PEDANG ABADI

PEDANG ABADI
Harimau Pembebas Tuan Putri


__ADS_3

Sebelum Ombu menyampaikan maksudnya ke seluruh Rakyat, semuanya Rakyat sudah berjatuhan satu persatu dan tidak bangun-bangun lagi. Semuanya mati satu persatu oleh kabut beracun itu.


Kabut beracun dengan cepat meresap dan merusak seluruh sel-sel dan menyerang pembuluh darahnya. Semua rakyat mati satu persatu begitu juga para pendekar tumbang satu persatu.


Ombu terkejut menyaksikannya, hendak berkata kepada raja tapi Incen sudah berteriak lebih dulu. Putri itu teriak sekuatnya kepada seluruh pasukan dan rakyat untuk lari dari kabut beracun itu.


"Tinggalkan tempat ini segeraaaa! Cepat!!! Tinggalkan! Kalau tidak kita akan mati semua." Teriak Incen histeris.


Mereka pun berhamburan. Berlarian. Mencari tempat yang tidak disisip asap. Para penasehat yang masih setengah sadar, masih bisa membawa Sang Raja dan menyelamatkan Tuan Putri.


Ketika semuanya berlarian, mengarah ke jalur semula. Tak disangkanya sebuah perangkap terlepas dari atas pohon besar. Perangkap itu berhasil menjaring mereka semuanya.


Dengan stengah terhuyung-huyung mereka berusaha melepas diri dari cengkraman jeruji bambu.


"Kurang ajar!"Teriak Ombu bersama para pendekar lainya.


"Lepaskan kami! Jangan sembunyi!"Teriak Ombu berkali-kali.


Satu jam kemudian setelah berteriak berkali-kali, datanglah sepuluh kelompok bertopeng memakai parang panjang. Jumlah mereka kurang lebih seratus orang.


Kelompok bertopeng itu datang mendekati tangkapannya. Sambil berjalan sambil mereka tertawa terbahak-bahak.


"Percuma kalian teriak-teriak. Ini adalah kawasan ku. Tak ada siapapun yang berani memasukinya. Sekarang kalian murni adalah tawananku. Teriakan kalian tidak akan menolong kalian juga, ingat itu!"Ucap salah seorang pemimpin di antara kelompok bertopeng.


"Namaku adalah Bomel. Sang Penguasa hutan belantara ini. Aku adalah raja hutan. Berani kalian masuk hutan ini maka kalian sendiri akan menanggung resikonya."Lanjutnya.


"Husst!"Ludah Ombu kepada pemimpin pasukan bertopeng itu.


"Jaga lidahmu! Ini adalah wilayah rajaku. Jikalau kalian macam-macam dengan kami maka rajaku tak segan-segan akan membunuhmu. Dan membunuh kalian semua!"Lanjut Ombu dengan lantang tak gentar dengan ancaman musuh.


"Dengar katanya? Hahahaha."Sambut kelompok bertopeng itu sambil tertawa keras.


"Kalian sudah masuk perangkapku masih saja mencoba melawan. Dasar pembangkang! Lihat apa yang akan kulakukan pada kalian semua dalam perangkap ini." Ketus Ketua kelompok itu.


Tak seberapa lama, datang dua orang membawa busur lalu memberinya kepada pimpinannya.


"Lihat ini!" Tutur Ketuanya sambil menarik anak busur dan melepasnya ke arah rajanya.


Ombu terkesima melihat orang aneh itu yang betul-betul tidak main dengan ucapanya. Ia melepas busur dan membidik rajanya. Untungnya saja bukan rajanya yang kena tapi ada salah satu prajurit yang mengorbankan dirinya demi rajanya. Ombu seketika diam melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


Incen yang mulai terbebas dari racun asap itu, perlahan-lahan ia mengemis kepada ketua bertopeng itu untuk tidak membunuh ayahnya.


"Ampuni kami tuan! Ampuni ayahku tuan! Jangan bunuh ayahku!" Pinta Putri raja sambil mengemis kepada para pria bertopeng tersebut.


"Haha.... Haha.... Haha. Kalian sendiri yang memintaku berbuat semauku, hah." Ketus yang mengaku raja pasukan bertopeng.


