon telah dimatikan terdengar, Kusuma baru menurunkan ponselnya itu dari samping daun telinganya. Ia menghela napas, sementara matanya tampak bergerak-gerak tak jelas. Ketika benaknya sibuk memikirkan, hatinya sangat berharap besar pada Hans yang juga bukan orang sembarangan. Semoga saja Hans bisa mengubah perilaku Candice yang kelewat bar-bar.
Namun meski hanya perlu mencurahkan perhatian pada Candice saja, Kusuma tetap memperhatikan Rusdy, termasuk juga Anhar. Ia hanya merasa harus adil pada kedua siswa selain Candice tersebut. Karena tidak etis jika Kusuma hanya melindungi Candice saja, ketika masih ada beberapa siswa yang membutuhkan perhatian. Yang pasti, Kusuma ingin menepati ucapannya pada 'seseorang' yang memintanya untuk terus menjaga Candice dengan baik.
***
Candice, Rusdy, Anhar, dan beberapa anak lain termasuk anak-anak dari SMA lain kini tengah diamankan. Sialnya pertarungan mereka harus kembali terhenti, bahkan sebelum dimulai karena polisi mendadak datang. Pihak polisi seolah tahu jika akan ada pertempuran besar antar SMA yang akan mengguncang dunia.
Karena pada kenyataannya memanglah begitu. Candice sudah tahu. Namun ia hanya mengatakan hal itu pada Rusdy saja. Semuanya gara-gara Hans yang menyebalkan. Guru baru yang sok jago sekaligus berkuasa. Yang juga telah membuat Candice tak hanya sekadar kesal, melainkan sampai marah besar. Dan gara-gara Hans, mereka harus menjalani hukuman push-up. Karena tidak ada unsur pidana yang mengakibatkan seseorang sampai meninggal, tentu saja mereka tidak akan sampai dijebloskan ke penjara.
"Hans, ada ceweknya! Bule lagi! Itu muridmu?" tanya seorang petugas kepolisian yang turut menangani anak-anak itu. Adalah Indra Rukmawan, teman Hans yang lebih tua tiga tahun.
Hans menghela napas. Detik berikutnya, ia menatap Indra. "Belum ada yang terluka, 'kan? Maksudku enggak ada unsur pidana, 'kan?" tanyanya.
"Kenapa malah balik tanya?!" Indra mendengkus kesal. "Yaaa, belum ada. Enggak banyak senjata yang mereka pakai. Hanya tiga tongkat kasti. Kami datang lebih awal sebelum bentrokan terjadi. Dan itu semua berkat kabar darimu."
"Aku bisa menebus mereka hari ini?"
"Kenapa memangnya? Mereka sedang dibina. Setidaknya diberi sedikit efek jera dulu. Tenang saja, untuk si Bule, kami lebih sedikit dalam memberikan hukuman untuknya."
Hans tersenyum tipis. Andaikan saja Indra tahu, justru Candice-lah yang jauh lebih kuat, meskipun Candice adalah seorang gadis. Namun Hans tidak ingin mengatakan kenyataan ini, sebab mau bagaimanapun Candice memanglah anak perempuan yang harus ditangani dengan cara berbeda.
"Mereka tanggung jawabku. Candice dan Rusdy adalah muridku, termasuk juga Anhar. Aku wali kelasnya. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah secepatnya, Ndra. Kuharap kamu mengizinkanku untuk menebus mereka. Dan aku pastikan mereka tak akan berulah lagi," celetuk Hans.
Indra menatap Hans dengan heran. "Bukankah lebih sulit ketika harus menghadapi para anak bandel, Hans? Padahal kamu hanya tinggal duduk manis di kursi CEO dan melanjutkan bisnis yang ayahmu bangun selama ini. Kenapa malah susah-payah mengurus anak-anak nakal itu?" tanyanya.
__ADS_1
"Jangan menganggap mereka nakal kendati memang begitu. Toh, kita sendiri pernah merasa paling jago di usia mereka, Ndra. Dan soal posisiku yang seharusnya bagus di perusahaan ayahku, mm, enggak. Menjadi guru tampaknya jauh lebih berjasa dan menantang, daripada harus menjadi boneka."
"Aih, Hans, Hans. Jika aku jadi kamu, aku enggak akan menyia-nyiakan privilege itu." Indra berangsur bangkit dari duduknya. Sesaat setelah menghela napas ia berkata, "Tunggulah sebentar. Aku akan memanggil mereka. Tapi tepati janjimu, Hans, jangan sampai mereka terlibat tawuran lagi. Karena tampaknya, enggak sekali dua kali mereka melakukannya. Khususnya si Bule, meski dia seorang perempuan, aku rasa dia yang lebih ganas daripada yang lain."
"Pft, ... ternyata kamu mengetahuinya ya, Ndra. Ternyata instingmu masih saja tajam."
Indra tersenyum. "Kalau sudah tumpul, aku enggak mungkin ada di posisi ini sekarang. Menjadi polisi memang harus lebih peka."
Indra benar-benar mengambil langkah sekarang. Ia meninggalkan ruang kecil, tempat di mana ia bertemu dengan Hans. Ketika Indra sudah keluar, Hans juga berpikir untuk segera bangkit. Ia harus menyambut para siswanya yang baru saja menjalani pembinaan. Lagi pula hari sudah hampir petang. Hampir tujuh jam, anak-anak itu ditahan. Beruntungnya memang belum ada yang sampai terluka, sehingga tidak sampai diproses secara hukum.
