Panglima Naga Putih

Panglima Naga Putih
Pasukan telah bergerak


__ADS_3

Pagi itu ketiga naga turun kebumi, dan dengan sekali loncat Bagus sudah berada dikaki mbah Janitra.


"Ngger, sengaja pagi ini kami mengajak Ni Umbul karena kami mau ajak ia memeriksa tanah negeri utara. Ni Umbul adalah satu satunya dari kalangan kami yang pernah menjatuhkan mbah Kori Ambyang..Ni Umbul ingin melihat apakah ia juga akan ikut dalam peperangan nanti"


"Oh njjih monggo mbah..saya mau ketemoat dinda Tri Gayana dulu"


ke 3 naga itu langsung terbang membumbung tinggi diangkasa.


Basundara melangkahkan kakinya menuju kepuntren tempat kediaman permaisuri putri dan para embannya.


Basu bertemu dengan 4 penjaga gerbang kepuntren dan dipersilahkan menunggu diruang tamu. Pagi ini ia sudah memakai baju dan selendang berwarna merah dipadu dengan celana hitam. Perpaduan warna pakaian demikian berarti seorang panglima akan berangkat kemedan perang.


Tak lama, Tri Gayana masuk keruang tamu, iapun memakai baju merah dipadu dengan celana panjang hitam, rambut panjangnya ia ikat dan konde. Sebuah keris panjang terselip dipinggangnya.


Basu berdiri dan memberi hormat. Tri Gayana menyentuh tangan Basu.


"Kanda tidak usah memberikan hormat keaku tho..kamu sudah seperti saudaraku" kata Tri sambil tersenyum.


"Dinda Tri keliatan sangat siap, bahkan terlihat kesatrianya. Saya bangga bisa berjalan disamping permaisuri putri yang cantik, muda tapi berilmu tinggi"


"Aah kanda ini merayu aku ya" katanya sambil terus tersenyum.


"Dinda..mohon sekali lagi berada di grup ke 2 nggeh, supaya aman perjalanan ke tapal batasnya"


"Nggeh kangmas seng ganteng dewe!"


"Dinda Tri..waduh ko malah diajak guyon hehe"


Aneh, seakan sebuah momen yang kosong..mereka saling pandang..satu sama lain saling bertatap tanpa mengeluarkan suara.


"Hmm kangda Basu jangan menatap begitu tho" Tri Gayana tiba tiba jantungnya berdetak kencang, tatapan mata Basu seakan nembus masuk kehatinya. Ia malu dan menatap kelantai.


Basu tiba tiba memberanikan diri, ia pegang tangan kanan Tri Gayana dan berkata,


"Dinda Tri..jaga dirimu ya, apalagi nanti kalau kita maju kemedan perang, jaga dirimu..aku tidak mau kehilangan dinda"


Tri Gayanapun sama, ia tidak melepaskan pegangan Basundara bahkan ia mencengkram telapak tangan Basu.


"Kanda, aku bangga kekuatan kita diutara dipegang olehmu! Jaga dirimu dilini depan! Aku akan doakan agar kanda selalu selamat!"


Basundara mendekatkan wajahnya kemuka Tri. Ia berikan sebuah kecupan mesra dibibir Tri Gayana. Kedua mata Tri Gayana tertutup, dadanya berdebar..inikah yang namanya cinta pertama?


Basu baru sadar akan kesalahnnya, menarik wajahnya dan jongkok sambil memberikan hormat dengan mengatubkan kedua tangannya.

__ADS_1


Tri Gayana melihat itu bukannya marah malah tertawa dan berbisik ditelinga Basundara.


"Tidak usah demikian kepadaku..ayo berdiri!"


Basupun berdiri gemetar ia tau kesalahan besar telah ia lakukan. Namun, tiba tiba Tri mendekat dan kali ini ia yang memberikan ciuman dibibir Basu.


"Ini hukumannya bagi panglima yang nakal" bisiknya.


Keduanya tersenyum dan Tri Gayana tertunduk tersenyum malu.


"Monggo dinda Tri..kita periksa prajurit tempur kita dan laporkan kepada Sri Raja, setelah itu kita bertolak"


"Baik kanda Basu" jawab Tri sambil meletakkan satu tangannya didada Basu. Iapun melangkah keluar ruangan tamu diikuti Basundara.


...¤☆☆☆¤...


Tri Gayana berdiri diatas sebuah podium ditengah alun alun, matanya mengelilingi lapangan yang kini dipenuhi para prajurit.


"Prajurit!! persiapkan kelompoknya masing masing!" teriaknya.


Semua kelompok prajurit bergegas masuk kedalam kelompoknya masing masing.


