Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
Tanah Wuku Emas.


__ADS_3

Hari masih pagi, kabut bergelayutan menutupi rerumputan dan tetumbuhan dibawah sana. Embunpun masih enggan untuk jatuh kebumi. Dengan langkah yang mantap seorang priya muda berwajah tampan dan tubuh yang tinggi semampai berjalan diatas tanah yang basah karena embun. Berjalan tanpa alas kaki Ia melangkah sampai pada ujung tebing dan matanya memandang jauh kedepan.


Kurang dari sedetik seakan terbang melesat, sosok laki laki tua yang sebagian dadanya hanya ditutupi selendang putih diikatkan kecelana panjang lebar juga berwarna putih. Ia berrambut panjang putih dan janggut yang juga panjang dan putih menghiasi wajah tua itu. Sosok itu mendarat ketanah disamping priya muda dengan mudahnya seakan sebuah kapas. Saking senyap gerakannya tidak terdengar suara apapun.


"Entah apa jadinya tanah ini, 10, 20, 30 atau bahkan 50 tahun kedepan..Ketika aku datang ditempat ini, hanya merupakan hutan belantara. Akulah yang pertama membuka hutan ini dan sengaja aku namakan daerah ini Wuku Emas. Karena ditanah yang pertama aku cangkul dan kujadikan rumah kita itu, disana aku menemukan sebuah batu emas. Pecahan kecil emas itu yang kujadikan manik kalungmu sekarang Basu" Kata sosok yang berdiri disamping priya bernama Basu.


"Hmm tiga hari lagi, hari yang bagus untukmu berangkat. Seperti yang aku wartakan, Pergilah kearah Timur, kekerajaan WalungGeni. Dan berikan surat kepada Sri Raja Angintir. Bekerjalah disana dengan baik, kau membawa nama Wuku Emas yang kita cintai dan juga pastinya namaku sendiri, Ki Dewa Selasih. Jadilah pendekar pertama yang tiada tanding, keluar dari daerah Wuku Emas ini."


"Ki..apakah masih ada lagi ilmu yang harus kupelajari,sebagai bekalku disana?"


"Semua sudah kuturunkan dan kini kau pemegang kedua setelah aku..carilah guru yang baik lainnya dan apabila kau inginkan belajarlah darinya. Namun ada..ya ada satu lagi yang akan kuberikan nanti malam" kata Ki Dewa.


"Belum lama ini Sri raja mengirimkan seekor burung yang membawa surat. Isinya mengatakan kerajaan sedang dalam ancaman bahaya dari utara. Tepatlah waktunya untuk kau mengabdi disana menjadi salah satu perwira perangnya. Ketahuilah, perjalanan dari sini keistana memakan waktu 5 hari..kau akan berangkat pagi dari sini nak"


"Nanti malam, aku akan serahkan sebuah tongkat dan sebuah keris. Apabila kau inginkan, dengan membaca mantra keris itu akan naik keujung tongkat dan menempel diujungnya hingga dapat kau jadikan tongkat itu sebagai sebuah tombak pendek. Dan ia akan lepas dari tongkatnya setelah kau baca lagi mantra tadi. Tongkat ini wujud aslinya adalah seekor naga putih dan keris ini adalah pasangannya, ia juga seekor naga, yang membedakan hanya warnanya, naga keris berwarna hijau muda" lanjut Ki Dewa Selasih.


"Nanti malam akan kuturunkan satu lagi ilmu yang menyatukan dirimu dan kedua senjata ini..kalian akan menjadi 3 unsur roh yang akan melebur menjadi satu jiwa dalam satu kekuatan tiada tanding"


"Ayok..kita mandi bersihkan badan dan memanjatkan doa pada Sang Hyang Widi..mohon kepadaNya agar perjalananmu lusa akan selamat"


Mereka berbalik arah dan berjalan pelan kerumah mereka yang sederhana diatas bukit sana. Seiring dengan langkah mereka, embun berjatuhan menestes kebumi. Matahari pelan pelan naik menyinari semesta alam.


...¤☆¤...

__ADS_1


Priya muda yang bernama Basu dengan cekatan membersihkan batu tempat Ki Dewa Selasih melakukan semedi. Setelah semuanya bersih, Basu berlari kekamar tidur Ki Dewa.


