
Basundara pagi ini sibuk mengatur muatan kedalam kapalnya yang paling besar. Satu kapal bisa muat 300 orang dengan kudanya. ia juga mengisi semua perbekalan tenda. kapal kedua dan ketiga berisi masing masing 300 orang tentara infantry. kapal keempat dan kelima berisakan masing masing 200 orang. Total dari kekuatan inti ada 1300 tentara.
Pasukan pemukul kedua dipimpin oleh Tri Gayana yang hanya ada sisa 2 kapal, masing masing 300 orang. totalnya 600 orang infantri.
Dengan gagah Basu berjalan dan menaiki kapal utama dilanjutkan dengan naiknya Tri Gayana kekapal pemukul ke 2.
Sisanya menunggu didaratan untuk bergantian berangkat.
Ketika angin mulai datang, 7 kapal perang itu berangkat berlayar. Basundara berdiri didepan ajungan bersama kepala pengirim berita kemaren yang bernama Dul mulah.
Ia mohon ijin kepada Basundara agar ia bersama ke 6 prajuritnya bisa menjadi tombak didepan yang melakukan penyerangan pertama. Mereka ingin menjadi penerjun pertama dan merangsek istana raja yang sombong itu!
Sementara itu untuk tepi pantai, raja Murtala telah memerintahkan untuk menyiapkan beratus ratus prajurit guna menahan pasukan yang datang, dilini kedua tempat pos penjagaan disiapkan juga 300 penjaga keamanan dan paling terahir diistana semua pendekar berilmu tinggi sebanyak 200 orang bersiap. Ada satu rahasia lagi, Ni Krompiyang dan ibunya beserta seratus lampor laki dan perempuan berterbangan diluar istana siap memakan siapa saja yang akan masuk keistana.
...¤☆☆☆¤...
Gelombang pertama kapal Basundara mulai mendekat pantai.
"Tahan! semua tahan! biarkan kapal agak mendekat pantai, ketika mereka turun baru kalian panah mereka!" teriak kepala regu penjaga pantai Beringin Hijau.
Jarak 3 meter kapal merapat dan membuka pintu, kuda dan penunggangnya langsung loncat kepantai...mereka langsung disambut beribu anak panah. Tidak ayal lagi banyak kuda yang tumbang.
"Kurang ajar! pasukan panah siap! tembak!" teriak Ki Kuda Borsa. Pemanah dari dalam kapal melepaskan beribu anak panah kearah bebatuan dipantai. Setelah pemanah dari pantai mereda, Ki Kuda berteriak lagi, "Pasukan kuda serang!!" 200 lebih kuda dan para prajurit handal loncat keluar.
Mereka tidak sadar Dul Mulah dan 6 perwira muda sudah masuk melewati bebatuan. Mereka memacu kencang kuda kudanya.
"Ki!..Ki!..setelah berhasil mendarat jangan suruh melaju masuk! tunggu saya!!" teriak Basu.
"Siap raden!!" teriak Ki Kuda membalas.
Ahirnya seluruh pasukan kuda yang bersisa 100an sudah turun semua. Air pantai berubah menjadi merah, hampir semua prajurit pantai Beringin Hijau tumpas dihancurkan pasukan berkuda meskipun banyak sekali pasukan berkuda yang juga gugur.
Basu memimpin pasukan berkuda paling depan bersama Bima Sakti.
"Ki kita tunggu sampai semua pasukan turun dan kita akan masuk perlahan sambil tunggu pasukan pemukul ke 2 turun juga"
"Kasinggihan raden!" jawab Ki Kuda Braso.
__ADS_1
Dari pinggiran bukit yang tidak terlalu tinggi Basu melihat Tri Gayana turun dari kapal dengan kudanya diikuti seluruh pasukan gelombang kedua turun kepantai.
"Ki..tiup trompet mautmu biar semua setan disini ketakutan..tiup 3 x"
Ki Kuda mengeluarkan trompet panjang dan membunyikan 3 x. Semua pasukan merasa bangga bisa turun dan masuk wilayah negara orang.
"Maju!" Basundara memberikan aba aba dan pasukanpun berjalan dengan cepat mengarah keistana.
...¤☆☆☆¤...
Sebelum Basundara dan pasukan masuk, Dul Mulah dan 6 kesatria merangsek masuk menerobos pos kedua. Mereka ber 7 bertempur mati matian melawan beratus ratus prajurit Beringin Hijau. Dul Mulah beringas dan pantang mundur, bahu kirinya sudah sobek kena sayatan pedang dan darah sudah membasahi tubuhnya.
