
Permaisuri putri tak bisa menggerakkan tubuhnya, ia kaku..ternyata jalan darah dan urat sarafnya dimatikan atau dilumpuhkan oleh kekuatan totok yang maha dasyat.
Tri Gayana langsung memejamkan kedua matanya dan merapalkan dalam hati sebuah mantra..dalam sekejap tubuhnya lentur kembali.
Lidah Basu berdecak kagum melihat tingginya ilmu tenaga dalam Permaisuri putri. Biasanya orang tidak Akan bisa melepaskan diri dari serangan totok bangau notok kepunyaan Basu yang diajarkan Ki Dewa Selasih dulu.
"Hhh...mau main ya? baiklah" Tri Gayana duduk sila ditanah, bibirnya komat kamit. Dalam hitungan detik tubuhnya melenting keatas. Ketika itu petir menyambar.
Dhaar!!
Sri Raja tersenyum, badannya kini basah karena tiba tiba turun hujan. Ia tetap duduk dikursinya menanti apa yang akan Basu perbuat.
Basu melihat kelangit ketika petir menggelegar dan ia menatap tubuh Permaisuri putri yang berdiri tegak namun terapung diudara.
Laki laki tegap itu menghentakkan kakinya ditanah tiga kali, tangan kanan ia angkat keatas dan tangan kiri ia lekukan dan kepalkan erat erat.
"Ssseeeh Jeledeeerr!!!"
Kali ini sebuah petir membahana jauh lebih keras dari petir Tri Gayana tadi.
Basu melesat keatas seakan ingin menangkap petir yang bersautan dilangit sana. Tiba tiba tubuhnya berputar seakan sebuah baling baling! Dengan kecepatan kilat tubuh Basu melesat bagai peluru kearah Tri Gayana.
Gadis muda nan cantik itu tak berkutik, semua telah telat ia tak sanggup melakukan apa apa..sebuah kekuatan dorong mendesak dadanya. Tinggal beberapa centi meter ia akan terpental karena terjangan tubuh Basu yang menukik bagai peluru.
Tiba tiba sebuah kilat masuk diantara tubuh Basu dan wajah Tri Gayana.
"Stop! selesai sudah!!" Basu mengendalikan diri, berhenti dan berdiri pas didepan Tri Gayana.
Ternyata Sri Rajalah yang menghentikan semua ini, ia kini berdiri dan mengambang diantara putrinya Tri Gayana dan Basundara.
"Ayok semua turun! haaap!" ia terjun ketanah. Diikuti Tri Gayana dan Basundara.
Keduanya jongkok dengan satu kaki dilipat kebelakang. Basundara menundukan wajahnya dan kedua tangannya diangkat keatas.
"Mohon ampun Sri Raja, saya tidak bermaksud mencelakakan permaisuri putri, pada saatnya saya akan berhenti dan tidak menabraknya..Hatur sembah Sri Raja"
"Hmmmm" gumam Sri Raja.
Tri Gayana hanya menundukkan wajahnya ia sadar bahwa ilmunya kalah jauh dari Basundara.
"Ternyata ilmumu tinggi Basu..tadi adalah ilmu 'Putaran pelangi' Ki Dewa menciptakan ketika ia berada didalam gua 2 naga"
__ADS_1
"Lho kok tau ya?" Basu bingung.
"Bagaimana putriku..apakah anaknda Basundara bisa kita jadikan panglima?"
"Njjih romo..saya pikir bisa! saya terkesan dengan gerakan dan ilmu dalamnya"
"Baiklah!.ayok kita semua masuk keistana..keliatannya hujan akan turun dengan deras, apalagi tadi Basu memerintahkan raja petir untuk datang hehehe"
...¤☆☆☆¤...
Malam yang dingin, angin menerjang dan bersiul keras. Tapi, Dewi Upparengga masih berdiri diteras depan rumahnya. kedua matanya tertutup, ingin ia menangis tapi ia masih bisa menahannya. Hatinya gundah dan resah. Ia menutup dadanya dengan selendang tebal, ia baru sadar hanya mengenakan kain kemben. Bahunya yang tadinya terbuka ia tutup dengan selendangnya.
"Kanda, baru 7 hari kau meninggalkan tanah ini, tapi aku sangat merindukanmu..cepatlah pulang" Namun sejenak lemudian hati yang sedih dan galau sudah tidak bisa ditahan lagi..ahirnya ia sesunggukan.
"Anakku..ada apa? kenapa kau sendirian diluar?" tiba tiba Ki Randu keluar dari dalam dan menemuinya. Ia kaget melihat putri satu satunya menangis.
"Heeh..kamu teringat raden Basundara ya ?"
"Iya..iya bapak..aku kangen sekali..kapan ia akan kembali lagi?"
