PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Buah dari Pohon Keberuntungan


__ADS_3

Jalan yang berliku-liku dan penuh semak belukar membuat Bintang susah melintas mengantar Putri Incen ke kerajaan gujung jati.


Dalam perjalanan itu tak sesekali Incen meminta beristirahat karena susahnya medan yang dilaluinya.


Ketika melewati sebuah pohon besar, Bintang singgah beristirahat sambil mencari buah-buah yang dapat di makan.


"Putri Incen silahkan menunggu di sini, saya akan pergi sejenak mencari buah!"


"Saya ikut tuan muda?"


"Cukup putri di sini saja agar lelah putri hilang, nanti kalau tuan putri ikut lelahnya akan bertambah."


"Tidak tuan muda, Saya masih sanggup berjalan."


Bintang berfikir sesaat menimbang-nimbang.


"Um, baiklah jika kau mau ikut."


Olehnya itu mereka pergi bersama-sama mencari buah agar dapat mengganjal perutnya yang seharian belum makan-makan. Bintang menerobos hutan lebat mencari pohon-pohon yang berbuah.


Beberapa pohon dapat ditemuinya namun pohon-pohon itu buahnya mengandung racun. Bintang mengatupkan rahangnya ketika menjumpai pohon-pohon yang tak dapat di kunyah buahnya.


"Tuan muda susah juga buah di daerah sini? hampir sejam kita mencari tapi belum juga dapat-dapat?"Tanya Incen sambil berjalan mengikuti langkah kaki Bintang.


"Iya Putri Incen, di sini buahnya kebanyakan mengandung racun. Jadi kita harus berhati-hati memilih buah."


"Apakah karena faktor tanahnya sampai membuat pohon-pohon di sini menghasilkan buah beracun tuan muda?"


"Tidak juga Putri Incen."


Sekitar beberapa meter dari pohon sebelumnya, Bintang kembali menemukan pohon berbuah lebat. Pohon itu bersih kulitnya tidak seperti pohon-pohon sebelum yang memiliki akar dan duri.


"Buahnya pasti lezat ini?"Gumam Incen.


Bintang belum mengambil buahnya, perhatianya masih tertuju kepada pohon dan buahnya yang mengundang keraguan pada hatinya. Selama ini belum pernah Ia menemukan pohon sebersih dan mengkilat seperti itu apalagi buahnya.


"Kenapa belum ambil buahnya tuan muda?"Tanya Incen tak sabar kepada Bintang.


"Tunggu? Ada yang aneh pada pohon ini."


"Aneh apanya tuan muda?"


"Tidak biasanya pohon seperti ini? Putri Incen kebelakangku!"Ucap Bintang waspada sambil memegang lengan Incen menariknya kebelakang.


"Tidak apa-apa kok tuan muda, aman-aman saja."

__ADS_1


Belum sampai sepuluh detik berbicara pohon itu tiba-tiba lenyap dari tempatnya. Kosong melompong di depan Bintang dan Incen. Incen terkejut menatap ke depanya dengan apa yang terjadi.


"Tuan muda kok tiba-tiba menghilang pohonya?" Lirih Incen terperangah.


"Husst! Jangan berisik?"Sapa Bintang sambil waspada akan kemungkinan buruk.


Incen pun diam, tahu akan maksud tuan muda itu. Incen tak berceloteh lagi. Ia hanya ikut apa yang diperintahkan oleh Bintang. Perlahan-lahan Incen mundur.


Selang beberapa detik, tiba-tiba keanehan pun muncul pada permukaan tanah tempat pohon itu menghilang. Tanah itu bergerak-gerak naik membentuk onggokan tanah liat.


Incen di belakang Bintang terkesima dan merasa takut pada keanehan tersebut, Bintang mundur sedikit demi sedikit sambil waspada akan hal buruk yang menimpa.


Ketika tanah itu telah menumpuk tinggi membentuk sebuah bukit-bukit tinggi maka tanah itu pun berhenti bergerak. Setelah sempurna berhenti, sebuah tunas tumbuh di atasnya lama-lama tunas itu berubah menjadi sebuah pohon besar dan membuahi. Banyak sekali buahnya.


Buahnya langsung menguning, Incen makin terkesima atas perubahan pohon dan buahnya yang memikat perhatianya.


"Tuan muda bagaimana?"


Bintang berfikir sesaat sebelum mengambil langkah selanjutnya.


"Ya, kita boleh memetik buahnya."Lirih Bintang mulai tahu.


Segera Bintang melangkah maju tanpa ragu lagi, berjalan santai Bintang mendekati pohon tersebut.


"Tuan muda hati-hati?" Gumam Incen sedikit cemas.


Incen mengiringi langkah Bintang yang menghampiri pohon aneh itu.


"Tidak beracun ini tuan buahnya?"Selidik Incen ragu-ragu.


Bintang belum menjawab, Ia masih dulu menguliti akar kayu itu dan mengecupnya pelan.


"Tidak Putri, silahkan ambil buahnya sebanyak mungkin asal jangan makan di sini buahnya?"Jawab Bintang sambil mengingatkan Incen agar tidak memakan buahnya di dekat pohon tersebut.


