
Raja yang tak ada dilokasi segera muncul pula menyaksikan keajaiban tersebut. Terkejut raja melihat anaknya begitu juga Incen kaget bukan kepalan dengan ayahnya. Ternyata raja itu adalah ayahnya sendiri yang membuat sayembara tersebut.
Dan memang sudah diduga-duganya sejak awal pasti ayahnya yang membuat sayembara itu. Namun ia tak begitu yakin kalau itu adalah ide dari Kerajaan ayahnya, dulu pernah di serang dan ayahnya menghilang.
Apalagi ayahnya tidak menampakkan diri dalam pertandingan itu hanya sesama panitia saja yang terlihat.
Incen berhambur memeluk ayahnya. Begitupun sebaliknya, mereka saling pelukan sedang Bintang berdiri tegak di atas ring dengan wajah tenangnya.
Belum usai pelukan sang raja itu kepada anaknya, sebuah suara guntur mendadak terdengar dari atas langit. Suara itu bagaikan kilat yang seakan-akan menelan permukaan bumi.
Semua orang menutup telinga mendengarnya. Benar-benar bising digendang telinga. Bahkan sebagian para ibu-ibu berlarian karena panik.
Suara itu pelan-pelan merambat dan mendekati perkampungan warga. Para kesatria-kesatria yang tangguh mulai menyerang sumber suara. Suara itu tak lain adalah sebuah kadal besar berwarna hitam.
Kadal itu mengamuk sejadi-jadinya ke tengah perkampungan warga. Hendak bertujuan merampas tuan putri. Tapi dihadang oleh warga dan para kesatria tangguh.
Warga bersama para tokoh-tokoh kesatria ketika saling serang dan berusaha mencegah serangan kadal, mereka terhambur, terpelanting ke mana-mana.
Kadal itu memiliki kekuatan yang sangat besar, salah satu kekuatannya dapat menyumburkan sebuah lem beracun.
Kadal itu ketika kalah dalam pertarungan maka ia akan menyembulkan racun itu ke sembarang tempat agar ia bebas kembali saat terperangkap.
Orang-orang yang terkena percikan racun akan mati mengenaskan bagi yang memiliki tenaga dalam maka ia akan dapat menambahkan daya tubuhnya untuk bertahan.
Raja itu bertanya kepada salah satu penasehatnya ketika sedang berkecamuk perlawanan.
"Kenapa tiba-tiba kadal menyerang kita? Selama ini kampung ini adam-adam saja. Tentram, damai, tak ada makhluk semacam ini. Perkampungan ini adalah kampung yang damai yang semua orang tak mau berbuat onar di tempat ini. Tapi ini kenapa bisa seekor kadal besar tiba-tiba menyerang buas kepada kita semua. Ada apa ya?"
"Sebenarnya ini tuan raja bukan makhluk jadi-jadian atau makhluk suruhan manusia. Ini murni binatang buas tuan. Binatang itu telah ribuan tahun bersembunyi di balik gunung. Saat melihat ada cahaya terang dan cahaya itu adalah berasal dari tuan putri sendiri maka ia memberontak sekerasnya hendak berusaha merampas tuan putri di tangan raja."
"Bukankah tuan raja tahu sendiri bahwa ada sebuah maklumat yang terbit pada zaman kerajaan kera. Melarang keras membuat api atau sinar apapun itu di sini takutnya itu dikira putri Namun maklumat itu dianggap sebagai legenda saja. Bahkan dinggap dongeng dan pengantar tidur buat anak-anak. Padahal itu adalah sebuah maklumat yang harus kita jaga turun temurun demi kebaikan tuan putri sendiri."
"Dan maklumat itu kita anggap sepele saja."Lanjut penasehat.
"Betul juga apa katamu. Warga telah mengabaikannya bahkan mengganggapnya sebagai dongeng saja."Lirih raja.
__ADS_1
"Sekarang kita harus perlu siasat yang bisa mengatasi masalah ini." Gumam penasehatpenasehat segera.
Tiga jam bertarung sebagian besar para pendekar berjatuhan oleh racun yang disemprotkan oleh seekor kadal besar tersebut. Kebanyakan warga yang tewas mengenaskan oleh amukannya.
Bintang tak juga bergerak. Masih melihat keadaan. Walau dilihatnya tak ada kemungkinan menang dalam perlawanan yang dilakukan oleh para pendekar dan para warga tetap Ia tidak bergerak. Masih ia menunggu kesempatan baik.
Selain menunggu kesempatan ia juga waspada terhadap serangannya kepada Incen. Incen menjadi pusat perhatianya saat ini. Dijagannya agar tak terlukai oleh kadal itu.
Dikenalinya sosok makhluk menyeramkan itu akan berusaha menyerang Incen tapi tetap tak kesampaian oleh para pendekar yang bersatu menyerangnya.
Para Pendekar juga berulang kali mengalahkan binatang itu tapi tetap selalu saja hidup kembali. Tiap kali dikalahkan kadal tersebut maka berubah bentuk dan hidup kembali. Begitulah seterusnya.
Tubuh kadal itu juga seperti sifat air kalau dipotong akan bersatu kembali. Itulah sebabnya menyusahkan para pendekar untuk mengalahkanya.
