Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
10 pembawa berita telah masuk.


__ADS_3

"Heeh..heehhh..hessh" sosok itu terus menerus mendesis dan mengeluarkan seperti orang sedangkan ngorok. Matanya melotot kekiri kekanan secara liar. Kadang kadang lidahnya menjulur keluar. Sosok itu tak berdaya dalam cengkraman tali ghoib yang dilepaskan Basundara.


"Bawa lampor ini keperkemahan..saya mau interogasi dia"


"Dan kuburkan teman teman kita yang gugur"


"Dinda Tri, monggo.." ia mempersilahkan permaisuri puteri naik keatas kudanya. Mereka memimpin prajurit berjalan pelan keluar dari hutan.


Sosok wanita setan kini menjadi tontonan semua prajurit..Basundara membawa tawanan ketengah tengah dikelilingi seluruh pasukan.


"Dengarkan!" teriak Basundara yang berdiri disamping Tri Gayana.


"Sudah saya wartakan jangan kemana kemana apabila tidak perlu..saya sudah mendapat wisik kelompok lampor sedang berusaha membunuh kita!"


Semua prajurit diam mendengarkan Basundara.


"Ini baru ujian pertama dan segelintir dari kalian gagal! kalian pergi keluar dari barisan dan masuk kehutan..dan hasilnya, 20 orang mati sia sia! siapa yang bunuh teman teman kita? ya sosok ini dan anak buahnya! lihat perhatikan baik baik sosok ini!"


Semua mata memandang jijik kepada sosok wanita tua itu.


"Ini yang saya ikat adalah kepala lampor! dia bisa berubah menjadi gadis yang sangat indah! padahal aslinya sangat buruk seperti ini!"


"Heeeh Heeeh!" suara sosok itu mengerikan.


"Saya mau tanya, atas suruhan siapa kau datang dan membunuh teman teman kami! Jawab!!"


"Heeh Heeehh!!" ia berputar putar dalam kerangkeng tali pengikat.


"Baiklah!"


Basundara membaca mantra dan melepaskan ajian kepada sosok itu. Sekonyong konyong ia berteriak kesakitan.


"Ampun ampuun! saya menyerah!"


"Kasih tau! atas suruhan siapa?" teriak Basu jengkel.


"Kalian akan musnah semua! kalian akan hancur! kami diutus Ni Krompiyang untuk menguji kekuatan kalian..ada 2 diantara kita yang sudah pulang..mereka akan lapor ke Ni Krompiyang! Heeh heeh"


"Baiklah terima kasih! sudah saatnya kamu musnah!"


"Jangan!"


Tapi Basundara sudah melepaskan ajian 'Sedo sedoyo'


Blaar!


Tubuh sosok wanita tua itu hancur menjadi abu, asap hitam membumbung tinggi. Baunya bagai seribu bangkai dijadikan satu.


"Hiih baunya ya ampun!" kata seorang prajurit menyaksikan peristiwa itu.


Basundara, dan Ki Kuda Braso berkuda kembali kepasukan inti didepan, meninggalkan Tri Gayana mengurusi semua pasukan dibelakang.

__ADS_1


...¤☆☆☆¤...


Pagi pagi sekali ketika matahari masih malas untuk bangkit, Tri Gayana menaiki kudanya dan berjalan kearah depan. Sesampainya, ia tambatkan kudanya disamping Bima Sakti. Ia menyelinap masuk kedalam tenda Basundara. 2 penjaga tenda yang melihat itu langsung menyingkir dan menjauh.


"Enak yo..duwe kekasih putrinya raja"


"Huush! jangan berisik, ditampar raden Basu ga balik pipimu!"


Dua penjaga itu berjalan dan duduk dibawah sebuah pohon.


Tri Gayana pelan pelan membuka baju atasnya dan hanya mengenakan baju dalam ia menyelinap masuk kedalam selimut Basundara.


"Hmmm..opo tho cah ayu" gumam Basundara dan memeluk tubuh padat Tri Gayana.


"Peluk aku hai jago silat!" ucap Tri dengan manja. Ia meraba dada bidang Basundara dan mencium dan menggigit manja ****** ****** dada Basu.


Basupun bangun dan menindih gadis itu sekaligus mengangkat kedua tangan Tri keatas. Dengan garang ia mencium kedua ketiak Tri. Pelan pelan ia membuka baju dalam gadis cantik itu.


Ketika ia akan mencium buah dada Tri Gayana tiba tiba sesorang pengawal berteriak dari luar tenda.


"Raden! Raden!"


"Aduuh Ono opo seh?!" dengan males ia bangkit dari atas tubuh Tri Gayana.


