
Wajah Hans sangat kusut. Sorot matanya tampak lelah. Hatinya kesal tiada terkira. Setelah menahan Candice di ruang kelas, sampai harus menemukan sesuatu yang salah di dalam perasaannya, kini ia malah dibuat syok. Semua ban mobilnya dibuat kempes. Gilanya disebabkan oleh Candice. Hans bisa mengetahui tentang sang pelaku melalui rekaman di kamera dashboard mobilnya. Namun ia tidak bisa menebak, gadis itu menggunakan alat apa untuk membuat bocor roda kendaraan pribadinya.
Dan kini, Hans masih berada di sekolah setelah sebelumnya terpaksa harus memanggil karyawan bengkel selama satu jam. Mengingat mobilnya yang memang bukan mobil biasa, ia selalu ingin mendapatkan penanganan khusus dari bengkel langganannya. Selain itu, mobil tersebut saat ini merupakan kendaraan satu-satunya milik Hans, selain sebuah sepeda motor. Ia yang sudah pergi dari rumah memang tidak memiliki apa pun lagi. Apartemen tempatnya tinggal pun merupakan apartemen sewa tahunan. Sementara mobil itu, mobil yang ia beli dengan uangnya sendiri, karena dulu jatah bulanannya ketika masih menjadi anak super manut lumayan banyak di setiap bulannya, sampai ia bisa menabung sendiri di rekening pribadi.
"Bisa-bisanya aku merasa terkesima pada gadis brutal itu. Mending kalau satu ban, ini empat-empatnya! Dia benar-benar berani. Lebih tepatnya lancang, kurang ajar, enggak sopan, enggak tahu aturan," gumam Hans kesal sembari mengawasi para mekanik yang akan mengganti semua ban mobilnya secara langsung di tempat kejadian perkara.
Selanjutnya, Hans justru mengembuskan napasnya dengan perasaan ngilu. Bahkan setelah apa yang dilakukan oleh Candice padanya, hati Hans tetap masih merasa iba pada gadis itu. Meski Candice terus berusaha untuk membuatnya tidak nyaman dan agar cepat menyerah, Hans justru terus berpikir untuk tetap melanjutkan tugas yang memang telah diberikan padanya. Kasihan. Gadis itu terlalu cantik sekaligus masih sangat muda. Candice tidak boleh menjadi orang rusak, seandainya memang sudah terlalu rusak, setidaknya Candice masih bisa Hans selamatkan.
Hans menghela napas. Lalu muncul sebuah senyuman tipis di bibirnya yang manis. "Seru juga. Kita lihat saja siapa yang akan menang, Candice. Karena saat ini aku bukan hanya sedang melakukan tugasku, melainkan mengikuti permainanmu. Kita lihat siapa yang lebih brutal, karena aku sendiri juga pernah nakal. Candice Nuansa Louis, bapak gurumu ini juga bukan orang yang terlalu baik," gumamnya.
"Pak Guru!" Suara Candice terdengar nyaris disertai suara mesin sepeda motor yang memasuki area parkir seolah itu. Seolah mengetahui isi pikiran Hans, Candice mendadak muncul. Bahkan tanpa memperhatikan larangan motor tidak boleh parkir di parkiran mobil, Candice justru memarkir kendaraan roda duanya di area itu.
Hans mengernyitkan dahi. Dan ia yang sejak tadi berjongkok sembari mengawasi dua orang mekanik sedang bekerja, kini bangkit dengan perasaan heran. Ia ingin menganggap bahwa kehadiran Candice hanyalah sebatas khayalannya, tetapi keberadaan gadis itu sudah terlalu nyata. Terutama ketika Candice mulai berjalan ke arah Hans dengan langkah yang cukup cepat.
Beberapa saat yang lalu ....
Ajakan Mona yang sengaja menghadang Candice di depan gerbang, untuk ke kafe terdekat demi mentraktir Candice sebagai tanda terima kasih, menjadi kali pertama Candice berbicara santai dengan seorang siswi di sekolahnya setelah hampir dua tahun lamanya.
"Sa-saya sangat berterima kasih karena kamu sudah membela saya tadi. I-ini kali pertama bagi saya bisa menghindari mereka," ucap Mona setelah menyesap milk shake rasa anggur kesukaannya, hanya demi menghilangkan rasa gugupnya di depan Candice. "Dan maafkan saya karena saya sudah merepotkan kamu."
Candice menghela napas lalu menunjukkan ekspresi agak geli. "Bisa enggak sih kamu jangan bicara seformal itu?! Kita tuh satu seumuran tahu!" tegasnya.
"Hehe, su-sudah kebiasaan soalnya."
"Dan kamu bisa berbicara dengan lancar, 'kan? Jadi kenapa harus tergagap begitu sih?! Aku enggak bakalan menggigit kamu tahu, Mon!"
Mona melirik Candice. Gadis bule yang sangat cantik, tetapi juga sangat baik hati meski memiliki image yang buruk di mata siswa lainnya. Sepertinya Mona tidak perlu terlalu takut lagi.
__ADS_1
"Ma-maaf," ucap Mona.
Candice mendengkus kesal. "Kenapa harus minta maaf melulu sih?! Jangan terlalu lemah deh!"
"Iya, kalau begitu saya ... mm, a-aku sekali lagi berterima kasih. Kamu beneran seperti pahlawan buat aku, Candice!"