"Doakan saja agar ia selamat anakku sayang..Raden sudah berkata dan berjanji akan pulang, pasti ia pulang, raden Basundara adalah seorang kesatria, kesatria pantang berdusta" kata Ki Randu.
Orang tua itu merangkul putrinya. Tubuh Dewi bergetar dan ia memeluk tubuh ayahnya.
"Maafkan Dewi bapak.."
Keduanya masuk kedalam. Malam itu Dewi tetap tidak bisa tidur, ingin ia berteriak memanggil nama Basundara..
"Oh Tuhan..siapakah diriku ini? hanya seorang gadis desa yang ta kuasa menahannya..Oh Tuhan, andaikan saja hatinya tergerak..gerakanlah dia untuk kembali kepadaku.."
...¤☆☆☆¤...
Dewi terbangun agak siang hari ini, disebabkan karena tadi malam ia susah tidur. Ia bangun dan membilas tubuhnya dikamar mandi dengan air dingin, setelah beberapa siraman air dingin, lini ia merasa segar.
Setelah selesai mandi ia keluar dan melihat kearah sawah. Ditanah yang dulunya bentangan sawah kini telah dirubah oleh pak Gebuk dan para pemuda desa menjadi sebuah landasan tanah yang luas. Beberapa pemuda membangun landasan rumah dan mulai menancapkan tiang tiang tinggi yang nantinya akan menjadi rumah joglo.
Dewi melihat pak Gebuk diantara para pemuda dan melambaikan tangannya. Pak Gebuk melihat sosok Dewi yang berdiri diteras rumah langsung berjalan mendekatinya.
"Selamat pagi..coba liat! disana sudah dibangun landasan rumah dan tiang sudah ditancapkan! Ini akan menjadi sebuah rumah yang megah dan indah! Nanti Raden Basundara akan tinggal disana..hebat!"
"Njjih bapak Gebuk..akan menjadi tempat yang bersejarah" ucap Dewi.
__ADS_1
"Semua pintu dan jendelanya sedang disiapkan oleh Ki Bronto Laras, pengukir hebat dari desa sebelah..katanya, ia akan menyumbang ukiran jendela dan pintu untuk penguasa baru!"
"Waduh! terharu saya!"
"Pak, saya akan merebus ubi dan pisang..nanti kalo sudah matang saya kirimkan kesana serta air hangat supaya para pemuda semangat pak!"
"Waah..saya pesen pisang rebus nggeh..hehehe"
"Njjih..saya ta siapkan dulu"
...¤☆☆☆¤...
Setelah 2 minggu Basundara tinggal di istana, ia sudah memperkenalkan dirinya kepada para bekel atau pemimpin grup dari bala tentaranya. Bahkan setiap sore mereka berlatih perang di alun alun istana. Hubungannya dengan Tri Gayana kian hari kian dekat.
Siang itu Tri Gayana berjalan sendirian tanpa ditemani emban. Tujuannya rumah tempat Basundara tempati. Sebuah rumah sederhana pemberian Sri Raja untuk Basundara.
2 orang penjaga pintu rumah Basundara melihat permaisuri putri datang langsung berdiri tegak dan tombak ditegakkan.
"Selamat siang bapak bapak..tolong panggilkan Basundara keluar njjih"
"Kasinggihan tuan putri!" salah satu lari kerumah dan mengetuk pintu.
"Mohon maaf, permaisuri putri ada diluar! ingin bicara, mohon cepat!"
"Oh njjih..suwun pak!" Basundara langsung mengambil baju hitamnya dan memakainya. Ia berjalan kearah pintu depan.
"Salam sejahtera untuk permaisuri putri" ucap Basundara sambil membungkuk dan mengangkat kedua tangannya.
"Kanda Basu..saya ingin berbicara tentang keberangkatan kita ketapal batas lusa ini" kata permaisuri sambil berjalan dengan Basundara.
"Baik tuan puteri..monggo kita duduk dikursi dibelakang rumah saya"
Basu selalu senang apabila duduk dekat Tri Gayana. Gadis ini mempunyai bau badan yang wangi, entah ia memakai apa tapi baunya sangat semerbak.
"Tuan puteri, saya akan berjalan dengan kuda dan diringi tiga bekel saya. Dibelakang kami akan berjalan 50 penunggang kuda, semuanya kesatria pilihan negeri ini, dibelakang mereka seluruh pasukan berjalan kaki..Mohon maaf, jarak satu pintu Puteri Tri Gayana mengikuti dengan diringi 3 bekel dan semua prajurit tuan puteri"
"Loh kenapa kita tidak jalan berdampingan?"
"Sebaiknya jangan tuan puteri..biar kami didepan sebagai tameng utamanya.
"Hmmm..kau meragukan kekuatanku?"
__ADS_1
"Mohon ampun! mboten tuan puteri..ini murni untuk keselamatan juga, agar kekuatan kita berlapis dua kekuatan,tuan puteri"
...¤☆☆☆☆☆¤...