Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
Ki Randu dan Dewi Uparengga


__ADS_3

Basu membantu mengangkat tubuh bapak tua dan memapahnya mendekati mata air tempat Basu duduk tadi. Gadis itu ikut berjalan dibelakangnya. "Duduklah disini dulu, istirahat sebentar..bapak ini siapa dan mau kemana?"


"Saya Ki Randu..rumah kami diluar hutan ini, perjalanan tidak jauh dari sini..mereka adalah suruhan Ki Brangak, dia penguasa desa Kumentir yang menggabungkan secara paksa kekuasaanya dengan desa kami, Kemulyan Inggil. Penguasa ini jahat dan mempunyai banyak anak buah..Sudah dari kemaren mereka mau mengambil anak saya ini untuk dikawinkan paksa dengan Ki brangak"


"Mereka memaksa dan hari ini tiga orang suruhan datang untuk mengambil paksa anakku ini..kami berlari dan berlari sampai ketemu njenengan tadi..suwun sanget nak"


"Sukurlah ketemu saya pak..adik, kamu tidak apa apa?"


"Sembah suwun kang mas..saya tidak apa apa"


"Baguslah..ayok makan ubi rebusku..kita istirahat dulu"


...¤☆☆☆¤...


Mereka tidak sadar, orang bertubuh besar itu sedang mengintai dari balik pohon. "Awas kau anak tikus! aku akan laporkan ke Ki Brangak! mampus kalian! Kurang ajar!!" Iapun pelan pelan berbalik arah dan lari menuju rumah Ki Brangak yang berada diseberang pematang sawah sana.


Setelah melepaskan capai dan badan mereka sudah mulai segar, pak Tua berkata,


"Mari nak..mampir kerumahku, singgah sebentar sekalian antar kami pulang"


"Baik pak.." Basu berdiri mengangkat pelan pelan bapak tua itu dibantu anak gadisnya. Mereka berjalan perlahan masuk kedalam hutan.


"Kisanak ini mau kemanakah dan namamu siapa?"


"Saya, Basundara dari bukit Wuku Emas pak, hendak keistana Sri Raja sebetulnya"


"Ooh..bukit Wuku Emas..ya..ya tempat yang indah digunung sana" kata pak tua sambil menatap wajah Basu.


"Ini kenalkan anak saya satu satunya, namanya Dewi Uparengga"


"Oh njjih..salam perkenalan njjih"


Basu sempat melirik wajah gadis ini, cantik dan kulitnya bersih sekali. Senyumnyapun menawan, pantesan mau diambil jadi selir penguasa desa. Ini akan aku laporkan kalo sudah sampai diIstana.


Lewat sepuluh menit mereka berjalan didalam hutan, ahirnya keluar juga dari sana..bentangan sawah tertata dengan apik dibatas hutan ini, Basu kagum kepada hijaunya sawah yang membentang luas dari kiri kekanannya.


"Sawah siapakah ini bapak?" tanya Basu.


"Sebagian besar kepunyaan penguasa desa, sawah saya terhimpit ditengah. Ki Brangak Empung sipenguasa desa itu sudah berkali kali ingin merampas, dia mau membeli dengan harga sangat murah, wah pokonya harga yang tidak masuk akal waras"


Hmm sudah mau mengambil sawah tapi ia mau juga merampas anaknya. Penguasa apa ini? Basu geram mendengarnya.

__ADS_1


"Itu nak..rumah saya, ayo istirahat dirumah sebentar sebelum kisanak berangkat lagi"


"Baik pak..terima kasih"


Basu berjalan memasuki pekarangan rumah Ki Randu, sebuah pohon mangga menjulang tinggi dengan buahnya yang bergantungan.


"Waduh! mangganya banyak!" ucap Basu.


"Njjih..nanti bawa bekel beberapa nggeh. Monggo duduk dulu..Dewi ambilkan air anget buat kang mas nggeh..bapak mau cuci muka sebentar"


"Sampun pak..suwun"


Basu duduk diteras rumah yang teduh ini..iya menyenangi keadaan rumah itu, sangat teduh dengan angin sawah yang sepoi sepoi. Dilepaskan tas pinggangnya dan tongkat ia sandarkan ditembok rumah.


Tidak lama Dewi kembali dengan air hangat dicangkir dan 2 buah pisang rebus.


"Monggo kangmas..seadanya" Dewi hendak berdiri tapi Basu mengajak ia untuk duduk juga.