"Maafkan ucapanya tuan. Ampuni kami!"Mohon Incen dengan berurai air mata.


"Tidak usah mengemis begitu Nak. Biarkan saja apa yang mereka lakukan. Menahannya dari keangkuhannya juga percuma. Mereka adalah penjahat-penjahat hutan yang selama ini ayah cari-cari keberadaannya." Gumam Sang Raja pada putrinya.


"Apa kau mencari-cariku. Hah!" Ketus ketua bertopeng kepada raja.


"Iya kau adalah buronan kerajaan selama ini."Tambah Ombu dengan badan bergetar karena marah.


"Haha.... Hahahaha."Tawa kelompok bertopeng itu serempak.


Sedang tertawa terbahak-bahak, kembali asap itu menutupi jalanan. Jalan itu terlihat gelap, satu dan lainya tak bisa saling melihat. Pekat seluruhnya.


Tawa kelompok penjahat itu berhenti seketika saat kabut menghalanginya. Dari balik gelap, Sang pemimpinya berteriak-teriak kepada anak buahnya.


"Kenapa gelap begini? Ada apa ini? Barto jangan jauh-jauh dari jeruji ini, jangan sampai mereka kabur." Perintah Bomel berteriak kiri kanan.


"Ayah sepertinya asap ini akan berubah jadi beracun, tak lama lagi."Ucap Putri Incen pelan kepada ayahnya di tengah pengawalan ketat para penjahat itu.


"Terus kita harus bagaimana Nak? Sekarang kita terkunci di dalam pagar ini, tak bisa menghindar atau melarikan diri dari jeratan mereka."


"Aku ingat ayah, Bintang mengajariku dulu, jika ada angin beracun cukup bertiarap ke tanah. Palingkan muka ke tanah, sampai bau tanah itu tercium oleh indra kita. Dengan begitu racun itu tak akan berfungsi meracuni tubuh kita ayah."Lirih Putri Incen sangat pelan di depan para penjahat yang berteriak-teriak kiri kanan.


"Baik Nak kita coba! Ombu. Ombu. Ombuuu. Beritahu semuanya, palingkan muka ke bumi lalu suruh cium tanah sampai asap ini berhenti! Berhati-hatilah!" Bisik Sang Raja pelan.


Tak seberapa lama, hanya dua puluh menit saja, asap sudah berubah menjadi racun. Perkiraan Incen memang betul. Kelompok bertopeng itu satu persatu mulai merasakan aroma udara tak segar alias udara mulai beracun. Bomel tak lagi teriak memberi himbauan tapi ia mulai merasakan efek racun asap itu.


Selain ketuanya, para anggotanya tak menyadari kalau asap tersebut mengandung racun sianida yang dapat mematikan saat meresap ke tubuhnya masing-masing. Anggotanya satu persatu jatuh tersungkur di tempat berdirinya. Mereka terkena racun.


Bomel berusaha melawan racun asap itu sambil berteriak kepada Barto tapi teriakanya tak ditanggapi lagi. Namun ia berusaha terus untuk memanggil kawanan lainya.


"Barto di mana kalian? Kenapa kalian tidak menanggapiku? Kalian di manaaa?" Teriak Bomel kepada kawanannya yang masih dihalangi kabut asap. Penglihatannya masih belum tampak ke teman-temanya yang telah lama berjatuhan, tumbang karena racun sianida.


Ketika berteriak-teriak kiri kanan tak ada jawaban juga. Sepuluh menit ia pun terjatuh, tak sanggup menahan racun yang semakin menjalar keseluruh tubuhnya. Racun itu dengan cepat membunuhnya tak sampai memakan waktu berjam-jam. Semua kelompok bertopeng itu mati diserang racun asap.

__ADS_1


Satu jam bertiarap, tak terasa kabut sudah lenyap. Para kelompok bertopeng itu berserakan di luar pagar bambu. Mati. Tak seorang pun yang tersisa.


"Ayah.... Ayah.... Ayah bangun. Kabut sudah hilang." Tukas Putri kepada ayahnya yang masih menundukkan kepalanya ke tanah.