"Ki..semuanya sudah siap untuk sembahyang"


"Baiklah nak..ayok kita kesana"


Setengah jam mereka melakukan ritual sembahyang dan setelah selesai dilanjutkan dengan olah kanuragan. Seperti biasanya, Basu memperagakan semua langkah dan gerak ilmu silatnya dihadapan Ki Dewa.


Tiba tiba ketika Basu sedang memperagakan langkah ahir jurus Harimau mangkir, Ki Dewa melemparkan sebuah pisau kecil kedada Basu.


Sebelum pisau terbang Basu sudah melihat gerak bahu kanan Ki Dewa yang bergerak, ia langsung loncat dan bersalto diudara dan sebelum menyentuh bumi ia menangkap bagian tengah pisau yang sedang melesat diudara. Basu selamat sambil memegang gagang pisau ia tersenyum puas.


"Bagus Basu!.ayo selesaikan jurusmu terus kita makan siang"


...¤☆☆¤...


Siang ini mereka makan hanya dengan ubi dan pisang rebus dibasahi dengan air putih hangat. Meskipun sederhana tapi rasanya nikmat sekali. Basu paling senang ketika Ki Dewa bercerita tentang masa lalu sambil menyantap ubi rebus panas.


"Aku sebetulnya dulu sudah bersumpah pada para dewata. Sudah..aku tidak mau mencari istri lagi, percuma saja..aku ingin menyendiri sampai nanti waktuku mati..gitu sumpahku"


"Lha tapi, gimana ceritanya sampe aku bisa bersama sama aki?" tanya Basu.


"Lha itu tak teruskan..jadi waktu itu aku jatuh cinta sama seorang gadis cantik dan memang kita saling jatuh cinta..namun, orang tuanya yang serakah sama harta menjodohkan ia dengan kepala desa Waringin, seorang kaya raya. Hubungan kita sudah sangat dalam bahkan kita sudah melakukan hal hal selayaknya suami istri.."

__ADS_1


Ki Dewa mengambil satu ubi rebus dan memakannya, ia seakan sedang mengatur cerita lamanya.


"Sebelum kekasihku dibawa oleh sang kepala desa, kita bersumpah tidak akan pisah, maka kita lari dan karena ulah kita seluruh pengawal kepala desa diperintahkan untuk menangkap dan membunuhku. Mereka mengejar kita sampai masuk kedalam hutan."


"Kami lari dan bersembunyi disebuah gua. Berhari hari pengawal pengawal itu mencari dan ahirnya menyerah dan pulang dengan tangan hampa."


Ki Dewa mengambil tempat minum dan meneguk beberapa kali.


"Setelah sembilan bulan kami didalam gua lahirlah seorang anak laki laki dan setelah satu tahun kemudian lahir lagi seorang anak perempuan..kami hidup dengan tenang disana sampai suatu saat, datanglah seorang raja. Ia memohon agar kami bisa memberikan anak perempuan kami yang lucu dan cantik itu. Kala itu hidup kami serba susah, daripada anak kita mati kelaparan maka aku serahkan anak itu."


"Yang laki aku namakan Basundara dan yang perempuan bernama Basundari. Basundara adalah engkau anakku, sedangkan Basundari aku tidak lagi tau kemana dia, semoga Sang Hyang Widi memberikan kehidupan yang baik baginya"


"Ki Dewa pernah cerita tentang ini, tapi aku selalu senang kalao diceritakan berulang ulang" ujar Basu.


"Nah..singkat cerita ibumu meninggal tidak lama setelah Basundari lahir. Dan ternyata gua tempat kita tinggal itu sebetulnya kepunyaan dua naga suami istri yang sedang pergi dipanggil oleh Ki Lurah Bradanaya..setelah selesai urusannya kembalilah mereka ketempatnya yaitu gua yang kita tempati"


"Waduh! gimana jadinya Ki?" tanya Basu sambil memakan sebuah pisang rebus.


"Tidak apa apa..bahkan kedua naga itu berkat titah Ki Lurah Bradanaya meminta kedua naga menjadi penjagamu kelak. Ki Lurah berpesan, jagalah anak ini kelak ia akan menjadi orang besar"


"Oo..gitu ya ceritanya" ujar Basu.


"Nah..nanti malam, aku akan lakukan semedi dan setelah itu dua naga tadi aku serahkan kepadamu ngger pemilik sah seperti yang dititahkan Ki Lurah Bradanaya"

__ADS_1


...¤☆☆☆☆☆¤...


__ADS_2