
Langkah kaki Basu dipercepat ketika melihat asap yang keluar dari rumah tua diujung sana dekat kali Sowo. Aaah..rumah Ni Umbul sudah terlihat!
Rupanya perjalanan agak terseok seok, tanah yang basah dan becek karena diguyur hujan dari tadi malam membuat jalan setapak agak licin. Basu berjalan pelan sambil melatih dirinya stabil diatas tanah yang basah.
Setelah sepuluh menit sampai juga ia dihalaman depan rumah tua itu, ia melirik kekiri dan kanan tapi terlihat sepi namun salah satu jendela dibelakang terbuka.
Basu melangkah masuk pekarangan, tapi baru saja ia langkahkan kaki kanan, Basu mendengar seakan sebuah desis angin datang dari arah depan..dengan cepat ia melentingkan tubuhnya dan mendarat diatas pohon didekat teras rumah tua itu.
"Jangan masuk! Mana kesopananmu?" terdengar suara yang jelas masuk ketelinganya, meskipun bukan suara teriakan tapi ia dapat mendengarkan dengan jelas. Sungguh ilmu yang tinggi pikir Basu. Iapun loncat turun ketanah dan jongkok sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Maafkan aku Ni..mohon maaf, saya hanya numpang lewat dan ingin mengucapkan selamat pagi..itu saja"
"Aku bisa mencium baumu..kau dari atas gunung?"
"Njjih betul sekali..saya Basundara putra Ki Dewa Selasih"
"Oalah nak!..he.he.he..masuuuk!" Sekarang yang terdengar benar benar teriakan dari dalam.
Basu membersihkan kedua kakinya dengan membanjurkan air dingin dari bejana yang terletak didepan rumah. Iapun melangkah masuk kedalam.
Rumah yang sederhana, tidak ada kursi dan meja layaknya rumah orang Jawa pada waktu itu, didepan hanya terhampar sebuah tiker kuno dan dipojok ruangan sejumput menyan yang menyala diatas baki kecil.
Basu terus melangkah dan sampai didapur belakang, nampak seorang nenek berdiri membelakanginya sedang mengaduk sesuatu..disebelah kanan nampak sebuah wajan besar dan seonggok daging yang sedang direbus.
Nenek itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum. "Ealah putuku sudah besar! gaya loncatmu persis bapakmu..mau kemana to nak? pagi pagi sudah sampe sini!"
"Njjih mbok..saya sudah pamit keluar sama Ki Dewa dan sekarang menuju keistana WalungGeni mau mengabdi disana"
"Ya..ya..sukurlah! ayok kita duduk didepan"
Basu mempersilahkan Ni Umbul berjalan duluan dan ia mengikutinya dari belakang.
Sebelum Ni Umbul duduk diruang depan ia menyempatkan jongkok dihadapan Basundara dan menghaturkan sembah. Kedua matanya tertuju kepada tongkat dan kantong tas disamping badan Basu.
__ADS_1
"Sugeng enjang saudara saudarku..monggo lho mampir kapan kapan njjih" ucap Ni Umbul sambil tersenyum.
"Jadi..rencanamu hari ini akan masuk hutan dan terus sampe keistana Sri Raja njjih" sambung Ni Umbul.
"Njjih Ni..mohon doa supaya selamet"
"He.he.he..pasti, pasti..kalo mbok liat kamu akan menjadi orang besar disana tapi akan menemui sesuatu yang kamu sendiri akan kecewa..apabila itu terjadi kembalikan semuanya ke Sang Hyang Widi..kamu tidak berhak mendapatkannya..njjih itu saja pesen mbok padamu cah bagus!"
"Oh ngeten njjih..waduh apa itu Ni?"
"Ya..nanti kamu akan menemuinya..masih lama, yang terpenting kamu abdikan dirimu sebagai seorang kesatria dari daerah Wuku Emas..jangan lupa Wuku Emas lho..iki asalmu dari sini"
"Sebelum pergi, mbok berikan susuk gelungku..ngger simpen nggeh, upami..ada yang sulit tempelkan ketongkatmu, aku akan membantumu ngger..heeh"
"Wah..suwun sanget mbok, kalo begitu saya ijin pamit rumiyen..mau melanjutkan perjalanan.."
"Njjih monggo..mbok dungake semoga lancar.."
Basundara langsung sungkem dan mencium kedua tangan Ni Umbul Sari. Iapun melangkah keluar dan menyatukan kedua tangan memberikan hormat terahir.
...¤☆☆☆¤...
Sudah satu jam Basu berjalan, matahari sudah tepat diatas kepalanya. Ia mencoba mencari tempat kosong untuk istirahat. Ia melihat seperti sebuah genangan air diujung batu sana. Ketika sudah dekat...benar juga, sebuah sendang..aah, cocok sekali.
