
Lima orang bercadar hitam merangsek memasuki halaman rumah, 2 orang menggedor dan menendang pintu depan seraya berteriak, " Hai keluar kalian! keluar!"
1 orang berlari kesamping menggedor jendela kamar 2 orang lagi bergerak kesamping lainnya dan juga menggedor jendela.
Basu yang berada pas diatas satu orang bercadar hitam secara kilat lompat kebawah dan menetakkan telapaknya ketengkuk orang itu, tanpa perlawanan ia terjungkel tulang lehernya patah. Sekali lompat Basu sudah diatas pohon lagi.
Ki Randu memeluk erat putrinya, wajah mereka pucat pasi. Detak jantung bergetar, tubuh gemetaran.
"Tutup kupingmu, anakmas Basundara akan atasi semua ini" bisik Ki Randu ketelinga putrinya.
Tidak berapa lama kemudian, sepuluh orang berlari kearah rumah masing masing membawa sebuah obor yang menyala.
"Awas! mundur!" teriak mereka.
Pada saat itulah Basundara melompat turun dan dengan sekali gerakan tujuh orang tergeletak dengan perut terburai darah bercucuran ditanah. Sisanya terkaget melihat sekelebatan bayangan terbang dan merasuk kekiri dan kekanan.
"Hah apa itu?!" teriak Macan Gembring. Ia langsung melucutkan sabuk merahnya dan bergerak memasuki halaman diikuti kelima pendekar.
"Stop! siapa kau?" kata Macan Gembring sambil melakukan satu pecutan keudara. Suaranya nyaring melengking
Ctaarr!!
Basu menoleh, hmm...boleh juga gayanya. Ia mengangkat tongkatnya tinggi tinggi dan berteriak.
"Aku penguasa baru didesa ini, aku Panglima Naga Putih!" Dengan sekali loncat ia menebas leher ketiga orang para pembawa obor. Seakan daun dipohon satu persatu mereka jatuh seperti angin kencang meniupkan daun daun tua dipohon, mereka tumbang.
Basu berdiri ditengah mereka, tangan kanan meluruskan tongkat diarahkan pada Macan Gembring.
"Malam kematian bagimu anak tikus!"
Macan Gembring dan kelima pendekar melakukan salto diudara dengan pedang terhunus mereka melompat hendak menebas leher Basu. Tapi, tingkat ilmu mereka masih jauh dibawah Basundara.
Basu loncat lurus keatas udara dan turun secepat kilat menebas perut, langsung usus mereka terburai hanya Macan yang sedikit terluka diperutnya, rupanya ia mempunyai ilmu kebal. Ia melangkah mundur dan mengambil kuda kuda.
Saat itu tiga pengawal yang menggedor rumah merangsek dari belakang Basu. Hanya dengan sekali putar tongkat ditangannya telah menyobek perut dan dada mereka.
Kini tinggal Basu berdiri berhadapan dengan Macan Gembring. Ia menghentakan kakinya, ia bacakan mantra..dalam sekejap munculah naga putih yang sangat besar. Dengan mata merah dan hembusan napas yang panas ia terbang melingkar diatas kepala Macan Gembring.
"Oh dewa jagad raya mahluk apa ini?" Semua terlambat Basu terbang dan menghujamkan tongkat keperutnya tidak terlalu dalam namun cukup untuk dia terduduk lemas.
Basu menghentakkan kakinya sekali lagi dan membaca mantra, sosok naga putih tadi pelan pelan sirna. Basu berjalan pelan kearah Macan yang terduduk lemas ketakutan.
"Pulanglah! katakan kepada majikanmu! malam ini dia akan mati! dan akulah penguasa baru! Bangun!!"
__ADS_1
Macan Gembring berdiri pelan pelan sambil memegangi perutnya yang berdarah. Ia lari keluar rumah Ki Randu.
...¤☆☆☆¤...
Basu menarik satu persatu mayat para penjahat dan ditumpukkan didekat pintu masuk.
Dengan gerakan pelan ia melangkah kearah rumahnya, sekali dorong pintu terbuka.
"Ki..semua telah berahir..silahkan keluar"
Ki Randu dan putrinya Dewi beringsut dari tempat tidur dan menuju keluar, ia menyalakan obor didepan pintu. Dewi terpekik melihat tumpukan mayat didepan sana, Ki Randu juga kaget melihat tetesan darah turun dari tongkat Basundara.
"Ki..aku akan berdiri didepan halaman, sebentar lagi kepala desa akan datang dengan seluruh kekuatan. Malam ini harus selesai disini..besok kita akan minta bantuan warga menguburkan semuanya"
"Tapi nak..ati ati, berbahaya!..Ki Brangak mempunyai ilmu yang sangat tinggi!" kata Ki Randu cemas.
