
Semua pengawal Ki Brangak terkejut! Betapa saktinya pendekar itu! "Waduh! gimana kita ini?" teriak salah satu dari mereka.
Satu demi satu mereka melepaskan senjata mereka dan berjalan mendekati Basundara yang berdiri dekat Ki Brangak yang sedang mengalami sakaratul maut.
"Oh tolong aku! tolong.." pintanya sambil memegang dadanya yang tertancap tombak.
"Tempatmu adalah dijurang api yang tak pernah padam! matilah kau hai orang kejam!" Basu menarik tombak dari dada Ki Brangak.
"Aaaach!" Dan iapun mati dengan matanya terbelalak.
Seluruh pengawal berdatangan dan menyembah dihadapan Basundara.
"Kami semua menyerah dan mengangkat pendekar sebagai penguasa daerah sini!" serentak mereka teriak.
"Baiklah...aku ampuni..sekarang tugas kalian adalah menggali kuburan besar dan kuburkan semua mayat yang ada disana! Aku dan Ki Randu akan membakar tubuh mati ini disini"
Basundara bergerak menuju rumah dan memanggil keluar Ki Randu dan Dewi Upparengga.
Ki Randu menyiapkan ranting dan dahan kering, dibantu para pengawal mereka menaikkan tubuh Ki Brangak keatas tumpukan ranting dan membakarnya.
...¤☆☆☆¤...
Malam itu satu desa geger, para pengawal atas perintah Basu membangunkan semua warga desa dan mengumpulkan ditengah lapangan yang biasa Ki Brangak melakukan latihan kanuragan.
Ditengah lapangan Basundara berdiri tegak diapit Ki Randu dan Dewi.
"Mulai malam ini, tidak ada lagi penculikan gadis! semua hidup dan bekerja selayaknya, tidak ada pajak tidak ada penganiyayaan..besok akan diumumkan siapa saja yang menjadi pengurus desa. Rumah Ki Brangak akan menjadi balai desa. Saya minta semua yang ada disana malam ini bubar!"
Hampir semua bertepuk tangan dan menyatakan setuju. Bahkan mereka meminta secara spontan Basundara menjadi penguasa yang baru.
"Sabar! besok akan kita adakan pertemuan malam ini pulanglah kalian kerumah masing masing!"
Setekah selesai berbicara Basundara berjalan diringi Ki Randu dan Dewi kembali kerumahnya ditepi sawah.
...¤☆☆☆¤...
Ternyata didepan rumah Ki Randu masih ada 3 orang bekas pengawal Ki Brangah yang masih sibuk mengerjakan pemakaman kepada mayat mayat yang berserakan. Melihat kedatangan Basu, mereka berhenti bekerja dan menunduk ketakutan.
__ADS_1
"Hai para kisanak, kenapa kalian tidak ikut teman teman kalian kelapangan?"
"Ampun ndoro..ini titah ndoro untuk menguburkan mayat..biar kami selesaikan sesuai titah..semua teman teman kami sudah lari dan tidak mau lagi menjadi pengawal siapapun juga."
"Kisanak..mulai malam ini jangan panggil saya ndoro, cukup dengan nama Basundara saja. Siapakah nama kalian bertiga?"
"Saya, Gebuk tilarso yang ini, Groton dan yang itu, Tumijo"
"Baik, setelah kalian selesai jangan pulang dulu, mampir kerumah Ki Randu ada yang ingin saya wartakan"
"Njjih ndoro..eeh..Pak Basundara" kata Gebuk Tilarso.
Ki Randu dan Basu melanjutkan langkah kaki menuju ke rumah diikuti Dewi.
Sampai disana mereka duduk diteras rumah sambil memandang ketiga orang diluar sana melakukan pemakaman.
"Ki Randu, sukur kepada Sang Hyang Widi malam ini kita berhasil menghabiskan mereka, dari akar sampai kepada kepalanya"
"Terima kasih nak Basu..tanah sawah didepan sana akan saya urug dan bangun rumah besar. Sebagai rasa terima kasih saya padamu nak Basu rumah itu saya persembahkan"
"Lho Ki..tanah sawah itu luas lho, lalu bagaimana dengan sawah Ki Randu?"
