PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Ratu Nuni di Serang Penyakit Tiba-tiba


__ADS_3

Ketika Bintang hendak berpamitan, Ratu tak mengizinkan nya keluar dari Istana sebelum berkeliling lebih dahulu ke seluruh Istana. Ratu Langit itu ingin mengenalkan seisi Istananya pada Bintang sebelum sang petualang itu berlalu.


Dengan lembut Ratu Nuni meminta.


"Saya mohon jangan dulu pergi meninggalkan Istana ku Bintang. Bantuan mu hari ini pada ku tak setara dengan seteguk air sejuk ini. Biarkan lah aku mengenalkan seisi Istana ku padamu agar kau tau seperti apa Istana yang kecil ini." Cegah Ratu Nuni pada Bintang yang memohon pamit sambil menjelaskan niat baiknya.


Bintang tersenyum merasa terhormat oleh jamuan Ratu Nuni. Dengan lirih Bintang menjawab.


"Baik Ratu."


Usai Ratu mendengar kesediaan Bintang, Ratu Nuni segera menyuruh Pelangi untuk membawa Bintang keluar ruangan dan disusul dirinya sendiri.


Ketika beranjak keluar dari ruangan kubus, ternyata di luar ruanganya puluhan para putri langit berjejer memanjang menjadi pagar ayu sampai ke Singgasana Ratu Nuni. Para putri itu adalah perempuan tercantik yang dipilihkan oleh Ratu untuk menjadi pagar ayunya saat Ratu hendak membawa Bintang jalan-jalan seputaran Istana.


Langkah Pelangi menuntun langkah sahabatnya Bintang. Yang sedang melangkah santai diiringi langkah kaki seorang Ratu Langit.


Bintang yang merasa dispesialkan oleh Ratu Nuni, merasa bahagia sangat bahagia sambil memandang-mandang sekitarnya.


Sampai di Singgahsananya, Ratu Nuni singgah sejenak menyampaikan beberapa potong kalimat pada seluruh petinggi kerajaan Langit, usai itu, Ratu membubarkan pertemuannya dan kembali mengajak Bintang keliling Istana.


Di bawanya Bintang ke tempat para pasukan Langit yang sedang berlatih tanding. Ribuan pasukan Langit terlihat beradu kekuatan masing-masing lawan. Pasukan itu berlatih dengan lincahnya membuat serangan rekayasa seolah-olah serangan yang dibuatnya adalah asli.


Bintang menatap kagum pada pasukan langit, dan tak sesekali ia bergumam. "Hebat" melihat ketangkasan pasukan Ratu Nuni. Perlahan-lahan Ratu melangkah menyiri para pasukan yang berlatih, tiba diujungngnya. Ratusan juga prajurit telah mencoba di latih oleh pelatihnya untuk menggunakan termometer sebagai peralatan tempurnya.


Termometer itu bukan termometer biasa yang dipakai oleh para tukang bangunan yang biasa mengukur bangunan agar serasi. Akan tetapi, termometer itu adalah termometer tembakan yang digunakan oleh pasukan Langit untuk melumpuhkan target. Termometer itu bukan sekedar melumpuhkan saja namun cukup mematikan, satu kali tembakan maka target bisa lumpuh atau mati langsung, bergantung pada ketahanan fisik nya.

__ADS_1


Senjata itu adalah peralatan tempur milik langit sendiri yang sudah di pruduksi dua tahun terakhir. Para negeri di atas angkasa belum mengetahui soal pembuatan senjata termometer itu. Dan memang Ratu Nuni merahasiakan pembuatan senjata tersebut agar dapat menjadi pertahanan terakhir buat kerajaanyaan sendiri. Para klan di Angkasa hanya mengira bahwa kerajaan Langit tak memunyai alat tempur seperti para klan lainya yang memiliki alat perang serba canggih.


Padahal diam-diam Ratu Nuni telah merancang suatu skenario, menyuruh sebagian orang pintarnya untuk membuat peralatan tempur sebagai pelindung negerinya. Pelindung Istananya saat terjadi penyerangan nantinya.


Bintang takjub akan kecanggihan termometer itu. Sambil berjalan ia berkata lirih pada Ratu Nuni.


"Sepertinya senjata ini dapat menaklukkan siapa saja, kekuatan senjata ini dapat menjadi pegangan bagi keselamatan para penduduk langit." Ujar Bintang pada Ratu mengunggulkan peralatan tempurnya.


"Senjata termometer ini terhitung tak seberapa hebat di banding kan dengan peralatan milik klan lain Bintang."Jawab Ratu Langit seadanya sambil melangkah ke tempat berikutnya.


"Bangunan tinggi ini adalah gedung Iqro, tempat para pasukan belajar mulai belajar dari taktik bertahan hingga menyerang sampai belajar dengan ilmu umumya seperti ilmu perhitungan, ilmu bahasa antar negara dan ilmu-limu lainya."


