
Pada saat pertempuran sedang berlanjut, lagi lagi datang bala bantuan, kali ini dari atas atap istana loncat dengan kecepatan tinggi 100 orang pendekar berilmu silat tinggi. Mereka membabat habis prajurit WalungGede.
"Hei! Aku lawanmu!" teriak Basundara. Ia mengikat kain merah lebih kencang dan maju kedepan dengan kudanya. Tongkat saktinya diturunkan ketanah, ia satukan kekuatan tongkat dan bumi.
Dua pendekar melenting keudara dan menukik tajam kearah kepala Basu. Priya kekar itu secepatnya loncat sambil menendang pantat Bima Sakti. Kuda lompat dan berlari kedepan menabrak para prajurit Beringin Hijau.
Basu bersalto diudara dan melibaskan kearah dua sosok yang menukik tajam. Tak ayal lagi ujung tongkat yang lancip memotong leher mereka. 2 kepala menggelundung ditanah.
Sementara itu Tri Gayana tidak kalah ganas, berkali kali ia meloncat dan membabat habis puluhan pendekar Beringin Hijau. Tangan kanan Tri Gayana ketika memutarkan pedangnya seperti sebuah baling baling tajam. Mengikis dan memotong apa saja yang mendekat.
Pada saat yang bersamaan pintu istana terbuka, sosok nenek tua keluar. Ia membawa tongkat panjang ditangan kanannya. Mukanya sangat tua dan kedua matanya berwarna merah.
Ia menghentakkan tongkatnya ditanah. Setiap kali ia hentakkan ditanah, sekitar 100 sosok hitam berterbangan diudara dan menukik tajam mencari korban, yaitu tentara WalungGede.
...¤☆☆☆¤...
Seluruh tubuh nenek kini berasap, hawanya panas. Dalam hitungan detik ia telah berubah menjadi seekor binatang yang sangat besar! Tangannya sangat kuat dan ketika berdiri kedua kakinya berotot besar besar. Tingginya mencapai puncak atap istana. warnanya hitam kelam.
Ia mencari mangsa..dan disana terlihat Basundara sedang ngamuk begitu juga Tri Gayanan. Mahluk seram itu maju kedepan dan melempar, mencabik dan menghantam prajurit WalungGede. Banyak prajurit yang mati. Tanah disekitar istana berubah menjadi merah, setiap muncratan dan percikan darah manusia membasahi tanah.
Basu melihat mahluk besar itu menghampirinya, ia mundur sedikit dan mengambil kuda kuda serta membacakan mantra. Basu melenting keatas dan melancarkan tendangan 'Samber gledek' tendangan itu tepat kedada mahluk itu. Namun efeknya kecil sekali, ia hanya bergerak sedikit tanpa ada luka didadanya.
"Kangmas aku bantu!" teriak Tri Gayana. Ia langsung duduk bersila dan membacakan sebuah mantra. Sekejap kemudian ia melesat keudara dan melemparkan pukulan andalannya.
Jedhaar!!
Pukulan Tri mengenai kepala mahluk besar itu, lagi lagi hanya menggoyangkan sedikit kepalanya tapi efeknya hampir tidak ada, malah menjadi tambah murka. Ia menghampiri Tri dan tangannya yang sangat besar mengayunkan hantaman, Tri terpental diudara dan menabrak tembok istana.
Braak!!
Tri merasa seakan sekujur tubuhnya remuk, darah segar keluar dari mulutnya. Badannya lemas dan ia yerduduk menyender ditembok.
"Dinda!!" teriak Basu. Ia mengatur nafas dan mengeluarkan semua ajian yang pernah diajarkan, ia pusatkan pikiran kearah mahluk ganas itu.
Namun, baru saja ia akan melepaskan kekuatan dalam tiba tiba sebuah tombak melesat, konsentrasinya buyar. Ia coba menangkis tapi terlambat tombak menancap diiga sebelah kanan.
__ADS_1
"Aaah! Asu!"
Basu menjerit kesakitan.
"Kanda!!" teriak Tri melihat Basu terkena lemparan tombak. Ia mencari siapa yang melemparkan tombak keparat itu. Diantara pertempuran ia melihat sosok pendekar Beringin Hijau berdiri. Pasti itu orangnya..dengan sisa tenaganya Tri duduk bersila dan melepaskan pukulan jarak jauh. Pendekar itu terpental, dadanya hancur berantakan.
Tri mencoba berdiri tapi tidak kuat. Dan Basu sendiri sudah kewalahan dengan tombak yang menancap diiganya. Ia konsentrasi dan keluarkan kerisnya, tongkat,keris dan tusuk konde ia satukan ditanah dan secara cepat memohon agar semua simbah keluar.
...¤☆☆☆¤...
Mahluk besar itu melihat posisi Tri yang sudah kewalahan kembali mendatangi Tri. Ia terbang keatas dan melepaskan sebuah pukulan jarak jauh.
