
"Njjih Ki Brangak! saya menghadap!.." kata Macan Gembring sambil jongkok dan menghaturkan sembah.
"Tadi pagi aku suruh ambil anaknya Ki Randu untuk dibawa kesini, aku suruh Lembu Kuncir dan 2 pengawalnya kesana. Lembu Kuncir kembali bahkan kedua pengawalnya mati dihutan sana! Katanya ada seorang anak muda yang membantu! Kurang ajar! Sekarang aku perintahkan nanti malam kau bakar rumah Ki Randu, bunuh dia dan culik anaknya! bawa anak buahmu yang banyak!"
teriak Ki Brangak sambil tangannya bertolak pinggang. Kumis tebalnya naik turun kedua matanya melotot.
"Suruh beberapa anak buahmu masuk kehutan dan cari dua pengawal yang mati, kuburkan! aku tidak mau ada setan yang memakan tubuh mereka!" lanjutnya dengan suara lantang.
"Njjih Ki Brangak saya sanggup melakukan..ijin mundur Ki"
"Segera laksanakan..besok semuanya harus sudah beres! ini bayaranmu!" kata sang penguasa dan ia melemparkan dua keping emas kelantai. Macan Gembring langsung meraup keping emas dan berlalu.
"Biar mampus kau orang tua!"
"Mana Ni Rumbi dan Ni Rembyok? suruh mereka kekamar tidurku!" Ki Brangak memerintahkan dua dayang kesayangannya masuk untuk menghibur dirinya yang lagi kesal.
...¤☆☆☆¤...
"Pak, hari ini kita jangan bangun gubuk dulu..saya mau semedi sebentar, saya mau terawang apa yang akan terjadi nanti malam" kata Basu kepada Ki Randu.
"Oh njjih..mending semedi dikamarku saja..saya mau ngecek sawah sebentar..monggo nak"
"Njjih suwun pak"
Setelah Basu membersihkan tubuhnya ia masuk kekamar tidur Ki Randu. Ia melepaskan kain penutup dada dan membentangkan diatas tanah. Diletakkan tongkat dan keris didepan dan iapun duduk bersila.
Setelah memusatkan pikiran masuklah ia kealam bawah sadar. Dimana ia dipertemukan dua naga besar. Satu berwarna putih dan satu lagi berwarna hijau muda. Keduanya mempunyai tanduk semacam binatang rusa diatas kepalanya. kulit mereka bersisik rapat layaknya sisik seekor ikan. Mereka berkaki empat dua agak pendek didepan dan dua agak panjang dibelakang. Tubuh mereka besar dan panjang sekali, Apabila Basu melihat wajah mereka Basu harus mendongakkan mukanya keatas, begitu tingginya mereka.
"Cucuku..bersiaplah nanti malam, akan ada banyak penjahat datang. Musnahkan mereka! Kini belom saatnya kami keluar..kau bisa membereskan tanpa bantuan kita. Gunakan tongkatmu sebagai senjatamu. Tapi, kami rasa kamu harus bunuh penguasa disini sekarang juga dan jadikan daerah ini basismu! Setelah kau berhasil disini, baru kamu berangkat keistana" kata naga putih.
"Baiklah..akan saya lakukan..mohon doa restunya"
"Njjih kami doakan" jawab naga hijau.
__ADS_1
Setelah dua naga berbicara, mereka saling meliuk keatas langit dan sirna dari pandangan. Basu pelan pelan membukakan matanya. Ia menyimpan keris kedalam tas dan mendorongnya kebawah tempat tidur Ki Randu dan berjalan keluar mebawa tongkat.
"Kangmas.., Dewi sudah siapkan kopi panas dan sedikit rebusan.." kata Dewi sambil tersenyum manis.
"Njjih..terima kasih dik, jangan report repot"
Basu turun kepekarangan dan mencari pohon apa kira kira yang bisa ia sembunyi tanpa kelihatan.
"Kangmas..aku tau apa yang kakang pikirkan..pohon durian disamping rumah itu rindang daunnya, mungkin itu bagus untuk bersembunyi"
"Ealah dik, ko kamu tau aja..oh ya betul! bagus posisinya! wah kamu mau ikut ngumpet sama aku?" canda Basu. Dewi mendengar itu jadi malu, ia hanya tersenyum malu.
"Kangmas ngelucu ya? mas..ati ati nanti malam, apa kangmas bisa menghalau mereka?"