"Sialan, jadi gara-gara si Hans itu?!" celetuk Anhar setelah mendengar kenyataan dari Rusdy. Dan kini sedang berjalan keluar bersama Candice dan Rusdy, termasuk beberapa teman lainnya yang turut tertangkap. "Kenapa guru baru itu bisa sampai tahu?"
Candice menghela napas. Melirik kesal pada Rusdy yang kelewat ember. "Sialan kamu, Rus!" keluhnya pada Rusdy. Detik berikutnya ia memberikan jawaban pada Anhar. "Ini salahku. Aku terlalu meremehkannya. Aku enggak sangka, dia bakal ngelaporin kita."
"Sssstttt ... ada orangnya," potong Rusdy. Langkahnya terhenti di tengah-tengah pintu kantor tersebut. "Dan apa kalian lupa, Pak Polisi tadi bilang kalau ada guru yang bertanggung jawab setelah Pak Polisi itu melepaskan kita? Aku rasa Pak Hans orangnya."
"Cih!" Candice menggertakkan gigi sembari mengepalkan kedua tangannya. "Dia memang harus diberi pelajaran."
Candice menatap Anhar. "Dasar pengecut!"
"Candice!" seru Rusdy dan Anhar ketika Candice sudah mengambil langkah.
Ya, Candice sudah mengambil langkah. Dengan ekspresi penuh kekesalan, ia berjalan ke arah Hans yang sedang menunggu di ujung teras kantor itu. Tepat setelah Candice menghentikan langkah, Hans yang sebelumnya menatap ke depan kini sudah membalikkan badan. Senyumnya yang manis terulas begitu menawan, tetapi Candice sudah pasti tidak akan terkesima.
"Bagaimana, Candice? Apa kamu lelah setelah dibina? Bapak rasa enggak, soalnya enggak sampai berhari-hari. Tentu kamu tahu, 'kan, siapa yang membuat kamu dan teman-temanmu keluar lebih cepat?" ucap Hans.
Candice menggertakkan gigi. Kemudian ia berkata, "Waaah! Pak Guru licik juga ya?"
__ADS_1
Anhar berlari cepat lalu membungkukkan badan di hadapan Hans. "Te-terima kasih, Pak. Mohon jangan buat kami enggak naik kelas ya, Pak!"
"Ck." Rusdy mendecapkan lidah. "Saya—"
Hans langsung menyambar ucapan Rusdy. "Enggak perlu berterima kasih, Rusdy. Karena saya enggak melakukan hal ini dengan gratis."
"Apa yang Pak Guru mau lagiii?! Bapak kan sudah membuat kami ketahuan!" celetuk Candice kesal.
"Tenang saja, bukan uang kok. Tapi waktu."
"Waktu?" Anhar mengernyitkan dahi.
Hans mengangguk. "Awalnya hanya untuk Candice dan Rusdy saja, tapi ternyata ada anak lain yang sama nakalnya ya? Bapak dengar, kamu juga tergabung di sebuah geng motor ya, Anhar?"
Anhar menelan saliva dan berangsur menundukkan kepalanya. "I-itu, a-anu, Pak, sa-saya hanya kenal anggota mereka saja kok."
"Enggak apa-apa. Enggak ada yang salah, selama kamu enggak membuat ulah." Hans tersenyum lebih lebar sampai giginya kelihatan. "Candice, Rusdy, dan Anhar. Bapak pastikan kalian naik kelas, tapiii ... selama libur kenaikan kelas, kalian harus terus datang ke tempat Pak Guru."
"Apa-apaan sih?! Kami kan juga mau liburan, Pak!" sergah Candice. "Enggak mau!"
"Apa itu jaminan agar kami naik kelas?" tanya Rusdy.
Hans mengangguk. "Rusdy. Kamu pintar. Kalian tentu juga sudah tahu, bukan, jika penangkapan kalian hari ini bisa mempengaruhi nilai kalian nanti dan bisa saja para guru yang kesal akan membuat kalian sulit naik kelas? Oleh sebab itu, Bapak akan menjamin kalian, asalkan selama liburan kalian tetap mengikuti pelajaran saya. Karena tampaknya kita akan lebih sering ketemu lagi nantinya. Untuk Candice, kalau kamu enggak setuju, tak masalah, Dik. Kamu tinggal berjalan memasuki kantor ini lagi dan mengikuti pembinaan lebih lama, atau mempersiapkan dirimu tetap di kelas dua. Saya enggak akan memanggil orang tua kalian bertiga, karena saya yang benar-benar akan menjamin kalian."
"Ya sudah, kalau begitu ayo naik ke mobil saya. Biar saya antarkan kalian ke rumah masing-masing," ajak Hans.
Candice mendengkus. "Enggak mau!" tukasnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, Candice bergegas untuk meninggalkan tempat itu dengan mengabaikan ajakan Hans. Sikap Candice langsung diikuti oleh Rusdy dan Anhar. Tampaknya memang sulit mengatasi gadis itu, meskipun kedua siswa lainnya sudah mulai tergiur oleh penawaran Hans. Ah, karakter Candice yang sangat keras benar-benar membuat Hans semakin heran. Ada apa sebenarnya dengan Candice, terlepas dari kepergian sang ayah kandung? Tak mungkin tak ada faktor lain, sampai gadis berparas Eropa itu benar-benar sulit dikendalikan.
***