PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Sayembara Tuan Putri


__ADS_3

Bintang menghampiri semak-semak itu bersama Incen. Ia mendapati beberapa pemanah telah mati dan sebagian masih hidup namun terkatung-katung karena panah yang menancap di dadanya.


"Siapa kalian?"Tanya Bintang kepada para pemanah.


Para pemanah itu tak juga menyahut, masih terkulai kesakitan.


"Sebut nama kalian?"Ulang Bintang sedikit menurun suaranya.


Tetap saja para pemanah tak bisa berbicara selain menahan rasa sakit.


"Cepat sebut nama kalian! Jika tidak aku akan menambah rasa sakit itu lebih dahsyat lagi!"Pinta Bintang sedikit tegas.


"Tidak tuan. Tak seorang pun menyuruh kami semua. Kami hanya kebetulan lihat tuan melintas di depan kami, jadi memanfaatkan momen itu untuk melukai tuan. Mohon maaf tuan."


"Oh, begitu. Yakin? "


"Iya tuan. Kami tak punya atasan. Tak seorang pun menyuruh kami. Kami adalah kawanan pemburu hewan tuan. Hewan liar di hutan ini. Tolong maafkan kami tuantuan yang hendak melukai tuan."


Bintang menengok Incen sejenak dengan wajah teduhnya. Sambil berucap ramah.


"Bagaimana menurutmu? Apa bisa dipercaya kata mereka ini?"


Incen menatap lekat-lekat ke arah kawanan pemburu itu. Lima menit kemudian ia menyimpulkan.


"Iya tuan, sepertinya mereka jujur. Apa adanya mereka katakan. Tidak ada digurat wajahnya tanda-tanda kebohongan."Lirih Incen dengan pelan.


"Saranku kita lepaskan saja mereka." Lanjutnya.


"Baik jika begitu."Sambut Bintang.


Ketika di lepasnya kawanan pemburu itu, mereka pun berjalan meninggalkannya. Bintang menuju ke arah barat. Ke selatan lalu mengambil jalur ke arah timur lagi.


Dengan ramah Incen mengajak Bintang berbincang sembari melangkah menyiri rerumputan padat.


"Kalau boleh tau tuan ini asalnya dari mana?"


"Saya berasal dari lembah Abadi. Di sanalah tempatku berasal."


"Oh, bukanya tempat itu adalah bekas kerajaan dulu?"


"Betul."Sahut Bintang.


"Terus kenapa bisa dihutan? Dan berkelana?" Tanya Incen penasaran.


"Tempatku sudah hancur. Tidak bersisa sedikitpun. Dimusnahkan oleh orang-orang biadab. Bahkan kakekku pun ikut menjadi korban kekejaman para penjahat itu."

__ADS_1


"O, rupanya begitu."


"Aku sekarang ke mana-mana tak punya arah yang pasti." Lirih Bintang sambil menyapu air keringatnya yang berceceran.


"Dulu, sejak masa kecilku ayahku sering memberikanku ruang untuk berpetualang. Ayahku adalah sosok seorang lelaki yang tak mau melihat anknya terikat dalam suatu lingkungan. Lingkungan yang membatasi ruang geraknya. Sekarang apa yang dikatakan ayahku itu benar-benar bermanfaat bagiku. Semua orang harus mampu berkelana."Lirih Incen sambil merenungi ucapan ayahnya.


Sambil berbincang-bincang sebuah suara bising terdengar dari balik pepohonan rindang. Suara itu pelan namun lama-lama terdengar cepat geraknya. Incen mendengar jelas suara tersebut di balik pepohonan yang dilewatinya.


"Suara apa itu tuan?"Gumam Incen.


Bintang tak langsung menjawab serempak Ia bergerak ke sebelah pohon yang diselimuti oleh akar-akar kayu lebat. Sembunyi Ia di sana, melihat yang hendak melintas itu.