Pemandangan didepan mata Basundara seakan berubah menjadi lambat, tubuh Tri terhantam pukulan yang sangat keras..ia melambung keatas dan jatuh terkulai ditanah.
"Aaaaaaaaaaa!!!" teriak Basundara melihat Tri yang terkena pukulan dan jatuh ditanah, Dengan sisa kekuatan ia mengerahkan seluruh ajian dan mencabut hulu tombak dari iganya. Terseok seok ia menghampiri Tri Gayana yang tergolek tidak bergerak.
Saat itu terdengar 3 auman keras diudara, semua orang melihat kelangit. Diatas sana 3 naga terbang dengan kecepatan kilat dan menukik tajam. Salah satunya menyemburkan api panas dari mulutnya dan mengenai kepala mahluk itu, ia mencoba menghapus api yang menjalar turun kebagian tubuh lainnya. Dengan sekali lompat mahluk itu keluar dari pagar istana dan mendarat ditanah bukit sana. Naga putih dan naga hijau mengejar mahluk itu.
Seekor naga merah menukik dan membakar semua mahluk hitam yang berterbangan. Dalam sekejap hangus semua menjadi abu.
"Basundara! bantu adikmu! bawa ia ketepi!!" Teriak naga merah dan meliukan tubuhnya mencari sosok hitam yang masih berterbangan.
Adikmu?? kata Basundara berjalan terseok seok, darah terus mengucur dari badannya. Apakah?? aah apa iya, permaisuri puteri adalah adiknya yang hilang??
Basu ahirnya sampai kepada Tri Gayana yang tergeletak. Iapun duduk menyandar ditembok dan mengangkat tubuh Tri.
"Dinda bangun dinda..ini kangmas Basundara" tidak ada pergerakan ditubuh Tri Gayana.
"Dinda Basundari..adikku sayang bangunlah dik"
Kedua mata Tri Gayana tiba tiba terbuka pelan pelan, air matanya mengalir keluar. Darah masih mengalir keluar dari mulutnya.
Basundara memeluk dan mencium pipi Tri Gayana.
"Apakah...apakah betul kau adalah kakakku..yang hilang dulu?" suara Tri keluar terbata bata.
"Kanda,..coba liat dikulit kepalaku..adakah...guratan seperti huruh S"
__ADS_1
Basu mencoba memilah milah rambut dan...huruf S terdapat dikepalanya..ya dewata sama persis dengan guratan S dikepalaku!
Basu langsung memeluk tubuh adiknya dan menangis.
"Dinda adikku! benar kau adalah Basundari adikku!!" Basundara menghapus airmatanya dan air mata Tri Gayana yang ternyata adalah adiknya,Basundari.
"Dinda, jangan tinggalkan kanda! kita sudah berkumpul sekarang.."
"Kanda Basundara..aku senang bahwa kaulah kakakku..maafkan kesalahan...adikmu selama ini"
"Tidak! tidak ada yang salah dinda! huuu jangan pergi dinda huuu"
Namun, pelan pelan nyawa Basundari lepas dari tubuhnya..ia sudah rela pergi karena ia sudah melihat dan bertemu dengan kakaknya yang hilang dulu..
"Dindaaaaa!!" Basu melihat kedua mata Basundari menutup pelan pelan dan tubuh adiknya lunglai. Ia mendekap dan menangis sejadi jadinya. Ia meraih keris dan dimasukan kedalam warangkanya. Dengan pertolongan tongkatnya ia berdiri sekaligus mengangkat tubuh sang adik tercinta.
Ia panggul tubuh adiknya dipundak sebelah kiri dan masuk kedalam ruangan istana.
"Mana kalian!! keluar!! keluar kalian!!" teriaknya, suaranya menggema diseluruh ruangan.
Dari sudut ruangan keluar sekitar 20 orang pendekar pengikut setia raja Murtala dan dari sebelah kanan ruangan muncul Raja Murtala sambil bertepuk tangan.
"Hebat anak muda hebat!! kau sudah bisa masuk kedalam istanaku..sekarang kau harus mati disini!!"
Basu meletakkan tubuh adiknya dilantai.
"Adikku Basundari, liatlah bagaimana kakakmu membantai mereka liatlah adikku" kata Basu. Iapun berjalan dengan gagah mendekati ke 20 pendekar disana.
"Hiiiiaaat!!" tidak pake basa basi Basundara melepaskan pukulan jarak jauh yang bagaikan peluru meriam mengenai semuanya dan hancur berantakan..seterusnya ia maju sambil terseok seok dan berhenti ditengah ruangan istana yang besar itu.
Kedua tangannya ia angkat keatas dan membaca mantra..ia akan lepaskan pukulan aji Dunyo ambles, sebuah ajian yang maha dahsyat! ia lepaskan kearah raja Murtala. Sekali hantam tubuh sang raja hancur tanpa sisa hanya kepalanya yang putus menggelundung ditanah..
Ia berjalan kembali ketempat Basundari dan memeluknya erat erat.
"Selesai semua adikku..selesai huuuuu"
...¤☆☆☆☆☆¤...
__ADS_1