"Dik Dewi..duduk sebentar sini, kangmas mau tanya sedikit tentang Ki Brangak kalo boleh"


"Oh njjih kangmas.." Dewi mengambil posisi duduk sambil menyenderkan tubuhnya ditembok.


"Kangmas akan pergi jauh dan lama..bagaimana urusannya kalo mereka datang lagi?"


"Kalau begitu..kangmas minta ijin Ki Randu untuk menetap disini sebentar, biar aku bangun gubuk disamping rumahmu..rencanaku keistana aku tunda dulu sampai ini selesai"


"Oh ya ampun kangmas! terima kasih sekali!" Dewi mengatubkan kedua tangannya.


Setelah keduanya berbincang bincang keluarlah Ki Randu dan ikut duduk bersama sama.


"Pak..kangmas tadi bilang, kalau diijinkan ia akan tinggal disini sampai masalah dengan Ki Brangak selesai..dan kalo diijinlan ia akan membuat gubuk disamping rumah sini"


"Oalah nak..apa tidak merepotkan? bukannya tujuanmu akan keistana?"


"Mboten nopo nopo pak, biar saya istirahat sekalian menjaga bapak dan dik Dewi..saya punya perasaan mereka akan datang lagi pak"


"Itu sudah pasti nak..ga mungkin mereka membiarkan begitu saja..apalagi sudah dua orang yang mati"


"Nanti malam ini biar saya tidur diluar pak..saya ta jaga diluar, pasti mereka datang nanti malam"


"Njjih..mohon maaf nak, kami menyusahkan"

__ADS_1


"Apa nama desa ini pak?" tanya Basu.


"Niki, desa Kemulyan Inggil nak"


"Oh sayang nggeh..padahal namanya Kemulyan..yang artinya


kemuliaan..seharusnya menjadi mulya atau kebaikan..tapi, malah menjadi jelek karena sang penguasa yang tidak baik"


"Lha niku..monggo, kita liat tanah yang akan kita bangun jadi gubuk..kebetulan bapak masih punya cukup tanah dibelakang"


...¤☆☆☆☆¤...


"Apa?! siapa dia? beraninya menyerang kamu!" kata Ki Brangak marah.


"Mohon maaf Ki, saya tidak kenal bahkan belom pernah melihat wajahnya selama ini"


"Lalu dimana sekarang Mendung Iblis dan wakilnya?"


"Maaf Ki, mereka tewas.." suara Lembu Kuncir nama orang itu, dengan suara sedikit pelan, Ia tau Ki Brangak kalo sudah marah semua akan dihancurkan.


"Asu!! Setan!!" Ki Brangak bangun memukul meja kayu bundar didepannya dan langsung terbelah dua, semua cangkir dan teko air panas terlempar ketanah. Ia bangun dan menendang perut Lembu Kuncir. Laki laki besar itu jatuh terguling guling. Dari mulutnya ia memuntahkan darah segar.


"Heeehhh!!" Ki Brangak berdiri berkacak pinggang, untung ia tidak mengeluarkan ajian Semplak kudanya, kalo itu sampe keluar niscaya Lembu Kuncir akan tewas. Dulu ia pernah memperagakan ilmunya dihadapan para pengawalnya, ia menendang batu kali yang besar dan batu itu terbelah dua!


Lembu Kuncir dengan susah payah mencoba mengambil sikap jongkok sambil menahan sakit diperutnya.


"Maafkan saya ki"


"Sudah pergi kamu! suruh Macan gembring datang!"


Lembu Kuncir memutar tubuhnya dan berlari kearah belakang rumah Ki Brangak. Disana didepan teman tannya yang sedang santai ia muntahkan semua darah dari mulutnya.


"Wooh kenapa kamu Lembu?"


"Nanti kuceritakan..mana Macan Gembring, Ki Brangak manggil dia sekarang juga" wajah Lembu Kuncir pucat mulutnya merah ternoda darah yang keluar dari perutnya.


"Ayo kita ke mbah Roro..minta diobati..walah walah!" kata dua temannya sambil menggandeng tangan Lembu Kuncir.


Macan Gembring yang sedang santai dengan gundiknya terbangun ketika seorang pengawal Ki Brangak datang. "Kang mas! dipanggil Ki Brangak sekarang! cepat dia lagi ngamuk!"


"Weeh..lagi santai gini..awas dek..nanti kita sambung lagi" ia bangun dan mengencangkan sabuk celananya, langsung bergegas kedepan.

__ADS_1


Gundiknya kesel, padahal baru saja mereka akan memadu kasih..


...¤☆☆☆☆☆¤...


__ADS_2