
Pagi itu warga desa dihebohkan dengan ramainya orang bekerja dibekas kediaman Ki Brangak. Basundara yang mengepalai pemugaran sibuk berjalan kesana kemari memberikan perintah. Ketika hari menjelang siang, hampir semua priya satu desa bahu membahu ikut membersihkan rumah yang penuh dengan dosa itu.
Ruangan didepan rumah yang besar itu dikosongkan dan hanya diberikan alas tikar baru. Semua pusaka dan jimat Ki Brangak dibakar atau ditanam ditanah agar tidak memberikan aura jahat. Ruang itu akan digunakan sebagai ruang pertemuan antar warga setempat.
Terdapat lima belas kamar tidur dibelakang ruang utama, Dinding pembatas dijebol agar menjadi satu bangunan kosong tanpa penyekat. Nantinya tempat itu akan dijadikan tempat semedi bagi warga yang beragama Hindu atau Budha.
Ketika matahari sudah mulai turun dan angin sepoi mulai datang, Basu memerintahkan semua untuk berhenti. Para wanita yang dari pagi mempersiapkan makanan dan minuman mulai menata diruang depan yang kini kosong dan menaruh makanan dan minuman disana.
"Ayok bapak bapak kita makan dan istirahat!" teriak Basu dan disambut dengan riang. Sungguh suatu pemandangan dan pengalaman yang berbeda dengan dulu.
Dewi Upparengga bersama sama dengan para ibu bangga bahwa semua makanan yang disiapkan langsung ludes habis dimakan warga.
"Aku bangga kita mendapatkan kepala desa yang baru, selain ganteng dia baik hati..kita sekarang bebas dan bahagia!" kata seorang ibu muda yang duduk berkumpul bersama ibu dan gadis gadis desa. Ketawa meeeka berderai riuh..
...¤☆☆☆¤...
Setelah selesai acara makan bersama, Basundara lalu membuka acara dengan mengucapkan terima kasih atas bantuan warga.
"Kini kita mempunyai desa yang baru dan bersih dari segala dosa..hari ini saya mewakili para pini sepuh setuju untuk mengangkat kangmas Basundara menjadi penguasa didesa ini..apakah semua setuju?" Kata Mbah Redjo salah satu warga tertua didesa itu
"Setuju!!" teriak warga serentak.
"Oleh karenanya dengan senang hati kami berikan nama Raden Basundara Naga Putih sebagai penguasa desa ini. Apakah setuju?"
"Setuju!!" lagi lagi mereka serentak berteriak.
"Monggo raden.." Mbah Redjo mempersilahkan Basu berbicara.
"Njjih terima kasih sebesarnya dari saya. Pertama dikabarkan bahwa balai desa ini akan saya namakan Balai Aman tentrem Siapa saja boleh datang dan melakukan sembahyang diruang belakang, kapan saja. Ruang depan ini akan digunakan sebagai tempat pertemuan yang akan diadakan sekali seminggu..bisa juga dibuat sebagai acara perkawinan..
Semua yang hadir menganggukan kepala mereka tanda setuju.
"Saya akan membangun rumah didepan rumah Ki Randu, rumah itu nantinya diperuntukan khusus rumah penguasa desa, setelah saya sudah tidak menjadi kepala desa maka rumah itu akan ditempati kepala desa selanjutnya dan seterusnya.
"Selanjutnya, saya akan angkat Ki Randu sebagai kepala urusan agama, Dewi Upparengga sebagai kepala urusan wanita..apa saja masalah wanita monggo dibicarakan dengan Dewi Upparengga dan para pembantunya"
__ADS_1
"Kepala keamanan desa akan saya serahkan kepada saudara kita Gebuk Tilarso dengan wakilnya Groton dan Tumijo. Mereka akan membangun dan mengatur masalah keamanan desa secara keseluruhan.
"Saya akan tinggal dan membangun desa ini selama enam bulan dan seterusnya akan keistana Sri Raja untuk mengabdi disana. Sepeninggal saya, Desa akan tetap saya pegang tapi diwakilkan oleh Mbah Rejo dan Ki Randu. Mohon agar ikuti perintahnya"
"Setuju"
Ahirnya pertemuan dibubarkan meskipun Basu masih tetap disana berbincang bincang bersama Ki Randu dan Gebuk Tilarso, sebagian besar membubarkan diri dengan perasaan yang tenang dan bahagia.
