
Hujan rupanya turun dengan derasnya siang itu, pohon, tanaman dan tanah telah basah. Menjelang gelapnya malam Ki Dewa Selasih memanggil putranya Basundara untuk masuk kedalam kamarnya.
"Apakah sudah kau bersihkan tubuhmu?" kata Ki Dewa sambil bersila.
"Sudah Ki"
"Duduklah didepanku Basundara"
Laki laki tegap itu mengambil posisi duduk dengan kedua kaki disilangkan. Ki Dewa mengeluarkan satu kotak panjang terbuat dari kulit kambing. Sebelum ia buka Ki Dewa membaca terlebih dahulu sebuah mantra.
Setelah itu pelan pelan ia buka kotak itu dan dari sana ia keluarkan sebuah tongkat yang ujungnya bercabang seperti ujung lidah ular, tongkat itu berwarna hitam legam seperti terbuat dari kayu tapi juga seperti sebuah besi. Ki Dewa juga mengeluarkan sebuah keris dan sarungnya. Wujudnya biasa saja hanya ujung gagangnya ada motif wajah naga.
Ki Dewa meletakkan kedua benda itu diatas kotak kulit itu tadi. Tiba tiba diluar sebuah Petir menggelegar keras hingga rumah Ki Dewa sedikit berguncang. Basu sempat melirik kearah luar rumah tapi ia kembali konsentrasikan dirinya kepada dua benda pusaka itu.
Ki Dewa juga meminta Basundara mengingat sebuah mantra dan membacanya sekali sebelum ia menerima kedua barang pusaka itu.
"Anakku Basundara, sudah tiba saatnya kamu hai anakku sebagai pemegang kepala wilayah Wuku Emas yang membentang dari ujung puncak gunung Pamarihan turun sampai bentangan kali Sowo..kelak kau akan memimpin sebuah kerajaan yang besar sebagai cikal bakal masyarakat yang cerdas dan berwibawa"
Ki Dewa Selasih kemudian membacakan beberapa mantra dan memberikan kedua benda sakral itu kepada Basundara.
Kedua telapak tangan Basundara seperti terasa dingin, aliran angin masuk dari telapak tangan langsung menjalar keseluruh tubuh dan berhenti dijantungnya.
"Sukur kepada seluruh dewata dijagad ini kedua naga sudah memasukan separuh ruhnya didalam tubuhmu. Kenalilah mereka, yang ada ditongkat sebagai sang suami bernama Mbah Janitra Kuning, Janitra yang berarti, Ia yang berdrajat tinggi dan Kuning karena tubuhnya berwarna kuning keemasan, dan yang ada di keris ini istrinya bernama Mbok Charvi Dakini, Arti Charvi adalah wanita cantik dan Dakini adalah, Yang berjalan diatas langit"
"Anugurihiitosumi..terima kasih Ki" Basu lalu berdiri dan menyimoan kedua pusaka tersebut diatas tas kulit yang nanti akan ia bawa.
...¤☆☆¤...
__ADS_1
Saat yang bersamaan, dipendopo keraton WalungGeni. Sri Raja Angintir duduk disinggasana dan dihadapannya duduk bersila dua panglima perangnya, sebelah kiri duduk dengan tenang Ki Ajar Sukma dan sebelahnya duduk dengan wajah tegang Ki Gajah Blarak.
"Mohon maaf saya Sri Raja..saya sebagai panglima pasukan ujung utara tadi pagi mendapatkan satu berita lagi..dua pasukan penjaga perbatasan hutan mati terbunuh, rupanya musuh dari pulau diutara sudah mulai mencoba kekuatan kita..Kedua penjaga mati secara mendadak dengan leher hampir putus, padahal penjaga lainnya tidak melihat siapa yang datang menyerang" kata panglima dengan suara geram.
"Hmmm..siapa yang berani berani mengusik kita?"
"Apakah perlu kita kirimkan bala bantuan untuk menambah penjagaan paduka?"
"Baik kirimkan pagi ini juga 30 prajuritmu yang kuat dan handal dalam ilmu kebatinan..pilih perwira yang tangguh sebagai pemimpin regu ini"
"Lalu bagaimana dengan perbatasanmu Ki Ajar Sukma?" kini Sri Raja memalingkan wajahnya kepada panglima perbatasan barat.
