PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Kabut Beracun


__ADS_3

Ribuan kayu itu berhasil menembus ke tubuh kadal itu dan seketika rebah. Rebah dan tak bernyawa lagi. Bintang berhasil membunuh Kadal itu hingga tak berkesempatan untuk hidup lagi.


Salah seorang pendekar dari Kerajaan hendak mendekatinya tapi dicegat oleh yang lainnya.


"Jangan mendekat! Kadal itu pintar berakting. Jangan mendekat!"Larangnya.


"Sepertinya sudah mati. Dalam keadaan begini tak mungkin lagi hidup. Lihat saja keadaannya yang mengenaskan!"


"Waspada lebih baik daripada membahayakan kita!"


"Sudah pasti saya waspada. Tapi melihatnya dari kejauhan sepertinya sudah tewas."Tutupnya sesama pendekar.


"Bagaimana menurutmu Nak Bintang?"Tanya Raja memastikan kepada Bintang sebelum mendekatinya.


"Makhluk itu sudah tak hidup lagi. Dia sudah tewas. Tuan Raja bisa mendekatinya."


"O, syukurlah." Ucap Raja sambil berangsur ke Kadal itu yang tergeletak sekitar lima puluh lima meter darinya.


"Tuan muda telah membantu kami yang kedua kalinya. Terutama tuan muda telah berhasil menolong raja menemukan putrinya. Ke dua tuan muda telah mampu membunuh makhluk ganas itu. Tuan patut mendapatkan hadiah dari raja kami."Ketus salah satu Penasehat raja yang menghampiri Bintang.


"Ah, itu sudah kewajiban saya menolong siapa saja tuan."Gumam Bintang. "Kalau semuanya sudah baik, saya pamit pergi tuan."Lanjut Bintang pamitan kepada penasehat itu.


Belum di jawab oleh Penasehat, Bintang sudah beranjak. Penasehat hendak mencegahnya agar tak segera pergi sebelum pamitan kepada Raja dan tuan putrinya.


"Tunggu tuan! Tunggu! Tunggu tuan!"Teriak salah satu penasehat tapi Bintang sudah menghilang dibalik kerumunan orang.


Cepat-cepat penasehat itu menghampiri Raja yang sedang memeriksa bangkai kadal.


"Kenapa kau teriak-teriak dari tadi Ombu?"Tanya Raja kepada penasehat yang bernama Ombu.


"Kesatria itu telah pergi Tuan Raja." Ujar Ombu memberitahu Sang Raja.


"Kesatria yang mana?"


"Itu yang hebat Tuan. Yang berhasil mengalahkan Kadal dan menemukan Tuan Putri."


"Oh, kenapa bisa dia pergi. Saya belum sempat menyampaikan rasa terimakasihku kepadanya. Anak muda itu telah berhasil menemukan Putriku. Juga anak muda itu telah berhasil menyelamatkan kita semua dari amukan Kadal ini. Kalau saja bukan karena dia mungkin kita akan binasa oleh Kadal ini."Lirih Raja.


"Betul tuan Raja. Terus bagaimana kita menyampaikan terimakasih kepadanya?"Tanya seorang yang dekat Raja.


Raja diam tak berkomentar. Ia memikirkan sesuatu.


"Aku juga sudah berutang budi ayah. Pemuda itu telah menolongku selama saya berada di hutan belantara. Yang membawaku ke desa ini juga dia ayah. Dan pemuda itu tidak tahu ayah kalau yang disayembarakan adalah aku sendiri." Ucap Incen kepada ayahnya.

__ADS_1


"Bagaimana cara kalian agar rasa terimakasihku tersampaikan ke pemuda itu?" Pinta raja ke seluruh penasehatnya.


"Kelihatannya pemuda itu, adalah pemuda petualangan Raja."Terang salah seorang penasehat.


"Maksudnya?"


"Seorang petualangan akan susah kita temukan Raja. Tempatnya tidak jelas akan kita temukan ke mana. Bila kita menyuruh prajurit akan susah pula karena ruang gerak prajurit kita terbatasi oleh letak batas wilayah." Terang Ombu.


"Iya ya. Betul juga katamu. Tidak mungkin prajurit kita menembus batas wilayah. Dan itu akan membahayakan nyawa prajurit kita dalam tugasnya."Terang Raja.


"Terus langkah apa yang bisa kita ambil Tuan Raja?"Kembali tanya Ombu.


"Biarlah. Semoga Tuhan membalas kebaikan pemuda itu. Tak mungkin kita mengejarnya. Atau mencarinya."


"Dulu dia pernah cerita ayah, kalau dia berasal dari lembah Abadi."Gumam Incen.


"Oh, saya tahu itu. Lembah Abadi. Iya, Lembah Abadi tempat Kerajaan yang tersohor dulu. Kerajaan itu adalah Kerajaan yang terkenal para kesatrianya. Semua kesatria di sana pilih tanding. Belum lagi para petinggi kerajaanya. Pantasan saja pemuda itu hebat."Ingat Raja menuturkan tentang Kerajaan Lembah Abadi.


"Tapi Ayah Kerajaan itu sudah tiada. Sudah lama musnah. Puing-puingnya pun tidak ada yang tersisa. Hanya hutan belantara saja di sana yang ada."


"Maksudnya putriku?"Selidik Raja penasaran kepada putrinya.


"Menurut ceritanya, kerajaan itu sudah lama musnah. Sejak ratusan tahun yang lalu. Sekarang bekas kerajaan itu ditumbuhi akar-akar kayu dan pepohonan lebat. Pemuda itu hanya sesekali saja ke sana."


"Tuan Raja tahu soal kerajaan itu?"Tanya Ombu.


