PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Pasrah di Tengah Guyuran Panah


__ADS_3

"Hum. Apa kau kurang yakin Nak?"


"Entahlah ayah. Aku tetap berusaha mendampingi pasukan kita untuk memerangi kerajaan Tiran. Mereka sudah menghancurkan negeri kita yang kita cintai."


Tak lama kemudian, muncul bisikan dari barisan paling depan untuk berhenti sesaat mengatur siasat atau strategi penyerangan karna posisi mereka sudah berada di perbatasan kota. Sesuai perkataan Raja atau Ombu akan berhenti tepat di perbatasan kota untuk mengatur sebuah strategi penyerangan.


Raja mengumpulkan empat orang petinggi kerajaanya termasuk putrinya. Untuk mengatur siasat perang. Dalam beberapa penjelasan hanya penjelasan putrinya yang dijadikan sebagai siasat perang. Semua pasukan di atur sedemikian rupa, penyerangan pun akan dilancarkan tepat pukul satu lewat tiga puluh menit.


Tiba waktu penyerangan, sebuah anak panah api di tembakkan ke atas langit sebagai tanda serangan serempak ke tengah ibu kota Tiran. Ibu kota yang merupakan pusat pemerintahannya. Ibu Kota itu sengaja dipilih oleh Incen dan ayahnya karena itu adalah pusat aktivitas pemerintahan dan sekaligus pusat perekonomian rakyat Tiran.


Jika mereka berhasil menyerang pusat kota itu maka semuanya akan serba lumpuh baik sistem pemerintahan maupun perekonomiannya. Itulah yang menjadi target penting bagi penyerangan mereka.


Putri Incen maju ke barisan paling depan, mendampingi Ayah dan Penasehat Ombu yang melarikan kudanya dengan cepat sambil memanahkan busur api ke para pasukan lawan. Selain pasukan lawan juga api itu dipanahkan ke rumah-rumah warga sipil sehingga api menjalar serempak dan cepat melalap bangunan-bangunan di pusat kota Tiran.


Perlahan-lahan teriakan demi teriakan bergemuruh di tengah kota Tiran, yang terluka atau terbunuh berteriak histeris karena menahan rasa sakitnya. Benar-benar pasukan yang dihimpun oleh Penasehat Ombu memukul rata baik pemerintah maupun rakyat sipil semuanya dibunuhnya.


Mengetahui kotanya telah di serang, Raja Tiran marah besar. Semua pasukan diperintahnya untuk bergerak cepat. Terlebih dahulu para perwira tingginya dikumpulkannya untuk membentuk pertahanan dalam ruang lingkup istana Raja.


Ketika kawasan istana Raja sudah kokoh pertahanannya barulah ia mulai membentuk pasukan untuk menyir, melawan pasukan Ombu. Walau pasukan Tiran terhitung bisa menahan serangan pasukan Ombu akan tetapi tak bisa menghentikan api yang menjalar secepat kilat ke jantung kota.


Apalagi di tambah teriakan panik, dari berbagai arah membuat kerajaan Tiran makin terpojok dan amburadul pertahanannya.Teriakan histeris dari warga sipilnya membuat pasukan Raja Tiran kwalahan untuk mengatasi serangan pasukan yang di pimpin oleh Penasehat Ombu dan Putri Incen.


Di rasanya oleh Raja Tiran, lama kelamaan tak akan mampu menahan serangan pasukan Ombo, maka diperintahnya dua orang prajurit pasukan berkuda untuk meminta bantuan sembilan putranya dari berbagai kerajaan yang dipimpin oleh anaknya.


Saat mendengar serangan ke kerajaan ayahnya, yaitu kerajaan Tiran maka seketika sembilan putra terbaiknya mengumpulkan kekuatan penuh lalu bergerak cepat membantu pasukan Tiran.

__ADS_1


Lima puluh ribu pasukan termasuk lima belas ribu prajurit pemanah yang siap menggempur serangan Incen dan Ombu. Ketika serangan Incen akan memasuki kawasan istana kerajaan barulah sembilan putra terbaik Tiran hadir memukul mundur pasukan Incen. Benar-benar mereka tepat waktu. Raja yang diincar Ombu dan Incen gagal total. Bahkan keadaan berbalik arah, pasukan Ombu lagi yang terjepit oleh gempuran pasukan para putra raja.


Memang pasukan pemanah yang di bawah oleh para putra raja Tiran, mampu menguasai keadaan dengan cepat. Tak butuh waktu lama bagi para putra Raja untuk mematahkan serangan pemberontak kerajaan ayahnya.


Oleh karena itu, ketika Ombu dan Rajanya serta putrinya Incen mulai terkepung dan tersudut oleh para pasukan pemanah yang di bawah oleh putra Raja Tiran. Maka Ombu segera membentuk cincin lingkaran sebagai salah satu formasi pertahanan terakhir sebelum mereka di babak habis oleh para pasukan elit yang di pimpin oleh ke sembilan putra Raja Tiran.


Ketika sempurna pasukan pamanah mengepung Putri Incen dan ayahnya dan seluruh pasukan yang di pimpin oleh Ombu maka dengan lantang Raja Tiran berteriak penuh amarah kepada pemberontak kerajaanya.