"Oh."


"Pejamkan mata satu kali lalu sebut lantai 19 Bintang." Sapa Pelangi mengajari sahabatnya Bintang.


Seketika mereka bertiga berada di lantai 19 saat menyebutnya. Bintang terpelongo dengan kemajuan langit dengan segala keunggulannya, beda dengan Bumi yang ditempatinya masih sangat jauh tertinggal. Di mana penduduk-penduduknya masih serba tradisional.


Di Lantai 19, Ratu mulai lagi mengenalkan peralatan canggih lainya seperti cahaya sensor, alat detektor dan sinar laser yang dapat mematahkan serangan antara klan.


Tak sesekali Bintang memandang takjub pada kelebihan-kelebihan bangunan Iqro tersebut.


Dua puluh menit kemudian, sambil menjelaskan rincian-rician bangunan Iqro itu dan seluruh fungsinya. Tiba-tiba Ratu merasa pening kepala lambat laun pening itu membuat tubuhnya bergetar hebat.


Bintang dan Pelangi yang berada disekitarnya terkejut menangkap reaksi Ratu Nuni yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


"Ratu kenapa? Ratu.... Ratu.... Ratu.... Ratu.... Ratu kenapa?" Tanya Pelangi tergesa-gesa khawatir terjadi sesuatu pada ratunya.


Bintang mendekati sang Ratu, memegang telapak tanganya mencoba menanangkanya dengan ilmu PENENANG JIWA, di perhatikanya gerak-gerik sang Ratu mulai Bintang fokus melakukan pengobatan kepada Ratu Nuni.


Satu jam berlangsung pengobatan tak mendapat perubahan sama sekali, sepertinya Ratu tidak terkena apa-apa sebab bila terkena serangan penyakit maka Bintang akan mampu menyembuhkannya dalam sekejap saja. Ini telah satu jam berlalu belum juga sembuh-sembuh. Pelangi Bingung harus bagaimana, sedangkan Bintang mencoba menafsirkan gumpalan-gumpalan air keringat yang jatuh di wajah Ratu Nuni.


Sebelum Bintang melakukan penyembuhan lebih jauh di bawanya terlebih dahulu keruangan Ratu sendiri. Di bantu dengan orang-orang Istana.


Lantaran gigilan tubuhbya beberapa pengawalnya ikut berkeringatan memegang Ratu Nuni yang sedang bergetar hebat.


"Lepaskan tanganya!" Perintah Bintang pada orang-orang Istana usai membaringkan nya di atas kasur empuknya.


Seketika orang-orang itu melepaskan pegangannya, lantas Bintang maju mendekati Sang Ratu yang sementara bergetar-getar seluruh tubuhnya.


Bintang perlahan-lahan menarik nafasnya mencoba konsentrasi penuh dengan pikiran tenangnya. Kembali di sentuhnya telapak tangan Ratu dan leher sebelah kanannya. Dipusatkanya terlebih dahulu konsentrasi nya untuk membaca saraf-saraf dalam tubuh Ratu, dia tak mendapatkan masalah di sana, di pusatkanya lagi ke jaringan jantung dan otak Ratu, diperiksanya detail lebih detail lagi makin lama Ia konsentrasi maka makin detail penglihatannya pada seluruh jaringan jantung dan otak Ratu.


Tiga puluh menit berjalan tak juga mendapatkan sebuah masalah di sana, otak dan jaringan jantungnya tengah baik-baik saja, kemudian langkah terakhir Bintang mencoba memeriksa aliran darah Ratu sebelum Ia melepaskan pengobatanya.


Konsentrasi sepenuhnya dipusatkan pada aliran darah Ratu, beberapa menit saja dalam pemeriksaanya akhirnya Bintang berhasil menemukan sebuah masalah pada aliran darah Ratu.


Usai melihatnya dengan jelas ada masalah pada aliran-aliran darah Ratu yaitu darah di bagian kepalanya telah membeku dan lama-lama membentuk menjadi darah mati, dari situ maka Bintang segera melakukan penyembuhan.


Bintang memegang ujung telunjuk jari tangan Sang Ratu dan mulai mengirimkan pengobatannya. Pertama-tama darah yang membeku itu dicairkanya lebih dulu dengan cahaya hangat melalui jari-jari tangan Sang Ratu, usai bekuan- bekuan itu mencair maka ia kembali fokus sepenuhnya untuk mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah yang sudah mati di kepalanya melalui air keringat nya.


Tiga puluh menit berlangsung pengobatan akhirnya Ratu Nuni kembali pulih seperti sediakala tidak lagi kejang-kejang yang menegangkan orang sekitarnya. Ratu Nuni sembuh seketika oleh penyembuhan yang diberikan oleh Bintang.

__ADS_1


__ADS_2