"Lapor tuan raja para pendekar meminta kita untuk pindah tempat segera sebelum semuanya terlambat!"Pinta salah seorang prajurit kerajaan dengan nafas terengah-engah.
"Apa kalian tidak bisa mengatasinya?"Tanya raja.
"Para pendekar bersama warga telah kesulitan melawanya, binatang itu tuan raja cukup kuat menyerang. Banyak korban yang sudah berjatuhan. Para pendekar meminta kepada raja agar segera meninggalkan desa ini. Mereka meminta untuk segera kembalikan ke kerajaan. Itu lebih aman."Terang pelapor.
"Bagaimana pendapatmu?"Tanya raja kepada penasehatnya.
"O, baiklah."
Belum pupus ucapanya, kadal itu berubah wujud menjadi lebih besar. Mengambang badanya hingga tiga kali lipat besarnya dari pada sebelumnya.
Kadal menyapu seluruh warga dan para pendekar yang berusaha melawannya. Marah besar kadal itu sampai-sampai semua perlawanan para prajurit dan para pendekar kerajaan tak ada apa-apa nya.
Yang tadinya ekornya tidak berbahaya sekarang ekornya menjadi satu-satunya berbahaya. Mengipas ke mana-mana, siapa yang mencoba menghalanginya merebut putri Incen maka kadal itu akan membabi buta menyerangnya.
Dari serangan ganas Kadal itu membuat Bintang serempak menyelamatkan Incen agar tak terkena sambaran ekor Sang Kadal.
"Awasss!" Teriak penasehat kepada raja tapi terlambat. Lebih dulu ekor Kadal menyapu seluruhnya.
Raja tergeletak bersama para pendekar. Untungnya saja ekornya tidak beracun. Jadi tak berefek buruk bagi Sang Raja.
__ADS_1
Ketika kedua kalinya Kadal itu hendak mencoba mengipas lagi dengan ekornya maka Bintang dengan sigap mengambil langkah untuk menghentikannya.
Bintang mengambil potongan ranting kayu lalu melemparnya dengan cepat. Potongan itu melesat cepat hingga tak sempat dihindari oleh kepala kadal.
Kadal itu terjatuh. Tersungkur di depan para pendekar. Prajurit dan para pendekar yang melihat kejadian itu melotot. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kadal yang berjam-jam di kerumuninnya sekarang rebah. Tak bergerak-gerak lagi. Orang-orang berlomba mendekatinya ingin memastikannya lebih dekat.
Incen yang ingin ikut menyaksikannya lebih dekat dilarang oleh Bintang. Bintang mengetahui bahwa Kadal itu tak mati seperti yang di duga oleh orang kebanyakan. Kadal itu hanya berpura-pura saja. Ketika Incen mendekatinya maka akan mudah baginya menangkapnya.
"Kenapa tuan?" Gumam Incen.
"Ikuti perintahku. Jangn mendekatinya jika mau selamat."Lirih Bintang.
"Makhluk itu sudah tak bernyawa lagi tuan."Lanjut Incen.
"Tidak, dia hanya berpura-pura saja. Makhluk itu pintar mengelabuhi."Ujar Bintang.
Belum sempat Bintang berbicara, ucapanya pun terpotong oleh gerak manusia yang terhambur oleh amukan kadal itu.
Kadal itu berhasil menghamburkan orang-orang yang mendekatinya, dan hendak memburu putri Incen. Tapi untung saja Incen lebih dekat dengan Bintang. Sehingga Bintang mudah menyelamatkannya.
"Awas tuan Putri!"Teriak Bintang sambil menarik lengang Incen untuk menghindar.
Kadal yang melayang-layangkan ekornya tak dapat mengenai Incen, hanya dua Penasehat yang terkena sambaran ekor kadal itu.
Dua Penasehat itu tergeletak tak bernyawa. Seluruh tubuhnya menghitam seperti badan kadal. Hanya sesaat saja bergerak-gerak habis itu tak bergerak lagi.
Sungguh berbahaya sekali ketika terkena sambaran ekor kadal. Selaian kuat menghempas juga sangat beracun. Racun cepat sekali menjalar ke seluruh tubuh ketika terkena tubuh.
Bintang menyuruh semuanya waspada dan bila perlu menghindar saja daripada maledeninya.
"Kalian amankan raja dan putrinya biar saya yang mencobanya. Seberapa besar keganasanya!"Ketus Bintang kepada seluruh prajurit kerajaan.
Usai berkata demikian, seketika ia melompat ke arah yang kosong lalu mengajak Kadal itu berduel.
__ADS_1
Kadal itu seakan tahu maksud Bintang. Yang hendak mengajaknya berduel. Adu kekuatan. Ia mengejar Bintang, sambil mengipas-ngipaskan ekornya untuk menghantam Bintang. Tapi itu hanya sia-sia belaka. Bintang mencari kesempatan yang paling bagus lalu mengarahkan ribuan potongan kayu ke tubuhnya.
Ribuan kayu itu berhasil menembus ke tubuh kadal itu dan seketika rebah. Rebah dan tak bernyawa lagi. Bintang berhasil membunuh Kadal itu hingga tak berkesempatan untuk hidup lagi.