Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
Dua penunggang naga.


__ADS_3

Untuk beberapa saat Basundara masih duduk bersila, ia masih menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ketubuh Tri Gayana. Ia harus terus mengalirkan kekuatan agar tubuh Tri Gayana menjadi kuat kembali.


Mbah Janitra Kuning sang naga putih dan Mbok Charvi Dakini sang naga hijau berdiri tegak, mereka masih memperhatikan Basundara menyalurkan tenaga dalam ketubuh Tri Gayana.


"Terima kasih kanda saya sudah kembali sehat..terima kasih" Ia menatap kearah kedua naga yang sangat besar itu dan menghaturkan Salam hormat kepada 2 naga itu.


Mbah Janitra Kuning meliukkan tubuhnya dan kepalanya yang maha besar mendekat dan bahkan Tri Gayana bisa melihat dengan jelas rambut panjang putih yang tumbuh dibelakang kepala naga itu, lebat dan kasar. Tapi, kini ia tidak punya rasa takut bahkan ia ingin mengelus kepala naga itu.


"Basundara..bagaimana menurutmu apabila kalian naik kebelakang kepala kita dan terbang diangkasa..engkau duduk dikepalaku dan permaisuri putri diatas kepala Mbok Charvi"


Basundara menengok kearah Tri Gayana, ia girang sekali akan ajakan naga putih. Belum pernah ia terbang diudara!


"Namun sebelum itu akan kami ajarkan mantra agar kalian bisa duduk tenang dan tidak akan jatuh kebumi..kian akan melekat ditubuh kami selama kalian suka" Kali ini mbok Charvi berbicara.


"Baik kanda! saya setuju..bahkan malam ini kita bisa terbang melintasi laut melihat dari dekat bentuk negara utara!" ucap Tri Gayana.


"Baiklah..dengarkan baik baik mantra ini..dan ulangi 3 x dalam hati"


Setelah itu mbok Charvi mengucapkan mantra pendek yang sangat mudah diingat.


"Serayap dium, serayap munggah..badeviosa dium munggah"


Basundara dan Tri Gayana menghafalkan dan mengucapkan 3 x dalam hati masing masing. Selepas mereka baca seakan tubuh mereka tersedot kearah tubuh naga.


Tubuh mbah Janitra Kuning dan mbok Carvi Dakini meliuk dan berhenti sangat dekat dengan Basundara. Ia bangkit menuju mbah Janitra dengan sekali loncat ia telah berada dibelakang kepala naga itu. Seperti ada sebuah seatbelt, tubuh Basundara menempel dengan sendirinya ditubuh naga yang besar itu. Demikian juga dengan Tri Gayana, iapun melompat ketubuh mbok Charvi.


"Baiklah..sesuai permintaan permaisuri putri kita akan terbang kearah utara melewati lautan dan berputar diatas awan negara itu" kata mbah Janitra.


"Kita tidak akan lama terbang disana, cukup sekali putaran saja..agar mereka yang dibawah tidak kaget"


"Monggo kangmas duluan!" kata mbok Charvi selanjutnya.


Mbah Janitra mengembangkan sayapnya yang besar dan panjang dengan sekali hentakan naga itu sudah membumbung tinggi diawan. Tangan kanan Basundara memegang tongkatnya kencang kencang dan tangan kiri memegang tas kulitnya.


Tidak lama kemudian ia melihat naga hijau terbang terbang sejajar dengannya. Diatas kepala ia melihat Tri Gayana duduk dengan anggunnya. Kain selendang yang ia kenakan dileher sekarang berkibar. Sungguh anggun! Tri Gayana menileh kearahnya dan tersenyum lebar.

__ADS_1


Dua naga itu terbang diudara dan melesat bagai meteor. Pulhan desa dibawah sana telah mereka lewati sampailah mereka ditapal batas dimana lautan luas membentang dibawahnya.


"Bersiaplah ngger..kita akan melewati lautan dan langsung kelangit negeri diutara"


"Nggeh mbah!" teriak Basundara.



...¤☆☆☆¤...


Laut dimalam hari nampak begitu indah, riak ombak tenang namun menghanyutkan, pantulan cahaya bulan menyinari setiap ombak yang bergelombang. Tidak lama kemudian sampailah mereka diatas pegunungan. Tanahnya tampak agak tandus dan tidak terlalu banyak hutan. Mbah Janitra terbangnya agak turun sedikit demikian juga mbok Charvi.