Basu membersihkan badannya dimata air itu, segar sekali. Angin sepoi sepoi mengalir menjadikan suasana sejuk diringi dengan suara dedaunan bergesekan diatas sana. Sambil duduk bersila Basu mengeluarkan keris pusaka dan menaruhnya disebuah batu cadas, lalu diangkatnya ubi rebus dari dalam tas mulai memakannya.
Baru saja dua kali ia mengunyah ubi rebus, lambat lambat ia mendengar suara berisik dari semak semak sana. Cepat cepat ia menaruh kembali keris kedalam tas dan beringsut bersembunyi dibalik sebuah pohon.
"Cepat bapak cepat! mereka sudah dekat" sepertinya suara wanita.
Tidak berapa lama muncul dari balik semak seorang gadis desa menarik seorang tua renta. Keliatannya pak tua itu sudah tidak sanggup lagi berlari, nafasnya sudah tersengal sengal. Wajah gadis itu ketakutan, berulang kali ia membenarkan letak baju atasnya yang agak terkoyak.
"Hai! sini kau! Jangan lari! Hahaha!" terdengar suara teriakan dari dalam hutan.
__ADS_1
"Aaaaa! cepat bapak!!" gadis itu berteriak.
Basu terus mengintip, matanya tak berkedip ia penasaran siapakah dibelakang mereka. Ia meraih tongkatnya dan bersiap siap.
"Haaaa! disini kalian kutangkap hahaha!!" Seorang berbadan kekar dengan rambut gimbal panjang sebahu, ada sebuah bekas luka memanjang diwajahnya. dibelakangnya lari dua orang yang tidak kalah besar. Mereka berlari mendekat dan mengepung bapak tua dan gadis itu..
"Ampun pak! ampun! jangan sakiti kami! ini ambil saja sedikit wang kami dan biarkan kami pergi" ratap pak tua sambil berjongkok memohon ampunan.
"Aah! aku tak mau wangmu yang kotor itu! ayo anak manis ikut aku!!" kata orang berbadan besar tadi. Tangan kanannya maju hendak menarik tangan gadis itu yang kini menangis kencang.
"Kurang ajar!" gerutu Basu, dengan sekali loncat ia melenting keatas dan menebas kepala salah satu dari dua pengawal orang besar itu dengan tongkatnya. Kepala itu langsung pecah ambyar terpukul tongkat Basu! Langsung ia terjerembab jatuh ketangan.
Temannya kaget dan menoleh kesamping, laki laki itu langsung menghunus pedangnya yang berkelok seperti keris.
"Hajar dia! kurang ajar!!" teriak orang besar itu dan menarik gadis itu kedekapannya. Sang bapak tua yang masih jongkok hanya melongo melihat seorang anak muda berdiri tegak disampingnya.
"Lepaskan gadis itu! atau kalian mati!" teriak Basu.
"Ahaha ternyata belum tau siapa kita?! kenalkan Aku Mendung iblis! Ciaaat!" kata seorang pengawal itu dan menyerang membabi buta dengan pedangnya kearah dada Basu. Aaah permainan anak kecil, pikir Basu. Tidak pakai lama Basu menggeser kesamping melemparkan tongkat kearah kepala orang itu dan ia berlari kearahnya!
Black! Blek!
Dua kali hujaman pedang yang tajam itu membelah dada Basu namun tidak satupun sabetan pedang yang bisa menembus dada Basu. Basu menghentakkan salah satu kakinya ditanah dan dengan kilat menghantam dada laki laki itu.
"Breg!!
Hantaman Basu mengenai sasaran tepat dijantung! orang itu mendelik, meskipun ia tetap berdiri tapi dari dadanya keluar asap tipis. Ternyata dadanya telah jebol dan bolong. Iapun rubuh dan langsung mati.
"Setan alas!!" teriak orang berperawakan besar itu dan melemparkan 3 serpihan kaca yang tajam kearah muka Basu. Sekilas ia melihat cahaya matahari memantul dari kaca kaca itu, kurang lebih 30cm mengenai matanya, Basu melenting keatas dan mendarat dengan halus ditanah. Kaca kaca itupun menancap dibatang pohon.
Basu mengambil tongkatnya dan mengarahkan kewajah orang bertubuh besar itu. Melihat keahlian Basu ia langsung melepaskan tangan sang gadis dan berlari masuk kehutan.
"Hmmm bajingan murahan!" kata Basu dan mendekati bapak tua yang duduk gemetaran. Gadis itupun melangkah pelan mendekati mereka.
__ADS_1
"Terima kasih anak muda..terima kasih" kata bapak tua itu.
...¤☆☆☆☆¤...