"Kalian sudah menghancurkan kerajaanku. Kalian harus mempertanggungjawabkannya. Bahkan itu tidak cukup bertanggung jawab saja akan tetapi nyawa kalianlah harus di cabut dari badan kalian semua. Jika tidak maka kalian masih akan berbuat kerusakan pada negeriku ini."


"Ups."Ludah Ayah Incen. "Bukankah kalian sudah lebih duluan menghancurkan kotaku dan tak menyisakan seorang pun untuk hidup. Dan untung saja saya dan para prajuritku tidak ada di istana kalau tidak kalian sudah akan membunuh kami semuanya. Kalian biadap dan keji. Siapa yang lebih kejam? Kami atau kalian?"Ucap Ayah Incen mendidih.


"Hah, membunuh??? Itu adalah yang pantas buat kalian. Kalian negeri tak tahu diri. Rajanya tak tahu diri."


"Silahkan kalian berbicara! Satu persatu kalian akan kubunuh tak satu pun akan kubiarkan hidup. Termasuk putri Raja tak tahu diri!"Ketus Raja Tiran berceloteh tak sewajarnya.


Penasihat Ombu yang tak Terima dikatai sembarangan Raja dan Putrinya, kembali Ombu bangun dan berlari menyerang Raja Tiran hendak melukainya dengan pedangnya akan tetapi panah kembali cepat dan menghujani tubuhnya sehingga Ia terjatuh selamanya. Tak bangun-bangun lagi.


"Walau kalian bertahan dalam formasi yang kalian bentuk, itu tak akan bisa melindungi kalian dari hujan panah. Ingat sekali kami lepas busur maka kalian akan tamat dan kotaku ini akan menjadi terkenal karena Raja serta putrinya telah tewas di tanah ini."Lanjut Raja Tiran.


"Lebih baik kalian menyerah dan akui baik-baik ke kalahan kalian daripada bertahan dalam formasi bodoh itu!"Teriak Raja Tiran makin murka.


Akan tetapi, Incen dan ayahnya tetap diam dan siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Mereka sudah niatkan dari awal pergi tanpa kemenangan lebih baik pulang tinggal nama.


"Bagaimana? Cepat menyerah!!!" Ajak Raja Tiran berkali-kali namun ketika tak mendapat tanggapan baik.

__ADS_1


Maka segera diperintahkannya stengah dari prajurit pemanah untuk melepas panahnya ke belakang Putri Incen. Anak panah itu melasat dan menghancurkan formasi cincin yang di buat.


Sekitar seribu orang terkena panah, barisan belakang runtuh seperti kayu patah, atau seperti sayap burung yang patah tak mampu lagi terbang, begitulah formasinya yang retak oleh hujanan busur.


Raja Tiran tertawa sesukanya, selain tertawa ia juga tak hentinya memerintah beberapa prajurit pemanahnya untuk memanah pasukan putri Incen yang tak bisa diaturnya.


"Jumlah kalian terlalu sedikit untuk menyerang kami. Kalian bisa melihatnya sendiri betapa besar pasukanku di tambah dengan pasukan para putraku. Aku bisa membunuh kalian dalam sekejap. Menyerahlah dan aku tak akan menyiksamu!" Pinta Raja Tiran kepada ayah Incen.


"Huh! Desah ayah Incen. "Walau badanku berlumuran anak panah, aku tak akan sudi menyerahkan diriku pada manusia-manusia biadab sepertimu!"


"Hahaha.... Hahaha.... Hahaha.... Hahaha. Kau tak ada pilihan lain selain menyerah agar semua pasukanmu tidak mati mengenaskan seperti prajurit yang sudah sudah. Kau boleh saja berkata semaumu karena kau belum merasakan anah panahku menembus jantung mu. Jika itu maumu, baiklah aku akan turuti."Ucap Raja Tiran.


Lalu diambilnya busur yang di pegang oleh salah satu perwira di sampingnya. Lalu di arahkanya ke ayah Incen.


"Sebelum kita memanah Rajanya. Arahkan semua panahnya kita akan mencoba memanah nya sekali saja, anggap kita berburu binatang liar di tengah hutan."Ketus Raja Tiran kepada seluruh pasukan pemanah.


Serempak pasukan pemanah menarik tali busurnya, dan mengarahkannya kepada pasukan putri Incen.


"Siap!"Teriak Raja Tiran berkomando.


"Siappppppp."Jawab Para pasukan serentak.


Kemudian Raja Tiran memulainya dengan hitungan jari tanganya. Ketika berada pada hitungan terakhir maka serempak pasukan pemanah itu melepas tali busurnya. Busur melesat dan menghujani para pasukan putri Incen yang terjepit di tengah pasukan Tiran.


Raja Tiran itu hanya sekali saja melepas panahnya namun hampir seluruh pasukan putri Incen berguguran terkena busur. Dan untung saja Raja dan putri Incen sendiri masih bisa selamat karena diselimuti oleh beberapa prajuritnya yang siap mati asal Raja dan putrinya selamat.

__ADS_1


__ADS_2