"Sembah sujud paduka yang mulia..daerah barat semua aman..kami dengar ada beberapa kelompok desa yang ingin bergabung dengan kerajaan Sri Raja, kami tinggal menunggu perintah maka akan kami sertakan desa desa itu menjadi bagian dari kerajaan kita"
"Bagus Ki, apabila jumlah desa mencakup lebih dari tiga maka kita akan masukan mereka sebagai bagian kita dan pilih seorang perwira yang baik untuk menjadi kepalanya disana"
"Kasinggihan Sri Raja Paduka" ucap Ki Gajah Sambil menundukan kepalanya.
"Pertemuan sudah selesai..silahkan lakukan apa yang perlu dilakukan..saya dan Tri Gayana putriku akan kehutan taman dibelakang"
Kedua panglima menghaturkan sembah sujud dan berjalan mundur dengan berjongkok tanpa menindikan tubuh mereka dengan Sri Raja.
...¤☆☆☆¤...
Sampailah pada hari ke 2 setelah Basundara menerima ilmu terahir dan 2 pusaka untuk segera meninggalkan Kuwu Emas tempat ia beranjak dewasa dari semenjak bayi dulu. Suatu daerah didekat puncak gunung Pamarihan atau yang sekarang dikenal dengan nama Merbabu, dengan udaranya yang dingin dan anginnya yang kencang.
Pagi sebelum fajar naik, Basundara mandi dengan air dingin dan mensucikan diri dengan membaca beberapa mantra agar selamat dalam perjalanan.
__ADS_1
Setelah mandi ia mengenakan celana dan baju hitam, topi caping yang juga berwarna hitam ia sampirkan kebelakang punggung.
Basundara juga menyimpan beberapa potong ubi rebus kedalam kantong tasnya. Diatas ubi rebus itu ia menyimpan keris pusaka yang ia selimuti dengan kain putih yang sudah didoakan Ki Dewa Selasih. Kantong tas ia ikatkan menyamping didadanya. Sambil membaca mantra ia mengambil tongkat pusaka dan keluar kamar tidur menghadap ayahnya Ki Dewa Selasih.
Basundara jongkok didepan ayahnya yang duduk bersila diatas jerami. Ia tidak bersuara menunggu Ki Dewa selesai berdoa.
"Anakku..silahkan kau berangkat nak..jaga dirimu baik baik, ingat..kau sekarang sebagai penguasa Wuku Emas. Bertutur kata yang baik, berperilaku yang baik dan selalu berdoa kepada Sang Hyang Widi atas keselamatanmu..ini simpan suratku dan sampaikan kepada Sri Raja Angintir"
Basundara memberikan sembah sujud dan mendekatkan wajahnya kedada Ki Dewa. Orang tua itu mendekatkan telapak tangan kanannya dan ia taruh diatas ubun ubun kepala Basundara.
"Ya..sudah waktunya nak"
Basundara bangkit dan berjalan mundur keluar rumah. Pelan pelan ia menutup pintu dan menghirup udara pagi yang segar dan dingin. Iapun melangkah ketaman didepan rumah dan keluar masuk kedalam hutan.
...¤☆☆☆☆¤...
Sudah satu jam ia berjalan, perlahan ia merasakan matahari sudah mulai menampakan dirinya meskipun belum semuanya, tapi hari sudah mulai terang.
Aku ingin mencoba ilmu angin selasih yang aku kuasai. Demikian pikirnya, ia mau coba naik keatas pohon yang paling tinggi. Basu berhenti dan dengan sekali hentakan tubuhnya melenting tinggi. Ia menapak pada batang yang cukup besar, sekali lagi ia hentakan dan sampailah ia dipuncak pohon.
Tubuhnya terasa ringan bagai kapas. Ia bisa berdiri tegak diatas sebuah ranting yang kecil. Ia memandang jauh kedepan. Setelah puas ia memandang, dengan sekali hentak ia melesatkan tubuhnya dan mendarat dengan baik ditanah.
Iapun bergegas jalan, perkiraan dia siang nanti harus bisa sampai kebatas awal kali Sowo. Ia ingat cerita ayahnya bahwa diawal kali Sowo ada sebuah rumah tua yang dihuni seorang nenek bernama Ni Umbul Sari. Nenek ini adalah penjaga perbatasan Wuku Emas dan area wilayah kerajaan WalungGeni.
Ni Umbul Sari sebenarnya adalah sosok setengah manusia setengah Jin. Ia aslinya seekor naga berwarna merah dan masih saudara dari Mbok Charvi Dakini,sosok yang bersemayam dalam kerisnya.
Ni Umbul diperintahkan Ki Lurah Badranaya untuk menjaga perbatasan daerah Wuku Emas dan ia dijelmakan menjadi seorang nenek tua.
__ADS_1
...¤☆☆☆☆☆¤...