
Saat terang Pelangi mulai bersiaga sedang Bintang berdiri menatap ke arah Naga itu, setengah jam saling tatap-menatap sang Naga itu yang tadi terperanjat oleh kehadiran anak manusia itu sekarang ketika melihat jelas sosok seorang manusia yang dia kenali, Naga itu berubah perlakuannya jadi ramah, ekornya yang melambai-lambai siap menerkam dan menghalangi lorong sekarang menjauh memberi lintasan pada kapal itu seolah-olah ia mengerti dengan tujuan mereka. Naga itu memberi jalan bagi kapal Pelangi. Melihat semua itu Pelangi tak mau menunggu lagi, segera ia melintas ketika ada ruang untuk melewati naga raksasa itu.
Naga itu walau wajahnya terlihat menyeramkan tapi seakan tampak di gurat-gurat wajahnya sebuah kebahagiaan bertemu sahabat lamanya. Sang Naga itu, memberi akses bagi Pelangi untuk melintasinya. Pelangi yang sedikit heran tak sabar langsung menanyakannya kepada Bintang yang sudah masuk ke dalam pesawat.
"Kenapa ya Bintang Naga itu, kok tiba-tiba tunduk begitu? Tak jadi menerkam? Padahal ekornya tadi sempat melambai-lambai."
"Umm, mungkin dia tidak suka lihat model kapal ini atau tidak suka dengan mu."Jawab Bintang iseng saja.
"Masak sih? Saya serius ini Bint? Kenapa bisa Naga itu tak jadi menerkam kita? Padahal tadi dia sudah kelihatan was-was."
"Naga itu adalah sahabat saya Pelangi. Dia adalah Naga Raksasa yang di langit yang selama ini tak pernah lagi kelihatan di atas langit. Biasanya kalian dan ratu selalu bergemuruh kalau Naga itu kacau di langit. Selain pasukan Ratu juga para pasukan klan lain yang di hebohkan jika kedatangan Naga itu. Sekarang Naga itu mengamankan dirinya di sini, selain itu juga dia menjaga mulut lorong ini."
"Bukanya Naga itu telah mati kau bunuh waktu tempo hari."
"Iya betul tapi Naga sebenarnya tidak mati. Kasarnya saja yang mati. Dia masih hidup sampai sekarang."
"Maksudnya kasarnya bagaimana? Aku tidak ngerti."
"Waktu lalu yang saya bunuh hanya bentuk fisiknya saja Pelangi sedang dalam diri Naga raksasa itu ada dua unsur, unsur kasar dan unsur halus. Unsur kasarnya lah yang saya bunuh sedang unsur halusnya belum mati sehingga dari unsur halus itulah Naga raksasa itu bisa pulih kembali dan membentuk satu kesatuan yang utuh, seperti sediakala."
"Ouh begitu rupanya."
"Selain itu juga aku menjejakkan telapak tanganku di kepalanya ketika suatu hari nanti saat saya bertemu kembali dengan dia maka dia akan mengenaliku dengan mudah."
"Iya bagus juga idemu sahabatku. Andai saja jika ia tidak mengenalimu tadi maka kita akan hancur. Binasa di dalam terowongan ini oleh Naga raksasa itu."
Bintang tersenyum seketika.
Tak Pelangi sadari kalau ada se ekor ular raksasa lagi melintang di depan kapalnya yang sedang melaju meniti terowongan itu.
"Bintang apa itu?"
__ADS_1
"Itu ular raksasa."
"Hah. Baru beberapa meter ada lagi ular. Mengerikan!"
"Pelankan saja kapalnya! dia akan otomatis membuka jalan bagi kita."
Pelangi memelankan kapalnya, sambil meneguk air putihnya. Ia penuh ketakutan saat melewati makhluk mengerikan tersebut. Awalnya ia ragu-ragu melintasi sosok ular besar itu tapi karena desakan Bintang akhirnya ia nurut saja untuk melewatinya.
"Bintang dia tidak apa-apakan kita. Membingungkan? Ular raksasa kok bisa ya?"
Bintang tersenyum mendengarnya.
"Ya ular itu baik hati Pelangi. Di sini makhluknya baik-baik semua tak usah kau takut!"
