
Busur itu berkilauan muncul kepermukaan, ketika muncul sempurna dan terhenti dari geraknya. Bintang melangkah mendekatinya.
Belum di bukanya kotak tempat busur itu, selarik cahaya terang keluar dari dalam busur itu, cahaya berkilau seperti cahaya keemasan.
Pelangi tambah kagum memandang busur tersebut yang mengeluarkan cahaya di kotak transparan.
"Luar biasa busur ini?"Lirih Pelangi takjub.
Bintang melangkah mendekati kotak transparan lantas membuka kotak itu lalu mengambil busur di dalamnya.
Kilauan cahaya berkejar-kejaran di tali busur dengan bunyi petir di atas langit menyambar-nyambar perut bumi ketika busur itu terangkat dari kotak transparan tersebut.
Bintang yang mengangkat busur itu dapat merasakan hawa kehebatan busur yang digenggamnya. Tangannya yang menyentuh busur seketika merasakan getaran hebat.
Habis digenggamnya sesaat, Bintang lalu memanggil Pelangi ke hadapanya untuk mencobanya.
Pelangi pun mencobanya dengan rasa penasaranya. Di tariknya perlahan-lahan talinya, ketika hendak di lepasnya talinya hatinya pun penuh gelisah.
"Bintang kita coba di luar saja, Jangan di sini?" Ajak Pelangi kepada Bintang yang tak jadi melepas tali busurnya.
"Baik."
Kemudian Bintang mengikuti kemauan Pelangi yaitu mencoba kekuatan busur itu di luar Gowa.
Sampai di depan Gowa, Bintang malah menahan tangan Pelangi yang siap melepas tali busurnya, Ia melarang sahabatnya agar mengurungkan niatnya untuk mencobanya.
"Kenapa Bintang?"
"Tak usah mencobanya."Lirih Bintang.
Pelangi pun menurunkan tangannya, mengikuti perintah sahabatnya. Busur yang hendak di coba nya sekarang tak jadi lagi.
"Senjata ini aku percayakan kepada kau saja yang memegangnya Pelangi, kau harus menjaganya sebaik-baik mungkin. Ingat jangan keluarkan bila keadaan tak darurat."
"Senjata ini digunakan untuk kebaikan, di mana ada ketidakadilan maka kau harus menolong kebaikan dan nenyingkirkan keburukan yang menindas."
"Busur ini bukan busur biasa seperti yang orang lain miliki akan tetapi busur ini adalah busur hebat yang bisa menolong kebaikan, menolong umat yang terzolimi?"Ujar Bintang kepada sahabatnya memercayakan busur yang digenggamnya oleh Pelangi.
"Siap." Jawab Pelangi singkat dan patuh terhadap ucapan sahabatnya Bintang.
"Jadi sanjutnya kita akan ke mana?"Tanya Pelangi kepada sahabatnya.
"Kita berpisah di sini saja, cukup kau mengantirku. irku sampai di sini saja. Kau pergilah kembali ke langit, tempat ini akan kubersihkan dan saya akan meninggalinya." Terang Bintang kepada sahabatnya Pelangi singkat.
"Tidak Bintang, tempat ini tidak baik bagimu, kau akan ku antar kembali ke lembah agar kau bisa nyaman di sana."Ucap Pelangi tak mau membiarkan sahabatnya tinggal sendirian di bekas kerajaan tersebut yang telah tua dan dikelilingi oleh daun jamur dan akar-akar kayu yang saling berseliweran.
"Cepatlah kembali ke langit Pelangi tak usah menghiraukanku di sini, kerajaan ini adalah tempat nenek moyangku terdahulu, jadi saya akan baik-baik saja di sini. Ratu Nuni telah menunggumu, di langit tanpa kau Ratu akan cemas."Ujar Bintang kepada Pelangi untuk pulang ke langit.
"Bila kalian membutuhkanku kalian bisa mendatangiku di tempat ini, kapan saja." Ketus Bintang kepada Pelangi.
__ADS_1
"Baik, jika kau betul-betul ingin tinggal di sini. Aku tak bisa melarangmu lagi. Aku akan kembali ke langit jika kau rindu padaku kau bisa main-main ke langit." Gumam Pelangi sambil tersenyum pada sahabatnya Bintang.