Ayahnya pelan-pelan bangun dan diikuti yang lainya. Serempak semuanya terkaget terpelongo, menatap apa yang terjadi di depannya. Melihat semuanya para bertopeng mati, serentak gembira di dalam perangkap.


"Lihat ayah mereka mati. Semuanya mati di serang racun."Gumam Incen.


"Iya Raja. Mereka mati seluruhnya."Ketus Ombu menyaksikan mayat-mayat yang berserakan di depannya.


"Bisa saja kita juga akan mati di sini."Lirih Raja.


"Hah, mati Tuan Raja?"Desah Ombu bingung.


"Iya mati. Sebab kita tidak bisa keluar dari sini tanpa mereka. Kita hanya bisa hidup jika telah keluar dari sini."


"Iya ya, betul juga. Tapi Raja kalau mereka hidup sama saja mereka akan membunuh kita juga. Mereka akan lebih biadab kepada kita semua. Mereka akan menyiksa dan membunuh kita satu persatu setelah mereka puas menyiksa kita Tuan Raja."Terang Ombu.


Raja tidak menjawab. Ia diam saja sambil berfikir sesuatu apa yang harus dilakukannya. Sepuluh menit kemudian seekor Harimau datang dari arah utara. Seekor Harimau itu turun dari atas dahan pohon besar, selang beberapa lama kemudian diikuti pula oleh puluhan kawanannya. Kawanan Harimau itu berlomba-lomba memakan daging bangkai mayat itu.


"Haaaaah."Desah seorang warga kaget melihat puluhan harimau itu yang berebutan bangkai mayat.


Untung saja suaranya segera disembul oleh telapak tangan yang lainya. "Hussstt, jangn bersuara!" Bisik orang itu sambil mendiamkan temanya.


"Pelan-pelan kembali bertiarap, jangan sampai menimbulkan suara!"Himbau Ombu kepada seluruhnya dengan memberi kode isyarat.


Mereka pun seluruhnya bertiarap menunggu kawanan harimau itu pergi. Namun tak disangkanya se ekor Harimau besar bertubuh kekar dikenali oleh Putri Incen. Harimau itu adalah temanya Bintang yang selalu disuruh-suruh oleh Bintang. Bisa di kata itu adalah teman karibnya Bintang di hutan.


Dengan segera Putri Incen memanggil Harimau itu dengan teriakan keras sekali. Raja dan seluruh penasehat bahkan rakyatnya terkaget menyaksikan tindakan Tuan Putrinya. Yang tiba-tiba memanggil bersuara keras, bahkan langsung memanggil Harimau tersebut.


Di cegat oleh ayahnya. Tapi suaranya sudah kedengaran oleh kawanan Harimau. Orang-orang dalam jeruji sungguh ketakutan saat dilototi oleh Harimau ganas itu.


Puluhan Harimau saat mendengar suara-suara gemuruh dalam perangkap itu maka dengan serempak kawanan Harimau berlarian hendak memangsanya. Orang-orang ketakutan, sangat ketakutan sampai ada prajurit yang pingsan melihat Harimau yang berusaha menerkamnya. Untung saja ada pagar yang membatasinya kalau tidak maka sudah menjadi santapan Harimau.


Raja menyembul mulut putrinya agar berhenti memanggil Harimau ganas itu akan tetapi lama-lama Sang Harimau berbadan kekar itu dapat mengenal Tuan Putri.


Sang Harimau itu perlahan-lahan mendekati pagar dan memastikan wajah Tuan Putri. Sepuluh menit barulah Harimau itu tunduk. Di ikuti kawanan Harimau lainya seluruhnya tunduk. Patuh.


Pelan-pelan Putri Incen memberi Insyarat kepada Harimau itu untuk membuka segel pagar bambu itu. Awalnya Incen di tahan oleh ayahnya tapi lama-lama ayahnya paham dan ikut.

__ADS_1


Segera Harimau membuka segel pagar itu lalu dengan segera Tuan Putri berhambur ke arah Harimau besar itu lalu memeluknya erat-erat. Semua yang menyaksikanya terkejut dan tak percaya dengan apa yang disaksikannya di depannya.


__ADS_2