"Kenapa tuan?"Tanya Incen bingung sambil terus memetik beberapa buah dari pohon aneh.


"Nanti saya terangkan alasanya, ambil dulu buahnya sebanyak yang kau butuhkan putri!"


Putri Incen tak lagi bertanya-tanya, segera Ia memetik buah yang telah menguning di pohonya, di pilihnya buah-buah terbaik dari pohon itu.


Usai memetik buah, Bintang membawa Incen kembali cepat ke bawah pohon semula tempat kudanya di ikat.


Sesampainya di tempat semula, kemudian Incen bertanya-tanya soal buah dari pohon aneh itu.


"Tuan muda kenapa tak bisa di makan buahnya waktu di sana?"Selidik Incen mengadukan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Oh, pohon tadi adalah pohon keberuntungan. Bagi siapa-siapa saja yang punya nasib baik maka pohon itu akan muncul menghampirinya dan akan membawakanya sesuatu yang diinginkannya."Terang Bintang singkat.


"Maksudnya pohon keberuntungan itu seperti apa sih tuan muda? Aku tidak ngerti."


"Putri Incen, pohon keberuntungan itu adalah pohon yang mengahampiri manusia yang bernasib baik."


"Dulu pernah dua kerajaan besar bertempur siang dan malam sampai beberapa malam dilewati, ketika salah satu kerajaan kalah dalam peperangan tersebut maka kerajaan yang kalah itu di sekat dalam satu kawasan, kawasan itu adalah sebuah kawasan yang lumpur tak punya apa-apa seperti tumbuh-tumbuhan atau makanan yang bisa mengisi perut mereka."


Bintang berhenti sesaat sambil memakan buah yang dipetiknya.


"Semua militer Nas yang kalah dalam peperangan itu dihukum untuk di bunuh secara perlahan-lahan, oleh militer kerajaan Bar. Kerajaan Bar berhasil membunuh setengah dari militer Nas yang mereka sekat pada kawasan lumpur yang mereka tak beri makan sama sekali."


"Para perwira dari kerajaan Nas lama-lama yang tadinya bisa bertahan hidup di medan penyiksaan akhirnya lama-lama juga mati satu persatu akibat kelaparan."


"Singkat cerita, setelah berbulan-bulan tak diberi makan dan sebagian besar pun telah mati kelaparan namun tak mereka sangka-sangka pada suatu waktu ketika kelaparan sudah membuat mereka putus asa untuk hidup karena tak ada makanan maka di situlah sebuah keajaiban terjadi."


"Sebuah tunas tumbuh pada tengah malam, tunas itu tumbuh sampai menjadi pohon besar dan berbuah lebat."


"Buah itulah yang mereka makan tiap harinya agar dapat bertahan hidup di tengah lumpur dan teriknya matahari. Selain buahnya yang bisa mereka makan juga daun-daunnya dapat mereka gunakan untuk berteduh."


"Dari pohon itulah mengubah hidup para perwira yang di siksa keras hingga dapat bertahan hidup dan kemudian bisa merdeka melawan perwira-perwira dari Kerajaan Bar."


"Itulah pohon yang di sebut dengan pohon keberuntungan."Tutup Bintang sambil menyapu peluh di jidatnya.


"Um, begitu." Gumam Incen.


Sedang berbincang-bincang dengan asyiknya, tiba-tiba ada sebuah anak panah melesat dari arah timur. Anak panah itu melesat dengan cepatnya tanpa terduga oleh Bintang dan Incen.


"Hup." Bunyi anak panah itu ketika berbenturan dengan sepotong kayu yang dilemparkan Bintang untuk menghalau.


Dan untung saja Bintang lebih cepat mendengar bunyi anak panah yang melesat nyaris menancap di tubuh Incen.


Walau satu anak panah berhasil melesat tapi tak juga memancing Bintang untuk beranjak dari tempat duduknya. Incen yang tak melihat itu tak juga menimbulkan gerak apa pun selain duduk-duduk biasa sambil berbincang-bincang santai kepada Bintang.


"Tuan muda tinggalnya di lembah Abadi dengan siapa?"Tanya Incen sambil mengunyah buah dan tak tahu kalau ada orang yang hendak memanahnya.


"Sendiri Putri Incen."


"Ouh."


Saat berbincang-bincang Incen, kembali anak panah itu mengguyur namun yang kedua kalinya lebih banyak lagi. Tapi Bintang sudah bersiaga akan guyuran anak busurnya..


Anak panah yang melesat, ditangkapnya oleh Bintang lalu di patahkanya menjadi dua lalu dilayangkanya kembali ke semak-semak.


Anak panah yang dilemparkannya oleh Bintang berhasil mengenai tubuh para pemanah itu. Sehingga semuanya tumbang di semak-semak.

__ADS_1


Bintang menghampiri semak-semak itu bersama Incen. Ia mendapati beberapa pemanah telah mati dan sebagian masih hidup namun terkatung-katung karena panah yang menancap di dadanya.


__ADS_2