Basundara sekarang bisa melihat dengan jelas pucuk pohon kelapa yang tinggi tinggi, mereka melesat lebih kencang lagi.


"Bersiaplah..kita akan terbang diatas istana raja mereka"


Beberapa penjaga gerbang terkaget kaget melihat dua sinar merah terbang meliak liuk dilangit yang gelap.


"Lihat keatas! apa itu?!" teriak salah satu dari mereka.


Dalam hitungan satu detik naga putih terbang diatas mereka menukik sedikit dan terbang keatas langit dengan cepat..diikuti naga hijau. Kedua pengawal menundukkan kepala dan tombak mereka jatuhkan. Keduanya lari tunggang langgang!


"Naga naga!!" teriak mereka. Teman teman oenjaga lainnya ikut kaget.


"Mana? mana? naga apa sih??!" kata seorang kepala penjaga. ia menengadahkan kepalanya keatas dan terkejut melihat 2 warna merah memanjang meliuk liuk diudara.


"Dewa jagad! mati aku! masuk masuk kita laporkan keraja" mereka semua berlarian kedalam dan dengan naik kuda memacunya menuju istana dalam.


"Hehehe..ayok kita balik sebelum mereka mati ketakutan" kata mbah Janitra.


"Ayok mbok ayu kita balik!"


Kedua naga itu meliukan tubuhnya dan terbang kembali kearah lautan lepas untuk selanjutnya kembali ke taman istana permaisuri putri.


"Woohooo! baru kita terbang mereka sudah lari! haha!" teriak Basundara.

__ADS_1


...¤☆☆☆¤...


Setelah berputar putar sedikit kedua naga itu bertengger diatas bebatuan yang besar dan menundukkan leher mereka agar Basu dan Tri Gayana bisa turun.


Keduanya jongkok dan memberi salam hormat.


Tri Gayana membetulkan letak kain kebayanya yang tersingkap sedikit.


"Terima kasih sedalamnya kepada simbah dan mbok yang telah membawa kami terbang! sungguh satu pengalaman yang tak terhingga!" kata Basu.


"Njjih begitu juga dari saya..terima kasih" ucap Tri Gayana.


"Hehe..sukurlah, kapan saja kalian ingin terbang panggilah kami..dan nanti apabila benar benar terjadi perang kami akan muncul membantu kalian"


"Yang perlu kalian ketahui dan waspadai adalah Mbah Kori ambyang, dia adalah tokoh hitam dari negara utara..dulu kita telah bertempur dan dia kalah..sekarang dia ada dinegara Utara itu" kata mbok Charvi.


"Benar sekali, dia akan muncul dengan anaknya mbok Krompiyang, keduanya berwujud singa berkepala manusia dengan sayap"


Basu dan Tri Gayana memberi salam kembali dan Basu membacakan mantra selanjutnya ke dua naga itu menghilang.


"Waduh kanda! terima kasih! sebuah pengalaman tak terlupakan!"


"Sukur tuanku puteri gembira"


"Kanda..mulai sekarang panggilah aku dengan namaku saja tidak usah memakai gelar"


"Baiklah adinda Tri, kanda tidak akan memanggil nama kebesaran kecuali ketika berada dengan orang lain, kanda harus memakai itu demi penghormatan kepada leluhur kita"


"Hari sudah cukup malam..sebaiknya dinda Tri pulang dulu"


"Njjih kangmas..saya pamit dulu" Tri Gayana menghentakkan kakinya dan gadis itu melesat tinggi dan menghilang ditelan malam.


Basupun berjalan menuju rumahnya. Ia tiba tiba teringat Dewi yang ia tinggalkan didesa, semoga dia sehat dan bahagia disana. Kasian, aku tinggalkan disana sendirian..mungkin aku akan minta tolong mbah Janitra terbang kesana. Ya itu yang terbaik!


Pikirannya juga melintas kepada sosok permaisuri putri Tri Gayana. Ia gadis yang cantik, tangguh dan berilmu tinggi, aku bangga ketika melihat ia duduk dengan mantap diatas leher mbok Charvi. Gadis itu patut menjadi ratu dinegri ini.

__ADS_1


...¤☆☆☆☆☆¤...


__ADS_2