"Mereka sepertinya bukan orang sini tuan. Tak pernah saya lihat pakaian-pakaian seperti itu. Aneh."Ketus Incen melihat rombongan yang melintas berpakaian tak biasanya.


"Mereka bukan penduduk bumi."Ucap Bintang sepintas.


"Maksudnya?"Incen makin penasaran.


"Mereka bukan orang yang berasal dari bumi ini. Mereka itu adalah penduduk ruang angkasa."Terang Bintang sambil mengintip dari balik akar kayu yang lebat.


"Memangnya di langit itu ada penghuninya?"


"Iya ada. Mereka juga seperti kita. Tapi penduduk ruang angkasa jauh lebih maju daripada penduduk permukaan bumi ini. Mereka jauh lebih hebat dengan teknologinya. Benda-benda yang mereka gunakan serba modern." Bintang sedikit menerangkan kepada Incen untuk menghapus rasa penasarannya.


Bintang tak menjawab hanya memerhatikan rombongan itu yang melintas dengan derup kaki kudanya masing-masing. Ketika sudah jauh terlewati baru Ia keluar mengajak Incen kembali menapaki jalur yang ditempuhnya.


"Di sebelah gunung itu ada perkampungan penduduk. Apa saya akan mengantarmu saja ke sana?" Tanya Bintang kepada Incen.


Incen berdiam diri sejenak, seakan menimbang-nimbang sesuatu.


"Bagaimana Incen? Apa saya akan mengantarmu ke sana?" Ulang Bintang.


"Segera Incen terkaget. Terserah tuan saja asal sudah aman tuan."


"Baik. Siap-siap kita ke sana!"


"Baik tuan."


Segera Bintang membawa Incen keperkampungan. Dalam perjalanan Ia melihat beberapa orang berjalan ke arah yang sama yaitu desa yang hendak ditujunya. Makin dekat mereka ke desa itu semakin banyak orang-orang berpapasan ke arah perkampungan tersebut. Mereka bingung, dan bertanya-tanya dalam hatinya ada apa di sana?


Melihat orang semakin ramai memasuki desa itu, Bintang segera menghampiri salah seorang yang kebetulan jalan di dekatnya lalu bertanya.


"Tuan, kalau boleh tahu, ada apa ya di depan sana? Saya lihat seperti ada keramaian."


"Ada pertarungan tuan. Perebutan kaca emas."

__ADS_1


"Saya tidak mengerti tuan!"


"Beberapa hari ini tuan, anak raja hilang dari Kerajaan. Raja sudah mengeluarkan maklumat penting keseluruh warga. Barang siapa yang menemukan putrinya yang hilang maka akan diberikan hadiah dari kerajaan."Tutur orang yang berumur stengah baya.


"Maksudnya tuan? Tadi katanya ada semacam perebutan."


"Begini tuan, dari usaha yang dilakukan oleh Raja yang tak membuah hasil juga. Yaitu maklumat untuk menemukan putrinya jadi beliau mencoba usaha ke dua yang dirintis oleh para penasehat kerajaan. Yaitu bertarung lebih dulu di atas panggung arena lalu setelah menang dia angkat dipersilahkan mengangkat kaca emas itu dan memancarkanya ke langit."Terang si orang tua itu.


"Tapi sayangnya pagelaran ini sudah tiga hari belum ada yang berhasil mengangkat kaca emas itu. Walau sudah mengundang ke segala penjuru. Bahkan sang raja akan mempersuntingkan putrinya jika ada yang berhasil mengangkatnya." Tambahnya.


"Bukankah putrinya telah hilang tuan?"


"Betul tuan. Tapi dengan kemenangan dalam pertempuran itu dan, ketika ia berhasil mengangkat kaca emasnya maka ia otomatis akan mampu menghadirkan tuan putri di depannya. Selain itu juga, istri raja sudah sakit-sakitan semenjak kehilangan putri semata wayangnya."