"Waktu aku masih kecil, usia empat tahun. Seringkali aku diceritakan oleh ayahku dulu tentang kehebatan kerajaan itu. Kerap kali ada kerajaan yang hendak mencoba-coba menyerbu ke pusat kotanya selalu pulang tinggal namanya saja. Tak ada yang berhasil menaklukkanya. Termasuk kerajaan ini tak berani mengusiknya apalagi hendak mengganggunya. Sy heran kenapa bisa kerajaan itu hancur? Aneh?"Lanjut Raja.


"Bukankah Kerajaan Lembah Abadi itu memiliki pedang? Yang bisa meluluhlantakkan seluruh alam." Tanya Ombu sang penasehat.


"Benar. Di Kerajaan tersebut ada pedang yang paling ditakuti oleh semua kalangan. Pedang itu ada di Lembah Abadi. Pedang itu bernama Pedang Abadi akan tetapi tak semua para pandekar di Kerajaan Lembah memilikinya terkecuali pemuda yang memiliki darah keturunan dari Sang Raja sehingga ia dapat mewariskan pedang itu."Gumam Raja.


"Bisa jadi Ia salah satu pewarisnya tuan raja"Ketus Ombu.


"Yah, itu siapa tahu, mungkin saja ia. Bagaimana keterangan dari pemuda itu tentang Kerajaannya putriku?"


"Tidak semuanya ia ceritakan ayah. Akan tetapi pemuda itu hanya mengira-ngira kalau hanya dirinyalah yang tersisa. Ia menceritakan kebakaran yang melanda negerinya, melanda kerajaannya, hingga menelan kakeknya." Terang Incen.


"Kebakaran putriku?"


"Iya ayah. Tapi kebakaran itu jauh setelah kerajaan itu sudah tiada."


"Hum, pasti pemuda itu bukan pemuda sembarangan. Dia pasti keturunan raja-raja terdahulu di Lembah. Dia pasti mempunyai garis keturunan dari Sang Raja. Tak mungkin dia bisa selamat begitu saja dari musibah yang menimpa kerajaan itu tanpa ada kekuatan yang dipunyainya."Lirih Raja.

__ADS_1


"Ombu himbau ke seluruh prajurit dan seluruh warga kita kembali ke Kerajaan. Tinggalkan untuk sementara desa ini. Jangan ada dulu yang meninggali perkampungan ini. Kita biarkan sementara waktu kosong desa ini." Perintah Sang Raja.


"Baik Tuan Raja." Segera Ombu Sang Penasehat itu menyampaikan titah Raja keseluruh rakyat.


Tiga jam berkemas-kemas barulah semuanya dapat beranjak. Meninggalkan pedesaan itu yang diluluh-lantakkan oleh seekor Kadal raksasa.


Raja dan putri Incen berjalan diiringi oleh warganya dengan pengawalan ketat dari para prajurit. Mereka menuju ke kota raja. Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih enak jam dari desa yang sudah porak-poranda itu.


Sambil berjalan Incen terus bertanya-tanya kepada ayahnya di atas kudanya.


"Ayah?"


"Iya Putriku."


"Menurut Ayah apa lelaki itu adalah orang hebat?"Tanya Incen kepada ayahnya.


"Iya Nak. Dia bukan pemuda sembarang pemuda, Putriku. Dia adalah kesatria tangguh. Sosoknya memang tampak biasa-biasa saja tapi sebenarnya dia adalah orang hebat. Lihatlah apa yang sudah diperbuatnya buat kita semua. Selain bisa menolongmu, juga Ia mampu mengalahkan Kadal Raksasa itu."


Incen tersenyum mendengar penjelasan ayahnya yang memuji kehebatan pemuda yang telah dikaguminya diam-diam.


Sedang berbincang-bincang selama dua jam dalam perjalanan sebuah kabut melanda di tengah-tengah perjalanan mereka.


"Kabut apa ini?" Teriak beberapa orang para pendekar.


"Iya semakin kita maju ke depan maka kabutnya semakin menebal dan juga makin menyulitkan kita melihat jalur yang kita tempuh."Ketus Penasehat.


"Bagaimana ini Raja?"Tanya Ombu meminta penjelasan dari Sang Raja.


"Kita tunggu kabutnya hilang baru kita melintas."


"Baik."


"Kemudian Ombu segera memberitahu para bawahannya untuk mengistirahatkan rakyatnya sambil menunggu kabutnya hilang."


Berjam-jam menanti kabut hilang tak hilang-hilang juga, malah semuanya berbatuk-batuk menghirup udara tak segar. Melihat semuanya makin lama makin berbatuk-batuk tak karuan.


Ombu segera mendesak Raja mengambil keputusan segera.


"Raja tak boleh kita di sini terus-terusan sampai kabut ini hilang. Sebab kabut ini sepertinya tak cocok dengan kesehatan kita di sini."


"Betul ayah. Menurut yang saya pelajari ilmu racun dari Bintang. Kabut ini bukan kabut biasa tapi ini adalah kabut yang mengandung dzat beracun. Dan ini bisa membahayakan kita semua ayah. Kita harus segera pergi ayah sebelum kita terlambat. Sebelum dzat beracun yang mengudara ini meresap ke dalam tubuh kita semua ayah."Tambah Incen kepada ayahnya.


"Jika begitu, segera Ombu sampaikan ke rakyat kita kembali mencari jalan lain." Perintah Raja kepada Penasehat.

__ADS_1


Sebelum Ombu menyampaikan maksudnya ke seluruh Rakyat, semuanya Rakyat sudah berjatuhan satu persatu dan tidak bangun-bangun lagi. Semuanya mati satu persatu oleh kabut beracun itu.


__ADS_2