Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
Perkawinan terlaksana dengan baik.


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan panjang ahirnya Basundara dan Ki Dewa Selasih memasuki desa Kemulyan Inggil. Beberapa orang tua yang melihat Basundara datang berlari memanggil yang lainnya.


"Raden Basundara pulang! raden Basundara pulang!"


Dalam waktu singkat seluruh masarakat desa berkumpul dan mengikuti kereta yang membawa Basundara.


Pak Gebuk Tilarso yang sedang mengadakan pertemuan dengan Ki Randu serentak bangun mendengar teriakan orang desa. Mereka mengikat kencang kain sarung dan bergegas keluar.


"Parto! panggil mbok Dewi sekarang, dia sedang dirumah baru! cepat ya!!" teriak Ki Randu kepada seorang pemuda.


Iring iringan pemuda, bapak bapak dan ibu ibu berduyun duyun mengantar kereta yang bentuknya bagus itu ke balai desa.


"Ternyata anakku dicintai ditempat ini..sukurlah sukurlah" kata Ki Randu sambil mengelus janggutnya.


"Njjih Ki..mereka semua orang baik"


"Mana calonmu?"


"Mungkin sedang dirumahnya..lha itu Ki Randu bapaknya disana" Basundara menunjuk kedepan.


Sampailah kereta didepan balai desa. Basundara turun perlahan lahan sambil memegang tulang rusuknya. Setelah itu ia menolong Ki Dewa turun.


Basundara memeluk Ki Randu dan pak Gebuk. Ia juga menyalami semua penduduk desa yang hadir.


"Ayo Ki Randu..kita masuk kebalai desa sambil menunggu dik Dewi"


Balai desa langsung menjadi penuh sesak, semuanya ingin melihat wajah penguasanya yang baru pulang dari istana raja, mereka juga takjub melihat kereta istana yang indah penuh dengan ukiran indah. Maklum rakyat desa belum pernah melihat kereta istana paling juga kereta pengangkut sawah.


Baru saja Basundara dan Ki Dewa duduk bersila diatas tikar diruangan balai desa, Dewi Upparengga masuk tergopoh gopoh dan langsung bersujud sukur dihadapan calon suaminya, Basundara mengangkat bahu Dewi dan memeluknya. Mereka sudah tidak malu malu lagi didepan masarakat dengan erat Dewi memeluk Basundara dan menangis didadanya.


Para ibu dan gadis yang menyaksikan ikut terharu dan menangis melihat dua kekasih yang telah lama berpisah.


Setelah tangisan Dewi reda, Basu mempersilahkan ia duduk disampingnya.

__ADS_1


Hari itu juga dikabarkan bahwa besok ia dan ayahnya akan mengajukan lamaran kepada Ki Randu. Dewi yang mendengarkan langsung menutup wajahnya dan kembali menangis.


Ki Randu sangat gembira dan bangga kepada putrinya ia termanggut manggut.


Basu mengabarkan kepada warga bahwa ahir minggu ini akan diadakan pernikahan diBalai Desa dan kemudian akan memboyong Dewi keistana untuk perayaan keraton.


Semua yang hadir tepuk tangan dan gembira.


"Monggo Ki Dewa Selasih dan Raden Basundara mampir kerumah sekalian masuk kerumah yang baru"


"Oh njjih Ki Randu, apabila sudah siap monggo"


Ki Randu bangkit diikuti Ki Dewa dan calon mempelai keluar balai desa.


"Pak Gebuk, tolong simpan kereta dibalai desa dan 4 kuda diserahkan kepada pengurus kuda. Selanjutnya mampir kerumahku"


"Njjih ndoro raden..njjih"


...¤☆☆☆¤...


"Taman didepan ini khusus dibuat oleh Dewi dan para ibu didesa sini"


"Waduh! bagus sekali!" ucap Basundara.


"Monggo kita liat dalamnya"


Ki Dewa dan Basundara tidak bisa bicara apa apa ketika menapakkan kaki mereka kedalam. lantainya dari campuran tanah liat yang dihaluskan dan dikeringkan. tembok yang kuat dan lampu lampu minyak yang bergantungan disetiap pojok ruangan.


"Monggo Ki Dewa saya mau perlihatkan area persawahan kita..biarkan putra puteri saling kangen disana"


Sepeninggal kedua orang tua, Basu langsung menarik tangan Dewi masuk kekamar tidur. Disana ia mencium, memeluk dan saling menjambak rambut. Mereka sangat haus akan kasih sayang dan cinta.


Setengah jam mereka bergulat dilantai. Sampai ahirnya Basu melepaskan pelukannya ketika mendengar suara Ki Randu berbicara diluar sana.

__ADS_1


"Kita akan lakukan lagi nanti malam kalau mereka sudah tidur hmm" bisik Basundara sambil mengecup bibir Dewi.


"Aku sudah kangen sekali kangmas! janji ya nanti malam" kata Dewi sambil mencubit perut Basundara.


...¤☆☆☆¤...


Pada waktu yang telah ditentukan, pesta perkawinan ahirnya dilaksanakan. Seluruh warga desa datang bahkan beberapa keluarga dari desa tetangga jauh jauh menghadiri pesta yang meruah itu.


Ditengah acara pesta tiba tiba Pak Gebuk memberitahu bahwa ada 3 tamu berumur tua mohon ijin ingin menghadiri pesta.


"Pak Gebuk cepat suruh mereka masuk! mereka adalah kakek dan nenek ku!"


"Oalah..njjih raden, segera!" pak Gebuk lari menemui ke 3 tamu istimewa itu.


Tidak lama kemudian melangkah masuk keruangan balai desa tempat pernikahan dilakukan. Dengan penuh kharisma mereka berjalan masuk. Semua mata memandang dengan kagum, terutama pakaian yang dikenakan mereka sungguh indah..bermacam macam warna renda digaun Ni Umbul Sari dan mbok Charvi. Sedangkan mbah Janitra mengenakan jubah putih dan rambutnya digelung menampakkan anting anting emas dikupingnya.


"Seperti manusia dari alam lain" bisik seorang kakek kepada temannya.


"Iya ya..pakaiannya aneh tapi cakep!" jawan temannya.


Mereka menghampiri Ki Dewa dan memberikan hormat, selanjutnya mendatangi Basundara dan Ni Umbul Sari memberikan secarik kain merah.


"Saya sempat mengambil secarik kain merah yang terlepas..ini kepunyaan Permaisuri puteri Tri Gayana atau Basundari..ambillah dan simpan" kata Ni Umbul sambil tersenyum.


Basundara meraih kain merah itu, menciumnya dan dimasukan kesaku celananya.


"Terima kasih Ni..saya simpan dengan baik"


Pesta berlangsung sampai larut malam, kedua mempelai mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir malam itu...


...TAMAT...


...¤☆☆☆☆☆¤...

__ADS_1


__ADS_2