Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
Pelepasan Tri Gayana Sukmadewi


__ADS_3

Mahluk besar itu kini ngamuk, kedua tangannya yang besar mencoba menyambar 2 naga yang meliuk liuk diawan.


Pada kesempatan yang tepat kedua naga menyatukan kekuatan mereka dan melemparkan kearah mahluk itu.


Dhaaarr!!!


Tepat mengenai dadanya dan mahluk itu ambruk ketanah, ketika itulah sang naga putih menukik dengan kecepatan kilat dan mendarat pas disamping mahkuk dan dengan tangan kanannya ia menarik sesuatu dari tengah ubun ubun mahluk.


"Aaaarrhh!"


Ketika dicabut, ditangan naga putih ada sebuah batu berwarna merah darah, langsung ia pecahkan dibatu seketika itu mahluk ambyar pecah berkeping keping hancur berantakan..


Ternyata itu adalah batu mustika kekuatan dari mahluk.


Naga hijaupun langsung turun mendekati naga putih.


"Ahirnya mati kau Ni Krompiyang!!" teriaknya.


"Kanda cepat kita keistana sesuatu telah terjadi"


Dengan sekali hentak mereka terbang dan mendarat ditanah pekarangan istana. 2 naga itu secara spontan berubah wujudnya, naga putih menjadi seorang kakek dengan rambut dan janggut putih ia mengenakan kain semacam seorang pertapa berwarna putih membawa tongkat panjang berwarna putih juga dan naga hijau berubah menjadi seorang wanita tua tapi masih terlihat kecantikannya. Mereka disambut seorang nenek tua membawa tongkat coklat tua. Ia adalah Ni Umbul Sari.


"Salam sejahtera kanda dan mbak yu, peperangan telah selesai, kita menahan banyak orang mereka..tapi sayang, Tri Gayana alias Basundari tewas"


"Oh ampun Hyang jagad.." kata mbah Janitra.


Ke 3 nya berjalan ditengah tengah pasukan WalungGeni sampai ahirnya menemui Ki Kuda Borsa yang berjalan dengan kaki pincang. Ki Kuda langsung jongkok menghaturkan sembah, ia sadar ketiga sosok ini adalah jelmaan dari 3 naga tadi.


"Mari kita cari raden Basundara didalam istana"


ber empat mereka masuk kedalam, ditengah ruangan yang besar itu mereka melihat Raden Basundara sang Panglima Naga Putih sedang memeluk adiknya, Basundari.


Ni Umbul Sari mendekat dan memegang bahu Basundara.


"Ngger..relakan kepergian adikmu..ia sudah damai bersama Sang Hyang Widi..relakan.."

__ADS_1


Basundara tidak mengucapkan apa apa, ia berdiri sambil menggendong tubuh lunglai adiknya yang ia cintai. Ia berjalan keluar istana tepat pas didepan pintu semua prajurit jongkok dan meletakkan senjata mereka ditanah, sebagai tanda penghormatan terahir kepada permaisuri puteri Tri Gayana Sukmadewi.


Basundara memberikan tubuh Basundari kepada Ki Kuda Borsa dan ia naik keatas punggung Bima Sakti.


"Ki..siapkan kereta, kita akan bawa adikku kembali ke WalungGeni" Basundara melepaskan kain merahnya dan menyerahkan kepada Ki Borsa.


"Tolong tutupkan tubuh adikku dengan kain ini..kita pulang Ki, tinggalkan sebagian tentara disini..perintahkan untuk membereskan tempat ini sampai Sri raja datang bersamaku"


Basundara menunggu kereta datang dan ia berjalan didepan diikuti kereta yang membawa Basundari, diikuti sekitar seratus tentara menuju kekapal dipantai. Perasaan gembira bercampur dengan kesedihan. Gembira karena mereka menang tapi sedih atas meninggalnya puteri kesayangan mereka yang cantik dan gagah berani.


Tidak lama terdengar suara auman dilangit, 3 naga terbang dengan gagahnya mengantar kepulangan Basundara ke WalungGeni.


...¤☆☆☆¤...


Perjalanan panjang ahirnya dilakukan Basundara dan para prajurit. Kali ini Basundara duduk dikereta disamping tubuh Basundari yang tertutup kain merah. disampingnya berjalan pelan Bima Sakti dengan kepala tertunduk seakan tau pemiliknya sedang mengalami kesedihan yang dalam.


"Ni..kita akan menuju ke Wuku Emas mengabarkan berita ke Ki Dewa Selasih, nanti bersama sama kita akan datang keistana WalungGeni..apakah kamu ikut?" kata mbah Janitra sambil terbang diudara.


"Aku ikut juga..sudah cukup lama tidak bertemu dengan Ki Dewa"


"Baik..ayo kita terbang lebih cepat lagi"


...¤☆☆☆¤...


Setelah 5 hari perjalanan ahirnya pasukan pasukan WalungGede tiba dibalai kota. Mereka disambut semua jajaran istana, para rakyatnya dan Sri Raja berdiri tegak menyambut juga dengan pakaian kebesarannya.


