
Prajurit WalungGede tidak bergeming sedikitpun dengan adanya ancaman berbahaya dari penjaga gerbang. Bahkan kedua mata pembawa surat tidak bergerak kemana mana, ia tatap terus kedua mata penjaga arogan itu.
"Stop! ada apa?!" tiba tiba ada suara dari balik gerbang. Ternyata seorang yang keliatannya adalah orang pangkatan datang menengahi.
"Ini prajurit picisan dari WalungGede katanya bawa surat kepada paduka raja Murtala, saya mau ambil tidak boleh katanya! mau aku penggal kepalanya!" katanya dengan sombong. Bahkan ia tidak punya rasa hormat kepada atasannya, negeri apakah ini?
"Oh begitu..baik silahkan beri mereka masuk..hei Klonteng bawa dia keistana"
Seorang yang dipanggil Klonteng dengan malas menaiki kudanya.
"Ayo cepet! ikut aku!"
"Terima kasih bapak" kata kepala prajurit WalungGede kepada orang berpangkat tadi dan mereka mulai memasuki kota Beringin Hijau.
Ternyata negeri ini kotor dan tidak beraturan, banyak bekas pasar yang tidak berfungsi lagi tapi dibiarkan begitu saja. Sampah banyak berserakan dimana mana.
Tidak sesuai dengan keadaan kota, gerbang istananya begitu indah terukir dengan warna emas. Setelah melewati 2 penjaga gerbang mereka diminta untuk menambatkan kuda kuda didepan. 8 prajurit berjalan kedalam dan 2 prajurit menunggu dengan kuda kudanya.
"Bersiap siap..apabila terjadi apa apa dengan kita aku akan tiupkan peluit, pluit satu kali berarti kalian naik keatas kuda dan bawa semua kuda kedepan pintu itu dengan pedang terhunus..pluit 2 kali kalian tidak usah tunggu kami langsung lari sekencang mungkin dan perang mati matian dengan cecunguk tadi. Jelas?!"
"Jelas kangmas! kami siap!"
Delapan kesatria WalungGede melangkahkan kaki mereka masuk kedalam istana.
Seluruh tembok dalam istana dicat merah darah, kontras dengan meja kursi yang dicat hitam. Ditengah berdiri singgasana sangat besar juga berwarna hitam, disana duduk seorang laki laki bertubuh besar dan terlihat gambar tato disekujur tubuhnya. Rambut dan janggutnya panjang. Disamping kanan duduk seorang wanita tua yang memegang tongkat panjang semacam tombak tapi bukan tombak. Dileher nya membelit seekor ular sanca.
"Paduka raja diraja Murtala..telah hadir dihadapan paduka pembawa berita dari negeri WalungGede!"
Demikian ucapan pengawal.
"Hmm..ada apa mereka datang?" gumamnya kepada wanita tua disampingnya.
"Kita liat apa yang dibawa, kalo sudah kita bunuh semua" bisik wanita itu.
"Coba..kedepan sini!" kata raja Murtala dengan angkuh.
4 prajurit maju kedepan 4 prajurit tetap dibelakang. satu tangan mereka memegang gagang pedang yang diselipkan dipinggang.
__ADS_1
Sang kepala rombongan menyerahkan surat dengan kedua tangan kedepan.
Raja Murtala langsung menyambar surat itu dan ia baca. Kedua matanya terbelalak, lobang hidungnya yang besar bergerak gerak. Setelah dibaca dua kali ia menyerahkan surat itu kepada nenek tua disebelahnya.
"Kira kira apa yang harus kita perbuat? hehehe" kata raja dengan suara sinis.
Nenek tua itu membaca dan tiba tiba ia menyemburkan sesuatu kepada kertas surat langsung terbakar dan hangus menjadi abu.
"Itu yang akan aku lakukan kepada mereka! berani beraninya mereka berkata demikian..biarpun beribu ribu tentara mereka, kami punya anak buah yang bisa terbang..dan membinasakan mereka dalam sekejap!!" kata sinenek sewot.
Ke empat prajurit WalungGeni mundur setapak dan tangan kanan mereka digagang pedang.
"Hai prajurit picisan kita akan penggal kepalamu dan kirim balik keraja kalian! Bangsat! Bunuh!!" teriak raja Murtala kepada ke 8 prajurit.
