
Hari masih pagi, Basundara sudah mengajak kuda hitam pemberian pa Gebuk berpacu diatas tanah yang lembab. Berkali kali ia menghentakkan kedua kakinya diperut sang kuda yang bernama Bima sakti.
"Ayok Bima! kita percepat larinya biar kita cepat sampe istana!" teriak Basu diatas kudanya.
3 hari sudah semenjak Basu meninggalkan desanya dan kini empat desa sudah ia lalui. Pada setiap tempat istirahat ia selalu memberikan banyak makanan bagi Bima Sakti kudanya.
Pada hari keempat ia sudah mulai memasuki sebuah desa bernama Bangilan. Terlihat banyak orang lalu lalang dipasar, ekonomi desa ini terlihat sehat dan makmur terlihat dari pakaian yang mereka pakai. Bangilan adalah desa diluar WalungGeni. Sukurlah, ini pasti sudah dekat dengan istana WalungGeni.
Siang hari itu Basu melihat dari kejauhan sebuah pintu gerbang besar yang dijaga 2 orang Pengawal gerbang yang berbadan besar. Kuda ia pelankan, selain karena banyak orang masuk dan keluar gerbang ia merasakan bahwa Bima Sakti sudah mulai lelah, ia perlu istirahat panjang.
Dan ternyata setelah masuk kedalam kota, WalungGeni merupakan tempat para pengusaha lokal dan dari bermacam suku bangsa luarpun ada didalamnya.
Didalam kota Basu turun dari sadel kuda dan berjalan kaki, ia biarkan Bima Sakti berjalan sendirian dibelakangnya. Tidak jauh ia melihat sebuah gerbang lagi, gerbang yang ini dijaga empat penjaga dan keliatannya masarakat tidak boleh masuk. Sangat ketat penjagaannya. Basu mendekati dan memberi salam kepada para penjaga.
"Berhenti kisanak! hendak kemanakah?" tanya salah satu penjaga.
"Saya dari lembah Wuku Emas dan ini surat untuk Sri Raja" ucap Basu sambil menyerahkan sebuah surat.
Setelah mereka baca, ia cepat masuk kedalam gerbang.
"Mohon tunggu disini"
Setelah menunggu beberapa lama dibawah sebuah pohon yang rindang , sang penjaga datang lagi namun ia datang dengan seorang laki setengah tua, ternyata ia adalah pengawas gerbang.
"Njjih monggo silahkan masuk, Sri Raja menunggu kedatangan njenengan"
...¤☆☆☆¤...
Bangsal tempat penerimaan tamu sungguh megah dan Indah, disetiap sudut ruangan terdapat lampu minyak yang gemerlapan juga ada obor obor besar, beberapa kursi besar yang bagus sekali modelnya ada disemua sudut ruangan, entah dari mana, mungkin didatangkan dari luar negeri oleh para pedagang yang singgah sebelumnya. Motif ukiran yang tergantung dikayu besar ditembok belakang merupakan motif unik dan pastinya hanya Sri Raja yang punya.
Diujung berdiri sebuah singgasana besar berukir, pasti ini kepunyaan Sri Raja disampingnya masing masing sebuah kursi berukir dengan ukuran sedikit kecil tapi tetap anggun dan menarik.
Oleh pengawal khusus istana Basu dipersilahkan duduk menunggu, langsung Basundara mengambil tempat dan duduk bersila. Pelan pelan ia menyeka peluhnya dikening dan dadanya. Wajahnya ia tundukkan dan menarik nafas dalam dalam.
__ADS_1
Selang beberapa saat, tiba tiba pintu besar disamping bangsal itu terbuka dan masuklah 4 pengawal, seorang yang berjalan paling depan berteriak.."Sri Raja Angintir dan putri permaisuri Tri Gayana Sukmadewi telah tiba!"
Basundara langsung mengambil sikap dengan menegakkan posisi duduknya dan mengatupkan kedua telapak tangannya diatas kepala. Kedua matanya tidak berani menatap tapi ia bisa mendengar ketika Sri Raja dan putri permaisuri duduk di singgasana.
"Selamat datang diistana Rah Munjung di tanah WalungGeni Basundara sang penguasa Wuku Emas" terdengar suara berat dari Sri Raja.
"Saya haturkan terima kasih sudah diijinkan untuk menghadap Sri Raja dan putri permaisuri diistana yang megah ini" ucap Basundara dengan mantap. Wajahnya masih tertunduk ketanah.
"Basundara, turunkan tanganmu..aku ingin melihat wajahmu"
Basundara pelan pelan menurunkan tangannya dan menatap lurus kepada Sri Raja. Ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Basu, Sebab tidak sembarang orang diperbolehkan menatap mata Sri Raja.