"Iya ya. Tidak satu pun yang menyerang kita padahal bentuknya menyeramkan."
"Itu artinya Pelangi perjalanan kita ini direstui oleh penjaganya. Jika mereka tak setuju maka mereka akan menyerang kita sejak tadi. Berapa lama lagi kita sampai di ujung terowongan itu?"
"Iya."
"Jika begitu saya aktif saja kemudi otomatis nya supaya kita bisa makan sama-sama dan istirahat."Gumam Pelangi sambil menekan beberapa tombol termasuk tombol otomatis. Setelah kemudi berjalan secara otomatis barulah bergerak ke ruang dapur pesawat.
"Ngomong-ngomong kalau di bumi apa sudah maju?"
"Di bumi tidak sama dengan Klan lain yang memiliki peradaban yang makin hari maki terlihat perkembangannya Pelangi. Di Bumi itu banyak kerajaan di dalamnya tapi tak memberi perubahan kepada masing-masing negaranya. Sungguh memprihatinkan!"
"Ouh, memangnya penduduk di Bumi tidak menginginkan kemajuan itu?"
"Mereka menginginkan kemajuan itu, bahkan Raja lembah abadi dulu, sangat mengharapkan kemajuan tersebut tapi, karena melihat pendidikanya yang tak kunjung maju-maju, tak memberi edukasi yang berkemajuan maka susah bagi sang raja untuk mewujudkannya."
"Umm,"Gumam Pelangi sambil meneguk air mineralnya.
__ADS_1
"Bukankah suatu negri itu bergantung kepada pendidikannya kalau pendidikan suatu negri baik maka semuanya akan menjadi lebih baik mulai dari generasinya sampai dengan teknologinya."
"Tapi tak semuanya pendidikan menghasil generasi yang baik, lihat saja Klan-Klan di atas angkasa, banyak yang perilakunya tidak mencerminkan pendidikannya. Banyak manusia-manusia perusak yang menginginkan kehancuran suatu peradaban."
"Betul tapi tak seluruhnya demikian sebab hanya orang-orang tertentu saja, dan itu di dasari oleh kehausaan kekuasaan. Mereka berambisi merusak sebuah peradaban karena ingin mengusainya baik ekonominya atau kerajaanya."
"Oh ya Bintang saya masih kepikiran sama naga dan ular raksasa itu, mereka tidak pernah melihat kita sebelumnya tapi kenapa makhluk menyeramkan itu tak menyerang kita juga. Padahal itu mudah baginya untuk menghempaskan kita."
"Karena makhluk-makhluk itu sebelumnya pernah saya taklukkan di langit dan bumi. Jadi dia tak akan berani mengusik kita."
"Iya saya tau tapi kenapa bisa dia mengenalmu sedangkan kau berada dalam kapal ini dan kau tentu tertutupi dari penglihatan makhluk raksasa itu."
"Betul terlindungi oleh badan kapal ini tapi jejak kakiku tadi di atas kapal akan terang di matanya."
"Bagaimana bisa Bintang sedang ini lorong gelap sekali!"
"Injakkan kakiku tadi akan bercahaya terang di atas kapal ini, dan mereka akan melihat nya ketika mereka hendak menyerang kita."
"Oh begitu."Gumam Pelangi sambil menyelesaikan makananya.
Tak seberapa lama, sebuah suara berisik terjadi di luar pesawat. Segera keduanya berhamburan melihat ke kaca transparan.
"Kerumunan kelelawar?"Lirih Pelangi sambil menekan tombol bersiaga. Sebab kerumunan kelelawar itu berlari ke arah pesawat dan hendak menyerang badan kapal.
"Bagaimana Bintang kita tembak?"
"Tahan dulu tembakanmu! Biarkan saja dulu, kita lihat seberapa besar usahanya untuk menyerang kapal ini."
"Baik."
Ketika kerumunan kelelawar itu mendekati badan kapal, dua makhluk raksasa yang sudah terlewati jauh kini datang lalu menelan seluruh kelelawar yang hendak mendekat ke badan kapal. Mereka seketika terhindar dari amukan kelelawar, mereka selamat.
__ADS_1