Mata Candice mengerjap-ngerjap, ketika tangannya juga bergerak ke belakang untuk mengusap tengkuknya. Rupanya ia masih bisa merasakan salah tingkah. Bahkan ia merasa agak malu setelah dianggap sebagai pahlawan oleh Mona. Mungkin karena sudah terlalu lama dianggap menakutkan oleh orang lain, sehingga sekarang pertahanan Candice sebagai cewek dingin jebol juga. Sebab, yang menganggapnya demikian adalah Mona. Cewek paling lemah sekaligus polos, cewek yang mungkin tidak akan pernah berbohong dan tidak semunafik orang lain.
Candice berdeham, kemudian berkata, "Enggak perlu lega begitu. Toh, ketika aku enggak ada, kamu pasti masih akan dibully oleh mereka. Kalian kan satu kelas. Dari kelas A, tempatnya anak-anak yang pintar!"
Mona mengangguk pelan sembari menggigit bibir bagian bawahnya. "Meski begitu aku tetap senang karena hari ini ada yang membela aku," sahutnya.
"Makanya jadi orang tuh yang kuat! Percaya diri saja! Lawan mereka! Kalau kamu PD, aku yakin kekuatan kamu enggak terlalu berbeda dengan cewek jangkung yang cengeng itu."
"Sulit, Candice. Masalahnya aku sudah begini sejak awal. Berbeda dengan kamu yang punya teman-teman yang pasti akan membela kamu. Kalian kan berada di dalam satu kelompok yang beranggotakan banyak orang. Sementara aku cuma sendirian. Bu-bukan iri sih, cu-cuma ya begitu sejak awal, Can."
"Ck, kamunya saja yang enggak ada keberanian, Mon! Lemaaah! Jangan buat alasan deh!"
Seterusnya begitu. Pikiran Candice terus merasa terganggu oleh kemungkinan tersebut. Bahkan ketika ia sudah sampai di depan rumahnya, ia malah putar balik lagi. Dengan mengendarai kendaraan bermotornya tersebut, ia bergegas untuk ke sekolah kembali. Ia pikir Hans masih terjebak di tempat parkir, karena ia telah membuat semua ban mobil pria itu kempes dengan menggunakan obeng yang selalu berada di bagasi motornya.
Dan di sinilah Candice sekarang. Di hadapan Hans dengan tatapan matanya yang tetap tajam. Nyatanya Hans juga masih ada di sana.
Hans tersenyum kecut. "Kenapa? Ada apa sampai kamu kembali ke sekolah lagi? Mau meminta maaf pada saya?" tanyanya.
"Enggak tuh," sahut Candice cepat. "Mm, jadi Pak Guru tahu ya kalau itu ulah saya?"
"Saya bisa menuntut kamu atas tindakan tidak menyenangkan lho, Nak!"
__ADS_1
"Saya masih di bawah umur."
"Masih ada pembinaan untuk anak di bawah umur lho."
"Haaaah, sudahlah. Lagi pula sudah ada yang urus, 'kan? Nanti saya yang bayar biaya perbaikannya. Saya punya uang haram dari Ibu, tenang saja!"
"Apa? Uang haram?" Dahi Hans mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Sssttt!" Candice mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Hans. "Stop menyelidiki saya, Pak! Sekarang saya punya permintaan ke Bapak!"
"Ck, setelah berbuat ulah, sekarang kamu punya permintaan pada saya?"
"Sebut saja jawaban dari penawaran Pak Guru tadi. Saya akan mengikuti les dari Pak Guru, biar menunjang karier Pak Guru kalau nanti nilai saya naik. Tapi saya punya syarat!"
Hans memicingkan mata, mulai tertarik. "Syarat apa yang kamu mau?"
"Pindahkan Mona ke kelas saya."
"Hah? Apa? Dia itu anak teladan yang lebih pantas di kelas A, Candice!"
"Kelas C juga enggak buruk-buruk amat kali, Pak. Masih ada kelas lain di bawah kelas saya, dan Bapak kan wali kelasnya. Saya pun bingung kenapa masih bisa masuk kelas C, padahal masih ada kelas lebih bawah. Oleh sebab itu, bantu saya untuk memindahkan Mona ke kelas saya. Karena setelah kejadian tadi, dia pasti bakalan lebih dirundung lagi. Dan Bapak bisa menjadikan alasan itu untuk kepindahannya, 'kan?!"
Hans memajukan langkahnya. Setelah menyeringai ia berkata, "Kalau begitu antarkan saya pulang. Mobil saya masih dalam perbaikan tuh dan semua gara-gara kamu. Mereka mekanik dari bengkel langganan saya, biar mereka yang mengantar mobil saya. Sekarang kamu yang harus antar saya, dan setelahnya saya akan memberikan jawabannya."
Candice menatap ke arah mobil Hans yang memang sedang diperbaiki. Tampaknya Hans memanggil para mekanik untuk langsung bekerja di tempat ini. Baiklah, demi bisa tetap menjadi seorang pahlawan, Candice harus menuruti permintaan guru tampannya itu.
"Ayo! Nanti pinjam helm Pak Hananto!" ucap Candice sambil berjalan ke arah motornya.
__ADS_1
Hans tertawa puas, lalu mengikuti langkah gadis tersebut.
***