
"Baiklah..berapa lama kita berada ditapal batas?"
"Agar semua prajurit tenang sebaiknya mereka diistirahatkan disana selama 2 hari dua malam..dan kita akan kirimkan sepuluh prajurit pengirim berita dengan kapal kecil menyebrangi lautan ke kerajaan Bringin hijau untuk menyerahkan surat Sri Raja bahwa kita siap berperang"
"Lalu..bagaimana persiapan kapal perang kita?"
"Kemarin saya sudah berbicara dengan kepala kapal perang, 'Rang Hubat'. Beliau mengatakan 15 kapal besar sudah berlayar ketapal batas melalui sungai Lor. Semua kapal perang akan berlabuh 5 hari dari hari ini"
"Sukurlah..berarti setibanya kita ditapal batas..semua kapal sudah siap menanti"
"Njjih leres tuan puteri..semua akan siap"
"Bagus! persiapanmu matang, saya suka dan setuju!"
"Basu..saya mau tanya..apakah kanda mempunyai adik perempuan?" tiba tiba Tri Gayana bertanya.
"Oh..njjih tuan puteri, saya sendiri belum oernah melihat tapi, menurut Ki Dewa Selasih bapak saya..ia mengatakan bahwa saya dan adik terpisah. Jadi, saya tidak tau dimana dia sekarang"
"Oh gitu ya"
"Ada apa tuan puteri..kenapa tuan puteri menanyakan itu?"
"Tidak kanda..saya hanya ingin tau"
"Kanda, kita masih ada waktu 2 hari..bisa tidak kanda periksa apakah ilmu putaran pelangiku sudah sempurna?"
"Monggo..coba saya liat"
Dalam hitungan detik Tri Gayana berdiri dan memusatkan pikiran.. sebelah kakinya ia hentakan tiga kali dan dilangit petir langsung datang mengelegar.
Tri Gayana langsung melesat keudara dan berbalik ia memutar tubuhnya menyerupai sebuah baling baling dan menukik ketanah dengan tajam.
Basu berdiri dan melenting keudara. Ia melesat kedekat tubuh Tri Gayana dan dengan cepat menangkap tangan kanan Tri dan menariknya. Saat itu keduanya mengambang diudara. Karena daya tarik yang kuat tubuh Tri Gayana langsung tersedot kearah Basu dan laki laki itu mendekap tubuh Tri Gayana.
Selepas itu dengan mendekap tubih Tri, Basu membawanya turun ketanah dengan sangat ringan seperti kapas.
"Ooh..dewa jagad raya! kanda bisa menangkap tubuhku! hebat sekali!"
__ADS_1
Basu melepaskan dekapannya dan tersenyum.
"Suatu saat akan kuajarkan bagaimana melakukan itu tuan puteri..mohon maaf atas kelancangan saya tadi" ucap Basu sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak apa apa..aku..aku senang kau dekap begitu" kata Tri malu, ia bingung..ko bisa ya diucapkan secara frontal begitu kepada Basundara.
"Tuan puteri..nanti sore menjelang malam..saya akan memperkenalkan tuan puteri kepada dua sosok pembantuku..apabila berkenan, temui saya ditaman Rimala dibelakang sana"
"Oh ya? loh siapa mereka?"
"Nanti malam saja..tuan puteri akan melihat mereka dan berkenalan"
...¤☆☆☆¤...
Langit dikota WalungGeni sudah mulai gelap, tirai malam mulai menutupi matahari, kini udara menjadi sejuk dengan angin yang sepoi sepoi.
Basu mengikatkan kepalanya dengan kain hitam, ia memakai baju dan celana hitam. Ia mengeluarkan keris dari tas kulitnya dan menyelipkan dipinggang belakang. Ia mendekat ketembok dan mengangkat tongkat saktinya. Pelan pelan ia buka jendela rumah belakangnya.
Dengan sekali loncat ia telah turun diltanah, diluar rumahnya. Ia lirik kekiri dan kekanan. Ia ringa kan tubuhnya dan dengan sekali hentak ia melenting keatas pohon kelapa.
Dari pohon kelapa ia meloncat lagi keatas pohon rambutan yang buahnya mulai membesar. Satu pohon kepohon yang lain ia loncat. Tidak satupun orang melihat pergerakannya.
Tidak lama kemudian lamunannya buyar ketika ia melihat sosok Tri Gayana berjalan pelan, sesekali ia menengok kearah belakang.