Ketika mereka hampir menyerah, tiba tiba terdengar suara trompet dari Ki Kuda dan munculah dari balik pohon prajurit berkuda Basundara diikuti 1300 tentara berlari dan berteriak.
"Haaaa!" Dul Mulah menjadi tambah menggila mengetahui bala bantuan dalam jumlah besar datang. Seluruh pasukan pos ke 2 antara lari tunggang langgang atau mati terbunuh.
"Dul!!" teriak Basundara mengejar Dul Mulah.
"Kalian mundur dan perlu perawatan, liat darahmu! paling tidak kasian kudamu..ia telah luka dikakinya!"
Belom sempat Dul menjawab, ia sudah rubuh pingsan.
"Hai kalian! mundur! ikut Dul kekapal! sekarang juga!" perintah Basundara kepada 6 orang prajurit lainnya.
Ke 6 kesatria muda mengikuti perintah dan mengantar Dul Mulah kekapal.
Basundara langsung berteriak lagi.
"Maju! Gempur istana!!" pasukan berkuda berlari kencang diikuti banyaknya prajurit.
Aneh! ketika mereka hendak masuk kepintu gerbang, tidak satupun pengawal penjaga gerbang disana bahkan pintu terbuka lebar.
Tanpa banyak mikir pasukan berkuda masuk kedalam diikuti seluruh pasukan inti. Ketika setengah pasukan inti masuk. Tiba tiba pintu gerbang menutup sendiri. Basu menoleh kebelakang mencari cari Ki Kuda. Setengah pasukan inti diluar gerbang!
"Ki! Ki!!" teriaknya, semua prajurit saling berpandangan. kenapa jadi sepi? Tiba tiba dari arah langit Basundara melihat beratus ratus sosok hitam terbang meliuk liuk dan menyambar para pasukan berkuda.
Ternyata Ki Kuda terlambat masuk ia masih sibuk mengurusi beberapa kepala regu yang terluka. Ia menengok kelangit ketika suara berisik turun dari langit dan terjun bebas. Ia melarikan kudanya kepintu gerbang dan perintahkan seluruh pasukan Mendobrak gerbang yang tertutup.
__ADS_1
Didalam keadaan kacau, pasukan berkuda banyak yang tumbang secara sia sia tanpa perlawanan. Sosok sosok hitam menyambar kekanan dan kekiri, berputar putar dan menukik untuk menebas leher.
Tri Gayana yang berada dibelakang mempunyai firasat tidak enak. Ia katakan kepada dua wakilnya untuk membawa pasukan masuk sementara ia akan maju kedepan.
Tri Gayana bertemu dengan Ki Kuda,
"Ki! mana kangmas Basundara?"
"Raden terkunci didalam! sekarang kita sedang mencoba dobrak gerbang ini" katanya disela sela keramaian.
"Ayok! ambil kayu besar itu dobrak!"
"Ki! suruh semua mundur aku yang pecahkan!!" kata Tri Gayana. Ki Kuda langsung perintahkan semua mundur. Sekarang Tri Gayana melompat dari kudanya dan duduk bersila..ia bacakan beberapa mantra.
Setelah itu ia angkat kedua tangannya keatas dan dengan cepat ia kirim kekuatannya menghantam gerbang.
Jeddhaar!
Gerbang jebol dan terbuka. Tri Gayana lompat kekudanya seraya berteriak.
"Maju! maju!!"
Tiba tiba dari arah samping kiri muncul seratusan tentara Beringin Hijau menyerang! Jadi, selain sosok sosok hitam yang menyerang dari atas, sekarang datang lagi ratusan orang dengan beringas menyerang dari samping.
Pertempuranpun berlangsung sengit!
Tri Gayana dengan ganas menyabetkan pedang panjangnya kekiri dan kekanan, ketika lawan sudah begitu banyak, ia terpaksa loncat dari punggung kudanya dan dengan sebilah pedang ia merangsek kedepan.
"Kangmas! turun dari kuda! turun!" ketika dia berteriak tiba tiba sebuah sabetan pedang menyayat pinggangnya.
"Aaah! bangsat!" Ia mundur sedikit meraba pinggangnya ada darah mengalir. Ia mencari penyerangnya. Akan kuhabisi dia!
"Hei!!" Tri berjalan diantara orang orang yang sedang saling tempur.
"Sini kau!!"
Namun penyerang itu mundur beberapa langkah melihat kedua mata Tri Gayana seakan menyala!
__ADS_1
Tri Gayana meloncat sekaligus menyabetkan pedangnya membelah kepala sang penyerang. Pedang tepat mengenai kepalanya. iapun jatuh dengan kepala yang putus.
...¤☆☆☆☆☆¤...