Pelangi balik kanan, segera menuju ke pesawat tempurnya yang di parkirnya di atas pepohonan, sedang Bintang kembali menyisir kawasan kerajaan kuno itu.
Usai kepulangan Pelangi ke langit, Bintang membersihkan semak-semak yang menutup tembok bangunan kuno tersebut, di tebangnya pohon-pohon pinus yang agak ketinggian dan dibersihkanya seluruhnya.
Ia hanya membersihkan beberapa titik saja, Ia tidak terlalu membersihkan semak belukar yang membungkus bangunan kuno kerajaan itu sebab dipikiranya bila dibersihkanya secara merata maka akan mengundang perhatian dari kerajaan-kerajaan lain bila melihatnya nanti.
Sedang bersih-bersih di dalam bangunan kuno sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah barat. Suara itu awalnya kecil di dengarnya lama-lama membesar namun hanya sekedar melintasmelintas saja.
Suara itu adalah suara perempuan yang makin memekakkan telinganya, Ia penasaran dari balik bangunan tersebut. Segera Ia keluar cepat mengejar sumber suara itu yang sekadar melintas.
Diikutinya sumber suara itu yang berteriak histeris, sebenarnya sumber suara itu sangatlah jauh dari letak bangunan kuno tempat Bintang bersih-bersih namun karena Bintang punya pendengaran lebih tajam, maka Ia bisa menangkapnya walau pun terhitung jauh.
"Tolooonnng, toooolooong, toloonng." Teriak perempuan tak henti-hentinya walau tubuhnya di sekat keras oleh penjahat itu.
"Diam kau! Tak usah teriak-teriak, suaramu juga tak bisa menolongmu, hah." Bentak si penculik keras.
"Tolooonnng.... Tolooonnng.... Toooloonng." Teriak perempuan tak berhenti walau di cekal.
"Hahaha, hahaha, hahaha, hahaha, suaramu tak berguna bagimu hahaha." Sambut kawanan penculik itu dengan tawanya yang keras.
"Diam kau! Bising sekali suaramu. Suaramu menggangguku!"Gertak salah satu penculik itu sambil melarikan kudanya.
Ketika mendapat penculik itu, Bintang tak langsung menghadangnya tapi masih mengikuti kawanan penculik itu diam-diam.
Walau Bintang tak memakai kuda tapi Bintang lebih tangkas bergerak cepat mengikuti kawanan penculik perempuan tersebut. Ke mana arah perginya, Bintang mampu mengikutinya lebih cepat daripada langkah kaki kuda para penculik.
Salah seorang yang mengendarai kuda di antara para penculik tak tahan dengan suara teriakan perempuan yang teriak terus menerus seketika itu Ia melepaskan cambutanya ke punggung perempuan itu.
Satu kali, dua kali dilayangkanya cambutnya, baru perempuan itu berhenti dari teriakannya sambil mereka memacu kudanya lebih cepat sampai tujuan.
Hampir tiga puluh menit, Bintang mengikutinya baru mereka berhenti di sebuah tempat.
Tempat itu adalah sebuah rumah kayu, yang di jadikanya oleh para penculik sebagai tempat penyekatan para sandra. Rumah itu juga telah dijadikanya sebagai markas penyembunyian Sandra.
"Seandainya saja ayahmu tak melakukan tindakan bodoh, maka kau tak akan kami buat seperti ini."Gumam ketuanya.
"Silahkan berurusan dengan ayahku, lagian ayahku tak salah apa-apa kepada kalian, hah." Desah perempuan itu kesal kepada kelompok penculik.
"Ha, tidak salah? Apa saya yang budak mendengar ucapannya? "Ketus ketuanya mengejek.
Bosnya ketika hendak bicara panjang lebar sudah lebih dulu diludahi perempuan itu akibat saking jengkelnya.
"Kurang ajar? Sialan, beraninya kau meludahiku?" Ucap ketua kelompok yang terkena ludahan perempuan itu.
Di tamparnya perempuan itu keras-keras sampai darah mencret dari lubang hidungnya.
"Masih berani kau, hah."Tanya ketuanya penuh amarah sambil menindis mulut perempuan yang telah berani melawannya.