Tri mengambil kudanya yang berwarna putih dan mengangkat keris Madu Kusmo keatas dan berteriak: "Sekali maju pantang mundur!"


"Sekali maju pantang mundur!" Gemuruh terikan para prajurit membuat siapapun yang mendengar akan ketakutan. Begitu membahana!


Kini semua prajurit dibawah komando Tri Gayana berjalan keluar dari alun alun menuju kedepan istana kerajaan menunggu kedatangan pasukan Basundara.


Semua pasukan Basundara telah siap, kini Basundara sudah berada diatas Bima Sakti kuda kesayangan Basundara. Ia mengangkat tinggi tongkat saktinya dan berteriak:


"Kami pasukan Naga putih siap berjuang Huhaa!!"


Gelegar teriakan 15.000 pasukan Basundara membahana keras. Pasukanpun berjalan learah depan istana Sri Raja.


Tri Gayana menengok mendengar derap kaki pasukan Basundara, ia berdiri dari duduknya dan bangga melihat Basundara memimpin pasukannya memasuki pekarangan depan istana.


Rakyat berjejalan ingin melihat keberangkatan 2 pasukan besar, bahkan para saudagar yang datang dari luar negeripun ikut melihat, berdecak kagum melihat keperkasaan tentara WalungGeni.


Tidak lama Sri Raja keluar dari dalam istana Rah Munjung dan berdiri dipodium yang tinggi.


"Putriku! Tri Gayana Sukmadewi dan Basundara penguasa Wuku Emas dan Kemulyan Inggil yang kini menjadi panglima wilayah utara! aku kirimkan doa agar kalian selamat dalam perjalanan..Hancurkan musuh dimanapun mereka ada! selamatkan negerimu yang tercinta!"


"Pasukan siap!!" teriak Basundara.

__ADS_1


"Pasukan siap!!" teriak Tri Gayana.


Perlahan Basundara memberikqn hormat kepada Sri Raja dan ia mulai mengentakan sedikit kakinya keperut Bima Sakti, kuda itu memutar arah dan berjalan diiringi 15.000 pasukan berani matinya.


Tidak lama setelah seluruh pasukan Basu telah keluar wilayah WalungGeni giliran pasukan Tri Gayana berjalan.



Semua bendera dan lambang kerajaan WalungGeni telah berdiri diantara gemuruh langkah pasukan berkuda Basundara. Pasukan berkuda demikian semangatnya berjalan keluar dari wilayah istana Rah Munjung. Debu berterbangan dan semangat berkobar!


...¤☆☆☆¤...


Iring iringan besar dari 2 pasukan besar WalungGeni membuat siapapun yang melihat oasti menyingkir, kelompok maling dan bandit yang berkeliaran didalam hutan harus mikir 2 kali agar supaya tidak bertemu dengan pasukan besar ini.


Mereka tidak sadar bahwa 3 naga sedang terbang tinggi dilangit diatas awan. Hanya Basu saja yang tau mereka ada diatas karena mbah Janitra mengirim bisikan ketelinganya.


"Kami terbang diatas awan mengikuti pasukanmu ngger"


Basu menengok keatas awan..ia tidak bisa melihat, pasti mereka terbang sangat tinggi dilangit. Hatinya tentram mengetahui 3 naga berjuang bersamanya.


Basu berteriak kepada wakilnya, ki Kuda borsa.


"Ki Kuda Borsa! saya akan kebelakang mengunjungi permaisuri puteri..silahkan pimpin pasukan!!" Ia langsung memutar Bima Sakti dan memacunya kearah belakang.


Setiap kali melewati kepala grup Basu selalu berteriak, "Lanjutkan!"


Bima Sakti berlari kencang bak anak panah.


Tri Gayana kaget ketika melihat Basu dan kuda hitamnya mendekati dirinya.


Bima Sakti memutar tubuhnya dan berjalan disamping kuda Tri Gayana.


"Ternyata ada kesatria yang kangen" ucap Tri sambil tersenyum.


"Masih semangat dinda?"


"Loh..baru saja melewati 2 desa, apalagi aku tau pemimpin digrup paling depan adalah seorang kesatria idamanku" Tri melirik genit kearah Basu.


"Dinda, aku tadi dibisiki mbah Janitra..kalau kau liat keatas jauh diatas langit mereka bertiga terbang mengawasi kita yang dibawah"


"Oh ya?" Tri Gayana melihat keatas namun sia sia, sama sekali tak terlihat.


"Hehe..aku juga tidak bisa melihat pasti jauh diatas sana..sukurlah, aku bangga mereka ikut dengan kita"

__ADS_1


...¤☆☆☆☆☆¤...


__ADS_2