"Oh begitu? baiklah..bagaimana apabila di ijinkan, kita akan bangun rumah disana untuk seterusnya..maksudku setelah aku tidak menjabat menjadi penguasa daerah maka rumah itu diserahkan kepada penguasa selanjutnya dan seterusnya"
"Njjih..bagus itu nak, saya setuju..saya sangat letih nak..saya mau istirahat dulu..Dewi, kamu temani nak Basu nggeh"
"Njjih pak.." sebetulnya itulah yang ia inginkan..duduk berdua dengan Basundara.
Setelah Ki Randu masuk kedalam, Dewi beringsut mendekati Basu. Gadis itu membetulkan kain kebayanya yang sedikit tersingkap, namun Basu sempat melihat sedikit pahanya yang terbuka. Darah mudanya langsung naik tapi ia seakan cuek tentang itu.
"Kangmas Basu..apakah benar kangmas akan menetap disini?"
"Kiranya demikian dik Dewi..daerah ini perlu ada pembenahan..ini adalah ujung dari kerajaan WalungGeni..kalo daerah ini rapuh..kerajaan WalungGeni akan gampang di masuki musuh"
"Aku senang bisa kenal dengan kangmas Basu"
"Tapi, aku tidak lama Dewi, setelah desamu aman dan tentrwm maka aku akan melanjutkan perjalananku lagi"
__ADS_1
"Aduh kangmas..berapa lama kangmas akan disana?" kata Dewi sambil memandang kepada Basundara.
"Semoga setiap bulan aku bisa mampir kesini dik..menjumpaimu tentunya, kalau itu yang dik Dewi inginkan" kata Basu sambil tersenyum.
Mendengar itu Dewi tersipu dan menunduk sambil tersenyum. Basu menengok kearah dalam rumah nampaknya Ki Randu benar benar sudah istirahat. Ia menarik tangan kanan Dewi dan mengelusnya.
"Dewi..aku akan disini paling tidak 3 bulan, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi" bisiknya ditelinga Dewi.
"Kangmas janji ya akan singgah disini setiap bulannya"
"Apabila tidak ada halangan pasti aku sempatkan dik..demi kamu"
Seluruh tubuh Dewi bergetar, gadis berkebaya coklat dengan rambut digelung keatas itu hanya menunduk melihat ketanah tapi ia memegang telapak tangan Basu lebih kencang lagi.
"Kangmas, nanti malam tidur diruang depan nggeh..besok kita akan mulai garap rumah kangmas"
"Njjih ndak apa apa..besok pagi kita kerumah Ki Brangak ya..kita coba rumah itu jadi balai desa dan aku akan bicara dengan para sesepuh desa termasuk ayahmu"
Tidak berapa lama, datanglah 3 orang tadi. Rupanya mereka telah selesai dengan penguburan.
"Maaf..kami sudah selesai"
"Terima kasih kisanak..saya mau tanya apabila kalian tetap menjadi pengawal keamanan desa apakah masih mau?"
Ketiganya melakukan jongkok dan serentak berbicara.
"Apabila diijinkan kami sanggup pak Basundara, sebetulnya kami tidak mau jadi pengawal tapi dulu Ki Brangak pernah katakan bahwa semisal kami menolak maka kami akan dikenakan hukuman..oleh sebab itu kami setuju untuk jadi pengawalnya..tapi hati nurani kami sebetulnya menolak"
"Baiklah..mulai besok kalian akan menjadi pengawas pos diujung desa. Kalian akan saya gilir. Pagi akan saya berikan kepadamu Gebuk Tilarso dan sorenya gantian Groton dan tengah malam sampai pagi Tumijo. Terus demikian sampai saya mendapatkan pengganti dan kalian akan terima gajih dari desa"
Serentak mereka memberikan salam hormat dengan kedua tangan diatas kepala mereka.
"Mohon maaf pak Basu..apakah bisa kami diajarkan ilmu kanuragan agar kami bisa menjaga diri kami lebih baik lagi..mohon maaf" ucap Gebuk Tilarso.
"Baik..kalian bertiga akan menjadi cikal bakal aliran Naga Putihku didesa ini..kelak kalian akan mengajarkan kepada anak anak kalian"
"Njjih matur suwun sanget" serentak ketiganya mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
¤☆☆☆☆☆¤