...¤☆☆☆¤...
"Sebaiknya besok kita sudah mulai ratakan area sawah Ki Randu setelah itu bisa kita mulai pembangunan rumah kepala desa" ucap Gebuk Tilarso.
"Baiklah..kumpulkan para pemuda, dan kita akan lalukan besok pagi pagi, apabila tidak ada lagi yang perlu dibahas kami akan pamit pulang dulu.." jawab Basundara.
"Njjih monggo Raden..saya ta pilihkan pemuda pemuda untuk acara besok"
Basupun pamit dan meninggalkan balai desa yang baru, ia Berjalan diapit Ki Randu dan Dewi. Ini pertama kalinya Dewi bisa berjalan dengan santai tanpa ada rasa cemas dan kali ini ia berjalan dengan seorang priya yang maha sakti dan ganteng. Beberapa gadis melihat Dewi berjalan disamping Basu sedikit cemburu tapi mereka tidak berani berkata apa apa.
"Kita harus bisa bangun desa ini menjadi tempat yang indah dan bersih..kalo bagus kita bisa minta bantuan dana kepada pemerintah pusat untuk kemajuan kita" kata Basu sambil berjalan.
Basu dan Dewi menoleh kebelakang benar saja, Gebuk Tilarso sedang beruoaya mengejar mereka.
"Maaf raden, barusan ada pengunggang kuda datang, menurutnya ia datang dari Istana Sri Raja dan menanyakan apakah ada orang yang bernama Basundara disini.."
"Loh ada apa? sekarang dimana dia?"
"Saya suruh tunggu dibalai kota raden"
"Njjih suwun pa Gebuk..saya akan kesana sebentar lagi"
"Njjih mohon pamit raden" pak Gebuk memutar badannya dan berlari lagi menuju balai kota.
"Hmm ko sampe dijemput begitu ya? Dewi tolong bantu ayahmu..saya ta balik ke balai kota sebentar"
"Njjih kangmas"
__ADS_1
Basundara langsung bergegas kearah balai kota.
...¤☆☆☆¤...
Ketika Basundara sampai diBalai desa, ia melihat seekor kuda besar ditambat dipohon dan seorang laki laki memakai ikat kepala dengan lencana dikainnya.
"Kisanak mencari saya?" kata Basundara.
Orang terperanjat dan berdiri, ia berikan selamat dan berkata.
"Saya diutus Sri Raja untuk mencari kanda Basundara, sudah banyak desa yang saya lewati tapi tidak ketemu ahirnya ternyata ada disini"
"Njjih saya sendiri Basundara..ada apa gerangan paduka raja mencari?"
"Kami sedang mempersiapkan tentara untuk berangkat keutara, raja meminta agar kanda Basundara secepatnya menghadap"
"Njjih lusa saya sudah berangkat dengan kuda, 3 hari akan sampai sana..mohon sampaikan saya akan segera menuju ke istana"
Orang itu memberikan selamat dan pamit pulang.
Basundara kemudian memanggil pak Gebuk. Diutarakan bahwa ia akan segera berangkat keistana..untuk sementara waktu pengurusan desa Basundara meminta pak Gebuk memegang pengendalian desa bersama dengan Ki Randu dan mbah Rejo.
Basundara langsung cepat pulang intuk memberitakan kepada Dewi dan Ki Randu.
"Kangmas, Dewi serahkan tusuk kondeku, tolong simpan ya..agar bisa ingat kepada kita disini"
"Terima kasih dik, kangmas akan selalu ingat, desa sepenuhnya akan dipegang pak Gebuk sampai aku kembali..jaga ayahmu ya dik"
Basu menyerahkan sebuah ikat kepala kepada Dewi. Ia minta untuk disimpan, sebagai tanda bahwa ia akan kembali kedesa ini.
"Kangmas hati hati diistana, Dewi akan selalu mendoakan agar kangmas selamat dan sehat selalu" Dewi berkata pelan, ia menitikkan airmata dipipinya.
"Dik Dewi kenapa menangis? kangmas tidak akan lama disana" Ujar Basu sambil mengusap pipi Dewi yang basah.
...¤☆☆☆☆☆¤...
__ADS_1