"Kita akan liat nanti..dik, tolong ambilkan tas dibawah kolong tempat tidur bapak ya" kata Basu kepada Dewi.
Dewi berlari kencang kearah rumahnya dan mengambil tas pinggang yang berisikan sebuah keris pusaka.
Basundara merogoh kedalam tas dan mengeluarkan sebuah keris, ia membaca mantra dan membuka kain putih yang menutupinya, keris itu langsung ia selipkan dipinggang belakang.
"Ayok..kalian mundur dan masuk kerumah..apabila dengar suitanku, cepat tutup pintu dan matikan obor langsung setelah itu masuk kekamar tidur."
"kangmas..ati ati nggeh"
"Njjih suwun dik"
Basundara lalu duduk bersila dikegelapan malam dan membacakan beberapa doa keselamatan. Ia kemudian duduk semedi menunggu kedatangan musuh utamanya.
...¤☆☆☆¤...
Langkah Macan Gembring terseok seok seperti orang mabuk. Satu tangan memegang perutnya yang sobek cukup dalam. Darah terus merembes keluar, ia tidak sadar bahwa ujung tongkat Basu mempunyai kandungan racun mematikan apabila Basu menekan bagian pegangannya, dan tadi Basu sudah melakukan itu..
Seorang penjaga gerbang kaget dan langsung membantu Macan Gembring masuk. Seluruh isi rumah Ki Brangak gaduh. Seorang pengawal mengetuk kamar tidur Ki Brangah yang sedang merapalkan doa.
"Siapa?!" bentaknya.
"Maaf ndoro..Ki Macan Gembring pulang sendirian dan sekarat!" lapor pengawal.
Ki Brangak kaget langsung mengambil pusaka tombak pendek dan keluar, ia terperanjat melihat Macan Gembring terluka parah.
"Mana yang lain?"
__ADS_1
"Musnah..mati! semua matiii..tuanku!" katanya tersengal sengal..semua pengawal terkejut, ko bisa mati semua? Mereka itu pendekar semua lho!
Macan Gembring terbatuk batuk, ia muntah darah. Tangannya menggapai gapai.
"Air! air minum! aku haus!" Seorang pengawal lari mengambil secangkir air dingin dan memberikan kepada Macan Gembring namun bukannya sembuh ia malah meregang dan pendekar ulung tangan kanan Ki Brangakpun mati dengan kedua mata melotot.
Ki Brangak bangun, Lalu berjalan kedepan rumahnya sambil berteriak.
"Aku yang mati atau kau yang modar!!" iapun langsung berlari dikegelapan malam.
"Ayok kita liat siapa lawannya yang sakti itu!"
"Ayok semua kesana!" kata Gebuk Tilarso ia seorang kepala penjaga rumah.
Ada kira kira 30 orang ikut berlari mengejar Ki Brangak.
...¤☆☆☆¤...
Sampailah ia didekat area persawahan. Ki Brangah mengambil posisi dan duduk bersila, mulutnya komat kamit membacakan mantra ilmunya. Sekejap seluruh tubuhnya penuh asap hitam, ia berdiri, badannya bersinar merah! ternyata dari asap sekarang seluruh tubuhnya berapi. Ilmu dari sang maha guru telah ia keluarkan. Inilah pertarungan antara hidup dan mati.
Basundara yang sedang melakukan semedi merasakan panasnya udara. Ia membuka kedua matanya, didepan sana ia melihat sosok manusia dikelilingi api berjalan kearahnya.
Basu berdiri dan menetakkan tongkat pusaka, ia mencabut keris dari pinggangnya dan membaca sebuah mantra. Sang keris bergerak sendiri keluar dari warangkanya dan melesat keujung tongkat untuk menyatu. Kini tongkat itu berubah menjadi sebuah tombak pendek.
"Hai penguasa yang kejam. Sadarlah kau akan mati sebentar lagi!" teriak Basundara.
"Siapakah engkau berani mencampuri urusanku?"
"Aku Basundara, Panglima Naga Putih penguasa Wuku Emas dan kini akan menjadi penguasa daerah sini!"
"Kurang ajar! Asu!" Ki Brangak berlari dan meloncat keatas sembari menghunus tombak pusakanya.
Basundara langsung melenting keatas dan bersalto diudara dengan sempurna, sekaligus melibaskan tombak pendeknya.
Dua pusaka saling berbenturan..
"Jeddaas!"
Percikan api bagai petir menyambar bumi. Tombak Ki Brangak patah menjadi dua. Tangan kanannya seperti kena strum. Ia terjatuh ditanah badannya gemetar.
Basu langsung melemparkan tombak keatas dan menukik tajam kearah dada Ki Brangak. Cres! tombak menancap didada Ki Brangah. Darah segar bermuncratan. Bersamaan dengan itu api yang menyala ditubuhnya hilang sama sekali!
...¤☆☆☆☆☆¤...
__ADS_1