"Aku bukan hanya menghalau tapi akan menghancurkan mereka satu persatu..aku barusan dapat wisik, sepertinya aku akan hancurkan penguasa desa ini dan menjadi penguasa yang baru..setelah semuanya selesai baru akan keistana"
"Oh ya kangmas! waduh! kalau itu terlaksana banyak masarakat sini yang berterima kasih. Sebab sudah banyak anak gadis yang diculik dan dijadikan gundik dirumahnya yang besar"
"Emang dia itu harus dihancurkan kalo tidak mereka akan terus demikian"
Belum lagi Dewi setuju, Basu sudah melenting keatas pohon dan menyelinap diantara dahan. Dewi mencoba melongo keatas, ia tidak bisa melihat apa apa..bahkan tidak satupun daun yang bergerak. Hebat sekali ilmunya!
Tidak lama Basu muncul dan melompat kebawah lagi.
"Bagaimana dik?"
"Wah..ndak keliatan sama sekali kangmas!"
"Bagus nanti menjelang malam aku sudah berada diatas sana"
Tidak lama Ki Randu kembali dari sawah, ia membawa 3 belut yang sudah mati.
"Dewi..kamu masak belut ini..kita makan enak sama nak Basu..jangan lupa ngulek sambel yo"
__ADS_1
"Waduh..ikan belut kesukaanku pak! didaerahku tidak ada belut, pernah ayahku membawa belut dari lereng dibawah dan dimasak, aku suka sekali!"
"Hehe kita makannya pake sambel sama nasi panas!..yuk kita masuk rumah"
...¤☆☆☆☆¤...
Sebelum malam tiba rombongan Macan Gembring datang bersama sebanyak 20 orang pendekar sudah mulai bergerak meninggalkan rumah Ki Brangak. Semuanya mengenakan baju dan celana hitam hitam dan tutup muka hitam, pedang mereka panjang dan terikat dipunggung punggung mereka. Yang membedakan adalah Macan Gembring memakai sabuk merah yang apabila dilepas menjadi sebuah senjata pecutan.
Sebelum berangkat Ki Brangak melakukan ritual, ia pengikut aliran hitam, guru spiritualnya berasal dari gunung Semeru. Dia yang mengajarkan Ki Brangak berbagai macam ilmu hitam.
Ki Brangak membacakan sebuah mantra dan ia menghembuskan nafas panas didepan bak berisi kemenyan. Asap itu berputar disekitar tubuh Macan Gembring dan menghilang.
"Silahkan kalian jalan..aku malam ini harus mendapatkan anak Ki Randu, besok akan kukawinkan dia!" katanya dengan sombong.
Gaya mereka berjalan seakan akan sebuah perang akan berlangsung, warga yang melihat cepat cepat menyingkir.
"Ada apa lagi in" tanya seorang tua kepada temannya.
"Waduh! aku ndak tau..tapi aku denger tadi pagi mereka sudah kerumahnya Ki Randu..bahkan barusan si Parto pulang dari hutan ketakutan liat ada dua mayat tergeletak didalam hutan!"
"Waaah..ayok kita pulang, kunci pintu sama jendela! ayok cepet!"
...¤☆☆☆☆☆¤...
"Ki..hari sudah agak gelap, aku juga ngerasain rintik hujan mulai turun. Tutup pintu jendela, dikunci semua. Ada tas dibawah tempat tidur, itu tas saya ada keris didalamnya, biarkan saja disana. Ki Randu dan Dewi duduk diatas tempat tidur kalian akan aman disana"
Kedua orang itu masuk kekamar mengunci seluruh pintu dan jendela dan masuk kekamar tidur duduk rapih diatas tempat tidur.
Basu melirik kesegenap penjuru..ia mengikat kain putihnya dipinggang, ia genggam tongkat pusaka dan loncat kepohon durian, bersembunyi.
Pas malam memasuki daerah itu, dengan gerakan pelan dan menunduk nunduk Basu bisa melihat dari atas pohon sekumpulan orang memasuki pekarangan.
"Kalian berlima maju duluan menggedor pintu, jendela dan berteriak teriak..setelah itu kalao tidak ada yang keluar dari rumah sepuluh lainnya maju membawa obor dan minyak tanah mulai bakar rumah itu. Kami berlima menunggu disini. ayok maju!"
__ADS_1
...¤☆☆☆☆☆¤...