
Mbah Janitra, istri dan Ni Umbul Sari yang terbang diangkasa melihat kebawah dan bangga dengan banyaknya pasukan yang berjalan.
"Ni..kita turun yuk keatas gunung sana istirahat sebentar sekalian ceritakan padaku tentang keadaan diutara"
"Monggo kangmas"
Ketiga naga itu meliukkan tubuh dan terbang kearah sebuah gunung, mereka turun dibebatuan.
"Ni..sebetulnya bagaimana keadaan mereka disana?" tanya mbah Janitra.
"Aku waktu terbang disana sempat turun menyambangi mbah Kori Ambyang dan ternyata datang juga anaknya, Ni Krompiyang"
"Lalu, gimana..apakah mereka ingin ikut mengacaukan keadaan dan bertempur dengan kita, sebab kalau mau ikut campur..kali ini akan kumusnahkan agar kehidupan manusia bisa berjalan dengan lancar" keihatannya ucapan mbah Janitra mengandung kegeraman.
"Nah itulah, sebetulnya mbah Kori sudah malas untuk bertempur, ia masih ingat bagaimana kekuatan perang njenengan dan mbak Umbul terlalu kuat apalagi sekarang aku ikut membantu"
"Tapi, anaknya Ni Krompiyang baru saja turun dari pertapaannya dan dalam tapanya ia mengaku sudah menjalin kekuatan dengan kaum iblis"
"Kekuatan setan?" mbok Charvi menyelak.
"Betul! Ni Krompiyang dengan sombongnya mengatakan, jangan berani berani menyerang kerajaan di utara..sebab dia akan membawa 5 siluman setan yang akan membantu!"
"Hehehe..dia boleh membawa beribu siluman setan, aku tidak takut! ingat perjumpaanku dengan Ki lurah Bradanaya..beliau bilang nanti ada saatnya kalian akan tempur..aku akan hadir disana!"
"Kita tetap harus berhati hati..setan adalah setan, jangan sampai kita lengah.."
...¤☆☆☆¤...
Perjalanan 2 pasukan tempur masih terus dilakukan satu hari penuh, tetapi ketika hari sudah mulai agak gelap Basu memerintahkan wakilnya untuk mengabarkan kesemua kepala grup untuk berhenti dan istirahat dekat danau yang jaraknya tinggal beberapa meter. Sementara Basu memacu kudanya lagi untuk mengabarkan kepada Tri Gayana.
"Dinda Tri! kita akan berhenti didanau Sengon untuk istirahat, silahkan pasukan memasang tenda dan beristirahat..besok pagi kita berangkat lagi" ucap Basundara.
"Baik kanda, saya setuju"
Selesai mewartakan kepada Tri Gayana, ia memacu Bima Sakti kearah depan lagi. Ia melihat dari kejauhan wakilnya Ki Kuda Borsa sedang mencari tempat yang bagus untuk membuat tenda.
"Ki!.saya akan bangun tenda pas dekat air mancur itu..dan prajurit silahkan bertenda sekeliling saya"
"Njjih! siap Raden!"
Basundara turun dari kudanya dan membiarkan Bima Sakti berjalan jalan sendirian mencari rumput. Basu mengerti ia harus memberikan kebebasan bagi diri kudanya, besok ia harus berjalan jauh lagi.
__ADS_1
Semua prajurit sudah mulai memasang tenda dan beberapa mulai menyiapkan masakan. Basu berjalan menyusuri sekitar daerah situ, hingga ahirnya berada disalah satu bukit. Ia merwbahkan dirinya dirumout dan memandang kelangit memperhatikan bintang yang mulai bermunculan.
Tiba tiba dari arah ujung utara ia melihat gemerlap cahaya berupa titik titik yang bergerak dan menari.
Basu duduk dan memperhatikan dengan seksama pergerakan cahaya nun jauh disana.
Tidak lama ia mendengar suara rumput diinjak dan ketika ia menoleh, ternyata Tri Gayana sedang menghampiri dirinya.
"Kangmas..ko sendirian, capekah?" kata Tri Gayana dan ikut duduk sembari memperhatikan beribu tentara yang sibuk dibawah sana.
"Hai dinda, coba perhatikan disana..ya disana diujung lembah sana..apa yang kau lihat?" kata Basu sambil menunjuk kedepan.
"Ooh iya apakah itu? ko seperti terbang menari nari"
"Ini tanda tidak baik..sebentar aku panggil mbah Janitra" Basu langsung duduk bersila dan membacakan mantra. Tidak lama sosok naga putih besar meliukkan tubuhnya terbang diatas.
"Njjih ngger ada apa?"
"Mbah..coba tolong periksa didepan sana..ko banyak cahaya lampu..apakah itu tentara lampor?"