Perempuan itu tak memberi perlawanan lagi, karena wajahnya sudah tertindis sempurna dan terjepit wajahnya oleh kaki ketua komplotan tersebut.
__ADS_1
"Kau sengaja kubawa ke sini, kau tahu kenapa? Karena kau akan kusiksa terlebih dahulu sebelum ayahmu kubunuh?"
"Coba saja kalau kalian bisa? Hahaha, Hahaha"Teriak perempuan itu memaksakan diri walau keadaanya sangat memprihatinkan.
Di injaknya lagi lebih keras oleh ketuanya sambil tertawa keras.
"Haha haha haha."Tawa bos itu kemudian diikuti oleh kawanan lainya.
Bintang yang memerhatikan dialognya dari kejauhan segera mengambil tindakan saat melihat perempuan yang di sandra sudah tak berdaya lagi dan makin tersiksa oleh sekelompok tersebut.
Bintang melayangkan sebuah batu kerikil ke kaki yang menindis wajah perempuan itu, kaki sang bos tersebut seketika berdarah ketika terkena hantaman batu yang melesat cepat.
Saat terpisah kaki bos kawanan itu dari wajah perempuan, Bintang segera menyusulkan sebuah pukulan berdentum ke tengah-tengah kawanan itu hingga semuanya terpelanting ke tanah.
"Sial ada peganggu, cepat bangun hajar dia!"Perintah bosnya kepada seluruh anak buah yang setengah tergelepar.
Anak buahnya segera bangun dan serempak memberi perlawanan tapi Bintang tak terlalu menanggapi serangan baliknya. Ia hanya berjalan santai saja ke arah perempuan yang tergeletak.
Ketika kawanan penculik berlarian hendak melawan, Bintang hanya menendang batu kerikil di depanya maka puluhan batu-batu kerikil berhamburan mengenai kepala dan seluruh tubuh para penculik itu.
Puluhan kawanan penculik tumbang seketika saat mendapat layangan batu kerikil yang mengenainya seluruh tubuhnya.
Bintang membangunkan perempuan itu pelan, lalu membantunya berdiri, saat di bantu berdiri oleh Bintang tetap saja perempuan itu terjatuh, tak bisa berdiri, badanya lemah tak kuat lagi untuk melangkah.
Bintang duduk sesaat mengirimkannya obat melalui ujung jarinya. Ujung jari yang dipegang oleh Bintang seketika merasa sejuk dan menjalar ke seluruh tubuh perempuan itu.
Lima menit Bintang mentransfer sebuah pengobatan melalui sel-sel yang bekerja menyulam kembali sampai semuanya kembali seperti sedia kala.
Tulangnya yang terasa patah, badanya yang penuh memar akibat cambutan dan luka-luka kecil di seluruh tubuhnya seketika sembuh, bersih seluruhnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Bintang usai memberi sugesti kehangatan dan penyulaman kepada seluruh sel-sel dan memar di tubuh perempuan itu.
"Sudah membaik, kok aneh kenapa semua lukaku hilang ya seketika?"Lirih perempuan itu.
Bintang hanya tersenyum meladeninya. "Syukurlah kalau semuanya telah sembuh."
"Kau berasal dari mana?" Tanya Bintang kepada perempuan yang diselamatkanya.
"Sy dari Kerajaan Gunung Jati tuan muda." Jawab perempuan itu lembut.
"Oh, terus kenapa sampai mereka membawamu ke sini?"
"Mereka itu adalah pengkhianat di istana tuan muda, mereka di angkat sebagai kepala penjara di Kerajaan ayahku tapi mereka diam-diam membuat sebuah rencana busuk untuk menghancurkan Kerajaan ayahku lewat akal busuknya." Terang perempuan itu ramah kepada Bintang.
"Panjang ceritanya tuan muda bila akan dijelaskan."Tambahnya.
"Baik, jika begitu. Siapa namamu?" Tanya Bintang.
"Namaku Incen Tuan muda. Kalau boleh tau nama tuan siapa?"
"Saya Bintang dari Lembah Abadi."
__ADS_1
Kemudian usai berbincang-bincang, Bintang mengambil salah satu kuda dari para penculik dan mengantar Incen dari Kerajaan Gunung Jati.