"Hmm..ternyata benar apa yang kupikirkan, wajahmu sangat persis dengan Ki Dewa. Aku sudah menunggumu semenjak satu minggu yang lau"
"Hatur sembah maaf yang sedalamnya, dalam menuju keistana saya menolong seorang resi dan putrinya yang hendak dibunuh, ternyata penguasa desa tersebut pengikut setan dan sering kali menganiyaya rakyatnya..saya membantu mereka dan juga rakyat desa tersebut. Kami bertempur dan berhasil membunuh penguasa tersebut..Atas persetujuan bersama mulai enam hari yang lalu mereka mengangkat saya sebagai penguasa baru..mohon maaf sekali lagi, saya hanya ingin membantu rakyat yang tertindas"
"Oh apakah namanya Ki Brangak penguasa itu? Apabila benar maka langkahmu sungguh tepat! Ketahuilah bahwa Ki Brangak adalah salah satu pengikut raja Murtala dari Utara yang kini sedang mengusik ketentraman negeri ini"
"Betul sekali Sri Raja, dia bernama Ki Brangak"
"Njjih Sri Raja, semoga kemampuan saya bisa bermanfaat dinegeri ini"
"Disampingku ini adalah permaisuri putri, Tri Gayana Sukmadewi putriku. Dia adalah panglima perang dari kawasan Selatan. Dia akan menguji seberapa kuat keilmuanmu. Kalau kau sanggup mengalahkan dia maka, Basundara kau akan kuangkat menjadi panglima perang utara, tentara wilayah utara saat ini sebanyak 15.000 prajurit siap tempur dan nanti akan disatukan dengan 15.000 prajurit pilih tanding dari selatan dibawah panglima perangnya, yaitu Tri Gayana"
"Njjih Sri Raja.." ucap Basu, iapun mengalihkan wajahnya kearah permaisuri putri Tri Gayana Sukmadewi.
Ia terkesiap dengan kecantikan sang putri, tubuhnya putih bersih tapi padat. Kedua matanya bulat dan ketika menatap tajam. bibirnya indah dan selalu basah. Dadanya tegap dan tidak loyo. Rambutnya panjang hitam mengkilap meskipun digelung rapih.
"Sembah sujud permaisuri putri" ucap Basu sambil memberikan sikap hormat.
"Kanda Basundara! apakah kamu siap menunjukan keahlianmu kepadaku?" tanya sang putri.
__ADS_1
"Mohon maaf sedalamnya, apalah saya hanya seorang anak gunung..hamba akan berusaha sebaik mungkin" ucap Basundara merendah.
"Baiklah romo, saya akan memberikan kakanda Basundara beristirahat, nanti apabila sudah siap Ananda persilahkan kanda Basundara perlihatkan keahliannya"
"Mohon beribu maaf Sri Raja dan juga adinda Putri. Hamba diutus kesini bukan untuk istirahat, dan negara sudah sangat membutuhkan seseorang untuk menjaga negeri ini..sebaiknya langsung saja diuji..mohon maafkan kelancangan hamba" kata Basundara sambil mengangkat kedua tangannya keatas kepala.
"Oo..bagaimana romo?"
"Apabila memang sudah siap monggo kita ketaman dibelakang" Sri Raja langsung berdiri dan berjalan kearah belakang diikuti semua pengawalnya dan juga permaisuri putri.
Setelah Sri Raja duduk Tri Gayana langsung melesat ketengah lapangan dan memasang kuda kuda. Basu melirik sedikit kearah permaisuri, hmm.. cukup kokoh kedua kaki itu meskipun dimiliki wanita.
Tiba tiba Tri Gayana menerjang kedekat Basu dan melancarkan 2 pukulan kearah wajahnya dan sekaligus menyapu kaki Basu. Tapi, bukan Basundara kalao tidak dapat mengelak.
Sekali loncat Basu sudah berada diatas kepala permaisuri dan sekaligus melepaskan tusuk konde rambutnya.
"Haaaiii!" Permaisuri kaget karena rambut panjangnya terlepas dan berurai liar dimukanya.
"Waah!" Sri Raja terkejut tapi girang melihat itu.
"Kurang ajar anak gunung tidak tau diri!" Tri Gayana marah, wajahnya memerah, ia langsung membuat gerakan Elang Merah. Basu melirik..wah boleh juga permaisuri, rupanya ia sudah menguasai ilmu silat yang maha sulit itu.
Basu menyiapkan diri, ia harus hati hati, meleng sedikit ambrol dadanya.
"Ciiaaat!"
Permaisuri melemparkan pancingan pukulan namun sebetulnya tendangan memutar yang ia arahkan kepada leher Basundara.
Kurang lebih 5cm kaki permaisuri akan menerjang lehernya. Basundara berkelit kekiri dan melepaskan totokan maut. Tubuh permaisuri menjadi kaku! Ia berdiri tegak dengan satu kaki ditanah dan satu kaki terbentang keatas.
"Waaah waah!"
"Plok plok plok!" Sri Raja bertubi tubi memberikan tepuk tangannya.
__ADS_1
...¤☆☆☆☆☆¤...