Wajah naga itu menengok kearah tempat yang Basu tunjuk. " Lho..ko mereka muncul, setahuku semua Jin, arwah dan siluman sudah kami perintahkan untuk jangan ganggu..sebaiknya aku panggil istri dan Ni Umbul..jangan jangan mereka adalah utusan Ni Krompiyang"
Tidak berapa lama muncul Mbok Charvi dan Ni Umbul Sari. Ke 3 naga besar itu langsung terbang menuju kearah itu.
"Dinda Tri saya mau ke Ki Kuda Borsa memberitakan perintah Ni Umbul, diajeng tunggu sini dan perhatikan terus njjih"
Tri Gayana mengangguk, tapi ia sempat menarik tubuh Basu dan mendaratkan ciuman dipipi laki laki ganteng itu.
"Hihi..udah sana kebawah!" ucap Tri nakal.
"Awas kamu dinda, ta balas nanti!" teriaknya sambil berlari kebawah
...¤☆☆☆¤...
"Ki..sesuatu sedang terjadi dibalik lembah sana. Siapkan 100 prajurit untuk berjaga sekeliling pasukan kita dan juga setelah itu pergi ke kepala pasukan permaisuri putri kirimkan pesan yang sama.."
"Njjih ndoro siap dilaksanakan"
"Satu lagi! Jangan sampe ada gerombolan wanita yang boleh masuk lingkaran pasukan kita! sebagaimanapun cantiknya tidak boleh masuk dan menari dengan mereka, kalo sampe masuk langsung dibunuh!"
"Maaf ndoro raden, ada apa ya?" tanya Ki Kuda kebingungan.
__ADS_1
"Mereka adalah setan menyamar manusia, kalian akan mati dimakan mereka!"
"Ooh njjih! waduh terima kasih Raden! saya sampaikan sekarang!" Kepala pasukan itu langsung naik kekudanya.
Basu memutar badannya dan berlari lagi keatas bukit.
"Kanda cepat! liat apa yang terjadi disana!"
Basu ikut merebahkan tubuhnya disamping Tri Gayana, ia kaget melihat apa yang terjadi.
...¤☆☆☆¤...
Diatas awan terlihat 2 naga besar menyemburkan api dari mulut mereka kepada titik titik cahaya dibawah hutan sana. Seekor naga yang keliatannya adalah Ni Umbul terbang menukik dan memakan puluhan cahaya dan terbang lagi keatas awan.
"Apa itu kangmas?" tanya Tri Gayana.
"Mungkin itu golongan lampor atau setan gentayangan aku juga ga tau..tapi kalo para simbah mengamuk disana berarti tidak bagus!"
"Oalah kangmas..untung terlihat darisini" ucap Tri Gayana sambil memutar tubuhnya melihat kelangit.
"Dinda.." suara Basu pelan mendekat kewajah Tri Gayana. Pelan pelan Basu bangun dan memeluk tubuh Tri Gayana.
Dengan sentuhan bibirnya, Basu mengecup bibir Tri yang indah, ternyata Tri Gayana membalas dengan sebuah tarikan keras, tubuh Basu terjerembab jatuh memeluk tubuh Tri. Mereka berciuman lama, bibir mereka bersatu saling *******, lidah Basu liar mencari lidah Tri Gayana. Tangan kanan Basu naik kedada Tri dan dengan sekali raup daging kenyal didada itu digenggamnya.
"Aaah kangmas..aku menunggumu sudah lama"
Mereka berguling guling ditanah bukit itu. Tubuh mereka saling tindih menindih. Tapi, kesadaran Basu masih terjaga..dengan nafas tersengal sengal ia melepaskan ciuman dibibir Tri Gayana.
"Dinda..sebaiknya jangan kita lakukan ditempat terbuka..ada saatnya nanti kita akan berbahagia..tapi mohon jangan sekarang"
"Aduuuh kangmas.." suara Tri penuh penyesalan, tapi iapun sadar, siapapun bisa melihat mereka bergumul dibukit ini. Tri Gayana duduk membetulkan baju dalam dan menutup kancing bajunya yang sudah terlepas. Ia membereskan rambutnya yang acak acakan.
Basu tersenyum malu, apalagi ketika Tri memukul perutnya.
"Aduuh jangan keras keras to dik..sakit lagi"
"Kangmas kamu sayang sama aku?"
Basu mendekatkan wajahnya ke wajah Tri Gayana seraya berkata,
"Aku sudah jatuh cinta dan sayang padamu dinda Tri Gayana"
__ADS_1
"Terima kasih, itu saja yang ingin aku dengar darimu"
...¤☆☆☆☆☆¤...