Dari balik pilar munculah prajurit bercadar hitam mereka melemparkan benda benda tajam seperti bintang. Tapi ke 8 prajurit ini adalah prajurit andalan. Ke 8 orang itu melejit keatas menghindar dari lemparan. Kepala prajurit mengeluarkan pluit dan menyembunyikan 1 kali dengan nada panjang.
2 prajurit yang siaga dengan kuda,mendengar itu langsung loncat keatas sadel dan berjalan kearah depan gerbang. Mereka bersiap siap disana, kapan saja gerbang akan dibuka dan 8 temannya akan keluar. Pedang sudah mereka keluarkan dari sarungnya.
Didalam istana, 8 prajurit bersusah payah melawan para penyerang, pada satu kesempatan salah satunya menendang pintu gerbang dan lari keluar ia langsung loncat keatas sadel yang sudah disiapkan.
"Cepat! buka pintu gerbang depan!"
"Ayok lari! hiiaa!" 7 prajurit WalungGede langsung melarikan kuda kudanya keluar..ke 2 penjaga gerbang mencoba menahan tapi langsung diterjang kuda kuda mereka yang besar.
"Cepat arah kepantai!" kata pemimpin.
"Teng Teng Teng!!" terdengar suara lonceng berdentang keras dari dalam istana pertanda ada penyusup. Semua pengawal istana keluar.
"Kejar! mereka lari kepantai! kejar!"
Sepuluh kuda langsung melesat mengejar.
"Ki! siapkan panah!"
Seorang prajurit langsung mengikatkan tali disadel dan menyiapkan anak panah langsung ditempelkan dibusur besar.
Pos penjagaan prajurit yang sombong tadi sudah terlihat, semuanya berdiri ditengah jalan dengan pedang terhunus.
__ADS_1
"Kalau sudah dekat langsung tembak!"
Para kuda berlari kencang, kira kira 10 meter, panah dilepaskan..satu persatu mereka roboh tinggal sisa seorang pengawal yang sombong tadi.
"Yang satu ini jangan dibunuh, mau aku buat cacat!" teriak kepala prajurit.
Setelah agak dekat kepala prajurit salto dan mendarat pas dihadapannya. Dengan kecepatan kilat melibaskan pedangnya dan tangan kanan sipenjaga sombong putus. Sekali lagi ia libaskan kaki kanannya, ia terjatuh kakinya putus.
"Aaaaah!!" orang sombong itu rubuh.
Kepala prajurit berlari mengejar kudanya, ia bersiul kencang. sang kuda berhenti dan berbalik arah menjemput majikannya.
Ke 7 prajurit berpacu menuju kapal, berkali kali kuda kuda mereka melompati gundukan batu terjal, tapi dengan ketangkasannya kuda kuda itu sampai ketepi pantai.
"Cepat! sebelum mereka datang!"
Ketika semua kuda sudah naik tinggal kepala prajurit tiba tiba seorang pengintai dari atas pohon turun sambil melemparkan tombak.
Wuuissh!
Insting sang kepala begitu cepat, ia loncat salto dan menangkap tombak itu, ketika mendarat ia melemparkan tombak kearah pelempar dan pas mengenai dadanya. Sosok pengintai itu teriak dan jatuh kebawah, mati.
"Cepat gayuh! ayo gayuh!" Kapal perlahan berlayar ketengah lautan.
Kapal ahirnya berlayar menyebrangi lautan.
"Teman teman..mari kita panjatkan doa untuk teman kita yang gugur!..selamat jalan Warsito!"
Gigi mereka beradu keras! amarah memuncak! Warsito adalah guru mereka dalam mengendarai kuda, orangnya sabar dan lucu.
"Nanti kalo kita kembali dengan seluruh pasukan, aku paling depan yang akan membakar istana itu!"
...¤☆☆☆¤...
Setelah mengarungi lautan ahirnya mereka sampai dipantai, bersama para penjaga pantai mereka menambatkan kapal dan mengeluarkan kuda kuda mereka. Satu kuda tiba tanpa pengendalinya.
"Kurang ajar! jadi itu yang mereka kehendaki! baik! prajurit!! dengarkan! salah satu prajurit terbaik kita gugur! besok kita berangkat menyebrangi lautan. Kita akan hancurkan negeri itu!!" teriaknya menggelegar.
__ADS_1
...¤☆☆☆☆☆¤...