"Oh begitu."Lirih Bintang paham maksud si orang tua yang sudah kakek-kakek.


Ketika berfikir dua jam, akhirnya Bintang hendak mencoba tantangan tersebut. Niatnya hanya hendak menolong ibunda dari putri raja itu. Semoga ia berhasil dan bisa mengobati rasa kehilangan istri raja tersebut. Ia mengerti dan merasa iba atas apa yang dialami oleh raja dan istrinya, sebab ia sendiri telah mengalaminya pula. Rasa kehilangan yang sungguh menyayat hatinya.


Pelan-pelan Bintang melangkah ke arah keramaian itu dengan hati tenangnya. Sedangkan Incen malah sebaliknya, Ia berusaha menutup lekuk tubuhnya dan menutupi wajahnya.


"Incen saya akan mencobanya!"Gumam Bintang santai kepada perempuan yang terlihat gelisah itu.


"Biarkanlah para kesatria dari negeri-negeri jauh, tak usah tuan terlibat. Mereka bukan sekadar ingin merebut pemenangnya akan tetapi mereka lebih dari itu. Mereka saling bunuh membunuh tuan."Cegat Incen khawatir.


"Tenang saja Incen, mereka tak akan bisa melukaiku." Gumam Bintang bernada tenang.


Usai berkata demikian, Bintang beranjak membawa Incen ke tempat yang bergemuruh itu oleh sorak sorai suara di arena pertarungan itu.


Satu persatu kesatria di sebut namanya oleh panitia pelaksana. Mereka naik ke atas panggung dan saling adu kekuatan. Tiap orang yang tewas dalam pertarungan membuat Incen khawatir sekali. Tiga jam berlalu dengan puluhan kesatria tewas di atas ring.


Terakhir disebut Bintang. Ketika disebutnya namanya pelan-pelan ia melangkah ke atas panggung dan langsung disambut serangan serempak dari lawanya yang berseragam besi.


Lawanya cukup memakai peralatan perang, sedang ia tak punya apa-apa selain tangan kosong yang dimainkannya dengan hebat.


Walau Bintang tak memakai apa-apa namun orang-orang terperangah melihatnya. Terkagum-kagum memandangnya. Jurus yang sederhana tapi dapat mematahkan gerakan lawan. Santai ia menghadapinya. Tak pernah bergerak selain berdiri di tempatnya saja menunggu serangan lawan.


Lawanya berhasil tumbang seketika saat menghantamkan jemarinya ke bagian lehernya. Rebah tapi tak tewas. Lantas Bintang perlahan-lahan mengambil kaca emas itu di depan panitia dan mengangangkatnya santai. Setelah itu dipancarkannya ke atas langit.


Semua orang terpelongo menatap tanpa berkedip, melihat betapa Bintang mampu mengangkat kaca emas itu dengan santainya saja. Padahal sebelumnya telah puluhan bahkan ratusan orang-orang mencobanya tapi tak bisa.


Pelataran panggung serentak bersorak sorai memenuhi alun-alun panggung. Saat Bintang menghadapkan ke atas cahaya emas itu maka seketika sebuah cahaya kemilauan muncul dari langit dan terpantulkan oleh cahaya terang dari tengah kerumunan para penonton.


Semua orang terkaget. Ternyata pantulan cahaya itu tak lain adalah berasal dari putri raja yang mereka cari selama ini. Mereka tak menyangka, tak menyadarinya kalau putri itu berdiri di antara mereka. Itulah Incen yang berusaha menutup wajahnya dengan kain hitam tapi tak mampu menutup cahaya seluruh tubuhnya yang keluar dari dalam dirinya.


Raja yang tak ada dilokasi segera muncul pula menyaksikan keajaiban tersebut. Terkejut raja melihat anaknya begitu juga Incen kaget bukan kepalan dengan ayahnya. Ternyata raja itu adalah ayahnya sendiri yang membuat sayembara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2