Asu! umpatnya. Tri Gayana tersenyum geli melihat gaya Basundara ngembek dan menggebuk bantal.


"Nggeh ada apa pak? Sampeyan dari pasukan belakang nggeh?" katanya jengkel.


"Njjih leres raden..Anu raden Basu..tulang dan juga abu bekas setan tadi malam pagi ini hilang bersih tanpa ada bekas! tapi banyak yang jatuh sakit juga! muntah darah!"


"Suwun raden..maaf ganggu"


"Nggeh nanti saya kebelakang"


Setelah itu Basu masuk dan mendekat ke Tri yang rebahan dikain karpet tempat tidur Basu.


"Sebaiknya kita kebelakang menyembuhkan yang sakit, kalau tidak efeknya akan menjalar dan semua orang akan mati sia sia"


Perjalanan pagi itu menuju tapal batas terpaksa ditunda, menunggu pengobatan para prajurit yang terkena bala.


...¤☆☆☆¤...


Menjelang sore ahirnya kedua pasukan diberangkatkan. Para prajurit yang sakit sejumlah 20an orang diperintahkan untuk tetap ditempat sampai sembuh total.


Perjalanan menuju tapal batas berjalan lancar, selama 3 hari perjalanan tidak ada permasalahan lagi. Hari keempat pagi hari pasukan dengan jumlah besar itu ahirnya masuk daerah tapal batas.


30 pasukan penjaga yang memang posisinya disana merasa lega dengan kedatangan bala bantuan yang berjumlah sangat besar.


Tri Gayana pada kesempatan temu lapor itu memberikan kenaikan pangkat kepada kepala penjaga dan kepada para prajurit diberikan hadiah tambahan jatah pakaian dan makanan.


Basundara mengumpulkan semua prajurit disebuah lapangan yang luas.

__ADS_1


"Sukur kepada Sang Hyang Widi kita telah sampai disini..sebelum kita bertolak keutara bagaimana kalao kita rayakan dengan tarian dan lagu?!!"


"Hore Hore Hore!! setuju!!" gemuruh suara kebahagiaan mereka mendengar pernyataan Basundara.


Malam itu, semua prajurit bergembira ria, dengan makanan dan minuman yang berlimpah.


"Ki Kuda coba kesini!" kata Basu kepada Wakilnya.


"Perintahkan 10 prajurit berkuda berlayar malam ini menuju negeri utara, negeri Beringin Hijau. Mereka akan memberikan surat kepada raja Murtala.


Isinya,



Mulai hari ini tidak boleh melakukan penyerangan dalam be tuk apapun kepada WalungGeni.


Apabila masih ingin menyerang kita punya 30.000 pasukan siap menghantam secara cepat dan membumi hanguskan Beringin Hijau.


Setelah kerajaan hancur, Beringin hijau menjadi bagian daripada WalungGeni.


Sudah itu saja"



"Njjih raden..segera saya perintahkan untuk berangkat sore menjelang malam ini."


...¤☆☆☆¤...


Ke 10 pengirim berita malam ini diberangkatkan dengan kapal dengan muatan 10 kuda yang kuat.


Selama perjalanan dilaut tidak ada masalah sedikitpun namun ketika kira kira 50 meter sebelum menepi tiba tiba badai menyambut mereka, gelombang yang tadi kalem tiba tiba bergejolak.


"Pegang tali tali kuda jangan sampe lepas!" teriak kepala rombongan.


Setelah terombang ambing ahirnya kapal bisa menepi dan mendarat..dari atas sebuah pohon beringin sepasang mata mengintai kehadiran 10 pengirim berita.


"Ayok cepat kita turunkan kuda sebelum badai datang lagi!"


Setelah mereka istirahat sebentar dibawah sebuah pohon yang besar, ahirnya rombongan berangkat.


Perjalanan menuju istana dari pantai cukup melelahkan karena merupakan perbukitan. Tapi ke 10 pengirim berita adalah prajurit pilihan. Setelah 3 hari perjalanan ahirnya mereka menemukan sebuah gerbang berwarna hitam yang dijaga 10 pengawal gerbang.


Muka mereka galak tanpa senyum, tidak ada basa basi dan bahasanya kasar.


"Heh orang orang jelek mau kemana kalian?"


"Salam prajurit..kami dari negeri WalungGede hendak menyampaikan surat kepada yang terhormat raja Murtala"


"Heh berani beraninya kalian datang..mana suratnya!"


"Saya yang akan menghaturkan sendiri..mohon maaf, ini perintah raja kami"

__ADS_1


"Aaah bayak bicara kau!!" Pengawal itu mencabut pedang panjang dari punggungnya.


...¤☆☆☆☆☆¤...


__ADS_2