Ia sadar apa yang telah terjadi karena melihat bendera hitam yang berkibar dikereta dan juga wajah wajah prajurit yang ditundukkan. Kedua matanya basah dan bibir Sang Sri Raja gemetar.


Basundara dengan pelan turun dari keretanya, tangan kiri memegang sisi kanan badannya yang kena lemparan tombak dan tangan kanan memegang sebuah kain merah kepunyaan Tri Gayana yang telah sobek sobek akibat peperangan.


Ia jongkok dan menyerahkan selendang itu kepada Sri Raja Angintir.


"Sembah sujud saya kepada paduka Sri Raja, saya telah berusaha sekuat mungkin untuk melindungi permaisuri puteri Tri Gayana tapi hamba gagal melakukan tugas itu, meskipun negeri Beringin Hijau dan rajanya hancur tapi hamba juga mohon ampun atas semua ini" kata Basundara berkata masih dalam posisi jongkok dan kedua tangan diangkat diatas kepalanya.


"Kau telah menyelesaikan tugas sesuai dengan keinginanku..tewasnya permaisuri puteri bukan kegagalanmu hai panglima!"

__ADS_1


"Kini sudah saatnya aku beritau tentang siapa kalian sebenarnya..permaisuri puteri Tri Gayana Sukmadewi adalah Basundari adikmu yang hilang dulu..Namun, atas bisikan dewata mengatakan bahwa kau sebenarnya sudah mengetahuinya..saya ucapkan maaf sedalam dalamnya tidak memberitau kepadamu lebih awal.."


Basundara hanya menganggukan kepala tanpa bersuara, hatinya sedih bukan main..apabila dulu ia diberitau ia tidak akan berperilaku semacam itu kepada adiknya.


"Berdirilah dan bersihkan tubuhmu..nanti malam kita akan adakan acara pembakaran dan abu adikmu kita akan tanam dihalaman istana"


Acara penyerahan telah selesai, Basundara dipersilahkan membersihkan dirinya.


Ketika dikamar mandi Basundara membersihkan tubuh iapun menangis sejadi jadinya, meratapi semua kejadian yang telah berlalu.


...¤☆☆☆¤...


Sore berganti malam, mbah Janitra dan mbok Charvi beserta Ni Umbul Sari telah tiba bersama Ki Dewa Selasih. 3 naga tersebut hadir sebagai wujud manusia.


Basundara berlari dan memeluk tubuh ayahnya, ia melepaskan kerinduannya yang dalam. Berkali kali ia mencium kedua kaki ayahnya.


Malam hari pada waktu acara pelayonan, Basundara dipersilahkan meletakkan yang pertama kali obor api diranting tempat Basundari direbahkan. Basu menyempatkan untuk memberikan ciuman terahir dipipi Basundari yang sudah dingin itu.


Tidak lama api pembakaran berkobar menyelimuti tubuh Basundari.


"Kanda selalu ingat kepadamu dik..kanda selalu mencintaimu...tirai yang menyelimutimu selama ini sudah terbuka dan kanda rela menerimanya." Basundara ucapkan kata perpisahan dalam hati kepada adiknya yang tercinta.


Malam hari itu juga Sri Raja mengangkat Basundara menjadi penguasa Beringin Hijau yang baru. Dan mengutus esoknya agar Ki Kuda Borsa berangkat kembali ketanah Beringin Hijau untuk mengumumkan berita.


Dalam kesempatan yang sama, Basundara juga memberitahukan tentang dua desa miliknya, yaitu Wuku Emas dan Kemulyan untuk dijadikan satu daerah saja. Dan ia juga memohon doa restu agar pernikahan segera dilaksanakaan antara dirinya dan Dewi Upparengga.


Ki Dewa dan Sri Raja gembira mendengar itu dan bermaksud untuk membawa sang istri keistana agar diadakan perkawinan yang sangat meriah.


...¤☆☆☆¤...


Keesokan harinya merupakan hari perpisahan yang mengharukan..Sri Raja sebetulnya masih rindu bincang bincang dengan Ki Dewa namun karena Basundara ingin cepat cepat meminang kekasihnya maka ditetapkan besok adalah hari yang terbaik untuk pulang, sekalian Ki Dewa menyembuhkan luka yang cukup dalam ditubuh Basundara.


Basundara hari itu juga mengangkat Ki Kuda Borsa untuk menjadi panglima pasukan di wilayah Beringin Hijau. Ia meminta agar seluruh keluarga Ki Kuda Borsa dipindahkan ke Beringin Hijau.


Selain Ki Kuda Borsa, Basundara juga melantik Dul Mulah menjadi kepala urusan telik sandi dan keamanan seluruh pantai Beringin Hijau.

__ADS_1


Dua kesatria itu jongkok dan menghaturkan terima kasih yang dalam kepada Basundara dan Sri Raja.


...¤☆☆☆☆☆¤...


__ADS_2