Basu langsung loncat ketanah dengan ringan. Ia turun ditanah pas tidak jauh dari berdirinya Tri Gayana.
"Loh..sudah lama menunggu aku?"
"tidak permaisuri puteri, apakah tidak ada yang mengikuti? karena ini hanya akan kuperlihatkan khusus untuk permaisuri putri saja"
"Tidak kanda Basu, aku juga keluar lewat jendela hihi..mereka pikir aku sudah tidur" kata Tri Gayana sambil tersenyum.
"Silahkan tuan puteri, kita akan sedikit masuk ketaman menjauh dari orang..disanalah akan kuperlihatkan"
Mereka berjalan dan ahirnya menemukan tempat yang pohonnya tinggi.
"Tuan puteri mohon jangan kaget, kalaupun kaget mendekat kediri hamba tidak apa apa"
__ADS_1
Basundara kemudian mengleuarkan kerusnya dan tongkat ia sejajarkan ditanah. Ia bersila dan membacakan mantra.
Dalam sekejap muncul perlahan lahan sebuah pandangan menakjubkan, 2 naga yang sangat besar muncul satu berwarna putih dan satu berwarna hijau. Nafas mereka terasa memanasi seluruh tempat.
Tri Gayana terpana, ia kaget dengan kemunculan 2 naga besar dihadapan mereka. Ia sering mendengarkan dongeng dari ayahnya tentang adanya naga didunia ini, tapi secara utuh dia belom pernah menyaksikan. Sedikit tegang Tri Gayana beringsut sedikit kedekat Basu. Satu tangannya memegangi pundak Basundara.
Basu menyatukan dua telapak tangannya untuk memberikan hormat, Tri Gayana secara reflek juga memberikan hormat.
"Salam rahayu salam sejahtera...Maafkan saya sudah menggangu istirahatnya..saya ingin perkenalkan permaisuri putri dari Sri Raja penguasa negeri ini" kata Basu sambil menunjuk kearah Tri Gayana dengan jari jempolnya.
"Njjih..kami sudah tau ngger. Salam sejahtera untuk permaisuri putri Tri Gayana"
"Malam ini akan kami berikan suatu kekuatan bagi kalian berdua agar kalian menjadi sakti mandra guna..karena kalian sebenarnya adalah yang datang dari satu keturunan..bersiaplah!"
Loh?? satu keturunan..ko bisa demikian?? tanya Basu dalam hatinya. Tapi ia melihat kedua naga sudah bersiap diujung gerbang batu sana.
"Permaisuri putri ambil sikap duduk sila kita akan menerima sesuatu! pusatkan pikiran!"
Tri Gayana langsung duduk bersila disamping Basundara. Kedua telapak tangan dikatubkan didada sekaligus mengosongkan pikiran.
"Ssseeees Dhrreeess!!"
Dari jari jari panjang kedua naga muncuk sebuah putaran energi berbentuk bola, putih menyilaukan. Gumpalan cahaya bulat itu lepas dari jari jari 2 naga dan membelah menjadi 2. Satu melesat kearah dada Basu dan satu lagi kearah dada Tri Gayana.
Cahaya itu masuk kedalam rongga dada, yang dirasakan mereka berdua adalah adanya aliran keras menjalar keseluruh sendi tubuhnya.
"Aaarrh!" Tri Gayana merasa kesakitan. Basu cepat menggerakkan tangan kiri dan menekan dada Tri Gayana. Ia mencoba agar aliran tenaga dahsyat itu tidak terlalu mengganggu sendi syaraf tubuh Tri Gayana.
"Tahan tuan puteri! aku disini membantumu!" teriak Basu.
Ahirnya semua cahaya berhasil masuk. Namun Tri Gayana terjatuh lemas ditanah. Basundara mendekat dan membacakan mantra dan doa iapun menempelkan telapak tangan kanan didada sang puteri.
Pelan pelan kedua mata Tri Gayana terbuka, ia melirik melihat Basu .asih dalam posisi duduk sila dan masih memejamkan matanya..telapak tangan priya itu masih didadanya. Namun semua yang sakit sudah hilang dari tubuhnya. Rasanya semua menjadi enteng.
Melihat puteri Tri Gayana kembali siuman ia mengangkat tangannya.
"Terima kasih kanda Basundara" lalu iapun bangkit dan duduk bersila kembali. Kini keduanya saling berhadapan.
__ADS_1
...¤☆☆☆☆☆¤...